Jika membaca adalah nutrisi hati,
Maka menulis adalah rekreasi jiwa...

Search This Blog

Powered by Blogger.

Archive for April 2018

Astagfirullah! Begini Akibatnya Jika Mati Masih Membawa Hutang

Sahabat, hutang adalah suatu kewajiban yang harus kita lunasi, bagaimanapun caranya. Sayangnya, masih banyak orang yang menggampangkan urusan melunasi hutang. Bahkan tak sedikit yang sama sekali tak memiliki itikad baik untuk melunasi hutang yang dimilikinya.
Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bahkan sangat memperhatikan soal ini. Beliau pernah enggan menyolatkan jenazah yang masih memiliki tanggungan hutang, hingga salah stau sahabat bersedia melunasinya, maka barulah Rasulullah bersedia ikut menyolatkannya.

Referensi pihak ketiga
Sahabat, orang yang mati dalam keadaan masih membawa hutang dan belum juga dilunasi, maka untuk membayarnya akan diambil dari pahala kebaikannya. Itulah yang terjadi ketika hari kiamat karena di sana tidak ada lagi dinar dan dirham untuk melunasi hutang tersebut.
Beratnya soal berhutang ini juga digambarkan, sebagaimana seseorang yang syahid dijalan Allah, kemudian dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi, kemudian dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi, sementara ia memiliki hutang, ia tidak dapat masuk surga hingga hutangnya lunas terbayar.

Referensi pihak ketiga
Sahabat , ingatlah bahwa hutang adalah perkara darurat. Artinya seorang muslim harusnya tidak bermudah-mudah berhutang dan hanya dilakukan di saat sangat membutuhkan saja. Jika sudah mampu membayar, maka segera bayar, jangan menunda-nundanya untuk keperluan lainnya yang masih bisa ditangguhkan apalagi hanya untuk menuruti hawa nafsu terhadap benda-benda duniawi. Karena sengaja memunda membayar hutang padahal mampu adalah suatu kedzaliman.
Semoga kita terhindar dari hutang yang menggerus pahala kebaikan kita, dan semoga hutang yang kita miliki bisa segera terbayar lunas sebelum maut menjemput.

Referensi pihak ketiga
Sumber Referensi : mozaik.inilah.com/read/detail/2450559/awas-mati-dalam-keadaan-masih-miliki-utang
Tag : ,

Subhanallah! Inilah 2 waktu Mustajab Untuk Berdoa Khusus di Hari Jum'at

Sahabat, hari apa yang paling kalian nanti dalam seminggu?

Sumber Gambar: arah.com/article/36247/10-keistimewaan-hari-jumat.html
Tahukah kalian, ternyata hari Jum'at sangat pantas untuk dinantikan. Bukan karena Jum'at biasanya merupakan hari terakhir dalam hari-hari kerja melainkan karena keistimewaan yang dimilikinya.
Apa saja keistimewaannya? Banyak.
Dari riwayat Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan bahwa hari paling baik dimana matahari terbit adalah hari jumat.
Pada hari itu Adam diciptakan.
Pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga. Serta diturunkan dari surga.
Pada hari itu juga kiamat akan terjadi.
Pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintaannya.
Subhanallah, di antara sekian banyak keistimewaan hari Jum'at, terdapat waktu yang mustajab untuk berdoa. Sebagai manusia yang sangat butuh akan pengabulan doa dari sang Pencipta, kita bisa memanfaatkan waktu mustajab ini untuk berdoa.


Sumber Gambar: tamanfaidah.wordpress.com/2016/08/03/keutamaan-hari-jumat/
Dari berbagai pedapat ulama, ada dua pendapat yang paling kuat mengenai waktu mustajab tersebut, yaitu:
  1. 1. Waktu itu dimulai dari duduknya imam sampai pelaksanaan shalat jum’at
Hal ini sebagaimana riwayat Muslim, ‘Abdullah bin ‘Umar berkata pada Abu Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari “Apakah engkau telah mendengar ayahmu meriwayatkan hadits dari Rasulullah sehubungan dengan waktu ijaabah pada hari jum’at?”
Lalu Abu Burdah mengatakan,'Aku mendengar Rasulullah bersabda, Yaitu waktu antara duduknya imam sampai shalat dilaksanakan.'
2. Batas akhir dari waktu mustajab tersebut hingga setelah ‘ashar
Diriwayatkan oleh Abu Dawud 'Hari jum’at itu dua belas jam. Tidak ada seorang muslimpun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘ashar.'
Kita memang bisa berdoa kapan saja dan di mana saja, namun memanfaatkan waktu-waktu mustajab bisa menjadi sebab terkabulnya doa. Bagaimanapun doa adalah salah satu ibadah yang sekaligus kekuatan tak kasat mata yang merupakan bentuk penghambaan terbesar hamba kepada Rabbnya.


Sumber Gambar: daarulmuhsinin.com/jumat-barokah-14-ramadhan-1438h-09-juni-2017/

Sumber Referensi:
muslimah.or.id/74-ternyata-hari-jumat-itu-istimewa.html

Ternyata Inilah Perjalanan Terberat Bagi Para Pria, Bahkan yang Mengaku Tangguh Sekalipun

Pria, adalah sosok tangguh yang dipundaknya dibebankan tanggung jawab kepemimpinan. Tanggung jawab tersebut dibebankan bukan tanpa alasan, namun pria memang diberi kelebihan dibanding para wanita.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Laki-lakilah yang seharusnya mengurusi kaum wanita. Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, sebagai hakim bagi mereka dan laki-lakilah yang meluruskan apabila wanita menyimpang dari kebenaran".
Tapi, percayakah anda ternyata banyak pria tangguh yang diberi amanah kepemimpinan itu merasa sangat berat dan tak sanggup melakukan sebuah perjalanan.
Perjalanan yang terberat dan terjauh bagi para pria bukanlah perjalanan mengelilingi dunia, atau perjalanan berpeluh mencari nafkah, melainkan perjalanan menuju masjid. Ya, perjalanan menuju masjid yang bisa jadi jaraknya kurang 100 meter dari rumah tinggalnya.
Aduhai, ada apakah dengan para pria yang seyogyanya menjadi pemimpin bagi para wanitanya?
Bagaimanakah ia melakukan tugas berat kepemimpinan, jika ia tak sanggup memimpin dirinya sendiri untuk melangkah menuju masjid?
Sungguhlah, melabuhkan hati untuk memenuhi seruan-Nya memang tak semudah menuju tempat hiburan. Akankah hati kita yang lemah ini dipenuhi teori-teori Paulo, JJ Rouseau, Pestalozi, Fribel atau Komersky? Dan melupakan mutiara bening yang terkandung dalam Al-Qur'an dan Al-Hadist?
Semoga, seluruh pria-pria muslim diberi kemudahan untuk melangkahkan kakinya menuju masjid, karena sesungguhnya keutamaannya sungguh besar sekali.
“Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, yaitu selisih 20 sekian derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan shalat selama ia menunggu hingga shalat dilaksanakan. Para malaikat lalu mendo’akan orang yang senantiasa di tempat ia shalat, “Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah taubatnya.” Hal itu selama ia tidak berbuat kejelekan dan tidak berhadats.” (HR. Bukhari no. 477 dan Muslim no. 649).
Jadi, wahai anda para pria muslim tangguh, sudahkah ke masjid hari ini???

Sumber Gambar: pixabay.com/id/volkswagen-petualangan-perjalanan-569315/
Sumber Referensi:
  1. Rumaysho.com/947-pemimpin-wanita-menurut-kaca-mata-islam.html
  2. rumaysho.com/3412-renungan-untuk-rajin-shalat-berjama-ah-di-masjid.html
Tag : ,

Bercerminlah!!!

Dikutip dari Adabul Mufrad, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, berkata:
“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.”
(Adabul Mufrad no. 592, shahih)
Ya, inilah kita manusia, lebih mudah mengetahui dan mencari-cari aib orang lain ketimbang menyadari aib dan kesalahan sendiri. Padahal kita seharusnya lebih peduli pada aib kita sendiri, adapun aib orang lain sesungguhnya kita tak mengetahui secara detail seluk beluk hati mereka.
Mencari manusia yang bersih dari aib, tentu perkara mustahil. Bahkan Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,
“Barangsiapa mencari teman yang tidak memiliki aib, sungguh ia akan hidup sendiri tanpa teman.” (Sya’bul Iman no. 7887)
Sejatinya kita butuh banyak bercermin sehingga dapat melihat segala kekurangan dan aib kita. Dengan mengetahuinya, tentu kita akan merasa sungkan dan malu untuk membicarakan aib orang lain.
Pada kenyataannya kita masih sering menggunakan teropong untuk mengintai dan memata-matai prilaku orang lain, sehingga cermin kita berdebu, tak lagi bisa melihat kekurangan diri sendiri.
Ketahuilah, jika kita selalu melihat kesalahan orang lain, sesungguhnya ada yang salah dengan hati kita. Berhati-hatilah karena hati kita sangat butuh untuk diobati.
Abdullah Al Muzani rahimahullah berkata:
"Jika iblis memberikan was-was kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka perhatikanlah:
Jika ada orang lain yang lebih tua darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal sholih dariku, maka ia lebih baik dariku.”
Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Aku telah lebih dulu bermaksiat dan berlumuran dosa serta lebih pantas mendapatkan siksa dibanding dirinya, maka ia sebenarnya lebih baik dariku.”
Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.” [Hilyatul Awliya’ 2/226]

Renungi aibmu sendiri (Sumber Gambar: marimembaca.com/2016/07/mengenal-aib-dirimu-sendiri.html)

Sumber Referensi:
  1. Muslimafiyah.com/gunakan-cermin-bukan-teropong.html
  2. rumaysho.com/1201-sibuk-memikirkan-aib-sendiri.html
Tag : ,

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -