Jika membaca adalah nutrisi hati,
Maka menulis adalah rekreasi jiwa...

Search This Blog

Powered by Blogger.

Archive for September 2014

Mendadak sinetron...

Aku jarang menonton, sesekalinya menonton pun  menonton kartun, karena kebetulan mendampingi anak-anak yang memang punya waktu menonton.

Tiba-tiba beberapa waktu lalu, TV menyala di waktu yang tidak disepakati. Bisa jadi kerjaan si sulung atau bisa jadi ulah si nomer dua. Meski kemudian kedua-duanya justru sibuk membongkar mainan dan mewarnai ini itu.

Alhasil aku yang berniat mematikan TV justru terkesima dengan salah satu sinetron di salah satu stasiun TV swasta tersebut. Meski melihatnya sebentar, aku merasa ada yang berbeda dari sinetron tersebut. Akhirnya di waktu luang aku mensearchnya di Youtube.

Ah ya, pada akhirnya aku tau sinetron ini beda karena karakternya tidak terlalu hitam putih. Karakternya manusiawi. Tokoh baik bisa saja merasa kesal dan berbuat salah. Tokoh jahat ternyata masih punya hati dan nurani. Sinetron yang konon sudah 300 episod ini memang menyoal cinta-cintaannya anak muda tapi melihat beberapa scene aku sih tertarik.....wkwkwkwk.

Lepas dari aku yang mendadak penasaran dengan kelanjutan kisahnya, sinetron ini bukan jenis yang "mendidik" sih, tapi bisa dibilang udah gak drama bangetlah, pesan moril soal persahabatan, ketulusan, dan arti cintanya cukup tersampaikan. Tetep, aku tidak merekomendasikannya untuk ditonton wkwkwk.....

#catatangakpentingemakrempong *_*
Tag : ,

Curhatnya emak rempong...

"Kamu sih enak. Tinggal pergi kerja. Anak juga ada yang ngurus. Temen banyak, bisa hahahihi buang stress."

Ngiik ngook.....selalu ya, rumput tetangga terlihat lebih hijau ^_^.

Komentar tersebut terlontar dari seorang kawan yang tengah stress berat menghadapi tingkah putra sulungnya.

Dan ya, sebagai orang yang low profile (ngakunya) aku sih senyam-senyum aja.

Padahal aku juga pernah loh merasa lost control dan seolah bertanduk lima menghadapi anak-anakku. Karena meskipun ada yang membantu di rumah, (inget ya mereka itu sekedar membantu). Aku terbiasa mengusahakan untuk sesedikit mungkin menggunakan bantuan mereka. Dan aku orang yang anti punya ART yang tinggal di rumah. Mengurangi privasi.

 Si kecil biasanya kutinggal dalam keadaan wangi dan kenyang. Si Bibi kebagian tugas mengajaknya jalan-jalan pagi, sebelum akhirnya ia tertidur. Jus, cemilan dan makanan sudah kusiapkan, tinggal diberikan sesuai jam yang sudah kujadwalkan. Kakak-kakaknya yang sudah sekolah, bukan sekolah di sekolah umum yang full day dari pagi sampai sore, tapi sekolah di Home schooling berlembaga, yang tetap melibatkan orang tua secara aktif dalam pembelajarannya. Kami punya jadwal khusus setiap harinya yang harus dihandle orang tua di rumah. Alhamdulillah sejauh ini kami konsisten dengan jadwal tersebut.

 See????  meski bekerja, aku berusaha menjadi ibu yang tetap mengurus tumbuh kembang anak-anakku sendiri. Karena bagaimanapun aku tahu tanggung jawab sebagai ibu itu tak bisa diwakilkan pada siapapun, Ibu anak-anakku hanyalah aku seorang.

Sementara sebagai pekerja, tanggung jawabku bisa dengan mudah dilimpahkan pada siapapun. Karena yang bisa melaksanakan tugas-tugasku bukan hanya aku seorang. Tentu hal  ini tak membuatku menjadi pekerja yang malas dan tak bertanggung jawab. Don't worry be happy i try to do my work with better day to day.... (oh please jangan komentari grammarku ya....^_^)

Ahahai....kenapa jadi menjelaskan panjang lebar begini yak? @_@

Intinya sih, tidak ada kehidupan seseorang yang lebih enak atau lebih nyaman ketimbang kehidupan seseorang yang lain. Yang ada hanyalah bagaimana seseorang itu bersyukur atau tidak dengan kehidupan yang dilakoninya. Toh setiap manusia memiliki ujiannya masing-masing. Ketimbang sibuk mengasihani diri dan merasa iri, lebih baik toh jika kita terus menyiapkan bekal untuk menjalani hidup kita dengan sebaik-baiknya????


Jujuran, tidak melulu soal prestise sosial...

“Cantik-cantik, sayang orang Kalimantan…” Kalimat pujian yang diiringi nada penyesalan mendalam itu meluncur dari bibir salah satu kawan priaku, seolah lupa bahwa sosok yang sedang diajaknya bicara juga gadis dari Kalimantan.
“Heii….kalimat apa itu? Memang kenapa kalu orang Kalimantan?” Karena kesal tak tanggung-tanggung sebuah buku berat nan tebal kulayangkan ke pundaknya. Punya pengalaman buruk dengan konflik SARA, aku memang sensitif mendengar pernyataan-pernyataan yang berbau diskriminasi seperti itu.
“Ahahai…..sabar ding, itu loh… jujurannya berat bo.” terbahak kawanku tadi, sambil mengusap-ngusap bahunya. Mendengar alasannya, mau tak mau aku turut pula tertawa.
Tag : ,

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -