Jika membaca adalah nutrisi hati,
Maka menulis adalah rekreasi jiwa...

Search This Blog

Powered by Blogger.

Archive for December 2018

Tak Masalah Jika Si Cantik Ternyata Berjodoh Dengan Si Buruk Rupa, Asalkan...

Siapa yang tahu, ada hikmah apa di balik jodoh yang telah ditetapkan Tuhan untukmu. Bahkan jika orang-orang menilai dan memprediksi segala macam hal, pada kenyataannya Tuhan tak pernah salah mengirimkan pasangan bagi setiap orang.
 Hasil gambar untuk jodoh
Dikisahkan Al A’masi sang menteri menemani Harun Ar Rasyid berkegiatan. Di tengah padang pasir ia merasa sangat kehausan. Al A’masi pun menemukan sebuah kemah. Ia bergegas ke sana, dan terkesima begitu mengetahui kemah itu dihuni oleh seorang wanita yang cantik mempesona.
Sang wanita terkejut dengan kedatangan Al A'masi.
“Aku Al A’masi, menterinya Harun Ar Rasyid. Bolehkah aku minta air?” kata Al A’masi memberitahukan keperluannya.
“Maaf, suamiku melarangku memberikan air kepada orang lain,” jawaban wanita itu membuat Al A’masi kembali menahan haus, dalam hati ia bertanya-tanya lelaki seperti apa yang melarang istrinya menolong orang lain.
“Tapi aku punya jatah makan pagi, berupa susu yang belum kuminum. Ambillah untukmu.” Lanjut wanita itu. Al A’masi bersyukur sekaligus kagum dengan kemuliaan wanita tersebut.
Tak berselang lama, seorang lelaki yang menaiki onta, terlihat mendekati kemah.
“Itu suamiku” kata wanita tersebut sambil bergegas menghampiri suaminya.
Sang suami ternyata adalah lelaki tua, hitam dan jelek. Wanita itu membantu suaminya turun dari onta, kemudian mencuci tangan dan kakinya. Laki-laki itu kemudian masuk ke dalam kemah tanpa mempedulikan dan menyapa Al A’masi. Dari dalam kemah, terdengar laki-laki itu berkata buruk kepada istrinya.
Sebelum berlalu, Al A’masi berkata kepada wanita itu “Engkau ini masih muda, cantik, dan berakhlak mulia, tetapi mengapa bergantung kepada suami seperti itu? Apakah karena hartanya? Padahal ia miskin. Apakah karena ketampanannya? Padahal ia hitam dan jelek. Apakah karena akhlaknya? Padahal akhlaknya buruk. Sungguh aku kasihan padamu”
“Aku justru kasihan kepadamu wahai Al A’masi” jawab wanita itu dengan tegas. “Bagaimana mungkin Harun Ar Rasyid memiliki menteri yang berusaha menjauhkan seorang muslimah dari suaminya. Ketahuilah, iman itu separuhnya adalah syukur dan separuhnya adalah sabar. Aku bersyukur karena Allah membimbingku dengan Islam dan memberiku kecantikan. Dan kini aku belajar bersabar dengan suami seperti yang engkau sebutkan.”
Al A’masi tak bisa berkata apa-apa. Sungguh mengagumkan wanita itu. Allah telah memuliakan akhlaknya sebagaimana Dia telah mempercantik wajahnya.
Sahabat, demikianlah cinta. Ia tak melulu penting kala kita memilih pasangan hidup. Cinta sesungguhnya adalah pada saat kita bersabar dalam mempertahankan ikatan suci pernikahan.
Tak masalah cantik ataukah buruk rupa, berharta atau tak berpunya, sesungguhnya jodoh sudah menjadi ketetapan yang tak bisa kita rubah. Dan itulah cinta saat engkau menerima semua kelebihan dan kekurangan pasanganmu.
Pasangan yang telah menikah dengan kita, kadang kita dapati tidak sesuai dengan mimpi-mimpi indah kita. Kita melihat banyak pasangan ideal yang bisa dijadikan pelajaran, seperti Adam dan Hawa, Ibrahim dan Sarah, atau Muhammad dan Khadijah. Namun jangan lupa, sejarah juga mengisahkan tentang Nuh dan istrinya yang durhaka, serta Asiyah yang beriman dan Fir'aun yang mengaku tuhan.
Maka jika kebetulan engkau si cantik rupawan yang berjodoh dengan dia yang buruk rupa lagi tak berakhlak mulia, bersyukurlah. Pahala Kesabaran sesungguhnya menantimu. Ingatlah sebuah pepatah, jika pasanganmu tak seburuk Fir'aun, mengapa engkau tak mencoba menjadi semulia Asiyah.
Gambar terkait
Tulisan ini pertama kali tayag di UC NEws pada akun Sara Amijaya dengan judul: 

Aku Cantik, dan Engkau Buruk Rupa, Syukurlah Kita Berjodoh!

20 Tahun Bersama, Sekalipun Tak Pernah Membuat Suaminya Marah, Ini Yang Dilakukannya

Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. 
(HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany).


Siapa yang tak ingin menjadi wanita sholihah, yang jika menutup mata dalam keadaan iman Islam, serta di bawah keridhoaan suaminya, maka ia bisa masuk surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya.
Tapi, tahukah kalian seperti apa sosok wanita sholihah itu?
Mungkin kisah berikut akan memberi sebuah gambaran....

Adalah Syuraih al-Qadhi salah seorang tabi’in yang ditunjuk oleh Umar bin Khattab menjadi pejabat hakim di wilayah kekhalifahan Islam. Ia menikahi seorang wanita bani Tamim
Syuraih bercerita kepada sahabatnya Sya'bi. Pada suatu waktu Syuraih melakukan perjalanan dan di tengah jalan kehausan. Kala itu seorang wanita tua bersama putrinya memberinya minum. Ia pun merasa tertarik pada putri sang wanita tua tersebut, dan berniat menikahinya.
Ketertarikan Syuraih berbalas. Lamarannya diterima, dan pernikahan pun dilangsungkan. Setelah pernikahan, Syuraih pulang ke rumahnya dan tiba-tiba merasa menyesal menikahi wanita bani Tamim tersebut.
“Aku telah menikah dengan keluarga Arab yang paling keras dan kasar.” Syuraih teringat kepada wanita-wanita bani Tamim dan mereka keras hatinya.
Ia berniat menceraikan istrinya, namun kemudian menahannya. Ia memutuskan untuk melihat dulu bagaimana tabiat istrinya tersebut.

Berapa hari setelah itu para wanita Tamim datang mengantarkan sang Istri kepadanya. Ketika itu Syuraih berkata kepada istrinya, “Istriku, termasuk sunnah jika laki-laki bersatu dengan istrinya untuk shalat dua rakaat dan dia pun demikian.”
Syuraih berdiri shalat, kemudian menengok ke belakang, dan mendapati sang istri telah bermakmum di belakangnya.
Manakala rumah telah sepi, Syuraih mendekati istrinya dan menjulurkan tangan ke arahnya. Namun sang istri berkata, “Tetaplah di tempatmu.”
Syuraih bergumam, “Sebuah musibah telah menimpaku.” Ia mengira sang istri telah menolaknya.
Wanita itu memuji Allah dan membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan berkata, “Aku adalah wanita Arab. Demi Allah, aku tidak melangkah kecuali untuk perkara yang diridhai Allah. Dan kamu adalah laki-laki asing, aku tidak mengenal akhlak kepribadianmu. Katakan apa yang kamu sukai, sehingga aku bisa melakukannya. Katakan apa yang kamu benci, sehingga aku bisa menjauhinya.”
Maka Syuraih menjawab, “Aku suka ini dan ini (menyebut ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan, dan makanan-makanan yang ia sukai) dan juga membenci ini dan ini.”
Istrinya kembali bertanya, “Jelaskan kepadaku tentang kerabatmu. Apakah kamu ingin mereka mengunjungimu?”
Syuraih menjawab, “Aku seorang hakim. Aku tidak mau mereka membuatku jenuh.”
Syuraih melalui malam yang penuh kenikmatan. Ia tinggal bersama istrinya selama tiga hari. Kemudian pergi ke majlis pengadilan untuk kembali bekerja.
Setahun kemudian, ketika pulang ke rumah, Syuraih mendapati seorang wanita tua yang memerintah dan melarang, wanita itu adalah ibu mertuanya.
Ibu mertuanya berkata, “Wahai Abu Umayyah, apa kabarmu?”
Syuraih menjawab, “Baik, alhamdulillah.”
Ibu mertuanya kembali bertanya, “Bagaimana istrimu?”
Syuraih menjawab, “Wanita terbaik dan teman yang menyenangkan. Ibu telah mendidiknya dengan baik dan mengajarkan budi pekerti dengan baik pula kepadanya.
Ibu mertuanya berkata, “Seorang wanita tidak terlihat dalam suatu keadaan dimana prilakunya paling buruk kecuali dalam dua keadaan. Jika dia telah memperoleh tempat di sisi suaminya dan jika dia telah melahirkan anak. Jika kamu melihat sesuatu yang membuatmu marah darinya, maka pukullah (dengan pukulan yang membimbing, tidak membekas). Karena laki-laki tidak memperoleh keburukan di rumahnya kecuali dari wanita bodoh dan manja.”
Diakhir kisah Syuraih bersaksi bahwa selama berumah tangga 20 tahun dengan istrinya itu, sekalipun ia tak pernah mencela dan marah kepadanya, karena baiknya tabiat sang istri.
Masyaallah, demikianlah wanita sholehah yang menjadi sebaik-baik perhiasan dunia. Semoga kita bisa mengambil manfaat dari kisah istri Syuraih ini.

Artikel ini terbit pertama kali di UC News pada akun Sara Amijaya dengan Judul: 

Luar Biasa! Istri Idaman, 20 Tahun Bersama Sekalipun Tak Pernah Membuat Suaminya Marah

Pelakor atau Istri Kedua? Berani Poligami, Berani Adil!


"Kenapa aku disebut pelakor? Padahal kami menikah secara sah menurut agama? Aku bukan pelakor, hanya istri kedua! "
Pertanyaan dan pernyataan tersebut diposting dalam salah satu grup tertutup di Facebook. Jangan tanya berapa ramai komentarnya. Pro dan kontra tentu.




Fenomena pelakor seolah tak ada habisnya. Terlebih ditunjang semakin maraknya beragam media sosial dan kemudahan mengaksesnya.
Faktanya, dalam banyak kasus pihak yang paling bersalah adalah pihak lelaki, mendapatkan keuntungan seksual tentu saja, dan beberapa yang lain seringnya juga mendapat keuntungan materiil, seperti harta. Namun tetap saja, yang lebih banyak dihujat adalah pihak wanita. Sang pelakor, Perebut laki orang.
Jujur saja, saya sedikit geli ketika mendengar akronim pelakor pertama kali. Dalam benak saya, laki-laki itu adalah sosok maskulin,dan tentu saja memiliki kekuatan lahir batin di atas wanita, bukankah itu alasan mengapa lelaki dijadikan pemimpin bagi para wanita?
Jadi mendengar kata perebut, bagi saya hal tersebut terdengar absurd. Apakah lelaki ini sudah serupa seonggok barang yang tak punya daya upaya sehingga bisa begitu saja diperebutkan?
Saat seorang lelaki berstatus suami tergoda oleh wanita lain, maka hal tersebut pastilah bukan dengan paksaan. Saya percaya ia tergoda karena lemahnya iman dan komitmen terhadap ikatan perkawinannya. Pun dari banyak kasus pelakor, yang terjadi adalah perzinahan diluar perkawinan, perselingkuhan. Proses perceraian dengan istri syah, ataupun pernikahan dengan sang pelakor seringnya terjadi belakangan, setelah perselingkuhan tersebut terungkap.
Adapun kasus suami menikah lagi tanpa meninggalkan atau menceraikan istri pertama, tentu saja tidak bisa dipukul rata setara dengan kasus pelakor. Sebagai muslimah, saya tunduk dan taat pada syariat poligami yang seyogyanya merupakan bukti keadilan Allah azza wajalla.

Tapi tentu keadilan suami adalah hal terpenting dalam hal ini. Menikah lagi atau lebih spesifik menikahi janda kemudian membuat janda istri pertama tentu bukanlah bentuk keadilan. Dalam kasus seperti ini istri kedua tentu tak jauh beda dengan pelakor.
Poligami memang tak membutuhkan izin istri pertama, tapi tanpa diketahui oleh istri pertama tak akan pernah ada keadilan dalam kehidupan poligami. Tentu kita menyayangkan wanita-wanita yang bersedia menjadi istri kedua tanpa sepengetahuan istri pertama, dan tidak melakukan pernikahan yang sah secara hukum negara ini. Hal tersebut merupakan dukungan pada ketidakadilan suami.
Padahal, negara kita tercinta ini telah menyediakan mekanisme untuk pernikahan poligami secara alegal. Namun, karena rasa keadilan para lelaki belum sampai 'maqom'nya maka beragam alasan bermunculan, "nanti diurus belakangan", "Aduh ribet, yang penting sah dululah, ketimbang zina", dan alasan apalah-apalah yang lainnya.
Duhai, jika memang mampu berlaku adil maka mulailah dengan melegalkan pernikahan poligami anda secara syariat dan negara!


Artikel ini telah terbit pertama kali di UC News pada akun Sara Amijaya dengan judul: Aku Bukan Pelakor, Hanya Istri Kedua!

Jangan Pelihara Rasa Ini!

Pernahkah anda merasa begitu kesal saat tetangga anda membeli motor baru? Atau anda merasa luar biasa sebal saat tetangga anda yang lain menemui anda dengan perhiasan memenuhi tubuh seolah sengaja dipamerkan? 
Inginnya saat itu juga anda memamerkan motor anda dengan merk yang lebih terkenal dan harga yang lebih mahal, atau memamerkan pula perhiasan anda yang lebih berkilau dan lebih berat.
Jika pernah, anda mungkin perlu membaca tulisan ini, bahkan jika belum pernah anda juga perlu tahu, karena perasaan tersebut bisa saja tiba-tiba menghantui anda.

Mungkin, anda belum menyadari bahwa perasaan kesal dan sebal tersebut berakar dari rasa iri. Merasa tidak nyaman, tidak suka, bahkan marah terhadap hal-hal di luar kita khususnya milik orang lain, itulah iri. 
Sederhananya iri adalah reaksi tehadap hal-hal yang tidak kita miliki. Seringnya reaksi ini bersifat negatif dan merusak.
Rasa iri bukanlah sesuatu yang bisa hilang dengan sendirinya saat kita melebarkan senyum dan bermanis kata. Alih-alih lenyap, rasa iri yang tidak segera diatasi seringnya akan membesar menjadi dengki dan hasad.
Rasa iri hanya muncul dalam bentuk ketidaksukaan terhadap apa-apa yang dimiliki orang lain, tapi dengki dan hasad menimbulkan pula rasa ingin menghilangkan apa yang dimiliki oleh orang lain tersebut. Hal ini tentu akan berakibat tidak baik bagi orang lain maupun diri sendiri.

Agar iri tidak terus berkembang, ada beberapa kiat yang bisa anda coba:
  • Perteballah keimanan anda
Tak bisa dipungkiri, keimanan anda mempengaruhi cara anda menjalani kehidupan. Semakin baik anda menjalankan ajaran agama anda semakin kecil kemungkinan anda akan diperdaya hawa nafsu bernama iri.
  • Bersyukurlah atas kehidupan yang anda jalani
Anda mungkin tak pernah menyadari, ketika anda iri dengan hidup orang lain, di saat yang sama orang-orang lainnya pun merasa iri dengan kehidupan yang anda jalani. Ketimbang membebani diri dengan terus menatap pencapaian orang lain, bersyukurlah atas kehidupan yang anda jalani, karena bisa saja kehidupan anda adalah kehidupan yang orang lain inginkan.
Percayalah, ketika anda menggali dalam kehidupan anda sendiri bukannya kehidupan orang lain, anda akan menemukan banyak sekali hal yang bisa anda syukuri.
Keluarga yang menyayangi dan siap melakukan apapun untuk anda, bakat yang anda miliki dan siap dikembangkan, dan hal lainnya. Untuk bersyukur anda perlu fokus pada apa yang sudah anda miliki alih-alih memikirkan hal-hal yang tidak anda miliki.
  • Maafkanlah orang yang membuat anda iri dan maafkanlah diri anda sendiri
Tentu saja memaafkan orang yang membuat anda iri tidak bermakna bahwa orang tersebut bersalah kepada anda. Tapi anda akan memandang segala pencapaiannya dengan sudut pandang yang baru, sehingga anda bisa membangun empati yang positif atas pencapaiannya tersebut. Dan anda juga harus memaafkan diri sendiri atas pencapaian anda yang masih kurang maksimal.
Anda bisa mengatakan pada diri sendiri kalimat semisal " Aku bangga bahwa kawanku telah memiliki rumah dan kendaraan yang bagus berkat kerja kerasnya, dan aku memaafkan diriku sendiri bahwa aku memang belum memiliki rumah dan kendaraan yang sebagus miliknya, bahwa usahaku memang belum maksimal..." dan kalimat-kalimat semisal lainnya.
  • Sering-seringlah memandang orang yang lebih kekurangan
Seburuk apapun anda kondisi anda, anda masih dengan mudah bisa menemukan orang-orang yang posisinya jauh di bawah anda. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut anda akan membangun kesyukuran dan berhenti merasa iri pada orang yang telah melampaui anda
  • Hiduplah dengan standar kesuksesan anda sendiri
Anda perlu menyetel ulang standar kesuksesan dalam hidup anda. Saat anda telah menentukan standar yang tepat sesuai tujuan hidup anda, maka kesuksesan orang lain tidak akan pernah mengganggu perasaan anda.
Nah, kelima kiat ini tentu saja hanya bisa bermanfaat ketika anda menyadari bahwa anda memiliki rasa iri terhadap sesuatu dan berniat bersungguh-sungguh untuk melenyapkan perasaan tersebut. Anda tentu saja bisa mencoba kiat anda sendiri. Karena pada dasarnya setiap manusia itu unik, dan memiliki caranya sendiri dalam menjalankan kehidupannya.
Jadi, biarkanlah orang lain memiliki apa yang seharusnya dia miliki, karena apa yang dimiliki orang lain belum tentu cocok dengan apa yang anda butuhkan dalam kehidupan anda sendiri!

Artikel ini telah terbit pertama kali di UC News pada akun Sara Amijaya dengan judul: Biarkan Dia Memiliki!

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -