Search This Blog

Powered by Blogger.

Jangan berbalik, terus saja melangkah!



Ketika jembatan komunikasi perlahan runtuh, arah jalanpun mulai berselesih,
 dan akhirnya memilih muara kebebasan.


Pagi masih mengembun. Anak-anak masih berjibaku dengan aktivitas pagi, memakai seragam dan menghabiskan sarapan mereka. Ponselku yang tiba-tiba  berdering nyaring, membuatku dan suami saling menatap. Yang menelpon di pagi hari biasanya pastilah kerabat atau sahabat.

Dan benar saja, telpon itu dari salah satu sahabatku dari masa kuliah. Sebut saja dia Ai. Suara salamnya di seberang sana terdengar basah. Dan, rasa-rasanya aku tahu apa penyebabnya.

“Salahkah jika seorang perempuan menggugat cerai suaminya?” pertanyaan itu terlontar jua darinya. Jujur saja aku terdiam sesaat. Meski sering menjadi tempat curhatan berbagai permasalahan kawan-kawanku, sekali pun aku tak pernah menyarankan sebuah perpisahan, bahkan terbersit untuk menyarankannya saja tidak.(Maaf deh jika ternyata aku masuk nominasi manusia kolot yang masih mengagungkan ikatan suci pernikahan).

Saat itu dalam pikiranku, aku merunut cepat peristiwa demi peristiwa yang terjadi dalam rumah tangga Ai sejauh pengetahuanku berdasarkan curhat-curhat langsung Ai beberapa tahun belakangan ini. Kuingat-ingat juga apa yang sudah kusarankan dan apa yang sudah diusahakannya serta apa hasil dari setiap usahanya itu.

KDRT? Sejauh yang kutau tidak ada.
Perselingkuhan?Mmmm…pernah, dan kurasa sempat teratasi.
Keluarga?Aduuh, complicated deh.
Komunikasi? Nol besar.

“Seingatku, kapan waktu kamu dah pernah sidang n disidang kelima memutuskan untuk menarik gugatan? Kamu yakin gak akan menyesal?” tanyaku padanya.

Sebenarnya kali ini pun Ai sudah menjalani sidang kedua atau ketiganya, hanya saja keragu-raguan menghantuinya dan ia bertanya padaku melanjutkan gugatan cerainya atau lagi-lagi menarik gugatan.
Sebenarnya aku takut memberi saran, khawatir jika saranku ternyata merubah hidupnya ke arah yang justru tidak lebih baik.

Saat gugatan cerai pertama kukatakan padanya “Timbanglah berapa banyak manfaat dan mudharatnya jika kalian terus bersama atau jika kalian berpisah. “

Saat itu aku berdoa dengan tulus agar Ai menemukan kebahagiaan dengan apapun pilihan yang dijalaninya. Rasanya setahun berlalu, aku tau hidupnya tak menjadi lebih mudah, cobaan demi cobaan masih terus berakrab ria dalam hidupnya.

Dan pagi itu, ketika ia mencurahkan kisahnya aku tau, sekali ini aku harus keluar dari zona nyaman saran-saranku. “Jangan berbalik Ai, terus saja melangkah, lanjutkan apa yang sudah kamu mulai. Ritme hidupmu rasanya terus berulang, tak ada perubahan apa-apa. Kamu selalu kembali di titik awal. Bagaimanapun, rekonsiliasi itu dari kedua belah pihak. Jika kamu berjuang sendirian sampai kapanpun gak bakal sampai diposisi balance. Seberapa lelahnya kamu, selesaikan hingga tuntas. Setelahnya bangunlah hidupmu dari awal. Insyaallah kamu bisa beribadah lebih tenang dan hidupmu menjadi lebih baik.”

Aku benar-benar berharap aku tak mendorong Ai pada suatu keburukan. Pun aku sudah menyarankannya meminta nasihat pada pihak ketiga yang bisa menjembatani mereka berdua, atau datang saja ke BP4. 

Dari kisahnya aku belajar, bahkan pernikahan yang dibekali cinta, jika tak diiringi peningkatan keimanan akan kandas tergerus ujian. 

Ai dan suaminya memulai kehidupan rumah tangganya dari garis  start yang sama. Dalam perjalanan yang tak luput dari sandungan batu ujian itu, Ai memilih mendekat pada Tuhan dan memperbaiki kualitas hidupnya, sayangnya tidak begitu halnya sang suami.

Ai mulai merindukan rumah tangga yang islami, mulai merindukan imam yang bisa membimbing dan mengarahkannya, minimal bersedia bersama-sama memperbaiki diri dan mendekatkan diri pada Tuhan. 

Ai mengusahakannya, mengusakan perbaikan dirinya juga suaminya. Sayangnya Ai hanyalah manusia. Hidayah itu semata milik Allah, dan saat ini hidayah itu belum lagi sampai pada suaminya.
Mempertahankan rumah tangganya, tidak hanya menggerus kesabarannya, Ai lebih khawatir jika keimanannya ikut pula tergerus habis. 

Sungguh pernikahan itu tempatnya ujian dan cobaan, jika ingin bertahan tak hanya cinta yang harus dipupuk, pun keimanan perlu senantiasa ditingkatkan. Wallahu a’lam
 


Tag : ,

Ketika aku tergoda untuk berdebat #part 1




Setelah pemilu berlalu, aku pikir tidak ada lagi perdebatan antara teman-teman yang nyoblos maupun yang golput. Para penuntut ilmu akan lebih serius lagi menuntut ilmu tanpa tergoda mencampuri fitnah ini itu terkait ijtihadnya ulama.

Tapi, sedih rasanya melihat kebanyakan kawan-kawan salafy yang ternyata masih belum memiliki jiwa besar dalam menyikapi perbedaan yang sebenarnya hanyalah masalah ijtihady yang dalam kasus ini: boleh tidaknya ikut pemilu.

Gak penting juga sih, menceritakan apa pilihanku *_*. Tapi yang pasti aku menghargai pilihan golput ataupun nyoblosnya kawan-kawan. Toh masing-masing pilihan berdasarkan ilmu yang kelak akan dipertanggungjawabkan masing-masing.

Pernah denger dong ya “kelurusan aqidah seseorang salah satunya bisa dilihat dari akhlaqul karimah”. Jadi tak perlulah  saling mencela, insyaallah kita masih sama-sama tegak di aqidah yang sama, manhaj yang sama…

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah mengatakan:
وَأَمَّا الِاخْتِلَافُ فِي ” الْأَحْكَامِ ” فَأَكْثَرُ مِنْ أَنْ يَنْضَبِطَ وَلَوْ كَانَ كُلَّمَا اخْتَلَفَ مُسْلِمَانِ فِي شَيْءٍ تَهَاجَرَا لَمْ يَبْقَ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ عِصْمَةٌ وَلَا أُخُوَّةٌ وَلَقَدْ كَانَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا سَيِّدَا الْمُسْلِمِينَ يَتَنَازَعَانِ فِي أَشْيَاءَ لَا يَقْصِدَانِ إلَّا الْخَيْرَ

“Adapun perselisihan dalam masalah hukum maka banyak sekali jumlahnya. Seandainya setiap dua orang muslim yang berbeda pendapat dalam suatu masalah harus saling bermusuhan, maka tidak akan ada persaudaraan pada setiap muslim. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dan Umar radhiallahu ‘anhu saja—kedua orang yang paling mulia setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—mereka berdua berbeda pendapat dalam beberapa masalah, tetapi keduanya tidak menginginkan kecuali kebaikan.” (Majmu’ Fatawa 5/408. )
======================
*Diberi judul “ketika aku tergoda untuk berdebat” karena sebenarnya aku benar-benar berusaha keras menahan tangan, juga lisanku bahkan untuk sekedar berkomentar di status teman-teman terkait perbedaan ini. Bagaimanapun aku pernah merasai ketika awal-awal fitnah sururi memecah belah ahlussunnah di Indonesia. Dan melihat perpecahan di depan mata itu……menyakitkan kawan!
Rasanya, kali ini lagi-lagi aku melihat pintu perpecahan yang makin terbuka lebar T_T
Allahu musta’an.


Tag : ,

Galaunya anak-anak

Sebenarnya geli, ketika menyadari bahwa putri sulungku bisa pula merasakan galau. Galau khas anak-anak. Membuatnya uring-uringan dan sibuk bolak-balik bertanya ini itu seputar kegalauannya, terkadang pula menangis sedih gak jelas.
 Beberapa kegalauannya masih teringat dengan jelas.
  • Ketika lulus dari RA dan terpaksa pisah sekolah dengan teman-temannya.
"Ntar kalau Amma kangen teman-teman bagaimana?"
"Ntar kalau di sekolah baru Amma gak punya teman bagaimana?"
*Sepulang wisuda ia pun sukses menangis tersedu-sedu, sambil mengabsen nama kawan-kawannya dalam sedu sedannya itu.
 
Amma dan teman-teman RA
Tag : ,

Ummi tidak membutuhkan nilai 100-mu, sayang...




Sebagai ibu 3 orang anak, aku sangat menyadari masa kanak-kanak adalah masa bermain. Bagi kanak-kanak permainan merupakan pekerjaan serius. Karenanya sebisa mungkin aku mendidik mereka dengan permainan yang menyenangkaan. Maka aku mengajarkan mereka tentang kewajiban dengan kesenangan bermain sebagai salah satu reward.

Saat ujian tengah semester kemaren, di hari pertama aku menungguinya belajar. Melarangnya menonton TV, juga mengambil ipad-nya. Saat itu ia hanya diam dan masih bersemangat belajar. Di hari kedua, ia memasang wajah perang. Menolak belajar sama sekali. “Capeeek tau, apa-apa harus ada syaratnya. Gak boleh main keluar, ipad juga diambil, mau nonton aja harus pake belajar dulu” akhirnya keluhan itu keluar juga.

Tag : ,

Kenapa harus menjulurkan lidah saat periksa?




Ternyata benar punya anak yang terus bertumbuh itu menuntut kerja keras orang tua untuk semakin giat belajar.

Gara-gara sakit dan harus diperiksa dokter, Amma tiba-tiba bertanya “Mi, kenapa sih harus menjulurkan lidah saat periksa?”

Hangatnya persaudaraan

Putri sulungku Amma (7y) dan adiknya Ofi (3,8y) adalah dua anugerah yang tak ternilai bagiku. Jarak kelahiran keduanya yang tak terlalu dekat dan juga tak terlalu jauh tampaknya membuat keduanya bisa saling menerima dan menyayangi sebagaimana mestinya.

Meski terkadang berebut mainan, dan saling pamer mencari perhatian ummi abinya. Keduanya dengan cepat kembali berbaikan dan saling memeluk. Adalah hal menyebalkan ketika aku masih asyik menasehatinya (dengan sedikit mengomel tentu) agar tidak bertengkar melulu, mereka berdua sudah kembali cekikikan dan menyia-nyiakan tenagaku untuk mengomel.

Lepas dari "hobby" mereka membuat kepalaku sedikit nyut-nyutan keduanya sungguh-sungguh bidadari manis berhati emas.

    
Ofi mah tetep sok manis ^_^

Tag : ,

Ketika anak yang menjadi korban

Anak perempuan itu mengenakan baju tidur. Rambut sebahunya tampak belum tersisir rapi. Kemungkinan besar dia bahkan belum mandi. Tangan kecilnya menarik baju seorang wanita pekerja loundry "tante.....mana bapakku?" tanyanya polos.

Wanita pekerja loundry tersebut, terang saja terkaget-kaget. "Bapakmu siapa dik?." Ia bertanya sambil melirik ke kanan dan kiri. Tak ada siapa-siapa sejauh matanya memandang. Setelah wawancara singkat yang seringnya dijawab dengan anggukan atau gelengan dari sang anak yang mengaku bernama Aulia itu, akhirnya wanita pekerja loundry itu memutuskan menelpon kami.

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -