Posted by : Sara Amijaya Saturday, 9 March 2019

Pasangan itu tampak sederhana. Gaun lusuh membungkus tubuh sang wanita, sementara pasangannya lelaki sederhana yang mengenakan jas usang. Dengan canggung mereka memasuki kawasan universitas Harvard. Tak tanggung-tanggung yang ingin mereka temui adalah sang rektor.
Karena tak memiliki janji temu, sang sekretaris mengabaikan mereka. Hingga berjam-jam kemudian si sekretaris akhirnya menyerah dan masuk menemui sang rektor.
"Temuilah mereka barang sebentar, Tuan. Dengan begitu mereka akan pergi" bujuknya dengan takut-takut. Sekretaris itu tahu, sang rektor tentulah merasa kesal harus menemui pasangan lusuh yang tak mungkin berkepentingan dengan universitas sekelas Harvard.
Rektor, dengan wajah sombong, berjalan tegap menemui pasangan yang sudah menunggunya sedari tadi. Kepada rektor, wanita bergaun lusuh menjelaskan bahwa dulu mereka memiliki seorang putra yang berkuliah di Harvard, sayangnya di tahun pertama perkuliahannya ia meninggal dalam sebuah kecelakaan. Pasangan itu berniat membuat sebuah kenang-kenangan di kampus Harvard untuk anak mereka.
Sayangnya rektor tidak bersimpati sama sekali, "jika semua mahasiswa yang bersekolah disini dan meninggal dibuatkan kenangan, maka kampus ini akan berubah jadi kuburan" ujarnya dengan ketus.
"Kami ingin membangun sebuah gedung" terang pria berjas usang.
Rektor memandang mereka berdua dengan pandangan meremehkan "Sebuah gedung? Tahukah kalian berapa biaya membangun sebuah gedung? Kami memiliki gedung senilai tujuh setengah juta dollar di Harvard."
Wanita itu terdiam. Rektor merasa menang dan berniat pergi, namun sebelumnya ia mendengar bisikan si wanita kepada suaminya "Jika biayanya hanya sedemikian, lebih baik kita mulai membangun Universitas kita sendiri". Sang suami menyetujuinya. Dan pasangan itu berlalu meninggalkan rektor yang bingung sekaligus takjub.
Pasangan bergaun lusuh dan berjas usang itu adalah Mr. dan Mrs. Leland Stanford. Keluar dari Harvard mereka menuju California. Di sana mereka mendirikan Universitas Stanford sebagai sebuah kenang-kenangan untuk anak lelaki mereka.

Referensi pihak ketiga
------
Penampilan seringkali tidak menunjukkan identitas asli seseorang. Seringkali kita terjebak memperlakukan orang lain dengan tidak pantas tersebab penampilan luar mereka. Seyogyanya setiap orang, siapapun dia, bagaimanapun keadaannya tetap berhak menerima perlakuan baik dari kita sebagaimana kita ingin diperlakukan dengan baik oleh orang lain.
Pada akhirnya penilaian dan perlakuan kita terhadap seseorang tidak mempengaruhi mereka, melainkan justru menunjukkan kualitas diri kita yang sebenarnya


Referensi pihak ketiga

Referensi pihak ketiga
Sumber Referensi:
Koin Emas di Tepi Jalan karya Mario Seto Terbitan New Diglossia 2011

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -