Jika membaca adalah nutrisi hati,
Maka menulis adalah rekreasi jiwa...

Search This Blog

Powered by Blogger.

Archive for January 2019

Bukan Pagar Yang Memisahkan, Tapi Kita Butuh Jembatan yang Menghubungkan

Tersebutlah dua saudara yang hidup berdampingan mengelola pertanian mereka masing-masing. Suatu hari keduanya bertengkar. Dimulai dari kesalahpahaman kecil, keduanya akhirnya saling mendiamkan selama berminggu-minggu. Memperturutkan emosi, saudara yang lebih muda menggali parit yang memisahkan lahan pertanian mereka.
Peristiwa itu makin menjauhkan keduanya. Sampai suatu pagi, rumah sang kakak diketuk seorang tukang kayu. "Apakah kau memiliki pekerjaan untukku?" tanya sang tukang kayu. Petani itu berpikir sesaat, kemudian menjawab dengan semangat.
"Tentu, lihatlah ke sebelah. Itu lahan pertanian adikku. Tapi sekarang dia sudah membangun parit yang memisahkan kami, Aku ingin engkau membangun pagar setinggi 8 kaki. Jika dia memeutuskan mengambil jarak denganku, sekalian saja aku tak perlu lagi melihat wajahnya."
Tukang kayu memahami apa yang terjadi, ia pun menyanggupi pekerjaan tersebut. Petani itu meninggalkan sang tukang kayu untuk menyelesaikan pekerjaannya, sementara ia bepergian selama sehari.
Sepulang dari bepergian, betapa kagetnya si petani. Alih-alih mendapati pagar setinggi 8 kaki, tukang kayu itu justru membangun jembatan yang indah di atas parit lebar yang dibangun adiknya. Di seberang jembatan adiknya melangkah dengan tangan terbuka "Kakak memang saudara yang baik, setelah apa yang kulakukan kakak justru membangun jembatan ini". Keduanya bertemu di tengah jembatan dan saling berjabat tangan .
Mereka melihat sang tukang kayu sedang membereskan perkakasnya. "Tinggallah disini wahai tukang kayu, kami akan memberi banyak pekerjaan lain untukmu" teriak si petani.
"Aku senang tinggal disini, tapi tampaknya aku harus membangun banyak jembatan di tempat lain" Ujar sang tukang kayu.

Referensi pihak ketiga
-----
Darah lebih kental daripada air. Begitulah pribahasa menggambarkan hubungan kekerabatan. Sayangnya semakin banyak orang yang tidak memahami betapa beharganya keluarga.
Sahabat, jika saat ini anda sedang memiliki masalah dengan keluarga anda, maka segeralah berbaikan. Turunkan sedikit ego, dan temukan cinta yang besar yang selalu di sediakan oleh mereka, orang-orang terkasihmu. Kadangkala, emosi-emosi negatif menutupi mata hati kita untuk melihat cinta tersebut.
Kita tak perlu menjadi tukang kayu untuk membangun jembatan cinta, kita hanya membutuhkan kesadaran, kepekaan, dan kerendahan hati untuk tetap menjalin silaturrahim. Karena setiap kita membutuhkan tempat untuk pulang, dan itu bukanlah rumah, melainkan keluarga!
Artikel ini terbit pertama kali di UC News pada akun Sara Amijaya Dengan Judul Patut Ditiru! Tukang Kayu yang Menakjubkan, Disuruh Membuat Pagar Beginilah Hasilnya

Kisah Menyentuh: Lukisan yang Tak Ada Dalam Katalog Museum Manapun

Alkisah, sebuah keluarga kaya raya tersisa seorang ayah dan anak lelakinya. Mereka menikmati waktu bersama dengan menekuni hobi yang sama, kolektor benda-benda seni. Tak terbilang benda-benda seni kelas dunia yang menjadi koleksi di rumah megah mereka. Karya Picasso, Monet, Van Gogh, dan selainnya.

Referensi pihak ketiga
Suatu waktu, perang melanda negara mereka, dan sang putra kesayangan harus membaktikan diri untuk membela negaranya. Sang Ayah setiap hari menanti dengan cemas, ia khawatir kabar buruk bisa datang kapan saja. 
Suatu hari kabar buruk itu sungguh datang, putranya meninggal ketika menyelamatkan seorang tentara lainnya. Putus asa dan kesepian, kolektor itu hidup dalam kemurungan bersama seluruh benda-benda seninya yang berharga mahal. 
Suatu malam, seorang tentara muda mengetuk pintu rumahnya. Ia adalah satu di antara tentara yang diselamatkan putranya. Tentara itu menyampaikan kisah yang membuat sang Kolektor menangis.
Putranya telah menyelamatkan lusinan tentara lainnya, sebelum maut menjemput. Ia akhirnya menyadari, bahwa meskipun putranya tak lagi bersama dengannya, kehidupan putranya masih terus berlanjut melalui kehidupan orang-orang yang telah diselamatkannya. Pikiran itu mengurangi sedikit kesedihan dan deritanya.
Sebelum pulang, tentara muda itu memberinya sebuah hadiah. Lukisan dengan gambar putra kesayangannya. Bukan karya jenius tentu, tapi lukisan itu menampilkan wajah sang pemuda dengan sentuhan yang sangat mendetail. Sejak saat itu lukisan putranya menjadi benda paling berharganya, mengalahkan minatnya pada seluruh benda-benda seni yang dipajang di museum-museum seluruh dunia.
Akhirnya sang kolektor meninggal dunia. Sesuai wasiatnya seluruh koleksinya akan di lelang secara terbuka. Di hari yang ditentukan berkumpullah seluruh kolektor dari berbagai penjuru dunia, mereka semua tak sabar memiliki koleksi langka yang akan dilelang hari itu.
Pelelangan pun dimulai dengan sebuah lukisan yang tak ada dalam katalog museum manapun, lukisan sang anak. Juru lelang berulang kali menawarkan lukisan tersebut, tapi seisi ruangan justru berdecak kesal, mereka meminta sang juru lelang melewati saja lukisan tak terkenal itu, karena tak ada yang berminat terhadapnya.
Pelelangan itu hampir rusuh dengan kekesalan para peserta lelang, dan kesetiaan si juru lelang dalam menjalankan wasiat sang kolektor. Karena lukisan anaknya harus terjual terlebih dahulu sebelum benda-benda seni lainnya dilelang.
Akhirnya sahabat lama sang kolektor membuka suara "Aku akan membeli lukisan itu seharga $10". Demikianlah lukisan itu berpindah tangan. Semua orang bernapas lega dan tak sabar menanti lelang sesungguhnya. Sayangnya juru lelang justru berkemas setelah mengumumkan "Menurut wasiat ayahnya, barang siapa yang membeli lukisan anaknya akan mendapatkan seluruh koleksi benda seninya."
---
Kisah ini tentu sarat hikmah. Kita bisa melihat bagaimana cinta seorang ayah, dan kita tentu juga bisa melihat bagaimana sikap kebanyakan orang terhadap kenangan orang lain. 
Tak banyak orang yang bisa melihat cinta sang ayah terhadap putranya ini. Tak banyak orang yang bisa menghargai kehidupan orang lain. Bahkan saat kita menginginkan apa yang dimiliki seseorang, kita hanya berfokus pada apa yang kita inginkan tanpa peduli dengan keinginan sang pemiliknya.

Referensi pihak ketiga
Artikel ini terbit pertama kali di UC News pada akun Sara Amijaya dengan judul: Kisah Mengharukan, Harga Seorang Anak dan Cinta Sang Ayah

Ketika Si Buruk Rupa Berjodoh dengan Dia Yang Menawan

Saat ini rupa menawan bukanlah lagi pilihan utama saat seseorang memilih pasangan hidup. Banyak orang biasa-biasa saja yang memiliki pasangan menawan. Konon katanya kriteria memilih pasangan beralih, dari rupa ke seberapa tebal dompet anda. Apakah anda sependapat?
Sebenarnya selain rupa dan harta, ada hal lain yang justru harus kita pertimbangkan saat melabuhkan cinta. 
Tahukah anda, dengan kisah Julaibib?
Julaibib ini adalah salah seorang sahabat Nabi Sholallahu 'alaihi wa sallam. Sebagaimana namanya Julaibib yang berarti kerdil, demikianlah tampilan fisiknya. Julaibib bertubuh pendek dan hitam. Ia pun dari golongan yang tak berpunya. Tak diketahui asalnya darimana, dan siapa orang tuanya. Hanya saja ia mendapat hidayah, hingga senantiasa berada di shaff pertama dalam sholat maupun jihad.

KIsah Julaibib (Sumber Gambar: chirpstory.com/li/351098)
Suatu hari Rasulullah bertanya padanya "Wahai Julaibib, maukah engkau menikah?"
Julaibib menjawab "Siapa gadis yang mau kunikahi? dan orang tua mana yang mau menikahkan anaknya kepadaku?"
Setelah beberapa kali menawari Julaibib, suatu hari, datanglah seorang laki-laki Anshar yang menawarkan putrinya kepada Rasulullah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Ya. Wahai fulan! Nikahkan aku dengan putrimu.”
“Ya, dan sungguh itu suatu kenikmatan, wahai Rasulullah,” katanya riang.
Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Sesungguhnya aku tidak menginginkannya untuk diriku…”
“Lalu, untuk siapa?” tanyanya.
Beliau menjawab, “Untuk Julaibib…”
Ia terperanjat, “Julaibib, wahai Rasulullah?!! Biarkan aku meminta pendapat ibunya….”
Laki-laki itu pun pulang kepada istrinya dan menyampaikan permintaan Rasulullah. Begitu mengetahui bahwa itu Julaibib sang Istri merasa kecewa. Saat Lelaki Anshar itu hendak bertolak menyampaikan penolakan kepada Rasulullah, putrinya memanggil. Rupanya sang wanita telah mendnegar pembicaraan kedua orang tuanya.
Dia berkata, “Apakah kalian akan menolak perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”
“Bawa aku menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh, beliau tidak akan menyia-nyiakanku,” lanjutnya.
Sang bapak pun pergi menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seraya berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, terserah Anda. Nikahkanlah dia dengan Julaibib.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menikahkannya dengan Julaibib, serta mendoakannya,
“Ya Allah! Limpahkan kepada keduanya kebaikan, dan jangan jadikan kehidupan mereka susah.”
------
Demikianlah, ternyata selain rupa dan harta. Ada ketaatan dan kecintaan seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya yang menjadi alasan kuat seseorang untuk melabuhkan cinta. Saat anda memilih pasangan, perhatikanlah agama dan akhlaknya. sesungguhnya rupa bisa menua, dan harta tidak abadi, namun cinta yang terlabuh karena agama insyaallah akan membawa bahagia.
Jadi, sudahkah anda menemukan belahan jiwa? Semoga dimudahkan dan bahagia senantiasa yaa...


Sumber Gambar: kabarmuslimah.net/index.php/2015/06/27/mengapa-rasulullah-melarang-mendoakan-pengantin-semoga-bahagia-dan-banyak-anak/
Artikel ini terbit pertama kali di UC News pada akun Sara Amijaya dengan judul: Bukan Rupa Bukan Harta, Tapi Inilah yang Membuat Aku Cinta

Fenomena Klasik Rumah Tangga: Suami Pemarah, Istri Baperan

Ada ungkapan yang biasa di ucapkan pria-pria Arab,
"Anta ta'iq, wa anaa maiq, fa kaifa nattafiq?" yang artinya " Aku pemarah, kamu tukang menangis, kapan kita bisa akur selamanya?"

Referensi pihak ketiga
Ungkapan ini menggambarkan fenomena klasik rumah tangga. Suami yang mudah marah dan tidak peka, Istri yang banyak menuntut dan sulit dipuaskan. Suami yang mudah mengecam, dan istri yang sedikit-sedikit menangis, baperan, serta banyak memendam kesedihan.
Hal ini, tentu saja cepat atau lambat akan berujung pada perpisahan jika tidak segera diatasi.
Bagaimana mengatasinya?
Mulailah dengan sebuah komiten untuk menciptakan kehidupan rumah tangga yang bertabur kebahagiaan. Samakan cita-cita untuk menjadi kawan sejati satu sama lain.
Pandanglah pasangan sebagai bagian dari diri kita sendiri. Sehingga saat menemukan beberapa kekurangannya, kita tak akan memperbesar masalah karena menganggapnya sebagai kekurangan diri kita sendiri. Alih-alih cekcok dan sibuk mengulitinya, kita akan memberi masukan positif yang penuh kasih sayang untuk memperbaikinya. Bayangkan jika kita memandang pasangan sebagai lawan atau orang lain. Saat cekcok , maka yang terjadi adalah kita dengan bersemangat menjatuhkannya, menjadikan kekurangan dan kesalahannya untuk mengecamnya habis-habisan.

Referensi pihak ketiga
Begitu pula ketika kita memandang kelebihan pasangan sebagai kelebihan yang merupakan bagian dari diri kita sendiri, kita akan mampu bersikap tulus untuk turut merasa bangga, dan berbahagia atas segala sesuatunya. Sebaliknya, saat kita belum mampu menjadikan pasangan sebagai bagian dari kita sendiri, seringkali kelebihan pasanganpun menjadi sumber percekcokan, entah kita merasa dibawah bayang-bayang, atau merasa tertekan dengan semua kelebihan pasangan kita.
Tak masalah menjadi pribadi yang mudah marah atau mudah menangis selama kalian telah berkomitmen untuk menjadi bagian satu sama lain.
Pasangan si mudah marah akan memahami hal-hal yang membuat marah pasangannya sehingga bisa menghindari pemicunya.
Pasangan si tukang menangis akan berusaha keras membuat pasangannya tersenyum dan menghindari hal-hal yang membuat pasangannya menangis.
Semoga, saya, kamu, dan kita semua menjadi pribadi yang berbahagia dengan pasangan kita...
Artikel ini telah terbit di UC News pada akun Sara Amijaya dengan judul: Aku Pemarah, Kamu Tukang Menangis, Kapan Kita Bisa Akur?

Jadi Wanita Malam, Siapa Takut?


Mendengar wanita malam, mungkin yang pertama terlintas di benak anda adalah wanita-wanita berpakaian minim yang tengah menjajakan diri pada para lelaki hidung belang.
Tidak sepenuhnya salah, karena kenyataannya pergeseran moral, etika, dan adat istiadat juga mempengaruhi istilah yang berkembang di tengah masyarakat.
Dulu sekali, ketika Islam dalam masa kejayaannya, wanita malam adalah gelaran yang sangat mulia lagi terpuji. Wanita-wanita malam adalah mereka yang bangun di malam hari dan khusyuk beribadah, bermunajat kepada Rabb Pencipta alam semesta.

Salah satu wanita malam yang kisahnya sungguh cemerlang adalah Ummu Muhammad, Istri Hubaib Abu Muhammad Al-Farasy. Ia adalah wanita yang biasa menghabiskan malam-malamnya dengan beribadah.
Al-Husain bin ‘Abdirrahman berkata:
“Sebagian Sahabat kami bercerita kepadaku, bahwa Isteri Hubaib, yakni Ummu Muhammad mengatakan bahwa ia terjaga pada suatu malam sedangkan suaminya tidur, lalu ia membangunkannya pada waktu sahur seraya mengatakan, ‘Bangunlah wahai Hubaib suamiku, sebab malam telah berlalu dan siang pun tiba, sedangkan di hadapanmu ada jalan yang panjang dan perbekalan yang sedikit. Para kafilah orang-orang shalih di depan kita, sedangkan kita di belakang."
Shifatush Shafwah (IV/23).
Mejadi wanita malam era ini dalam terminologi kebaikan tentulah sesuatu yang bisa kita upayakan. Kita hanya membutuhkan niat yang benar dan tekad kuat untuk memulai menghidupkan sepertiga malam baik yang awal maupun yang akhir.
Berani mencoba?
Tulisan ini terbit pertam akali di UC News pada akun Sara Amijaya dengan judl: 

Suami Ini Bertahan Dengan Kondisi Istrinya Yang Penuh 'Kekurangan', Alasannya Menohok Semua Pasangan

Kabar perceraian salah satu kenalan yang telah membina bahtera rumah tangga belasan tahun, tentulah bukan kabar yang menyenangkan untuk didengar, apalagi kabar perceraian dari pasutri yang baru membina rumah tangga seumur jagung. Pun demikian, kabar serupa terus berdatangan satu persatu dari sana dan sini. Kawan SMP, rekan kuliah, kerabat jauh, keluarga dekat, bahkan kawan-kawan yang hanya berinteraksi melalui dunia maya.


Tak ada rumah tangga yang sempurna, karena baik suami maupun istri hanyalah manusia biasa yang penuh dengan kekurangan. Menjadikan kekurangan pasangan sebagai sebab perceraian, mungkin adalah hal terakhir yang harus kau pikirkan.

Menjatuhkan talak cerai atau menggugat cerai pasangan tersebab kekurangannya, kemudian menikah lagi dengan orang lain, hanya membuatmu menemukan kekurangan-kekurangan baru yang seyongyanya tentu ada pada setiap diri manusia, pun dirimu sendiri.
Pada mereka yang memikirkan perceraian karena tak sanggup bersabar lagi dengan kekurangan pasangannya, maukah kalian membaca kisah tentang seorang kawan lainnya, yang bertahan dengan segenap kekurangan pasangannya?

Sebut saja dia Andi. Seorang pria biasa, yang bekerja keras untuk menghidupi istri dan keempat anak-anaknya. Pada suatu masa kawan-kawannya menemui kejanggalan pada prilaku sang istri. Berhutang kesana kemari, bergaya hidup jauh di atas kemampuan suaminya, dan belakangan diketahui bahwa istrinya mengidap gangguan kejiwaan. Mengurung diri di rumah, tidak mengurus anak-anak, tidak melayani suami, bahkan nyaris tak sanggup mengurus dirinya sendiri.
Tak sedikit orang-orang yang menyarankan Andi untuk mengembalikan istrinya ke rumah orang tuanya. Karena sebagai tulang punggung yang mencari nafkah, Andi juga harus mengurus rumah dan keluarganya. Kami tak sanggup membayangkan keletihan dan kesabarannya.

Pada mereka yang bertanya karena peduli Andi berkata:
"Relakah engkau kehilangan pasangan halalmu, yang telah engkau ketahui semua kekurangannya dan ia pun telah mengetahui semua kekuranganmu? Yang tetap bertahan dalam suatu masa dengan semua aib dan celamu? Yang pernah menciptakan warna dan rasa manis dalam hidupmu?"
Andi menjalani hidupnya dengan banyak senyuman dan kegiatan positif. Kabar terakhir, kondisi sang istri telah mulai membaik.
Darinya, kami belajar bahwa pernikahan tak melulu soal cinta dan kebahagiaan, seringnya tentang pengertian dan kesabaran.
Jika setelah menikah engkau ternyata terkaget-kaget dengan semua sifat dan kebiasaan pasanganmu, maka ketahuilah bahwa sangat mungkin ia pun terkaget-kaget dengan kepribadian dan semua kebiasaan harianmu.
Tidak bisakah engkau mengingat kebaikan-kebaikan dan sikap manisnya padamu? Niscaya ia pun akan banyak mengingat kebaikan-kebaikanmu dan mengabaikan satu dua kekuranganmu
Ketahuilah kebaikan pasangan kita sesungguhnya amatlah banyak, namun syaitan seringkali menutup-nutupinya dan membesar-besarkan kekurangannya yang sebenarnya tak seberapa.
Bahkan jika kekurangan pasangan sangatlah banyak, masih ada orang-orang seperti Andi yang memilih melewati itu semua dengan jalan kesabaran. Karena sesungguhnya kesabaran hanyalah memberikan buah yang manis bagi mereka yang memilikinya.

Tulisan ini terbitpertama kali di UC News pada akun Sara Amijaya dengan judul: 

Relakah Engkau Melepaskan Dia yang Tetap Bertahan dengan Semua Kekuranganmu?

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -