Jika membaca adalah nutrisi hati,
Maka menulis adalah rekreasi jiwa...

Search This Blog

Powered by Blogger.

Archive for 2014

The Good wife is YOU...

Alhamdulillah, 8 tahun ini terjalani dengan profesi paling keren, Istri sekaligus ibu. Hmmm, 8 tahun itu bukan waktu yang lama sih, tapi juga nggak bisa dibilang sedikit toh?

Rasa-rasanya selama 8 tahun ini aku sudah bermetamorfosis cukup banyak, yah belum jadi kupu-kupu yang cantik sih tapi mendekati itulah wkakakka * yang baca dilarang protes ah;p

Sebagai istri kita itu mengantongi tiket lebih menuju surga loh. Bagaimana tidak, Rasulullah SAW bersabda:
Bila seorang perempuan menunaikan shalat lima waktunya, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya(kehormatannya), dan taat kepada suaminya, maka diserukan kepadanya ‘Masuklah kamu ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu mau’.”

Wah, jadi istri itu kerenkan????? ^_^  Sekaligus berat sih *_*

Menjalani peran sebagai istri, predikat apa yang paling kalian inginkan???
Istri yang cantik?
Istri yang hebat?
Istri yang super woman?
Istri yang smart?
atau apa????
Aku sih cuman pengen satu predikat, Istri yang baik.

Sebagai orang beragama, standar baik buruk kita jelas dong, syariat agama.
Sebatas pemahamanku istri yang baik itu ya istri yang sholehah. Adapun menjadi sholehah dalam kapasitas sebagai seorang istri di antaranya adalah taat kepada suami.

Ingat dong tentang hadist yang diriwayatkan Asma’ binti Yazid Al-Anshariyah. Ia pernah datang menghadap Rasulullah SAW, dan berkata :

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau diutus untuk kaum laki-laki dan perempuan, lalu kami beriman dan mengikutimu. Kami segenap kaum perempuan hanya dipingit di dalam rumah, mengurusi rumah, menjadi tempat pelampiasan syahwat suami, mengandung anak-anak mereka, sedangkan kaum laki-laki mendapat kelebihan berupa shalat jamaah, menyaksikan jenazah dan berjihad. Bila mereka berjihad kami menjaga harta mereka dan mendidik anak-anak mereka. Maka apakah kami turut mendapat pahala seperti mereka?”
Rasulullah SAW memalingkan wajahnya kea rah para sahabat seraya bertanya “Pernahkah kalian mendengar perkataan sorang perempuan yang menanyakan perkara agamanya yang lebih baik selain dari perempuan ini?"
Mereka menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.”
Beliau SAW bersabda : “Pergilah wahai Asma dan beritahukan kepada kaum perempuan di belakangmu, bahwa bagusnya pengabdian salah seorang di antara mereka kepada suaminya, mencari keridhaannya dan mengikuti kemauannya, setara dengan semua yang kamu sebutkan tentang keutamaan kaum laki-laki.”
(Diriwayatkan oleh Baihaqi, Syu’ab Al-Iman, VI : 421)

Dalam hadist ini Rasulullah SAW menetapkan tata cara bagaimana seorang perempuan bisa naik menuju tingkatan tertinggi dan termulia, yang terfokus pada tiga poin berikut:

Ø  Pengabdian yang baik kepada suami
Ø  Mencari ridha suami
Ø  Mengikuti kemauan suami

Hmmm, urusan istri yang baik itu memang nggak jauh-jauh dari cara bagaimana si istri bersikap kepada suaminya sih.

Dalam hadist lain Rasulullah SAW juga bersabda:
Sebaik-baik istri adalah yang menyenangkan suami bila dipandang, yang menaatinya jika diperintah, tidak menyelisihi terkait diri dan hartanya dengan melakukan sesuatu yang tidak disukai suami.” (Diriwayatkan oleh Nasa’I, diriwayatkan juga oleh Ahmad)

Tapi, sebagaimana manusia biasa istri itu juga jelas punya banyak kekurangan lah ya. Misalnya, nggak usah jauh-jauh deh, aku pribadi tipe yang tidak selalu menyejukkan jika dipandang. Seringkali cemberut dan mengambek. Suamiku juga bukan tipe raja yang melulu minta dilayani sih, Alhamdulillah beliau adalah suami yang tak segan menolong istrinya untuk urusan rumah tangga ataupun menghandle anak-anak di sela kesibukannya. Aku juga bukan tipe istri yang selalu menjawab “iya”, “oke”, atau semisalnya untuk setiap keputusan dan keinginan suamiku. Dalam banyak hal kami, eh aku sih  lebih sering mendebatnya terlebih dahulu sebelum akhirnya mencapai kata sepakat atas suatu hal.
Kalau merujuk secara saklek beragam dalil yang ada, aku jelas jauuuuuuh sekali dari kriteria istri sholehah itu *duh L.

Tetapi suamiku itu selalu menyemangati, katanya istri yang baik itu bukan istri sempurna tanpa cela. Tapi istri yang baik itu cukuplah jika ia senantiasa berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari. Sebagai lelaki, sebagai suami dia sangat menyadari bahwa dirinya pun masih jauh dari level minimal, yakni para sahabat Nabi, apalah lagi dari diri Nabi yang mulia.

 Suami itu juga tempatnya salah dan cela. Jadi suamiku sangat paham menuntut istrinya selayaknya Khadijah ra, Aisyah ra atau para shahabiyat lainnya, itu adalah sebuah  tuntutan yang terlalu “keras”. 

Dan sebagai suami, ia senantiasa berpegang pada firman Allah SWT tatkala pusing tujuh keliling mnghadapi istrinya yang bandel ini *_*.
 

فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَيَجْعَلَ اللّهُ فِيهِ خَيْراً كَثِيراً 

Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. An Nisaa: 19)


Predikat istri yang baik itu nggak lepas dari keridhoan suami loh. Jadi, mari mencari keridhoan Suami hingga Allah pun ridho kepada kita.

Tidak perlu menjadi sempurna, cukuplah berusaha dengan kesungguhan hati agar menjadi lebih baik hari ke hari. Suami kita insyaallah akan menghargai setiap usaha kita untuk menjadi lebih baik itu.

Ketika kita sudah mengerahkan usaha terbaik kita, rasanya suami tak akan segan berkata :

" Yeah, The good wife is YOU." ^_^
***




Pada Mama, aku mengambil ibroh...

Ibu itu bukan manusia sempurna, tapi beliau wanita istimewa. Madrasah pertama yang mengenalkanku pada dunia, dan mengajarkanku menghadapi suka duka. Ibu itu bukan manusia tanpa salah, tapi beliau wanita yang siap mengasuh dengan merasai lelah dan payah. Ibu itu adalah kebesaran cinta, yang mengantarkanku hingga dewasa…..

“Mama sengaja nggak pernah mengingatkanmu untuk belajar atau memberi jam khusus untuk belajar. Karena mama ingin kamu paham, bahwa belajar itu untuk kamu sendiri bukan untuk mama. Belajar itu  nggak  semata untuk rangking 1 tapi agar kamu mengetahui banyak hal. Agar kamu lebih siap menjalani hidup dan mengatasi berbagai permasalahan yang mungkin kamu hadapi kelak.”

Mama berkata santai seolah tahu aku sedikit menyalahkannya saat posisi juara satu yang biasa kudapatkan bergeser ke posisi dua di salah satu masa ketika aku masih berseragam biru putih. Aku iri melihat teman-teman yang dikawal ketat proses belajarnya oleh orang tua mereka. Sementara mamaku yang justru seorang guru, sekalipun tak pernah bertanya atau peduli apakah aku sudah belajar ataukah banyak bermain setiap harinya.

Kata-katanya berlahan-lahan meresap ke sudut hatiku. Membuatku entah mengapa tiba-tiba terbayang proses kehidupan mama yang sulit.

Aku tahu perjuangan mama untuk bisa sekolah. Ikut bekerja dan tinggal dalam keluarga tentara yang berbaik hati menampungnya. Ayahnya yang sudah tiada dan ibunya yang papa tak pernah menyurutkan tekadnya untuk belajar. Sebagai seorang siswa,mama adalah siswa yang biasa-biasa saja. Tapi ia bersekolah tak semata mencari gelar juara, ia sedang menimba ilmu kehidupan. Ilmu yang menopangnya menjalani hari-hari yang tak bisa dibilang mudah.

 Menikah dengan putra sulung dari keluarga yang cukup berada dan di segani dari daerah berbeda, suku berbeda, adat dan budaya berbeda, bukan hal mudah. Sama sekali bukan.
Aku tumbuh, dengan melihat mama yang berjuang keras beradaptasi di tengah-tengah keluarga besar ayahku. Mengurusi kelima adik ayahku dan juga orang tuanya. Melayani mereka, memasak, mencuci, dan semua pekerjaan rumah tangga lainnya, bahkan di tengah-tengah kesibukan beliau sebagai seorang guru di salah satu SMP Negeri di kota kecil kami.

Mama yang tidak hanya sekali dua kali kujumpai menangis menghadapi perkataan dan sikap beberapa keluarga yang “memandangnya sebelah mata” menjalani hari-hari beratnya dengan ikhlas. Tak banyak mengeluh, tak pernah membalas, dan seringkali justru masih sanggup tersenyum tulus. Hal yang masih terus berlanjut meski satu persatu adik-adik ayahku pada akhirnya berkeluarga dan memeberi 5 menantu wanita lainnya di keluarga besar tersebut. Mama tetaplah menjadi “tumpuan” dan mendapati dirinya lebih banyak menghabiskan waktu untuk menjaga, menemani, dan memenuhi keinginan orang tua suaminya yang kian uzur.

Adalah aku, yang menghabiskan masa kecil dengan bahagia. Mengenyam pendidikan hingga bangku sarjana dengan mulus dan tanpa banyak usaha mendapatkan beasiswa prestasi di sana sini. Mengenal cinta, dan qodarullah menikah dengan seorang pria dari luar pulau, suku berbeda, budaya berbeda.

Aku sempat menjalani masa hidup bersama keluarga suamiku. Dan sungguh aku teringat mama. Baru aku tahu betapa luar biasanya mama. Betapa beliau memiliki hati seluas samudera tatkala menjalani proses adaptasi budaya yang begitu berbeda.

Beradaptasi dengan suami tak terasa begitu sulit karena dengannya lah aku berkomitmen membagi sisa kehidupanku. Tapi beradaptasi dengan keluarga besar, dengan semua perbedaan adat dan budayanya, bagiku itu luar biasa. Aku tak siap dengan sikap dan perkataan spontan mereka yang seringkali menyesakkan hati dan menggulirkan titik-titik bening di sudut pipi. Aku kesulitan, sangat kesulitan menyesuaikan gaya hidupku yang kampungan dan apa adanya dengan mereka yang sangat “kota” dan menilai produktifas dengan materi.

Maka kucari-cari kemanapun dari setiap sudut literasi pembelajaran formalku, aku tak menemukan solusi atas kepahitan yang kujalani.

Tapi, pada mama, mengingat hari-hari berat yang pasti juga pernah dilalui mama aku mengambil ibroh. Meski menangis, tak menyimpan dendam dan amarah adalah kunci kebahagiaan. Tak peduli sebanyak apa kesedihan dan kepahitan yang terjalani, berhasil memenangi rasa sakit hati adalah kemenangan terbesar yang insyaallah menjadikan kita lebih bijak dalam menyikapi berbagi situasi.

Ketika akhirnya pulang ke kampung halaman, aku menemui ibuku masih dengan rutinitasnya yang tak berbeda jauh. Ia masih dengan setia memenuhi ini itu  kemauan nenek yang kini semakin uzur dan tentu semakin rewel, terlebih sepeninggal kai.

Dan, padaku mama berucap, “Mama berharap, kelak tua tak akan menyusahkan kalian. Tapi jika Allah masih memberi waktu hingga pikun dan lemah menyerang mama, semoga kebaikan tak seberapa ini akan kembali pada mama lewat kalian, anak-anak mama…”

Duh mama, keikhlasanku jauh tertinggal dari mama, kasih sayangku padamu tentu tak akan sanggup menyamai sedikitpun kasih sayangmu padaku. Karenanya mama, izinkan aku menutupi semua kekuranganku dengan lantunan doa-doaku untukmu.  Semoga Allah senantiasa memberkahi sisa usiamu dan mengampuni setiap khilaf dan salahmu.

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera.
Tag : , , ,

Waktu

"Ummi maaf ya, nanti besar Rofi akan meninggalkan ummi karena Rofi akan memiliki suami sendiri...."

Kalimat panjang itu diucapkannya dengan meminta perhatian penuh dariku. Ia dengan sengaja memegangi kedua pipiku dan memintaku menatap tepat ke matanya.

Kalimat yang ketika ia selesai mengucapkannya membuatku tak tahu harus menjawab apa.

Perasaanku tiba-tiba menjadi absurd. Entah harus tertawa ataukah menangis. Ia putriku. Baru berusia 4 tahun 4 bulan. Tak ada angin tak ada hujan, tak ada tanda-tanda yang mengindikasikan bahwa ia akan melontarkan kalimat yang demikian cetar membahana.

Kakaknya, putri pertamaku yang berusia 7,5 tahun menanggapinya dengan beristighfar nyaring.

"Ayo rofi, istighfar. Kamu itu masih kecil. Sekolah aja belum. sudah ngomong kayak begitu. Malu-maluin aja." lanjutnya pula.

Saat itu, aku hanya tersenyum dan melerai mereka yang bersiap adu mulut. Kemudian menyatukan mereka dalam pelukanku.

Bersaat-saat setelahnya, bahkan hingga detik aku menuliskannya aku masih terngiang-ngiang perkataan putri kecilku itu.

Awalnya aku seolah diingatkan bahwa anak-anakku tak selamanya menjadi anak-anak yang membutuhkanku dalam banyak hal. Perlahan-lahan namun pasti waktu merangkak mengantarkan mereka menjadi putri-putri dewasa yang akan menjalani kehidupan mereka sendiri.

Aku seolah tertampar, betapa aku menyia-nyiakan waktu kecil mereka dengan semua omelan dan kemarahanku yang tidak semestinya. Toh, mereka tak akan lama menjadi anak-anak yang mengerubutiku kemana-mana.

Suatu waktu  di masa depan kelak, aku pasti akan merindukan saat-saat dimana mereka merecokiku dengan permintaan dan kemanjaan ini itu.

Dan pada akhirnya aku menyadari, waktu memang tak bisa terulang namun ia membangun siklus  serupa. Seketika aku memahami  arti air mata di wajah mama saat melepasku pergi bersama suamiku. Sebuah moment yang kelak sangat mungkin kujalani pula,

Yah, cinta memang membuahkan rindu. Rindu yang menjadikan setiap waktu bersama menjadi lebih berharga...







Mendadak sinetron...

Aku jarang menonton, sesekalinya menonton pun  menonton kartun, karena kebetulan mendampingi anak-anak yang memang punya waktu menonton.

Tiba-tiba beberapa waktu lalu, TV menyala di waktu yang tidak disepakati. Bisa jadi kerjaan si sulung atau bisa jadi ulah si nomer dua. Meski kemudian kedua-duanya justru sibuk membongkar mainan dan mewarnai ini itu.

Alhasil aku yang berniat mematikan TV justru terkesima dengan salah satu sinetron di salah satu stasiun TV swasta tersebut. Meski melihatnya sebentar, aku merasa ada yang berbeda dari sinetron tersebut. Akhirnya di waktu luang aku mensearchnya di Youtube.

Ah ya, pada akhirnya aku tau sinetron ini beda karena karakternya tidak terlalu hitam putih. Karakternya manusiawi. Tokoh baik bisa saja merasa kesal dan berbuat salah. Tokoh jahat ternyata masih punya hati dan nurani. Sinetron yang konon sudah 300 episod ini memang menyoal cinta-cintaannya anak muda tapi melihat beberapa scene aku sih tertarik.....wkwkwkwk.

Lepas dari aku yang mendadak penasaran dengan kelanjutan kisahnya, sinetron ini bukan jenis yang "mendidik" sih, tapi bisa dibilang udah gak drama bangetlah, pesan moril soal persahabatan, ketulusan, dan arti cintanya cukup tersampaikan. Tetep, aku tidak merekomendasikannya untuk ditonton wkwkwk.....

#catatangakpentingemakrempong *_*
Tag : ,

Curhatnya emak rempong...

"Kamu sih enak. Tinggal pergi kerja. Anak juga ada yang ngurus. Temen banyak, bisa hahahihi buang stress."

Ngiik ngook.....selalu ya, rumput tetangga terlihat lebih hijau ^_^.

Komentar tersebut terlontar dari seorang kawan yang tengah stress berat menghadapi tingkah putra sulungnya.

Dan ya, sebagai orang yang low profile (ngakunya) aku sih senyam-senyum aja.

Padahal aku juga pernah loh merasa lost control dan seolah bertanduk lima menghadapi anak-anakku. Karena meskipun ada yang membantu di rumah, (inget ya mereka itu sekedar membantu). Aku terbiasa mengusahakan untuk sesedikit mungkin menggunakan bantuan mereka. Dan aku orang yang anti punya ART yang tinggal di rumah. Mengurangi privasi.

 Si kecil biasanya kutinggal dalam keadaan wangi dan kenyang. Si Bibi kebagian tugas mengajaknya jalan-jalan pagi, sebelum akhirnya ia tertidur. Jus, cemilan dan makanan sudah kusiapkan, tinggal diberikan sesuai jam yang sudah kujadwalkan. Kakak-kakaknya yang sudah sekolah, bukan sekolah di sekolah umum yang full day dari pagi sampai sore, tapi sekolah di Home schooling berlembaga, yang tetap melibatkan orang tua secara aktif dalam pembelajarannya. Kami punya jadwal khusus setiap harinya yang harus dihandle orang tua di rumah. Alhamdulillah sejauh ini kami konsisten dengan jadwal tersebut.

 See????  meski bekerja, aku berusaha menjadi ibu yang tetap mengurus tumbuh kembang anak-anakku sendiri. Karena bagaimanapun aku tahu tanggung jawab sebagai ibu itu tak bisa diwakilkan pada siapapun, Ibu anak-anakku hanyalah aku seorang.

Sementara sebagai pekerja, tanggung jawabku bisa dengan mudah dilimpahkan pada siapapun. Karena yang bisa melaksanakan tugas-tugasku bukan hanya aku seorang. Tentu hal  ini tak membuatku menjadi pekerja yang malas dan tak bertanggung jawab. Don't worry be happy i try to do my work with better day to day.... (oh please jangan komentari grammarku ya....^_^)

Ahahai....kenapa jadi menjelaskan panjang lebar begini yak? @_@

Intinya sih, tidak ada kehidupan seseorang yang lebih enak atau lebih nyaman ketimbang kehidupan seseorang yang lain. Yang ada hanyalah bagaimana seseorang itu bersyukur atau tidak dengan kehidupan yang dilakoninya. Toh setiap manusia memiliki ujiannya masing-masing. Ketimbang sibuk mengasihani diri dan merasa iri, lebih baik toh jika kita terus menyiapkan bekal untuk menjalani hidup kita dengan sebaik-baiknya????


Jujuran, tidak melulu soal prestise sosial...

“Cantik-cantik, sayang orang Kalimantan…” Kalimat pujian yang diiringi nada penyesalan mendalam itu meluncur dari bibir salah satu kawan priaku, seolah lupa bahwa sosok yang sedang diajaknya bicara juga gadis dari Kalimantan.
“Heii….kalimat apa itu? Memang kenapa kalu orang Kalimantan?” Karena kesal tak tanggung-tanggung sebuah buku berat nan tebal kulayangkan ke pundaknya. Punya pengalaman buruk dengan konflik SARA, aku memang sensitif mendengar pernyataan-pernyataan yang berbau diskriminasi seperti itu.
“Ahahai…..sabar ding, itu loh… jujurannya berat bo.” terbahak kawanku tadi, sambil mengusap-ngusap bahunya. Mendengar alasannya, mau tak mau aku turut pula tertawa.
Tag : ,

#1.Anak cerdas, banyak tanya????

Tahun ini Amma genap 7 tahun. Tahun ini pula atas keinginannya sendiri, ia pindah sekolah, dari sekolah umum ke sekolah Al-Qur'an berbasis Home Schooling. HS Al Qur'an ini memang memprioritaskan anak-anak untuk menghafal dan mengkaji Al-Qur'an.  Pelajaran umum yang masih rutin di pelajari hanya Matematika, Sains, dan Bahasa Indonesia.

Matematikanya adalah matematika dasar, berkutat seputar pengurangan, penambahan, pembagian, dan perkalian. Sampai 2 tahun mendatang hingga Amma duduk di kelas 4 (insyaallah), ia tak akan mengeryit kening memahami rumus-rumus aljabar.

Bahasa Indonesianya, karena Amma sudah lancar membaca adalah sejarah Islam dan sirah Nabawiyah. Tentu saja dalam bahasa yang sudah disederhanakan.

9 Juli 2014, kenapa berbeda?


Aku, kamu, mengerti benar arti tanggal tersebut.
Aku, kamu, mengerti benar bilangan hari yang bertambah sejak 9 Juli 8 tahun silam.
Aku, kamu, masih sama seperti dulu
Bergenggaman tangan,mencari, dan mendekat pada-Nya
Jangan berubah, bahkan hingga bertahun-tahun yang akan datang
Karena aku ingin bersamamu hingga kelak di surga…

9 juli kali ini, tak lagi sesepi tahun-tahun sebelumnya
Kita tak melewatinya berdua saja, tapi berlima.
Ada tawa dan tangis bocah yang kian membuat hiruk pikuk rumah kita

9 Juli kali ini, juga tak setenang tahun-tahun sebelumnya,
Qadarullah tanggal ini bersamaan dengan pesta demokrasi Negara kita
Pesta yang mungkin juga tak sama dengan pesta-pesta sebelumnya
Begitu banyak amarah, begitu banyak fitnah, bahkan kata penuh cela
Hingga kawan akrab bisa saling melengos jika tak sengaja bertatapan mata
Duhai…..

Apalah yang terjadi di luar sana, mari berdoa bersama
Agar bahtera kita tetap samara penuh cinta
Dan semoga, Negara kita,

Beroleh pemimpin yang amanah dan bijaksana…..

(9 juli 2006 - 9 Juli 2014)


Pureit, teknologi praktis pemurni air

Sungguh membuat terkejut, ketika seorang kawan tiba-tiba berpamitan beberapa waktu lalu. Ia terpaksa memutuskan kembali ke Jawa, tanah kelahirannya. 
Apa pasal? 
Ternyata, Kalimantan Timur yang sebagian besarnya merupakan daerah industri menyebabkan polutan dan persediaan airnya pun mengandung zat besi tinggi. Kondisi ini disinyalir memperburuk kondisi anaknya yang menderita autis.

Jujur saja, sebagai orang yang lahir, dan tumbuh besar di Kalimantan saya sendiri terkaget-kaget ketika menengarai fakta tersebut. Sewaktu kecil, saya terbiasa melihat jernihnya aliran sungai-sungai kecil di sekitar pemukiman yang masih rimbun dengan hutan dan belukar. Sungai-sungai kecil yang  bermuara di sungai Kandilo dan terus lagi ke hulu  sungai Mahakam.

Tag : ,

Lawan lemak dengan lemak!



Sejauh ini, aku tak pernah bermasalah dengan berat badan. Meski sebagai busui, pola makanku bisa dibilang maksimal. Aku juga tak menerapkan pola diet tertentu atau berpantang makan apapun. Selama halal dan thoyyib ya hayuk aja ^_^.

Mungkin ada kebiasaan yang belakangan baru kuketahui sebagai alasan kuat kenapa overweight tak menyerangku. Jadi, entah sejak kapan aku rutin mengkonsumsi minyak zaitun. Ya diminum begitu saja sesendok atau dua sendok setiap harinya. Aku juga suka ngemil dark chocholate. Dan sering mengkonsumsi alpukat sebagai juice kesukaan.

Beberapa waktu lalu, di salah satu stasiun TV swasta aku menyimak info kesehatan dengan tajuk “lawan lemak dengan lemak”. Jadi dijelaskan ada beberapa makanan yang mengandung lemak tinggi, tapi lemak yang dikandungnya adalah jenis lemak baik. Mengkonsumsinya secara rutin berpotensi besar menghilangkan lemak-lemak jahat ditubuh, terutama timbunan lemak di sekitar perut.

Ternyata 4 bahan makanan yang katanya mengandung lemak baik tingkat tinggi itu gak jauh-jauh dari cemilan keseharianku. Dan, anda yang ingin mencobanya sila mulai menjadikan makanan-makanan berikut sebagai cemilan harian:

Kacang almond
Dark chocholate

Alpukat

 
minyak zaitun










Tag : ,

When i be a stalker....


Rasanya aku bukan jenis manusia yang kepo abis sama urusan orang lain. Jika sesekali aku mengulik-ngulik profile akun FB seseorang itu semata karena aku sedang mencari referensi apa dan bagaimanakah orang tersebut.

Di akhir tahun 2011, dengan suatu alasan pribadi aku mencari tahu dengan sungguh-sungguh tentang seseorang, sebut saja dia Q. Karena hanya tahu salah satu bagian dari namanya yang panjang maka aku menggunakan nama itu untuk me-search akunnya.

Jangan berbalik, terus saja melangkah!



Ketika jembatan komunikasi perlahan runtuh, arah jalanpun mulai berselesih,
 dan akhirnya memilih muara kebebasan.


Pagi masih mengembun. Anak-anak masih berjibaku dengan aktivitas pagi, memakai seragam dan menghabiskan sarapan mereka. Ponselku yang tiba-tiba  berdering nyaring, membuatku dan suami saling menatap. Yang menelpon di pagi hari biasanya pastilah kerabat atau sahabat.

Dan benar saja, telpon itu dari salah satu sahabatku dari masa kuliah. Sebut saja dia Ai. Suara salamnya di seberang sana terdengar basah. Dan, rasa-rasanya aku tahu apa penyebabnya.

“Salahkah jika seorang perempuan menggugat cerai suaminya?” pertanyaan itu terlontar jua darinya. Jujur saja aku terdiam sesaat. Meski sering menjadi tempat curhatan berbagai permasalahan kawan-kawanku, sekali pun aku tak pernah menyarankan sebuah perpisahan, bahkan terbersit untuk menyarankannya saja tidak.(Maaf deh jika ternyata aku masuk nominasi manusia kolot yang masih mengagungkan ikatan suci pernikahan).

Saat itu dalam pikiranku, aku merunut cepat peristiwa demi peristiwa yang terjadi dalam rumah tangga Ai sejauh pengetahuanku berdasarkan curhat-curhat langsung Ai beberapa tahun belakangan ini. Kuingat-ingat juga apa yang sudah kusarankan dan apa yang sudah diusahakannya serta apa hasil dari setiap usahanya itu.

KDRT? Sejauh yang kutau tidak ada.
Perselingkuhan?Mmmm…pernah, dan kurasa sempat teratasi.
Keluarga?Aduuh, complicated deh.
Komunikasi? Nol besar.

“Seingatku, kapan waktu kamu dah pernah sidang n disidang kelima memutuskan untuk menarik gugatan? Kamu yakin gak akan menyesal?” tanyaku padanya.

Sebenarnya kali ini pun Ai sudah menjalani sidang kedua atau ketiganya, hanya saja keragu-raguan menghantuinya dan ia bertanya padaku melanjutkan gugatan cerainya atau lagi-lagi menarik gugatan.
Sebenarnya aku takut memberi saran, khawatir jika saranku ternyata merubah hidupnya ke arah yang justru tidak lebih baik.

Saat gugatan cerai pertama kukatakan padanya “Timbanglah berapa banyak manfaat dan mudharatnya jika kalian terus bersama atau jika kalian berpisah. “

Saat itu aku berdoa dengan tulus agar Ai menemukan kebahagiaan dengan apapun pilihan yang dijalaninya. Rasanya setahun berlalu, aku tau hidupnya tak menjadi lebih mudah, cobaan demi cobaan masih terus berakrab ria dalam hidupnya.

Dan pagi itu, ketika ia mencurahkan kisahnya aku tau, sekali ini aku harus keluar dari zona nyaman saran-saranku. “Jangan berbalik Ai, terus saja melangkah, lanjutkan apa yang sudah kamu mulai. Ritme hidupmu rasanya terus berulang, tak ada perubahan apa-apa. Kamu selalu kembali di titik awal. Bagaimanapun, rekonsiliasi itu dari kedua belah pihak. Jika kamu berjuang sendirian sampai kapanpun gak bakal sampai diposisi balance. Seberapa lelahnya kamu, selesaikan hingga tuntas. Setelahnya bangunlah hidupmu dari awal. Insyaallah kamu bisa beribadah lebih tenang dan hidupmu menjadi lebih baik.”

Aku benar-benar berharap aku tak mendorong Ai pada suatu keburukan. Pun aku sudah menyarankannya meminta nasihat pada pihak ketiga yang bisa menjembatani mereka berdua, atau datang saja ke BP4. 

Dari kisahnya aku belajar, bahkan pernikahan yang dibekali cinta, jika tak diiringi peningkatan keimanan akan kandas tergerus ujian. 

Ai dan suaminya memulai kehidupan rumah tangganya dari garis  start yang sama. Dalam perjalanan yang tak luput dari sandungan batu ujian itu, Ai memilih mendekat pada Tuhan dan memperbaiki kualitas hidupnya, sayangnya tidak begitu halnya sang suami.

Ai mulai merindukan rumah tangga yang islami, mulai merindukan imam yang bisa membimbing dan mengarahkannya, minimal bersedia bersama-sama memperbaiki diri dan mendekatkan diri pada Tuhan. 

Ai mengusahakannya, mengusakan perbaikan dirinya juga suaminya. Sayangnya Ai hanyalah manusia. Hidayah itu semata milik Allah, dan saat ini hidayah itu belum lagi sampai pada suaminya.
Mempertahankan rumah tangganya, tidak hanya menggerus kesabarannya, Ai lebih khawatir jika keimanannya ikut pula tergerus habis. 

Sungguh pernikahan itu tempatnya ujian dan cobaan, jika ingin bertahan tak hanya cinta yang harus dipupuk, pun keimanan perlu senantiasa ditingkatkan. Wallahu a’lam
 


Tag : ,

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -