Posted by : Sara Amijaya Wednesday, 13 March 2019

Awalnya, Rina (bukan nama sebenarnya) adalah gadis yang supel, dan mudah bergaul dengan sesiapapun. Kawan-kawannya banyak dan seringnya dengan bermacam-macam polah dan kebiasaan. Orangtuanya bahkan sempat khawatir dengan kesupelannya bergaul. Takut ia salah memilih kawan.

Referensi pihak ketiga
Belakangan, Rina berubah. Pakaiannya semakin melebar dan tertutup, hijabnya pun semakin panjang. Ia mulai membatasi pergaulan dengan kawan-kawan lamanya. Orang tuanya tentu merasa senang, Rina tengah menjalani proses hijrah menjadi pribadi yang lebih baik.
Tetapi, kawan-kawannya justru merasa sedih dan kecewa, Rina benar-benar menjauhi mereka, bahkan enggan bertegur sapa. Sebagian teman-temannya memaklumi, bahwa itulah konsekuensi hijrahnya Rina, sebagian lagi menyalahkan proses hijrahnya Rina.
"Jika proses menjadi lebih baik membuatmu tidak lagi selevel untuk bergaul dengan kami, sungguh kami menyesali jalan hijrahmu" hujat kawan-kawannya.
Sebagian lagi berseru "Jika berkawan pilih-pilih, bagaimana orang buruk seperti kami dapat hidayah?"
Rina pun bersedih. Tak mengerti apa yang salah? Ia hanya melaksanakan anjuran dalam syariat yang dipahaminya sebagai suatu kebenaran.
Dalam sebuah kajian Rina mendengar ustadnya menyampaikan sebuah hadist shahih yang berbunyi:
Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” -HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628-
Rina menjauhi kawan-kawan lamanya dan memilih hanya bergaul bersama orang-orang shalih/shalihah ( kawan-kawan pengajiannya) agar dapat mengambil manfaat dari mereka.

Referensi pihak ketiga
Tentu tidak salah, namun ada hal yang mungkin dilupakan Rina, bahwa syariat menganjurkan mencari teman yang berlatar-belakang baik, bukan berarti kita tidak bergaul dengan orang-orang di sekitar kita, cuek dengan kawan-kawan lama, bahkan bersikap ekstrim hingga tidak bertegur sapa sama sekali. Tetaplah bergaul sewajarnya, tunjukkan adab akhlak yang semakin baik, sehingga proses hijrah kita bisa menjadi inspirasi dan (mudah-mudahan) hidayah bagi mereka.
Memilih kawan yang baik, Juga bukan berarti kita tidak bergaul dengan orang yang berbeda agama, berbeda pemahaman, orang-orang fasik dan orang-orang berkarakter buruk lainnya. Akan tetapi, pergaulan dengan mereka mesti dilandasi keinginan dan niat untuk mendakwahi dan memperbaiki mereka, minimal memberikan teladan yang baik. Tentu dengan menakar kemampuan diri kita sendiri.
Jika pergaulan kita dengan mereka mendatangkan manfaat yang besar bagi mereka, maka kita boleh bergaul dengan mereka. Begitu pula sebaliknya, jika tidak mendatangkan manfaat tetapi justru mendatangkan bahaya bagi diri sendiri, maka bergaul dengan mereka menjadi perkara larangan.
Syaikh Muhammad al-‘Utsaimîn rahimahullah berkata:
“Jika di dalam pergaulan dengan orang-orang fasik menjadikan sebab datangnya hidayah baginya, maka tidak mengapa berteman dengannya. Engkau bisa undang dia ke rumahmu, kamu datang ke rumahnya atau kamu jalan-jalan bersamanya, dengan syarat tidak mengotori kehormatan dirimu dalam pandangan masyarakat. Betapa banyak orang-orang fasik mendapatkan hidayah dengan berteman dengan orang-orang yang baik.”
Dalam hidup bermasyarakat, dan berinteraksi dengan banyak orang kita hanya punya dua pilihan, mewarnai dan diwarnai menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk.
Tentukan pilihanmu sekarang, kawan!

Sumber referensi: Almanhaj.or.id

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -