Posted by : Sara Amijaya Friday, 31 May 2019

lebaran adalah momen yang ditunggu banyak orang, bukan hanya sebagai hari kemenangan tapi juga hari berkumpul bersama keluarga. Hal ini juga dirasakan betul oleh pasangan Fadel dan Nanda.

Referensi pihak ketiga
3 tahun membina rumah tangga, keduanya sama-sama sibuk bekerja demi mewujudkan rumah idaman dan impian lainnya. Ramadhan selalu menjadi momen dimana intesitas pasutri ini bertemu bisa jadi lebih meningkat. Hanya di Ramadhan mereka bisa sama-sama meluangkan waktu untuk berbuka dan sahur bersama.
Hari itu, hari terakhir di bulan Ramadhan setahun lalu, Nanda memilih pulang cepat dan menyiapkan menu berbuka untuk mereka berdua. Tak lupa ia juga menyiapkan sebuah kado untuk sang suami. Namun, hingga maghrib menjelang, Fadel tak jua kunjung tiba, ponselnya sama sekali tak diangkat. Rona gelisah mulai terlihat di wajah Nanda.
Kemana suamiku?
Apakah sesuatu terjadi?
Fadel memang biasa lembur dan pulang telat, tapi tidak selama momen ramadhan, terlebih di malam lebaran. Debar yang serupa pertanda buruk terus berdetak di hati Nanda, maka ia tak peduli meski baru berbuka dengan segelas air, dan tergesa melaksanakan sholat maghrib, ia memutuskan keluar mencari suaminya.
Tak beberapa lama sejak kepergian Nanda, Fadel pulang dan menemukan rumahnya kosong. Namun meja makan tertata dengan makanan khas kesukaannya. Tak lupa sebuah kado yang terselip catatan tangan istrinya diletakkan di meja.

Referensi pihak ketiga
Fadel menyeringai menatap bungkusan kado di tangannya sendiri, niatnya ingin memberikan hadiah kejutan untuk sang istri rupanya kalah cepat. Istrinya telah berpikir serupa.
Ya, Fadel telat pulang demi menyiapkan hadiah kejutan untuk istrinya tercinta. Sementara pada kado yang disiapkan Nanda terdapat sebuah jam tangan yang sudah lama diidamkannya.
Pada kotak itu, istrinya menulis:
"Time is free, but it's priceless. Semoga ke depanya kita bisa memiliki lebih banyak lagi waktu untuk bersama-sama..."

Referensi pihak ketiga
Fadel menatap jam dan catatan itu dengan perasaan haru. Ia tahu selama 3 tahun ini mereka benar-benar bekerja keras hingga jarang sekali bisa meluangkan waktu bersama-sama. Fadel bertekad, jika istrinya pulang nanti ia akan mewujudkan impian tersebut.
Gema takbir sudah bertalu-talu dari masjid sekitar tempat tinggalnya, dan Fadel baru menyadari istrinya belum jua kembali, Fadel segera mencari ponselnya di dalam tas, dan kaget menemukan banyak sekali panggilan tak terjawab. Sebagian dari istrinya sebagian lagi dari nomor yang tidak dikenalnya. Fadel benar-benar lupa sejak waktu saat sholat Ashar di masjid ia mengaktifkan mode silent.
Fadel segera menghubungi nomor istrinya, namun tak tersambung. Saat Fadel ingin menghubungi kembali nomor sang istri, nomor tak dikenal lebih dulu masuk. Saat Fadel menerima panggilan tersebut, ia seketika lemas dan merasa dunianya runtuh.
Panggilan itu dari polisi yang memintanya untuk mengenali korban tabrak lari yang diduga kuat adalah istrinya, Nanda.
Fadel tergugu, kado di tangannya terjatuh, dan sebuah kunci tersembul keluar. Itulah hadiah kejutan yang ingin diberikan Fadel pada Nanda, kunci rumah baru mereka. Namun, istana tanpa ratunya bukanlah lagi istana.
Penyesalan Fadel mungkin adalah apa yang pernah pula kita rasakan. Harta memang penting, terutama rumah huniah. Namun, waktu kebersamaan dengan pasangan sungguh jauh lebih penting.
Sejatinya ajal tak pernah berkabar sebelumnya, maka kewajiban kita untuk senantiasa bersiap dan memilih prioritas utama dalam kehidupan ini.
Semoga lebaran kali ini kita masih bisa berkumpul dengan orang-orang terkasih, manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya, karena bisa jadi itu adalah waktu terakhir kita bersama mereka.

Referensi pihak ketiga
Sumber Referensi:
Kisah di sekeliling penulis dengan sedikit tambahan untuk menggambarkan kejadian menyentuh

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -