Jika membaca adalah nutrisi hati,
Maka menulis adalah rekreasi jiwa...

Search This Blog

Powered by Blogger.

Archive for January 2018

When Your daughter being teens

Seorang kawan menghubungiku,
"Mbak, putriku minta izin pacaran"
Ia mendadak diliputi rasa panik, gelisah, was-was, dan segala macam perasaan tak karuan.
.
Menjadi single parents membuatnya bekerja extra, baik sebagai ibu maupun sebagai ayah. Ia telah melewati kesulitan berkali lipat dibandingkan orang tua yang memiliki patner. Ia bekerja sendiri menghidupi dirinya dan anak-anaknya, hingga ia tak cukup siap dengan segala problematika anak yang beranjak dewasa.
.
Bahkan bagi pasutri harmonis, urusan mendidik anak tetaplah PR besar. Terlebih dengan dunia yang semakin uzur, urusan pendidikan anak menjadi semakin kompleks. Jika dulu kita cukup mewanti-wantinya soal hubungan dengan lawan jenis, saat ini kita wajib pula membekalinya dengan urusan sesama jenis. .
Back to my friends, menurutku ketika seorang anak masih mengkomunikasikan segala sesuatu kepada orangtuanya, itu adalah salah satu parameter keberhasilan pendidikan anak. Usia remaja yang jika merujuk pola pendidikan ali bin abi thalib radiyallahu anhu (14 tahun ke atas) adalah masa dimana kita menjadikan anak-anak selayaknya sahabat. Sehingga ia bisa bebas curhat, dan bertanya segala macam hal kepada orangtuanya, alih-alih curhat g jelas kemana-mana  atau mencari tahu sendiri hal-hal yang tak diketahuinya dengan cara yang keliru.
Termasuk meminta izin untuk pacaran, (hei zaman sekarang, dimana anak-anak mulai durhaka kepada orangtuanya dengan mengatasnamakan HAM, berapa banyak sih anak-anak yang masih melakukannya).
.
Pada kawan tersebut, aku hanya bisa menyarankannya untuk mengajak putrinya berdialog, menimbang baik dan buruk dan memilah-milah hal yang terbaik bagi masa depannya.
.
Aku pribadi memilih pendidikan  dini bagi putra putriku. Mengenalkan mereka pada standar baik buruk dalam timbangan pahala dan dosa, di mana setiap usaha tersebut diiringi dengan segala macam doa, karena sejatinya doa adalah
ikhtiar paripurna.
Hingga kelak jika tiba masanya, aku berharap tak pernah mendengar mereka meminta izin pacaran melainkan izin untuk menggenapkan separuh dien saja 😊
.
.
@30haribercerita
#30haribercerita
#30hbc1802

Tolerasi itu bukan menjadi bunglon

TOLERANSI ITU BUKAN MENJADI BUNGLON
.
Sebagai insan beragama, tanpa diminta kita pasti bersedia menerima keragaman. Yang mana hal tersebut tidak berarti kita menggadaikan keyakinan dan prinsip yang kita anut. .

Menerima keragaman (baca: toleransi) berarti membiarkan dan menghormati hal-hal berbeda di luar keyakinan dan prinsip-prinsip kita dalam legitimasi yang diatur oleh hukum agama maupun hukum negara tanpa mengganggunya, mengomentarinya, mencaci-maki,  atau membully baik verbal maupun non verbal.
.
Saling menghormati pilihan fiqh khilafiyah, itu toleransi.
.
Meyakini bahwa agama yang dianutnyalah yang benar, namun menjaga kerukunan dan menghormati peribadatan agama lainnya, itu toleransi.
.
Tidak saling mengejek, mencaci, dan membully pilihan orang lain, itu toleransi.
.
Bersatu-padu menjaga keutuhan NKRI, itu toleransi.
.

Tapi,
Mendukung komunisme, liberalisme, atheisme, sinkretisme,  LGBT-isme (*eh), itu INtoleransi.
.
Mengikuti dan berpartisipasi dalam berbagai ritual agama lain, itu toleransi SALAH KAPRAH.
.
pembiaran ataupun ketidakpedulian terhadap kejahatan, ketidakadilan, dan penindasan terhadap mereka yang berbeda, itu toleransi KEBABLASAN
.
Anyway, menjadi toleran tidak berarti menjadi bunglon.
Sebagai umat beragama kita punya standar baik buruk yang sudah jelas. Semuanya, ada di kitab suci masing-masing.
.
Jika kau masih bingung mana hitam, mana putih,
mungkin itu kode keras,
kau perlu ke dokter mata 😂
.
catatan sore @30haribercerita
#30hbc1804
#30haribercerita

Biar tekor asal kesohor

Pernahkah anda mendengar teori Maslow? konon katanya tingkat tertinggi dari kebutuhan hidup manusia, adalah aktualisasi diri. Artinya, berdasarkan teori ini manusia perlu memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya sebelum naik ke tingkat selanjutnya dan selanjutnya lagi.
Kebutuhan fisiologi, rasa aman, kasih sayang, penghargaan, dan kemudian barulah aktualisasi diri.
.
Benar tidaknya teori tersebut, mungkin masih menjadi perbincangan hingga hari ini, namun di zaman now  kebutuhan aktualisasi diri rupanya setara kebutuhan dasar manusia.
orang-orang butuh sekali menunjukkan "who am i", mereka butuh diakui, butuh merasa dibutuhkan oleh orang lain (beeing needs). Jadi tak peduli kau cukup makan atau tidak, yang penting eksis dulu. Tak peduli seberapa banyak hutang, yang penting mewah dulu, tak masalah tekor yang penting kesohor.
Kau butuh menjadi jagoan, bahkan jika itu sekedar drama satu babak.
see? .
Bahkan orang awam bisa menyimpulkan, bahwa ini adalah gejala penyakit mental.
Dalam tataran personal, maka hal ini menjadi lebih sederhana, karna akibat dan tanggung jawab tak akan menyambar kemana-mana, selain berpulang ke diri pribadi.
Sialnya (upsss) urusan ini bisa jadi bukan hanya urusan personal tapi merambah ke segala instansi bermacam rupa.
.
How? saat kau dipimpin oleh manusia bergejala serupa.
.
Finally, aku teringat tulisan dr. Raehanul Bahraen " Hiduplah sesuai kemampuan jangan sesuai kemauan!" .
. .
catatan dini hari untuk @30haribercerita #30haribercerita
#30hbc1803

Pro konta AAC 2

Finally, AAC 2 difilmkan. sebagai book lovers saya tidak berekpektasi tinggi pada film-film yang diangkat dari buku, sungguh mematikan imajinasi hahaha.
.
but anyway, saya mengikuti review2 para pecinta film yang sebagian kecewa dengan sosok superman ala Fahri.
.
Bagi saya pribadi, hal ini menunjukkan betapa jauhnya umat islam dengan ajarannya sendiri.
Ketika tokoh serupa Fahri dianggap superman, manusia halu, setengah dewa, etc. Lantas bagaimana tanggapan kita ketika membaca shirah nabi, shirah shahabat, kisah para tabi'in dan tabi'ut ???
.
Sekitar Februari 2016 saya menyelesaikan membaca AAC 2 dan mereviewnya di blog saya :
Fahri, prototype muslim sejati
.
Di sana saya menuliskan:
"Kalu dulu aku agak apatis,  lantaran menganggap Fahri itu tokoh yang "malaikat" banget. Sekarang aku bersyukur, meski tokoh imajinatif,  tapi Fahri berhasil menjadi role model muslim yang menjadi rahmatan lil alamin. Fahri-Aisha-Sabina ini bukan tokoh-tokoh serupa malaikat,  tapi mereka prototype dari akhlak seorang muslim sejati. .

Dan aku sangat sepakat dengan pandangan Kang Abik yang tertuang apik dalam buku ini,  seseorang yang beragama dengan sereligius-relegiusnya akan mampu menciptakan kedamaian di muka bumi ini. Dan seorang muslim yang mendalami ajaran agamanya akan menjelma menjadi manusia yang penyayang,  semakin ia memahami islam,  maka semakin penyayang ia, bukannya menjadi teroris ( i told before that terrorists are not muslim) "
_________
.
Sebuah film memang tidak dapat mempresentasikan segala hal yang tertuang di dalam buku, bahkan jika film tersebut terlihat sangat lost logic, mengapa tidak menahan diri dari mencaci dan mencoba mengambil remahan-remahan hikmah yang pastinya tetap termuat di sana.
Sayang waktu nontonnya, jika endingnya hanya untuk menghujat.
sesungguhnya setiap detik kita akan dimintai pertanggungjawaban. Maka berusahalah agar setiap hal yang kita lakukan bermanfaat, jika ia tak bisa menambah pahala maka minimal tidak menuai dosa.
.
Catatan pagi untuk @30haribercerita #30hbc1801 #30haribercerita

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -