Posted by : Sara Amijaya Sunday, 19 May 2019

“Setiap agama mempunyai ciri khas akhlak dan ciri khas akhlak Islam itu rasa malu.” 
(HR. Ibnu Majah)
Malu adalah pakaian taqwa, salah satu akhlak muslim yang di masa ini sudah semakin sering ditanggalkan oleh para muslim muslimah. Pergaulan muda-mudi sudah jauh melenceng dari syariat Islam yang mulia, bebas, kebablasan.

Referensi pihak ketiga
Dikisahkan, salah satu sahabat Rasulullah, Abdullah bin Abu Bakar sedang dalam suatu perjalanan. Ia merasa kehausan dan kehabisan bekal air minum. Saat itu ia menemukan sebuah rumah yang berpenghuni.
Abdullah bin Abu Bakar kemudian mengetuk pintu seraya mengucap salam dan meminta segelas air. Rupanya pemilik rumah itu adalah seorang wanita janda. Ia membawakan segelas air yang diminta sahabat Rasulullah, namun kemudian hanya berdiri di balik pintu dan berkata, “Menjauhlah dariku, suruhlah anak kecil untuk mengambil air ini, sebab aku adalah wanita yang hidup sendiri. Suamiku telah meninggal beberapa waktu yang lalu.”
Abdullah terpengarah mendengarnya. Ia kemudian menyuruh seorang anak kecil di sana untuk mengambilkan air itu untuknya.
Abdullah bin Abu Bakar adalah salah satu sahabat yang terkenal dengan kedermawanannya. Mengetahui wanita yang sangat menjaga izzahnya itu adalah seorang janda, Abdullah menitipkan uang kepada anak kecil itu untuk diberikan kepada si janda pemalu, sebagai bentuk apresiasi.
Betapa terkejutnya wanita janda itu. Ternyata jumlah uang yang dititipkan oleh Abdullah bin Abu Bakar berjumlah 10.000 dirham.
“Subhanallah, apakah engkau mengejekku?” kata janda itu dari balik pintu. Mendengar jawaban itu, Abdullah memanggil kembali anak kecil itu dan menambahkan uang pemberiannya menjadi 20.000 dirham.
“Aku mohon keselamatan dari Allah,” kata sang wanita mengetahui jumlah itu.
“Kalau begitu aku tambahkan lagi menjadi 30.000 dirham,”timpal Abdullah.
Sepeninggal Abdullah bin Abu Bakar, Ketawadhuan dan rasa malu wanita itu dengan cepat menyebar. Tepat pada sore harinya banyak laki-laki yang datang berlomba-lomba melamar janda tersebut.

Referensi pihak ketiga
Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam sudah mengatakan bahwa rasa malu itu tidaklah mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata. Lihatlah wanita janda itu, ia menjaga dirinya dengan rasa malu.
Rasa malu menghalanginya bertemu laki-laki asing, bahkan sahabat Nabi sekalipun. Karena sifat malu, janda ini menjaga diri dan kehormatannya, maka Allah anugerahkan banyak kebaikan padanya, dan mengangkat derajatnya, sebagai wanita sholehah.
Sahabat Nabi yang mulia jatuh kagum dan menginfaqkan 30.000 dirham. Allah juga menggerakkan banyak lelaki sholeh untuk datang melamarnya.
Kebalikan dari sifat malu yang mendatangkan kebaikan, maka wanita-wanita yang tak lagi memiliki rasa malu tidaklah dikelilingi kecuali oleh beragam keburukan.
Muslimah yang dengan santai membuka auratnya di hadapan lelaki asing, bergaul bebas, dan hilang rasa malunya, maka sungguh ia telah kehilangan kehormatan dan harga dirinya. Perhatikanlah berapa banyak kejahatan yang bermula dari hilangnya sifat malu dari dalam diri seorang muslimah.
Allahu' musta'an.
Semoga kita mengambil pelajaran.

Referensi pihak ketiga
Sumber Referensi:
Golden Stories, Kisah-kisah Indah dalam Sejarah Islam, Syaikh Mahmud Mustafa Sa’ad dan Syaikh Dr. Nashir Abu Amir Al Humaidi
---
Artikel ini pertama kali diterbitkan di UC News pada akun Sara Amijaya

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -