Posted by : sarah amijaya Wednesday, 26 December 2018

Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. 
(HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany).


Siapa yang tak ingin menjadi wanita sholihah, yang jika menutup mata dalam keadaan iman Islam, serta di bawah keridhoaan suaminya, maka ia bisa masuk surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya.
Tapi, tahukah kalian seperti apa sosok wanita sholihah itu?
Mungkin kisah berikut akan memberi sebuah gambaran....

Adalah Syuraih al-Qadhi salah seorang tabi’in yang ditunjuk oleh Umar bin Khattab menjadi pejabat hakim di wilayah kekhalifahan Islam. Ia menikahi seorang wanita bani Tamim
Syuraih bercerita kepada sahabatnya Sya'bi. Pada suatu waktu Syuraih melakukan perjalanan dan di tengah jalan kehausan. Kala itu seorang wanita tua bersama putrinya memberinya minum. Ia pun merasa tertarik pada putri sang wanita tua tersebut, dan berniat menikahinya.
Ketertarikan Syuraih berbalas. Lamarannya diterima, dan pernikahan pun dilangsungkan. Setelah pernikahan, Syuraih pulang ke rumahnya dan tiba-tiba merasa menyesal menikahi wanita bani Tamim tersebut.
“Aku telah menikah dengan keluarga Arab yang paling keras dan kasar.” Syuraih teringat kepada wanita-wanita bani Tamim dan mereka keras hatinya.
Ia berniat menceraikan istrinya, namun kemudian menahannya. Ia memutuskan untuk melihat dulu bagaimana tabiat istrinya tersebut.

Berapa hari setelah itu para wanita Tamim datang mengantarkan sang Istri kepadanya. Ketika itu Syuraih berkata kepada istrinya, “Istriku, termasuk sunnah jika laki-laki bersatu dengan istrinya untuk shalat dua rakaat dan dia pun demikian.”
Syuraih berdiri shalat, kemudian menengok ke belakang, dan mendapati sang istri telah bermakmum di belakangnya.
Manakala rumah telah sepi, Syuraih mendekati istrinya dan menjulurkan tangan ke arahnya. Namun sang istri berkata, “Tetaplah di tempatmu.”
Syuraih bergumam, “Sebuah musibah telah menimpaku.” Ia mengira sang istri telah menolaknya.
Wanita itu memuji Allah dan membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan berkata, “Aku adalah wanita Arab. Demi Allah, aku tidak melangkah kecuali untuk perkara yang diridhai Allah. Dan kamu adalah laki-laki asing, aku tidak mengenal akhlak kepribadianmu. Katakan apa yang kamu sukai, sehingga aku bisa melakukannya. Katakan apa yang kamu benci, sehingga aku bisa menjauhinya.”
Maka Syuraih menjawab, “Aku suka ini dan ini (menyebut ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan, dan makanan-makanan yang ia sukai) dan juga membenci ini dan ini.”
Istrinya kembali bertanya, “Jelaskan kepadaku tentang kerabatmu. Apakah kamu ingin mereka mengunjungimu?”
Syuraih menjawab, “Aku seorang hakim. Aku tidak mau mereka membuatku jenuh.”
Syuraih melalui malam yang penuh kenikmatan. Ia tinggal bersama istrinya selama tiga hari. Kemudian pergi ke majlis pengadilan untuk kembali bekerja.
Setahun kemudian, ketika pulang ke rumah, Syuraih mendapati seorang wanita tua yang memerintah dan melarang, wanita itu adalah ibu mertuanya.
Ibu mertuanya berkata, “Wahai Abu Umayyah, apa kabarmu?”
Syuraih menjawab, “Baik, alhamdulillah.”
Ibu mertuanya kembali bertanya, “Bagaimana istrimu?”
Syuraih menjawab, “Wanita terbaik dan teman yang menyenangkan. Ibu telah mendidiknya dengan baik dan mengajarkan budi pekerti dengan baik pula kepadanya.
Ibu mertuanya berkata, “Seorang wanita tidak terlihat dalam suatu keadaan dimana prilakunya paling buruk kecuali dalam dua keadaan. Jika dia telah memperoleh tempat di sisi suaminya dan jika dia telah melahirkan anak. Jika kamu melihat sesuatu yang membuatmu marah darinya, maka pukullah (dengan pukulan yang membimbing, tidak membekas). Karena laki-laki tidak memperoleh keburukan di rumahnya kecuali dari wanita bodoh dan manja.”
Diakhir kisah Syuraih bersaksi bahwa selama berumah tangga 20 tahun dengan istrinya itu, sekalipun ia tak pernah mencela dan marah kepadanya, karena baiknya tabiat sang istri.
Masyaallah, demikianlah wanita sholehah yang menjadi sebaik-baik perhiasan dunia. Semoga kita bisa mengambil manfaat dari kisah istri Syuraih ini.

Artikel ini terbit pertama kali di UC News pada akun Sara Amijaya dengan Judul: 

Luar Biasa! Istri Idaman, 20 Tahun Bersama Sekalipun Tak Pernah Membuat Suaminya Marah

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -