Jika membaca adalah nutrisi hati,
Maka menulis adalah rekreasi jiwa...

Search This Blog

Powered by Blogger.

Archive for 2019

Ayah Ini Menangis Bertanya di Kasir, "Bolehkah Aku Membeli Kuahnya Saja?"

Orangtua yang berperan selayaknya orangtua, maka sungguh pengorbanan mereka adalah suatu hal yang tak mungkin terbalaskan. Mereka rela menderita, menahan malu, bahkan melakukan hal-hal tak terduga demi membahagikan buah hatinya.
Sayangnya, tak semua anak memahami apa yang telah orangtua lakukan demi mereka, dan justru bersikap menyakitkan seolah-olah menjadi anak yang paling menderita.

Referensi pihak ketiga
Sebuah kisah pernah dibagikan melalui akun twitter Nolly Nurlinda. Saat itu ia sedang berada di sebuah mini market di negeri jiran, Malaysia.
Saat sedang mengantre di kasir, seorang ayah dengan putri remajanya sedang menyelesaikan transaksi. Sang ayah dengan malu bertanya berapa harga Oden (makanan khas Jepang yang ditusuk seperti sate dan berkuah, biasanya dijual ala jajanan pinggir jalan) yang dijual di sana.
Sang kasir menyebut harga, dan ayah ini tampak menghitung sisa uang di dompetnya. Dengan lirih ia berusaha menawar, "Bolehkah saya membeli kuahnya saja? " tanyanya kelu.
Sang kasir dengan bingung namun merasa pilu menggeleng lirih, "Maaf, pak. Tidak bisa."
"Itu jajanan favorit putriku, namun uangku tak cukup hari ini." Ujar lelaki itu dengan menahan malu. Sementara putrinya dengan gusar menghentakkan kaki dan berkata ketus, "Hish, Sudah la..." dan bergegas pergi keluar dengan wajah tak sedap di pandang.
Seorang wanita segera maju dan memutus antrean, ia membeli oden dan langsung menyerahkan makanan tersebut kepada lelaki itu, "Ini bang, saya belikan untuk anak abang."
Lelaki itu mengucapkan terima kasih dengan wajah yang menyiratkan beragam emosi, rasa malu, terima kasih, haru, dan entah apa lagi. Ia menunduk menitikkan air mata.
Sebuah pemandangan yang menyentuh semua orang yang menyaksikan peristiwa tersebut. Sungguh. menimbulkan haru di hati orang-orang, semua melihat bagaimana usaha seorang ayah demi membahagiakan putrinya. Dan mereka sekaligus merasa geram dengan sikap putrinya yang demikian.

Begitulah, terkadang seorang anak kurang menghargai kebaikan orangtuanya, dan hanya bisa menuntut untuk memenuhi keinginan mereka.

Referensi pihak ketiga
Sumber Referensi:
Twitter: Nolly Nurlinda

Jujuran Kemahalan, Pria Ini Ungkit Keperawanan Pacar. Perempuan Pasti Nyesal!

Seiring semakin bebasnya pergaulan muda-mudi, maka semakin mudah bagi para wanita untuk melepas kehormatannya jauh sebelum menikah dan belum tentu pula ia akhirnya menikah dengan lelaki tersebut.

Referensi pihak ketiga
Dikisahkan, Galih dan Ratna (bukan nama sebenarnya) sudah berpacaran selama 3 tahun. Dan tahun ini Ratna mendesak Galih untuk segera melamar karena usianya yang sudah semakin mendekati angka tiga puluh.
Galih tidak langsung mengiyakan. Ia memiliki ganjalan di hatinya. 3 tahun berpacaran, hubungan mereka memang sudah melewati batas. Perzinaan adalah hal lumrah yang mereka lakukan atas dasar suka sama suka. Namun, Galih melepas keperjakaannya dengan Ratna, sementara Ratna telah tidak perawan entah oleh siapa.
Jauh di lubuk hati Galih, ia menginginkan seorang wanita perawan untuk menjadi istrinya. Bukan Ratna, meski sudah dizinainya secara gratis selama 3 tahun ini. Namun, atas desakan Ratna, Galih pun datang menemui orangtua Ratna dan membicarakan pernikahan mereka.
Siapa sangka, orangtua Ratna meminta sejumlah uang sebesar Rp 40 juta di luar mahar dan seserahan. Galih seketika menolak, dalam hatinya ia mengingat biaya pernikahan saudarinya yang hanya meminta biaya sebesar Rp 20 juta, padahal Galih yakin sekali bahwa saudarinya itu masih sangat terjaga.
Menimbang hal tersebut, Galih memutuskan hanya akan memberikan uang sebesar Rp 10 juta karena Ratna yang akan dinikahinya sudah tidak gadis lagi. Tentu saja alasan ini tidak disampaikannya kepada orangtua Ratna, namun Ratna memahaminya.
Orangtua Ratna yang tidak tahu menahu sama sekali tak mau menurunkan biaya yang mereka minta. Galih pun dengan rasa tak bersalah mundur teratur dan memilih memutus komunikasi. Yang tertinggal hanyalah Ratna dengan segala penyesalannya.

Kisah serupa dengan beragam kepiluannya mungkin menjamur di luar sana. Kisah ini saya bagikan dengan harapan para wanita mengambil pelajaran. Keperawanan memang bukan jaminan yang menentukan baik buruknya seseorang, terlebih sebagai penentu 'harga' seorang wanita.
Namun ternyata pria 'rusak' sekalipun mendambakan seorang wanita yang belum pernah terjamah oleh pria lainnya. Maka, tentu ini menjadi pelajaran tersendiri bagi setiap wanita yang belum menikah.
Jagalah dirimu!
Jagalah kehormatanmu!
Teruslah berusaha menjadi baik, maka niscaya engkau akan bertemu dengan orang baik pula.

Referensi pihak ketiga

Sumber Referensi:
Kisah nyata yang penulis baca di salah satu forum curhat lelaki

Menyesal Sudah Menikah Diam-diam, Ternyata Istri kedua Tak 'Seindah' Istri Pertama

Sudah sunnatullahnya wanita adalah godaan terbesar bagi seorang pria. Bahkan pria menikah tak sedikit yang masih terjerumus ke dalam lumpur zina. Meski ada pintu poligami, namun tentu saja prakteknya sering tak seindah bayangan terlebih jika pernikahan poligami tak diikuti ilmu memadai dan kemampuan memimpin yang mumpuni dari seorang imam rumah tangga.

Referensi pihak ketiga
Menjalani pernikahan jarak jauh membuat Rudi hanya bisa menjumpai istri dan anaknya dua minggu sekali atau bahkan sebulan sekali. Pada awalnya semua berjalan baik dan rumah tangganya pun tetap harmonis.
Namun, tak ada rumah tangga yang bebas ujian, begitu pula rumah tangga Rudi dan Citra. Saat itu tahun ke-6 rumah tangga mereka, anak mereka yang semula satu kini telah menjadi dua. Tuntutan pekerjaan membuat Rudi semakin sulit pulang untuk melepas rindu dengan anak dan istri.
Disaat itu datanglah Rani dengan segala pesonanya. Meski tahu Rudi sudah beristri Rani tak keberatan menjadi istri kedua. Bahkan keluarganya pun menyetujui hal tersebut. Maka Menikahlah Rudi dan Rani tanpa sepengetahuan Citra.
2 tahun menjalani pernikahan poligami, Rudi mulai menyesal. Terlebih setelah memiliki anak Rani mulai banyak menuntut. Ia mempermasalahkan pembagian nafkah juga hari bermalam. Puncaknya ia bahkan menuntut Rudi untuk menceraikan Citra agar semua jatah bulanan bisa masuk ke rekeningnya tanpa harus dibagi dengan Citra.
Rudi mulai merasakan keputusannya dulu keliru. Citra adalah sosok istri yang tak banyak mengeluh ataupun menuntut. Meski sama-sama tidak bekerja Citra lebih pandai mengatur keuangan dan juga merawat diri. Meski Citra lebih tua dan sudah beranak dua, dari segi fisik kini Rani justru kalah jauh.
Rudi pun ingin menceraikan Rani, namun Rani mengancam akan mengadukan pernikahan mereka kepada Citra yang selama 2 tahun ini memang tidak tahu menahu. Manisnya rumah tangga yang dulu melenakan Rudi kini justru menjadi bumerang yang siap melukai setiap saat, bukan hanya baginya tapi juga bagi istri pertama dan anak-anaknya.

Kisah serupa ini banyak terjadi di sekitar kita. Berpoligami memang sah dan boleh-boleh saja meski tanpa izin istri pertama. Tapi tanpa sepengetahuan para istri maka akan sangat sulit untuk berlaku adil di antara mereka, baik dari segi nafkah maupun giliran bermalam.
Jika memang ingin melakukan pernikahan poligami, maka bangunlah pernikahanmu dalam landasan kejujuran, karena jika tidak, alih-alih kebahagiaan, justru penderitaanlah yang akan datang menghampiri.
Berpoligami berarti membagikan kebahagiaan dari sebuah rumah wanita ke rumah wanita lainnya, bukan memindahkan atau mengambil kebahagiaan dari wanita lain.
Semoga kita semua memahami hal tersebut, sehingga syariat yang mulia ini tidak ternoda oleh oknum pelaku yang menjalankannya tanpa ilmu dan kemampuan.
---
Sumber Referensi:
Kisah diadaptasi dari forum curhat di IG

Suami Dianggap Kurang Kasih Materi Istri Sibuk di Aplikasi Dating

Pernikahan selalu penuh ujian dan cobaan. Itu sebabnya kita selalu butuh mencharge keimanan juga meningkatkan pemahaman terhadap ilmu dien. Karena cinta yang tak disertai keimanan niscaya kalah dengan dahsyatnya godaan.
Kisah berikut semoga memberi hikmah.

Referensi pihak ketiga
Sebut saja Anto, semasa muda ia telah bekerja keras hingga bisa membeli sebuah rumah. Apa yang dimilikinya saat itu ternyata membuatnya berhasil mempersunting seorang gadis cantik.
Setelah menikah, Anto memutuskan pindah bekerja ke sebuah kantor yang memungkinkannya pulang di setiap akhir pekan. Meski perusahaan menyediakan mes karyawan, istrinya tak pernah mau meninggalkan rumah mereka yang besar untuk ikut dengannya di mes. Terlebih setelah memiliki seorang anak.
Semula, Anto merasa rumah tangganya baik-baik saja, meski hanya bisa berjumpa setiap sabtu dan minggu, setiap pulang ia merasa bahagia melihat anak dan istri yang menyambutnya ceria.
Gajinya sekitar Rp 7 juta perbulan. Ia memberi istrinya setenga, Rp 3,5 juta. Rp 2 juta untuk ibunya, dan sisanya untuk dirinya sendiri. Istrinya tak pernah mengeluh, hingga anto pun merasa semuanya sempurna. Ia bahagia, ibunya bahagia, dan keluarganya pun bahagia.
Sampai kemudian saat ia mengambil cuti dan pulang mendadak ke rumah. Entah mengapa istrinya terlihat terkejut dan tampak uring-uringan, "kok pulang nggak ngabari dulu sih?"
Anto tersenyum dan mengatakan bahwa ia hendak memberikan surprise. Terlebih ia membawa pulang gaji lebih, bonusnya bekerja lembur. Saat itu Anto masih berpikir, bahwa istrinya uring-uringan karena harus mendadak memasak untuk menyambutnya.
Sampai Anto kemudian melihat ponsel istrinya yang tertinggal di kamar, saat ia buru-buru ke dapur. Anto melihat sebuah aplikasi dating, dan istrinya terlibat banyak pembicaraan dengan lelaki lain. Juga janji-janji temu selama jadwalnya bekerja.
Saat Anto tertegun, berusa mencerna fakta yang ada di tangannya. Istrinya kembali buru-buru dan langsung mengambil ponsel di tangan Anto. Ekspresinya tak terbaca. Anto menahan tangan istrinya, dan meminta penjelasan.
Tak pelak mereka akhirnya bertengkar. Istrinya berkata ia melakukan itu karena uang yang diberikan Anto tak pernah cukup. Istrinya mengaku telah menerima uang dari para pria tersebut untuk menemani mereka kencan. Entah sejauh apa 'kencan' mereka, Anto tak punya keberanian menanyakan fakta menyakitkan itu.
Istrinya kemudian pulang ke rumah orangtuanya dengan membawa serta anak mereka. Tak ada permintaan maaf ataupun rasa bersalah. Semuanya justru seolah menjadi salah Anto yang tak bisa memberikannya cukup materi. Anto berpikir panjang, untuk kemudian mungkin memilih mengakhiri rumah tangga mereka.

Referensi pihak ketiga
Di antara kriteria calon pasangan memang tersebut karena parasnya, hartanya, dan kedudukannya, namun yang lebih penting tentu adalah agamanya. Paras bisa berubah seiring usia yang menua, harta bisa habis, dan kedudukan bisa terganti. Namun pemahaman agama yang baik tentu akan melahirkan adab yang baik pula. Tak peduli dalam kondisi susah ataupun senang agama akan membuatnya bertahan dengan kesabaran ataukah kesyukuran.

Beristri 3, Bukannya Bahagia Malah Galau

Pernikahan disebut-sebut sebagai ibadah terlama yang ujiannya pun sepanjang usia. Maka jangan heran, jika setiap biduk rumah tangga baik poligami maupun monogami niscaya menghadapi kerikil tajam hingga batu sandungan yang besar.

Referensi pihak ketiga
Adalah Rudi (bukan nama sebenarnya) menikahi seorag janda tanpa anak yang usianya terpaut 7 tahun lebih tua dari dirinya. Pun demikian, ia bahagia dengan pernikahan tersebut. Istrinya, Nanda (bukan nama sebenarnya) adalah sosok keibuan, pengasih, dan penuh cinta. Singkatnya, Rudi bahagia hidup bersama Nanda.
Bertahun-tahun menikah, keduanya belum jua dikaruniai anak, Rudi tak mempermasalahkan hal tersebut, tapi tidak dengan Nanda. Ia bersikeras bahwa Rudi harus memiliki keturunan, maka ia pun memperkenalkan seorang gadis manis yang usianya lebih muda 5 tahun dari Rudi. Nanda meminta Rudi menikahi gadis tersebut.
Tentu saja, awalnya Rudi menolak, ia sudah merasa nyaman hidup bersama Nanda. Namun ternyata orangtuanya menyetujui ide Nanda, menikah lagi demi mendapatkan keturunan. Maka akhirnya, rudi pun menikahi gadis tersebut, Rumi (bukan nama sebenarnya).
Beberapa tahun hidup bersama, Rumi pun tak kunjung hamil. Hingga Nanda kembali berinisiatif menikahkan suaminya dengan wanita lainnya. Kali ini seorang wanita yang usianya lebih muda 3 tahun dari Rudi.
Seperti sebelumnya, Rudi pun menerima dengan pertimbangan untuk memperoleh keturunan. Maka, menikahlah ia untuk ketiga kalinya. Dan setelah beberapa bulan, istri ketiganya pun hamil. Sebuah kehamilan yang disambut Nanda, juga orangtua Rudi dengan penuh kebahagiaan, namun membuat Rudi semakin galau dari hari ke hari.
Ternyata, meski istri kedua dan ketiganya lebih muda dan cantik, Rudi tak menyukai jadwal kunjungan ke rumah-rumah mereka. Ia justru ingin selalu bersama istri pertamanya saja. Terlebih kehamilan membuat istri ketiganya menjadi begitu manja, dan selalu menelepon memintanya datang.
Berat bagi Rudi harus bersikap adil, dalam kunjungan ataupun giliran bermalam. Karena hatinya justru terlalu condong pada istri pertamanya, yang meskipun lebih tua ternyata mampu memberikannya rasa nyaman yang tak bisa didapatkannya dari kedua istrinya yang lain.
Ia pun mendiskusikan hal tersebut dengan Nanda. Ia berpikir untuk menceraikan Rumi. Dan untuk istri ketiganya, ia akan menceraikannya juga setelah ia melahirkan. ia berpikir untuk membawa anaknya saja dan merawatnya bersama Nanda. Namun, ide ini masih ditolak Nanda, karena berpikir hal tersebut terlalu kejam dan jahat.
Saat ini Rudi masih menjalani pernikahan poligaminya dengan perasaan galau yang bertambah-tambah. Justru Nandalah yang lebih perhatian kepada dua istrinya yang lain. Bahkan untuk giliran bermalam ia hanya menyisihkan masing-masing satu hari untuk kedua istrinya dan 5 hari lainnya bersama Nanda.

Saat mengetahui kisah ini, saya pribadi berpikir, ternyata kecantikan dan usia muda tak selamanya menggoyahkan lelaki. Bagaimanapun pada akhirnya, sikap yang mampu menghargai suami, diajak berdiskusi, dan mampu memberikan kenyamananlah yang membuat seorang pria betah berlama-lama di sisi perempuannya.
Dan tentu saja, sebagai muslim kita tentu mengetahui syarat dari pernikahan poligami adalah kemampuan bersikap adil, baik dari segi nafkah maupun giliran bermalam. Dan untuk urusan hati, maka sudah sewajarnya hati itu lebih condong kepada salah satu istri, sebagaimana Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam kepada Aisyah radhiallahu 'anha.
---
Sumber Referensi:
Kisah nyata dari forum curhat di IG yang lagi naik daun

Sakit Hati Karena Ternyata Istri Tak Lagi Perawan, Pria Ini Balas Dendam Dengan Cara Selingkuh. Aduhai...

Pergaulan zaman ini sudah semakin mengabaikan norma dan rambu-rambu syariat. Meski Indonesia terkenal dengan budaya Timur yang penuh sopan santun, tampaknya hal ini tak bisa lagi memfilter budaya barat yang kental dengan pergaulan bebas.

Referensi pihak ketiga
Sebut saja Erwan (bukan nama sebenarnya), sejak malam pertama ia menduga sesuatu terkait istrinya, namun ia tak berani bertanya karena khawatir bertengkar. Setelah beberapa bulan menikah, dan mencari informasi kesana kemari, ia tak lagi bisa menahan prasangka di hatinya, maka bertanyalah ia pada sang istri, Meli (bukan nama sebenarnya).
Ternyata, dugaaannya benar. Istrinya tak lagi perawan saat menikah dengan dirinya. Meli menghiba meminta maaf, dan mengaku tak berani berkata jujur karena takut kehilangan Erwan. Erwan sendiri merasa hancur dengan kenyataan tersebut. Ia hanya peduli satu hal, kenyataan bahwa ia telah dibohongi. Ia sama sekali tak mau tahu bahwa istrinya telah bertaubat, ataupun menyesali masa lalunya.
Sejak saat itu, Erwan berubah. Bahkan kenyataan kehamilan istrinya tak mengembalikan sikap hangatnya. Erwan sibuk dengan dunianya sendiri, dengan rasa sakit hatinya, membangun dinding dengan istrinya sendiri.
Dan puncaknya, Erwan mulai berani berhubungan dengan wanita lain di luar rumah. Ia mengencani setiap gadis muda yang masih perawan. Bahkan ketika anaknya lahir, Erwan justru tengah berasyik masyuk dengan selingkuhannya.
Selama 5 tahun menikah, entah sudah berapa kali Erwan berganti selingkuhan. Meli juga tak menuntut apa-apa, ia hanya menerima keadaan rumah tangganya. Meski, suaminya sudah tak pernah lagi memberi nafkah batin, ataupun memperlakukannya selayak istri. Meli cukup bersyukur bahwa Erwan sesekali masih mau bermain dengan putranya dan masih memenuhi kebutuhan mereka.
Bagi Meli, apa yang terjadi adalah buah dosanya di masa lalu. Ia berharap pada suatu titik Erwan akan menerima permintaan maafnya, dan bersama-sama memperbaiki kembali rumah tangga mereka.
Erwan sendiri bukannya menutup mata dengan kesungguhan Meli meminta maaf, hingga menerima semua perlakuan semena-menanya. Namun, Erwan belum bisa menghapus bayangan bahwa istrinya telah berbohong. Baginya, lebih mudah menerima jika dulu sebelum menikah Meli jujur dengan keadaannya. Pun begitu, Erwan juga enggan menceraikan Meli, karena sudah ada anak di antara mereka.
Entah sampai kapan, mereka akan bertahan dalam kondisi demikian.

Kisah ini adalah salah satu kisah nyata yang sejatinya bisa menjadi ibroh bagi kita semua. Pergaulan bebas mengakibatkan hilangnya kehormatan. Dan tentu saja menutup aib (pernah berzina) adalah lebih utama, namun kita tentu harus bersiap jika setelah menikah hal serupa Meli bisa saja terjadi.
Bagaimanapun, sikap Erwan bukanlah hal yang bisa dibenarkan, membenci satu hal namun justru terjerembab pada dosa yang sama. Menikah terkadang berarti menemukan keburukan pasangan, yang idealnya bisa diterima dan dijadikan pelajaran bersama. Menurunkan ego, meredam kemarahan, saling memaafkan, saling membaikkan, itulah yang seharusnya dilakukan pasangan. Namun tentu saja ada pintu perceraian yang meski tak disukai namun diperbolehkan.
Kalau anda, akan bagaimana bersikap?
----
Sumber Referensi:
Kisah nyata yang penulis baca di forum curhat IG yang lagi naik daun

Ditanya "Kapan Nikah?" Jawaban Gadis Ini Buat Ibunya Menangis

Hari raya adalah hari yang dinanti, bukan hanya hari kemenangan, tapi juga sekaligus ajang silaturahim dengan karib kerabat dan handai taulan.
Sayangnya, bagi orang-orangyang masih sendiri terlebih dengan usia yang nyaris atau sudah berkepala tiga, maka kehangatan dan kebahagiaan hari raya kadang berubah menjadi momok menyeramkan yang membuat enggan berkumpul-kumpul.

Referensi pihak ketiga
Sebut saja Nur, ia adalah seorang gadis manis berusia 31 tahun. Sebagai anak tertua dan satu-satunya yang belum menikah di antara tiga saudara, lebaran bukanlah hari yang mudah untuk dijalani. Namun, bukan untuk Nur, melainkan justru kedua orangtuanya.
"Nur, besok bagaimana?" tanya ibunya malam itu.
"Bagaimana apanya bu?" Meski memahami arah pertanyaan sang ibu, Nur memilih tersenyum dan mengajak ibunya bercanda.
Ya, orangtua Nur justru lebih galau saat menghadapi nyinyiran orang-orang soal putri sulungnya yang masih jua sendiri itu. Sementara dua adik perempuannya yang lain semua sudah berumah tangga dan memiliki anak.
Nur sendiri sudah beberapa kali melakukan ta'aruf, namun semuanya gagal di tengah jalan tak ada yang sampai ke pelaminan. Sang ibu bahkan ingin melakukan ruwatan atau membawanya ke 'orang pintar' agar Nur bisa segera menemukan jodohnya. Namun, Nur dengan sabar selalu menenangkan ibunya dan menghindari hal-hal tersebut.

Referensi pihak ketiga
Seperti biasa, rumah orangtua Nur selalu ramai saat hari raya tiba. Ayahnya adalah anak tertua, sementara oranguanya sudah tiada. Maka, rumah mereka selalu menjadi tempat berkumpul seluruh keluarga besarnya.
"Nur, calonmu mana? Nggak datang apa?" tanya salah seorang tante Nur.
"Emang belum ada calonnya kok tante..." jawab Nur dengan senyuman.
"Serius? kamu sih jadi perempuan kok pilih-pilih bener..."Keluarga yang lain segera ikut menyambung. Ibu Nur mulai tampak gelisah dan tak nyaman, sementara itu Nur yang tak jua menemukan jodohnya segera menjadi topik utama pembicaraan di ajang silaturahim tersebut.
"Nur tidak pernah khawatir soal jodoh tante, Allah pasti tak pernah salah dengan taqdirnya. Kalau sekarang Nur belum menikah, itu artinya Nur masih diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berbakti sama ayah dan ibu. Kalau sudah menikah nanti, belum tentu Nur bisa sering-sering pulang menjenguk ayah dan ibu, apalagi menjaga dan melayani mereka setiap hari..."
Kalimat-kalimat itu diucapkan Nur dengan yakin dan penuh ketulusan. Hal yang mungkin tak terpikir oleh semua keluarganya, bahkan orangtuanya.
Ibu Nur, seolah tersentak mendengar penuturan putri sulungnya itu, ia seketika ingat telepon kedua putrinya di seberang pulau yang lebaran kali ini tak bisa pulang merayakan hari raya bersama. Menyadari kebenaran ucapan tersebut, ibu Nur tak sanggup menahan air matanya, ia bersyukur bahwa putrinya begitu baik dan sholehah.

Jodoh adalah taqdir yang tak bisa dipercepat ataupun diperlambat datangnya. Ia akan datang sesuai waktunya. Sembari menunggu jodoh, manfaatkan waktumu dengan amal-amal kebaikan. Memperbaiki diri, dan berbakti kepada orangtua. Karena setelah menikah, maka seorang wanita akan menjadi milik suaminya, dan semua tentu sudah tak sama lagi.
Semoga sahabat-sahabat yang masih belum menemukan jodohnya segera menemukan jodoh terbaik. Dan sampai waktunya tiba, jangan pernah merasa galau, cari dan temukanlah hikmah terbaik dari taqdir tersebut.
Semoga bermanfaat.
---
Sumber Referensi:
Kisah nyata di sekitar penulis
Artikel ini tayang pertama kali di UC News dengan judul: 

Selalu Ditanya Kapan Nikah Pas Lebaran, Jawabannya Menohok Banyak Tamu. Orangtuanya Nangis

Gadis Kecil Yang 'Menampar' Seorang Ibu di Hari Idul Fitri

Sedari terbit fajar kumandang takbir sudah terdengar berulang-ulang, menandai hari kemenangan, hari yang fitri. Saat hari mulai terang, jalan-jalan pun mulai padat, laki-laki, perempuan, orangtua, anak-anak, semua berbondong-bondong menuju lapangan dimana sholat idul fitri akan dilaksanakan.
Sambil menunggu jamaah lain berdatangan, takbir tak henti-henti dikumandangkan. Di sela-sela itu seorang petugas masjid mengedarkan kotak infaq yang hanya berupa kantong kresek transparan, yang mana dana infaq ini akan digunakan kembali untuk kemaslahatan masyarakat sekitar.
Saat kotak infaq itu tak lagi jauh dari barisan kami, gadis kecil -yang tidak terlihat kecil- yang duduk disampingku tampak sembunyi-sembunyi merogoh tas kecilnya, usianya tak lebih dari 12 tahun. Ia tampak melipat-lipat uang. Ia melakukannya hati-hati seolah-olah begitu takut dan malu jika ada yang memergokinya. Sekali-kali ia melirik ke arahku yang segera berpura-pura tak memperhatikan.
Saat kotak infaq mendekat dengan sigap ia memasukkan lipatan uang yang sedari tadi disiapkannya, uang kertas lima ribu rupiah yang sudah tampak lusuh. Dia tampak lega ketika mengira tak ada yang mengetahui rahasianya, sementara aku diam-diam menghapus titik bening di sudut mata.
Tahukah kalian, itu bukan lembar lima ribu biasa, di dalamnya ada lembar lima puluh ribuan yang entah berapa lembar. Gadis itu menyembunyikan infaq puluhan atau mungkin ratusan ribunya dibalik lembar lima ribu lusuh.
Allahu akbar.
Aku belajar sekaligus merasa tertampar. Begitulah seharusnya kita menyembunyikan amal kebaikan sebagaimana kita menyembunyikan aib keburukan. Gadis kecil ini bahkan sudah memahami konsep itu, sementara berapa banyak orang dewasa yang justru berlomba-lomba membanggakan infaq sedekahnya.

Aku pun seketika teringat hadist nabi tentang orang-orang yang pertama kali diadili, salah satunya adalah seseorang yang dikaruniakan keluasan harta dan beragam kekayaan. Saat dibawa kehadapan Allah ia ditunjukkan semua kenikmatan yang diperolehnya di dunia dan  ia pun mengakui semua nikmat yang telah diterimanya tersebut. Lantas Allah bertanya bagaimana ia menggunakan nikmat itu.
Ia menjawab, ‘Saya senantiasa menggunakannya untuk berinfak karena-Mu’
Namun, Allah Ta'ala berfirman, ‘Kamu bohong. Akan tetapi kamu melakukan hal tersebut agar kamu disebut-sebut sebagai orang yang dermawan. Dan kenyataannya kamu telah disebut-sebut demikian.’ 
Maka orang ini pun diseret pada wajahnya dan dilemparkan ke dalam neraka.
Naudzubillah min dzalik...
Sungguh, kita akan mendapatkan sesuai apa yang kita niatkan. Semoga kita senantiasa meluruskan niat dalam setiap amal kebaikan dan kelak hanya mendapatkan kebaikan pula.
______________________
PS:
Aduhai, jangan tanya siapa gadis kecil itu. Doakan saja ia semakin sholehah dan bisa meneruskan hafalan Qur'annya.
Semoga kita dikaruniai anak-anak sholeh/sholehah yang menjadi penyejuk mata di dunia, dan menjadi pembuka pintu surga kelak di akhirat.
----
Catatan Hati, Tanah Grogot, 1 Syawal 1440 H

Rindu Ibu, 2 Bocah Yatim dan Idul Fitri Yang Tak Terduga

Jika pada setiap Idul Fitri jamak kita saksikan keceriaan anak-anak dengan pakaian baru juga sepatu baru, maka penampilan dua anak yang ikut sholat ied pagi itu sungguh sangat jauh berbeda dari keceriaan khas Idul Fitri.

Ilustrasi
Kedua bocah lelaki itu, memakai pakaian kumal yang mungkin sudah beberapa hari melekat di tubuhnya. Sarung mereka pun tampak robek di beberapa bagian. Tapi, semua itu sama sekali tak mengurangi kekhusyu'an mereka melaksanakan sholat dan juga ketika berdoa.
Seusai sholat Idul Fitri, kedua bocah itu saling berpegangan, mereka berpelukan dan saling mengusap air mata di pipi masing-masing. Adegan itu terjadi di pojok sehingga mungkin tak terlihat di antara lalu lalang jamaah yang sibuk dengan suka cita mereka masing-masing.
Namun, pemandangan haru itu ternyata tak luput dari pandangan mata tua bapak pengurus masjid, Pak Ahmad.
Pak Ahmad mendekati keduanya dan dengan penuh kasih sayang seorang ayah mencari tahu tentang kondisi keduanya. Akhirnya kedua bocah itu diketahui bernama Sidiq dan Fajar. Keduanya adalah yatim piatu yang 'melarikan diri' dari panti asuhan tempat mereka selama ini bernaung.
Sidiq tak bisa melihat sedari kecil, sementara Fajar memiliki keterbatasan dalam berbicara. Keduanya bersahabat dan menjadi tumpuan satu sama lain. Fajar adalah mata bagi Sidiq, sebaliknya Sidiq adalah mulut bagi Fajar.
Mereka sampai di masjid itu karena bersembunyi di sebuah truk pengangkut barang. Keduanya nekat kabur dari panti karena Sidiq sangat merindukan ibunya.

Referensi pihak ketiga
Pak Ahmad pun bertanya, "Di mana rumah ibumu, nak?"
Namun, seketika itu pula Pak Ahmad menangis saat mendengar jawaban Sidiq ternyata alamat sebuah pemakaman umum yang jaraknya masih beberapa kilo meter dari masjid tersebut.
Pak Ahmad kemudian membawa Sidiq dan Fajar pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Memberi keduanya pakaian yang lebih layak dan menjamunya dengan makanan khas idul fitri.
Pak Ahmad kembali menangis, saat melihat keduanya menyantap makanan dengan sangat lahap. "Ibu memang keren, Meski sudah dikubur ia masih mengantarkan kita menikmati makanan enak ini..." ucap Sidiq dengan mulut yang penuh makanan. Fajar tersenyum dan mengangguk kuat-kuat meski sadar Sidiq tak akan bisa melihatnya.
Kebaikan pak Ahmad tak sampai di sana, ia bahkan menunda menemui tamu-tamunya yang lain demi memuliakan kedua anak yatim itu hingga hajat keduanya terselesaikan dengan baik, berjumpa sang ibu.
Lagi-lagi pak Ahmad dibuat menangis, saat di depan makam ibunya Sidiq berkata kepada sahabatnya, "Mulai sekarang jangan pernah merasa tak punya ibu, ibuku adalah ibumu juga..."

Referensi pihak ketiga

Idul Fitri bukan hanya soal kemenangan kita pribadi. Namun, segala amal ibadah di Ramadhan hendaknya meningkatkan empati kita pada sesama.
Anak-anak seperti Sidiq dan Fajar sangat banyak di sekitar kita, namun sayangnya tak semua kita berhati seperti pak Ahmad.
Semoga kisah ini memberi kita ibroh.

Referensi pihak ketiga
Sumber Referensi:
Kisah di sekeliling penulis dengan sedikit tambahan untuk menggambarkan kejadian menyentuh

Lebaran Pilu: Saat Istana Yang Ingin Dihadiahkan Justru Kehilangan Ratunya

lebaran adalah momen yang ditunggu banyak orang, bukan hanya sebagai hari kemenangan tapi juga hari berkumpul bersama keluarga. Hal ini juga dirasakan betul oleh pasangan Fadel dan Nanda.

Referensi pihak ketiga
3 tahun membina rumah tangga, keduanya sama-sama sibuk bekerja demi mewujudkan rumah idaman dan impian lainnya. Ramadhan selalu menjadi momen dimana intesitas pasutri ini bertemu bisa jadi lebih meningkat. Hanya di Ramadhan mereka bisa sama-sama meluangkan waktu untuk berbuka dan sahur bersama.
Hari itu, hari terakhir di bulan Ramadhan setahun lalu, Nanda memilih pulang cepat dan menyiapkan menu berbuka untuk mereka berdua. Tak lupa ia juga menyiapkan sebuah kado untuk sang suami. Namun, hingga maghrib menjelang, Fadel tak jua kunjung tiba, ponselnya sama sekali tak diangkat. Rona gelisah mulai terlihat di wajah Nanda.
Kemana suamiku?
Apakah sesuatu terjadi?
Fadel memang biasa lembur dan pulang telat, tapi tidak selama momen ramadhan, terlebih di malam lebaran. Debar yang serupa pertanda buruk terus berdetak di hati Nanda, maka ia tak peduli meski baru berbuka dengan segelas air, dan tergesa melaksanakan sholat maghrib, ia memutuskan keluar mencari suaminya.
Tak beberapa lama sejak kepergian Nanda, Fadel pulang dan menemukan rumahnya kosong. Namun meja makan tertata dengan makanan khas kesukaannya. Tak lupa sebuah kado yang terselip catatan tangan istrinya diletakkan di meja.

Referensi pihak ketiga
Fadel menyeringai menatap bungkusan kado di tangannya sendiri, niatnya ingin memberikan hadiah kejutan untuk sang istri rupanya kalah cepat. Istrinya telah berpikir serupa.
Ya, Fadel telat pulang demi menyiapkan hadiah kejutan untuk istrinya tercinta. Sementara pada kado yang disiapkan Nanda terdapat sebuah jam tangan yang sudah lama diidamkannya.
Pada kotak itu, istrinya menulis:
"Time is free, but it's priceless. Semoga ke depanya kita bisa memiliki lebih banyak lagi waktu untuk bersama-sama..."

Referensi pihak ketiga
Fadel menatap jam dan catatan itu dengan perasaan haru. Ia tahu selama 3 tahun ini mereka benar-benar bekerja keras hingga jarang sekali bisa meluangkan waktu bersama-sama. Fadel bertekad, jika istrinya pulang nanti ia akan mewujudkan impian tersebut.
Gema takbir sudah bertalu-talu dari masjid sekitar tempat tinggalnya, dan Fadel baru menyadari istrinya belum jua kembali, Fadel segera mencari ponselnya di dalam tas, dan kaget menemukan banyak sekali panggilan tak terjawab. Sebagian dari istrinya sebagian lagi dari nomor yang tidak dikenalnya. Fadel benar-benar lupa sejak waktu saat sholat Ashar di masjid ia mengaktifkan mode silent.
Fadel segera menghubungi nomor istrinya, namun tak tersambung. Saat Fadel ingin menghubungi kembali nomor sang istri, nomor tak dikenal lebih dulu masuk. Saat Fadel menerima panggilan tersebut, ia seketika lemas dan merasa dunianya runtuh.
Panggilan itu dari polisi yang memintanya untuk mengenali korban tabrak lari yang diduga kuat adalah istrinya, Nanda.
Fadel tergugu, kado di tangannya terjatuh, dan sebuah kunci tersembul keluar. Itulah hadiah kejutan yang ingin diberikan Fadel pada Nanda, kunci rumah baru mereka. Namun, istana tanpa ratunya bukanlah lagi istana.
Penyesalan Fadel mungkin adalah apa yang pernah pula kita rasakan. Harta memang penting, terutama rumah huniah. Namun, waktu kebersamaan dengan pasangan sungguh jauh lebih penting.
Sejatinya ajal tak pernah berkabar sebelumnya, maka kewajiban kita untuk senantiasa bersiap dan memilih prioritas utama dalam kehidupan ini.
Semoga lebaran kali ini kita masih bisa berkumpul dengan orang-orang terkasih, manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya, karena bisa jadi itu adalah waktu terakhir kita bersama mereka.

Referensi pihak ketiga
Sumber Referensi:
Kisah di sekeliling penulis dengan sedikit tambahan untuk menggambarkan kejadian menyentuh

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -