Jika membaca adalah nutrisi hati,
Maka menulis adalah rekreasi jiwa...

Search This Blog

Powered by Blogger.

Archive for November 2017

Jangan Latah!

Jangan Latah!
"Si A lepas hijab loooh..."

"akhwat B yang itu, murtad loh, doi nikah sama si D"


"Si Z makin modis aja, Hijabnya dah kek butik berjalan"
---------------

Kabar-kabar serupa berseliweran di beranda Medsosku juga di puluhan WAG yang kuikuti.

Innalillahi wainna ilaihi rojiun.
Sesungguhnya berpalingnya hati dari kebaikan adalah sebuah musibah.


Ucapkan saja kalimat istirja, sertakan dengan doa agar kita dan saudara2 kita senantiasa diberi hidayah dan keistiqomahan. Kemudian tahanlah lisan dan tangan kita untuk berkomentar lebih jauh, terlebih komentar justifikasi seolah kita makhluk paling suci tak berdosa.

Melepas hijab, tentu bukan hal terpuji yang patut diapresiasi, terlebih perkara murtad, yang merupakan pengkhianatan besar terhadap KeEsaan Allah, Tuhan Sang Pencipta. Tapi tetap tidak menjadikannya patut dicela dan dihujat berbusa-busa.



Adalah benar, bahwa amar ma'ruf dan nahi mungkar merupakan karakter seorang yang beriman.  Di mana terdapat tiga tingkatan dalam mengingkari kemungkaran yang kita temui.
Dengan tangan, dengan lisan, dan dengan hati.

Tingkatan pertama dan kedua hanya wajib bagi mereka yang mampu melakukannya. Seperti penguasa dengan bawahannya, atau seorang suami terhadap istri, anak, dan keluarganya. Yang mana perlu diluruskan bahwa mengingkari dengan tangan tidaklah berarti dengan senjata dan atau kekerasan.

Imam Al Marrudzy bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal, “Bagaimana beramar ma’ruf dan nahi mungkar?” 
Beliau menjawab, “Dengan tangan, lisan dan dengan hati, ini paling ringan,” 
saya bertanya lagi: “Bagaimana dengan tangan?” 
Beliau menjawab, “Memisahkan di antara mereka,” 
dan saya melihat beliau melewati anak-anak kecil yang sedang berkelahi, lalu beliau memisahkan di antara mereka.

Dalam riwayat lain beliau berkata, “Merubah (mengingkari) dengan tangan bukanlah dengan pedang dan senjata.” (Lihat, Al Adabusy Syar’iyah, Ibnu Muflih, 1/185)

See? mengingkari dengan tangan tidak berarti kekerasan tapi lebih berupa tindakan nyata yang langsung bisa menghentikan kemungkaran tersebut.

Adapun dengan lisan adalah seperti memberikan nasihat yang merupakan hak di antara sesama muslim dan sebagai realisasi dari amar ma’ruf dan nahi mungkar itu sendiri, atau dengan menggunakan tulisan yang mengajak kepada kebenaran dan membantah syubuhat (kerancuan) dan segala bentuk kebatilan.

Dan, tampaknya pada tingkatan inilah, kita latah mengatasnamakan amar ma'ruf nahi mungkar sehingga tangan dan lisan kita ringan sekali berkomentar ini itu tanpa memperdulikan ruang waktu. ingatlah saudaraku ada adab menasehati dengan sembunyi-sembunyi, dengan memilih perkataan yang terbaik, dan tidak diketahui orang banyak. 

Adapun berkomentar langsung di akun-akun medsos, baik di postingan pribadi orang yang dimaksud, melalui tag dan mention, maka dalam hal ini, tanyakan hati kita apakah ini bentuk amar ma'ruf nahi mungkar? bentuk menasehati dalam  kebaikan? ataukah kita sebenarnya hanya sedang memuaskan hawa nafsu kita sendiri????


Dan selemah-lemahnya bentuk pengingkaran terhadap kemungkaran adalah mengingkarinya dengan hati. Tingkatan ini adalah wajib bagi setiap muslim, karena pengingkaran dengan hati seyogyanya mampu dilakukan oleh semua muslim. 
Jika kau melihat kemungkaran namun hatimu tak mengingkarinya, maka waspadalah!
Karena hatimu sedang sakit, ia tak peka pada apa yang terjadi, ia tengah kesulitan memaknai benar salah, baik buruk dan hitam putih.

Kembali kepada berita yang berseliweran tadi, tidak ikut berkomentar tidak berarti kita tak peduli, atau  mendukung semua hal-hal tersebut. Mungkin kita memilih mengambil ibroh.

Atas apa yang kita berdiri tegak hari ini, tidaklah menjamin akhir kehidupan kita. Kita tak pernah tahu dalam kondisi bagaimanakah kita berakhir.
Lebih baik atau lebih burukkah?
Beriman atau kafirkah?

Begitu pula dengan mereka yang telah kita cela dan hujat, kita tak pernah tahu ujian apa yang mereka jalani, dan who's know bagaimana pilihan kita saat ujian yang sama mendera.

Jangan Latah!!!
Tahanlah lisan dan tanganmu!
Karena bisa jadi beberapa waktu kemudian kita akan menyesali apa-apa yang telah kita ucap dan tuliskan.


Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita dan orang-orang yang ada disekeliling kita, aamiin. Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.

----------
Ref: https://muslim.or.id
 

Antara sindiran dan celaan

ANTARA SINDIRAN DAN CELAAN
by: Sarah Amijaya

WARNING :TULISAN INI MENGANDUNG CURCOL!!!

"Sudah sering disindir, kok nggak paham-paham ya... "

"sengaja disindir, biar merasa"

_____
Sering nggak denger kalimat serupa?
Kalau sering, bisa jadi sindiran tersebut ditujukan padamu, hehehe.

Penting loh  untuk membedakan antara sindiran dan celaan.

Kenapa penting? karena keduanya amat sangat jauh berbeda. Meski untuk membedakannya perlu kecermatan tingkat tinggi sih.

Kalau kamu sedang dalam kondisi sensi, panik, bete tingkat tinggi, pusing, migrain, atau semisal, sindiran rasa kelapa muda juga berasa celaan kebun binatang sih.

Sebut saja perbedaan utamanya meliputi niat, kondisi, cara berpikir dan cara pandang seseorang.

Sindiran itu tergantung niat dan kondisi. Niat seseorang menyindir orang lain bisa jadi baik. Misalnya untuk meluruskan akhlaknya.

Pada seseorang yang berkarakter "saya selalu benar",  egois, mudah emosi, pemarah, pemberang, susah menerima nasihat, dan yang semisal, mengingatkan secara terang-terangan sama saja mengajaknya duel di ring tinju.
Maka menyindir bisa jadi cara efektif untuk mengingatkannya, tentu dengan bahasa yang baik dan tidak menyakiti hati seseorang.

Kondisi si penyindir juga penting.
Misal kamu sendiri tipe yang nggak bisa menyensor kata-kata, tidak bisa membedakan nasihat atau mencela, baiknya abaikan pilihan sindir menyindir ini. Apalagi kalau yang menyindir tak lebih baik dari yang disindir, alias punya karakter sebelas duabelas, adanya makin panjang dan runyam urusan.
iya toh?

Sindiran juga terkait pola pikir serta cara pandang.

Meski niatnya baik untuk menasehati, tapi jika tidak punya kesamaan pola pikir dan cara pandang, maka sindiran akan berubah menjadi celaan, yang mana kita semua mengetahui bahwa celaan adalah sebuab hal yang buruk.

Misalkan, seseorang yang menyindir orang lain untuk memendekkan jilbabnya

"oh please, kalau jilbab selutut pake mukena aja sekalian"

"hellow, ini kantor keles, sok alimnya pas pengajian aja yee"

Nah, bayangkan materi sindirannya aja udah bisa diperkarakan panjang lebar.

pihak penyindir merasa lingkungan kantor/instansi pemerintahan hanya layak menggunakan jilbab seukuran 115x115, kalau kamu pake jilbab seukuran 150x150 sama dengan bikin kumuh, melanggar peraturan dan kamu boleh memilih untuk berhenti (yeah, pemikiran seseorang memang menunjukkan bagaimana pemahamannya)

apakah sindiran ini efektif? Jawabannya jelas, BIG NO.

karena pihak yang disindir dan menyindir sudah punya cara pandang dan pola pikir yang berbeda.

Bagaimanapun, memakai jilbab bukan sekedar trend fashion, yang bisa dipendekkan, dipanjangkan, atau justru dilepas sesuai situasi kondisi.

Panjang pendeknya jilbab, longgar ketatnya pakaian memang tidak menjadi patokan seberapa baik akhlakmu, tapi  jelas sudah menunjukkan cara pandang yang berbeda dalam memahami syariat yang sama. Syariat berhijab.

Tidak perlu saling klaim pemahaman siapa yang lebih tepat, mari sama-sama belajar, dan saling menghormati dalam proses belajar tersebut. that simple!

Jika dikaitkan dengan peraturan instansi yang notabene aturan buatan manusia, masa iya pantas dibandingkan dengan aturan Sang Pencipta alam semesta???

Think big, think more, be smart please...

Ups, curcol detected 😬

Mungkin lebih tepat jika saya berkata:

"duhai cantik, ulurkanlah jilbabmu, lebarkanlah bajumu, karena tubuhmu begitu berharga😘😘😘"
_please, tersindirlaaaahhhh 😀

Sekali lagi, bedakan antara sindiran dengan celaan.

Seringkali kita tergelincir ke dalam suatu keributan karena salah mendefinisikan suatu permasalahan.

Namun juga jangan lupa, bila kita menasihati dengan bahasa tidak terbuka (sindiran) itu dengan tujuan atau maksud yang hina yaitu;
agar kekurangannya terbuka,
ingin membalas dendam dan kedengkian yang tinggi terhadap orang yang kita sindir,
atau dengan menyebut nama seseorang yang kita maksud.

Maka hal yang seperti inilah yang tidak dibolehkan agama.

Sebagaimana Firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan); dan jangan pula wanita mengolok-olokkan wanita-wanita lain., karena boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan); dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan jangan pula kamu panggil-memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk gelar ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman..”

(QS al-Hujurat 11).

Makanya agar kehidupan kita lebih tenang dan nyaman marilah kita saling menjaga lisan dengan sebaik mungkin, serta saling memahami posisi masing-masing sesama kita.

________
Ref :materi bimbingan islam ust. Rosyid Abu Rosyidah

PS: ini tulisan super ringan, yang ditulis menjelang tidur.
Jika anda membaca dengan ekspektasi tinggi maafkeunlah!
Jika anda membaca kemudian merasa sedikit sakit hati maafkeunlah!

just wanna say, i'am proud being muslimah.
when u disturb my principle that just mean one thing : War begin!

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -