Jika membaca adalah nutrisi hati,
Maka menulis adalah rekreasi jiwa...

Search This Blog

Powered by Blogger.

Archive for July 2019

Hindari Puasa Ramadhan Dengan Melancong ke Luar Negeri. Lelaki Kaya Ini Alami Hal Tak Terduga

Setiap sakit dan musibah yang menimpa diri kita niscaya disebabkan oleh diri kita sendiri, namun sering kali kita tak menyadarinya.
Dari salah satu kajian Ustadz Khalid Basalamah, beliau membawakan kisah yang semoga menjadi ibroh bagi setiap kita yang mengaku beriman.

Referensi pihak ketiga
Tersebutlah seorang lelaki kaya asal Timur Tengah. Kekayaan telah membuatnya lalai dalam memenuhi kewajiban agamanya. Setiap tahun ia akan membawa serta seluruh keluarganya untuk berlibur ke Eropa. Dan ia dengan sengaja memilih bulan Ramadhan sebagai bulan liburan bagi keluarganya. Pergi jelang Ramdhan dan kembali setelah Idul Fitri.
Bukan tanpa sebab, ia sengaja bersikap demikian untuk menggugurkan kewajiban berpuasa. Ia berdalih mengambil keringanan untuk tidak berpuasa karena ia dalam keadaan safar (bepergian).
Begitulah dari tahun ke tahun. Ia meninggalkan puasa Ramadhan tanpa sedikitpun rasa berdosa. Ia mengira telah memilih kemudahan yang ditawarkan syariat. Sampai kemudian ia menderita sakit perut yang sukar didefinisikan.
Sakitnya tak tertahan, namun semua dokter ahli di dalam dan luar negeri yang didatanginya sama sekali tak bisa menjelaskan secara kongkrit apa penyakitnya tersebut. Obat demi obat yang dikonsumsinya sama sekali tak memiliki efek apapun juga.
Lelaki kaya ini akhirnya sampai pada salah seorang dokter ahli di Jerman. Dokter ini membaca riwayat sakitnya juga semua obat yang telah dikonsumsinya. Saat mengetahui pasiennya ini seorang muslim, tanpa terduga sang dokter justru menyarankan sebuah hal yang sama sekali tak terpikirkan. Ia berkata, "cobalah anda berpuasa. Mulailah besok hari. Kebetulan hari Kamis. Bukankah di agama anda ada puasa sunnah Senin Kamis?"
Lelaki kaya ini seketika merasa tertampar. Ia otomatis teringat Ramadhan demi Ramadhan yang telah disia-siakannya. Sepulangnya dari tempat sang dokter lelaki kaya ini bertaubat atas dosa-dosanya dan berniat berpuasa keesokan harinya, puasa sunnah Kamis.
Dan, begitulah sakit perut lelaki kaya itu dengan izin Allah lenyap begitu saja. Saat ia kembali menemui sang dokter Jerman untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, ia menceritakan hasil terapi puasanya. Sang dokter diam sejenak dan kemudian mengeluarkan sebuah Al-Qur'an dari laci mejanya.
Sang dokter berkata, "Sudah lama aku tertarik pada Islam, namun aku menunggu untuk melihat sebuah keajaiban dengan mata kepalaku sendiri, dan kini aku telah melihatnya."
Masyaa Allah...
Lelaki kaya itu menempuh jalan taubat dan seorang dokter Jerman mendapatkan hidayah Islam. Sungguh cara Allah selalu indah, bagi orang-orang yang dikehendakiNya pada kebaikan.
Setiap sakit, penderitaan, musibah yang menimpa kita, maka sudah selayaknya membuat kita merenungi dosa-dosa dan bersegera pada ampunan Allah Ta'ala
---
Sumber Referensi:
Kajian Ustad Khalid Basalamah pada youtube.com/watch?v=dIEYC-RfYNQ

Suami Kehilangan Pekerjaan, Wanita Ini Dilema Dengan Tawaran 30 Juta

Ujian berumah tangga tak pernah ada habisnya, maka tak heran jika pernikahan disebut sebagai ibdah terlama. Dan tentu saja selalu ada jalan keluar di sana, bagi kita yang mau meniti jalanNya.

Referensi pihak ketiga
Sebut saja Imron, hari itu dengan terbata ia menelepon istrinya, Dina, dari kantornya, "Sayang, hari ini adalah hari terakhir aku menerima gaji."
Dina, tentu saja merasa syok, terlebih mengingat segala macamkebutuhan anak mereka yang baru berusia 1 tahun, namun ia tahu tak boleh menunjukkan kekhawatirannya di depan suaminya yang sudah tak kalah kalutnya karena di PHK. Maka, Dina pun menjawab lembut, "Tenang sayang,kita selalu punya Allah yang Maha Kaya lagi Maha Pemberi Rezeki."
Setelah sambungan telepon ditutup, Dina seketika sibuk menghubungi berbagai nomor kontak teman-temannya menanyakan jika saja ada lowongan kerja untuk suaminya. Salah satu temannya segera menelepon, tapi itu bukan tawaran pekerjaan untuk suaminya, melainkan untuk dirinya sendiri.
"Aku tahunya kemampuan kamu, bukan suami kamu. Gaji bersih yang kamu terima 30 juta, tambah tunjangan mobil, dan fasilitas kesehatan terbaik." tawar sang kawan.
Batin Dina berkecamuk, tawaran ini begitu menggiurkan di tengah-tengah kondisi finansial keluarganya yang tengah terpuruk. Namun, Dina meminta waktu untuk berunding dengan sang suami terlebih dahulu.
Saat Imron mendengarnya, ia terdiam. Namun, berkata "Aku percaya pada apapun pilihanmu. Istikharahlah dulu."

Referensi pihak ketiga
Imron sadar betul, siapa wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Dina terbiasa hidup mewah dan diberi segala macam fasilitas terbaik sedari kecil. Dina pun memiliki gelar MBA dari Australia, dan dia mampu untuk menjadi seorang CEO. Namun, taqdirlah yang mengantarkan Dina menjadi istrinya, dan melupakan impiannya sebagai wanita karir. Kini kesempatan itu, terbuka lebar di depannya.
Dina memilih bermunajat bersama Allah di sepertiga malam, meminta pilihan terbaik. Saat itu tangisan bayinya memecah kesunyian. Dina pun meraih dan menyusuinya penuh cinta. Seketika ia tahu pilihannya. Siapa saja bisa menjadi CEO di luar sana, tapi tak pernah ada yang bisa menggantikan posisinya sebagai ibu bagi bayinya.
Ia tahu banyak cara dan alasan hingga ia bisa meninggalkan bayinya tanpa kekurangan, namun ia tak akan pernah bisa membeli kembali waktu bersama sang anak. Dina memutuskan memenuhi kodratnya sebagai istri dan ibu, yang tak meninggalkan singgasananya di rumah.

Referensi pihak ketiga
Imron mendukung penuh keputusan istrinya, sembari Imron mencari pekerjaan baru, Dina membuka beragam usaha di rumah. Bermodal seluruh sisa tabungan di rekening ia membuka catering dan menjual berbagai macam rupa barang-barang
Suatu hari, Dina mengerjakan pesanan seratus porsi makanan sendirian, dan Imron bertugas mengantarkannya. Saat itu Dina berpesan, "Yang, kalau sudah dibayar dan pulang nanti, beliin mie ayam ya!" Imron pun mengiyakan dengan penuh suka cita.
Dina menunggu di rumah dengan sisa kelelahannya, sambil membayangkan lezatnya menyantap mie ayam yang ia pesan. Tapi, betapa kecewanya ia saat mendapati sang suami pulang dengan tangan kosong. Rupanya sang pelanggan meminta tempo pembayaran hingga tiga hari ke depan.
Dina yang kelelahan dan telah membayangkan semangkuk mie ayam, merasa begitu kecewa. Ia beranjak ke kamar dan mengumpulkan receh demi receh, di kolong tempat tidur, di dompet, di laci meja.
Ia keluar dengan sedih, hingga Imron kebingungan. Dina menunjukkan recehan di tangannya dan terbata menahan tangis, "Cuman dapat tiga ribu, kurang dua ribu lagi untuk dapat semangkuk mie ayam...".
Seketika hati Imron terasa hancur, ia bahkan tak bisa membelikan makanan seharga lima ribu rupiah (harga mie ayam saat itu) untuk istrinya yang sedari kecil bergelimang harta. Imron seketika memeluk istrinya dan menangis meminta maaf. Keduanya berpelukan dalam tangisan, "Maaf sayang, mie ayam saja aku tidak mampu belikan..."
Masih berpelukan dengan derai air mata, ponsel Dina berbunyi. Seorang teman menghubungi, "Halo, kamu masih jualan jilbab gak? Aku pesan ya buat ibu-ibu majelis taklim nih. Langsung aku transfer sekarang" ujar kawan yang meneleponnya itu.
Masyaa Allah.
Saat ini Dina dan Imron (bukan nama sebenarnya) telah memiliki kehidupan yang berkecukupan, mereka bahkan kerap berkeliling dunia. Sungguh Allah Maha Benar dengan segala janji-Nya. Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang meninggalkan sesuatu karena-Nya.
Semoga kita mengambil ibroh.
---
Sumber Referensi:
Akun Fb Diena Rifaah

Ayah Ini Menangis Bertanya di Kasir, "Bolehkah Aku Membeli Kuahnya Saja?"

Orangtua yang berperan selayaknya orangtua, maka sungguh pengorbanan mereka adalah suatu hal yang tak mungkin terbalaskan. Mereka rela menderita, menahan malu, bahkan melakukan hal-hal tak terduga demi membahagikan buah hatinya.
Sayangnya, tak semua anak memahami apa yang telah orangtua lakukan demi mereka, dan justru bersikap menyakitkan seolah-olah menjadi anak yang paling menderita.

Referensi pihak ketiga
Sebuah kisah pernah dibagikan melalui akun twitter Nolly Nurlinda. Saat itu ia sedang berada di sebuah mini market di negeri jiran, Malaysia.
Saat sedang mengantre di kasir, seorang ayah dengan putri remajanya sedang menyelesaikan transaksi. Sang ayah dengan malu bertanya berapa harga Oden (makanan khas Jepang yang ditusuk seperti sate dan berkuah, biasanya dijual ala jajanan pinggir jalan) yang dijual di sana.
Sang kasir menyebut harga, dan ayah ini tampak menghitung sisa uang di dompetnya. Dengan lirih ia berusaha menawar, "Bolehkah saya membeli kuahnya saja? " tanyanya kelu.
Sang kasir dengan bingung namun merasa pilu menggeleng lirih, "Maaf, pak. Tidak bisa."
"Itu jajanan favorit putriku, namun uangku tak cukup hari ini." Ujar lelaki itu dengan menahan malu. Sementara putrinya dengan gusar menghentakkan kaki dan berkata ketus, "Hish, Sudah la..." dan bergegas pergi keluar dengan wajah tak sedap di pandang.
Seorang wanita segera maju dan memutus antrean, ia membeli oden dan langsung menyerahkan makanan tersebut kepada lelaki itu, "Ini bang, saya belikan untuk anak abang."
Lelaki itu mengucapkan terima kasih dengan wajah yang menyiratkan beragam emosi, rasa malu, terima kasih, haru, dan entah apa lagi. Ia menunduk menitikkan air mata.
Sebuah pemandangan yang menyentuh semua orang yang menyaksikan peristiwa tersebut. Sungguh. menimbulkan haru di hati orang-orang, semua melihat bagaimana usaha seorang ayah demi membahagiakan putrinya. Dan mereka sekaligus merasa geram dengan sikap putrinya yang demikian.

Begitulah, terkadang seorang anak kurang menghargai kebaikan orangtuanya, dan hanya bisa menuntut untuk memenuhi keinginan mereka.

Referensi pihak ketiga
Sumber Referensi:
Twitter: Nolly Nurlinda

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -