Search This Blog

Powered by Blogger.

Archive for 2019

Anak Kecanduan Game, Ibu Rela Suapi di Warnet

Tak bisa dipungkiri kehadiran buah hati dalam setiap keluarga adalah anugerah yang sekaligus juga merupakan ujian. Terlebih dengan segala kemajuan teknologi hari ini yang ibarat pisau bermata dua.
Salah satunya adalah menjamurnya game online. Banyak anak yang akhirnya menjadi pecandu game, hingga berakibat buruk bagi dirinya sendiri. Tentu saja dalam kondisi ini, peran orangtua sangatlah vital.
Adalah Carlito Garcia, anak berusia 13 tahun yang kecanduan main game online. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di warnet dan terpaku menatap layar. Bocah ini bahkan dikeluarkan dari sekolah akibat terlalu sering membolos, dan justru menghabiskan waktunya di warnet.
Hari itu, sudah 2 hari Carlito tak pulang ke rumahnya. Sang ibu, Lilybeth Marvel, merasa khawatir dengan kondisi sang anak dan akhirnya mengunjungi putranya tersebut.
Di salah satu kafe internet di wilayah Nueva Ecija, di Filipina, beredar sebuah video singkat, yang merekam kedatangan Lilybeth ke warnet. Ia membawakan sepiring makanan dan mulai memaksa sang anak untuk membuka mulutnya, dengan telaten ibu ini menyuapi putranya. Adapun Carlito sendiri, tetap tidak bergerak dari tempatnya dan bahkan sedikitpun tak melepaskan pandangannya dari layar komputer.
Lilybeth juga memberi putranya vitamin, karena khawatir akan kondisi kesehatannya. Video ini sukses memancing beragam reaksi netizen. Ada yang merasa tersentuh karena kasih sayang Lilybeth, tapi tak sedikit yang menghujat dan mengatakan bahwa ibu ini terlalu memanjakan putranya, dan hal itu akan berakibat semakin buruk.
Mendapati hal itu Lilybeth mengungkapkan alasannya datang ke warnet membawakan sang putra sarapan dari rumah. Ia sebenarnya sudah kehabisan cara menghentikan kecanduan game putranya. Ia berharap dengan pendekatan kasih sayang, putranya bisa berubah.
"Saya sudah mencoba melarangnya untuk bermain game online, tapi itu tidak berhasil. Jadi saya menggunakan pendekatan yang lain, saya mencoba untuk menyadarkannya bahwa apapun yang terjadi dalam hidupnya, saya tetap ibunya yang mencintainya dan merawatnya," tutur Lilybeth.

'Mencegah lebih baik dari pada mengobati' hal ini sejatinya juga berlaku pada kasus serupa ini. Berilah anak-anak kita akses teknologi dengan pengawasan dan pengarahan yang tepat. Karena segala sesuatu yang dilakukan dengan berlebihan niscaya akan menjadi hal negatif yang merusak diri sendiri bahkan lingkungan sekitar.
Semoga kita menjadi orangtua yang lebih bijak dalam pengawasan pendidikan anak-anak kitadi usia belianya.
---
Sumber Referensi:
Detik.com
Tag : ,

Pria Putus Asa Minta Sang Ibu Mengakhiri Hidupnya. Jawaban Sang Ibu mengubah Segalanya

Setiap manusia pasti pernah mengalami titik terendah dalam hidupnya, dan tak jarang keputusasaan menghampiri. Sebagian orang berpikir, mengakhiri hidup adalah cara termudah keluar dari kemelut masalah.
Begitulah yang pernah dialami oleh Peter Coghlan. Di usia 21 tahun ia dikeluarkan dari angkatan Darat karena diagnosa kanker paru-paru. Setelah menjalani serangkaian pengobatan ia berhasil mengalahkan kankernya dan memulai karir baru sebagai tukang batu di Australia.
11 tahun menjadi tukang batu, di usianya yang ke-34, Peter mengalami kecelakaan kerja. Ia terjatuh dan kepalanya terbentur lempengan beton hingga mengalami cedera batang otak.
Kali ini ia didiagnosa Locked-in Syndrome. Peter lumpuh total hanya bisa menggerakkan matanya sebagai isyarat.
Pada titik terendahnya di rumah sakit, Peter sampai pada kesimpulan bahwa dia telah menjadi manusia lumpuh selama sisa hidupnya. Ia hanya bisa mengedipkan mata pada huruf-huruf alphabet untuk berkomunikasi kepada ibunya.
Dalam keputusasaannya, ia berkata melalui huruf-huruf alphabet, "Ibu aku ingin mati. Tolong bunuh aku."
Sang ibu menghela nafas, menyembunyikan kesedihannya dan dengan tegar berkata, 'Bertahanlah dan berusahalah sekuatmu. Jika kamu masih ingin mati dalam waktu tiga bulan maka aku akan membantumu entah bagaimana caranya."
Perkataan sang ibu, dengan ajaib membakar semangat Peter. Selama 6 bulan ia membangun kekuatannya kembali sedikit demi sedikit. Menggerakan jari, tangan, lengan, dan kakinya. Hingga setelah enam bulan yang melelahkan ia berhasil menendang bantal dari tempat tidurnya.
Berlahan, Peter belajar berjalan kembali. Ia kini penuh tekad untuk kembali pulih. Dan perjuangannya membuahkan hasil, ia berhasil sehat kembali dan kini menjadi penjaga bagi orang cacat.
80% dari korban sindrom terkunci bertahan dengan kondisinya, mereka tetap dalam kondisi vegetatif yang persisten. Pulihnya kondisi Peter memberi harapan pada medis untuk kepulihan pasien-pasien serupa lainnya.
Peter kemudian menulis sebuah buku "In The Blink Of An Eye: Reborn." Ia membagikan pengalamannya dan berharap bisa menyemangati orang-orang yang putus asa dalam kondisi yang pernah dialaminya dulu.
Masa-masa tersulit yang bisa dilalui akan menjadi pelajaran berharga dan mengantarkan kita pada 'kesuksesan' yang besar.
Jika Peter sudah membuktikannya, maka tentu hal serupa juga bisa dilakukan oleh orang-orang lainnya. Kita hanya perlu menguatkan tekad dan mengalahkan ketakutan terbesar yang seringnya datang dari diri sendiri.
-----
Sungguh, tidaklah Allah membebani hamba, kecuali dengan suatu beban yang mampu ditanggungnya. Saat ujian dan cobaan mendatangimu, ingatlah janji Allah bahwa setiap kesulitan pasti diiringi kemudahan.
Berimanlah atas setiap taqdir baik buruk, dan jalanilah kehidupan ini dengan satu-satunya tujuan kita diciptakan ke dunia, 'Beribadah hanya kepada-Nya'.
Bersyukurlah di saat lapang, bersabarlah di saat sulit. Niscaya semua kondisi yang menimpa seorang mukmin akan menjadi kebaikan yang berpulang bagi diri kita sendiri.

Tanpa Harta, Tapi Ingin Menyamai Pahala Orang Kaya Yang Dermawan? Bisa, Lakukan Saja Ini!


Hasil gambar untuk harta

Bagi orang beriman harta adalah tunggangan yang sangat bermanfaat untuk meraih pundi-pundi pahala. Memperbanyak sedekah, menyantuni orang miskin, menafkahi janda dan anak yatim, waqaf, membangun masjid, haji, umroh, dan hal-hal semisal adalah amalan-amalan shalih berpahala besar yang kesemuanya membutuhkan harta.
Hal ini tentu membuat sebagian kita merasa harus gigit jari karena tak bisa meraih pahala yang dijanjikan tersebut, lantaran tak memiliki wasilah harta.
Ustadz Musyaffa Ad Darini MA dalam salah satu tausiyahnya menjelaskan sebuah hadist yang niscaya akan menjadi jalan keluar bagi kita yang tak memiliki harta namun ingin menyamai pahala para orang kaya yang dermawan tersebut.

Dari Abu Kabsyah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

إِنَّمَـا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ : عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَعِلْمًـا فَهُوَ يَـتَّـقِيْ فِيْهِ رَبَّـهُ وَيَصِلُ فِيْهِ رَحِـمَهُ وَيَعْلَمُ لِلهِ فِيْـهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْـمَنَازِلِ.وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًـا وَلَـمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِـّـيَّـةِ يَقُوْلُ : لَوْ أَنَّ لِـيْ مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ ، فَهُوَ بِنِـيَّـتِـهِ فَأَجْرُهُـمَـا سَوَاءٌ , وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَلَـمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًـا فَهُوَ يَـخْبِطُ فِـي مَالِـهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيْهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِـيْـهِ رَحِـمَهُ وَلَا يَعْلَمُ للهِ فِـيْـهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْـمَنَازِلِ , وَعَبْدٍ لَـمْ يَرْزُقْـهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًـا فَهُوَ يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِـيْ مَالًا لَعَمِلْتُ فِيْـهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُـمَـا سَوَاءٌ
“Sesungguhnya dunia hanyalah diberikan untuk empat orang: 
(pertama) hamba yang Allâh berikan ilmu dan harta, kemudian dia bertakwa kepada Allâh dalam hartanya, dengannya ia menyambung silaturahmi, dan ia menyadari bahwa dalam harta itu ada hak Allâh. Inilah kedudukan paling baik (di sisi Allâh). 
(kedua) hamba yang Allâh berikan ilmu namun tidak diberikan harta, dengan niatnya yang jujur ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan Si Fulan.’ Maka dengan niatnya itu, pahala keduanya sama. 
(ketiga) hamba yang Allâh berikan harta namun tidak diberikan ilmu, lalu ia menggunakan hartanya sewenang-wenang tanpa ilmu, tidak bertakwa kepada Allâh dalam hartanya, tidak menyambung silaturahmi dan tidak mengetahui bahwa dalam harta itu ada hak Allâh. Ini adalah kedudukan paling jelek (di sisi Allâh). 
Dan (keempat) hamba yang tidak Allâh berikan harta tidak juga ilmu, ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan Si Fulan.’ Maka dengan niatnya itu, keduanya mendapatkan dosa yang sama.” 
[Shahih: HR. Ahmad (IV/230-231), at-Tirmidzi (no. 2325), Ibnu Mâjah (no. 4228), al-Baihaqi (IV/)]
Hasil gambar untuk dunia ini untuk empat orang

Al Ustadz kemudian menjelaskan 3 pelajaran berharga dari hadist tersebut, khususnya dari tipe orang kedua, yang padanya Allah hanya berikan ilmu namun tidak diberikan harta. Yang kemudian ia berkata ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan Si Fulan,’ dengan niat yang tulus.
  1. 1. Jangan terkecoh dengan harta. Dan jangan bersedih karena kurang harta. karena sebenarnya tanpa harta pun Anda juga bisa mendapatkan pahala seperti pahalanya orang kaya yang menginfakkan hartanya di jalan Allah. Inilah bukti Maha Pemurah-nya Allah kepada para hamba-Nya.
  2. 2. Tidak perlu iri dengan orang kaya, karena belum tentu kita akan kuat menghadapi fitnah harta, bila ia benar-benar ada di tangan kita. Di sisi lain, tanpa harta pun kita bisa mengimbangi pahala orang kaya itu dari hartanya, bahkan dengan niat ini, Allah memberikan Anda pahala dengan lebih mudah dan tanpa resiko.
  3. 3. Niat adalah sumber pahala yang sangat agung, mudah, dan tanpa modal untuk mendapatkannya. Sudah seharusnya kita benar-benar memperhatikannya, sayangnya, kebanyakan orang malah melalaikannya.
Masyaa Allah, sungguh sahabat, kesempatan untuk beramal sholih terbuka lebar di hadapan kita tanpa perlu menunggu menjadi kaya. Semoga Allah memberi taufiqNya dalam menata hati dan niat kita.
***
Dari tausiyah Al Ustadz Musyaffa Ad Darini MA

Demi Rp300.000, Ayah ini Suruh Anaknya Bersih-bersih Selama 2 Minggu. Netizen Takjub!

Setiap orangtua tentu memiliki cara berbeda dalam pola pengasuhan dan pendidikan putra-putrinya. Dipungkiri atau tidak pola pengasuhan ini sedikit banyak akan berimbas pada kepribadian dan karakter sang anak hingga ia tumbuh dewasa.
Tentu saja, bermanja dan ingin dimanja adalah karakter khas anak-anak. Namun, tak sedikit orangtua yang akhirnya salah kaprah, memanjakan anak hingga kebablasan. Apapun permintaan sang anak selalu dituruti, terlebih jika orangtua memang tergolongan mampu hingga bisa leluasa memenuhi permintaan tersebut.
Berikut ini sebuah kisah yang cukup viral, semoga bisa menjadi salah satu referensi bagi setiap orangtua dalam pengasuhan buah hatinya.

Referensi pihak ketiga
Dari akun Twitter @chellendah diunggah sebuah video yang akhirnya menjadi viral. Dalam video tersebut terlihat seorang bocah lelaki dengan cekatan membersihkan ruangan karyawan. Ia sama sekali tak sungkan menyapu, mengepel, hingga membuang sampah padahal ia mengenakan pakaian dari salah satu brand ternama.
Ya, ini bukan kisah bocah miskin yang terpaksa bekerja keras memenuhi kebutuhan hidupnya, namun ini adalah kisah seorang anak bos yang rela membersihkan ruangan karyawan ayahnya.
Apa pasal?

Referensi pihak ketiga
Rupanya anak ini menginginkan uang senilai Rp300.000 untuk membeli membership game online yang memungkinkannya bermain gratis selama 1 tahun. Meski untuk ukuran ayahnya uang senilai Rp300.000 bukanlah uang yang besar, namun sang ayah memintanya bekerja terlebih dahulu selama 2 minggu sebelum memenuhi keinginan sang anak.
Ayah ini adalah Taufiq Tyo Ramadhantyo, Vice President PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia. Sebagai sosok orangtua, Taufiq ingin anaknya tumbuh mandiri dengan menghargai perjuangan dan kerja keras.
Hal serupa ternyata telah diterapkan Taufiq sedari dini. Ia ingin anak-anaknya bertumbuh dengan mengenal arti tanggung jawab. Menjadi sosok pekerja keras, yang tak mudah menyerah.
Tentu saja, hal ini membuka mata banyak orangtua lainnya.Terlebih cukup banyak kasus, di masa tua para pemilik perusahaan besar justru bingung dengan masalah regenerasi kepemimpinan karena anak-anaknya justru tak bisa diandalkan lantaran terbiasa tumbuh dalam kemewahan dan kemanjaan tanpa mengenal arti kerja keras dan tanggung jawab.
Jangan takut meminta anak-anak anda bekerja keras. Percayalah, kerja keras yang kita tanamkan hari ini justru akan melatih mental dan cara berpikir anak hingga bisa menghargai hasil kerja kerasnya sendiri juga orang lainnya.
---
Sumber Referensi:
Akun Twitter @chellendah
Akun FB: Taufiq Tyo Ramadhantyo




Ketika Masalah Tak Kunjung Usai, Bunuh Diri Jadi Solusi. Yakin?

Entah kenapa, rasa-rasanya belakangan makin sering membaca atau mendengar berita kasus bunuh diri di Indonesia. Ironisnya kasus bunuh diri ini disebut-sebut WHO sebagai fenomena global. Dalam salah satu penelitian yang dipublish dalam laman resminya, WHO menyatakan bahwa 79% kasus bunuh diri terjadi di negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah.
Bahkan, jika dipersempit luang lingkupnya, bisa dikatakan bahwa bunuh diri merupakan penyebab kematian nomor dua di dunia pada kematian usia 15-29 tahun. yup, bunuh diri menjadi 'trend' tersendiri di kalangan remaja dan dewasa muda yang sayangnya kini mewabah pula di Indonesia.


Sebagai seorang muslimah, yang mengetahui bahwa mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam, fenomena ini tentu memberikan kesimpulan tersendiri di benak saya. Bunuh diri adalah buah minimnya ilmu agama dan rendahnya keimanan.
Tak ada hidup yang bebas ujian dan cobaan. pahit manis kehidupan bisa dipastikan akan silih berganti mendatangi setiap manusia hingga akhir hidupnya. Seorang muslim yang benar keimanannya tentu telah mengetahui bahwa setiap manusia telah dipersenjatai dengan dua hal yang akan mengatasi setiap situasi, sabar dan syukur.
Bersyukur ketika lapang, bersabar ketika sempit. Dua hal yang ringan di lisan namun sungguh berat diaplikasikan jika tidak disertai keimanan. Tak heran, bunuh diri, menjadi solusi praktis ketika terjebak dalam problematika besar.

Padahal kematian bukanlah akhir kehidupan, namun justru merupakan awal perjalanan panjang yang jauh lebih sulit. lebih menakutkan, dan tak lagi memiliki jalan keluar ataupun tempat meminta pertolongan.
Ustadz DR.Syafiq bin Riza Basalamah dalam salah satu tausiyahnya mengatakan bahwa kematian adalah pintu menuju perjalanan panjang yang tak lagi menyisakan kesempatan untuk berubah lebih baik. Karena begitu kematian menjemput, maka kitab catatanmu pun tertutup. Bersiaplah menghadapi pengadilan besar dengan Hakim yang tak akan menyisakan satu pun perbuatan meski seberat dzarrah.
Engkau akan dimintai pertanggungjawaban atas tubuhmu, umurmu, hartamu, ilmumu. Engkau akan mendapatkan siksaan yang jauh lebih pedih dari siksaan yang ada di dunia. Dan khusus untuk bunuh dirimu yang kau tidak punya hak melakukannya, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا
"Siapa yang bunuh diri dengan terjun dari atas bukit maka ia berada di neraka jahanam dalam keadaan terjun padanya kekal selamanya. 
Siapa yang bunuh diri dengan menenggak racun dan mati dalam keadaan racunnya ada ditangannya, maka ia akan menenggaknya di neraka jahanam selama-lamanya.
Siapa yang bunuh diri dengan besi, lalu besinya tersebut ada ditangannya maka ia akan menusuk-nusuk perutnya dengan besi di neraka jahanam selamanya. "
[al-Bukhâri no. 5333]

Tak ada masalah yang cukup besar saat kita kembali kepada Allah yang Maha Besar. Jangan lemah dan kalah pada masalah yang datang, sungguh Allah tak akan menzhalimi hambaNya. Tidaklah Dia akan memberi beban kecuali kita pasti sanggup menahannya.

Jadi saat masalah apapun datang, katakan ALLAHU AKBAR, sungguh Dia lebih besar dari segalanya!

___________________________________

Kesabaran 40 Tahun Menikahi Wanita Yang Tak Dicintai, Ternyata Berbuah Manis Tak Terduga

Jangankan 40 tahun, sehari saja menghadapi pasangan yang membuat kesal tentu tak jarang membuat kita meradang. Tapi tidak demikian dengan pria ini. Ia bertahan dengan hal-hal yang tak disukainya dan menemukan buah manis yang tak pernah diduga sebelumnya.
Dikisahkan oleh Doktor Muhammad Bin Luthfi Ash-Shabbagh, seorang Syaikh mengisahkan rahasia hidupnya.
"Aku telah menjalani kehidupan bersama istriku selama 40 tahun, dan aku tidak pernah melihat satu pun hari yang menyenangkan. Sesungguhnya sejak pertama kali aku masuk menemuinya, aku telah menyadari bahwa sama sekali tidak cocok untukku. Hanya saja ia adalah putri pamanku, dan akupun yakin bahwa tidak akan ada orang yang dapat menerimanya. Lalu aku berusaha dan memohon balasan kebaikan dari Allah."
----
Ketika menemukan hal-hal yang tak menyenangkan, mengganggu, dan tidak sesuai dengan keinginan hati, maka doa apakah yang kita panjatkan?
Sebagian kita mungkin memilih meminta agar kesusahan tersebut diangkat, dan dihilangkan. Namun, Syaikh yang mulia ini, memilih bersabar atas ketidaknyamanan hubungan pernikahannya. Dan beliau memohon kebaikan dari Allah tersebab kesabarannya tersebut.
Lantas apa yang beliau dapatkan setelah 40 tahun bersabar dengan sikap istri yang tak pernah menyenangkan itu?
Subhanallah, Allah subhanu wa ta'ala berkenan memberinya anak-anak yang penuh bakti lagi shalih. Ketidaksukaannya pada sang istri membuatnya menyibukkan diri dengan ilmu. Ia berhasil menulis kitab-kitab yang diharapkannya menjadi ilmu bermanfaat yang tergolong sebagai shadaqoh jariyah. Hubungannya yang buruk dengan istri juga memberinya banyak waktu untuk membina hubungan sosial yang produktif dengan orang banyak.
"Kalau saja aku menikah dengan wanita yang lain, mungkin hal-hal itu semua sama sekali tidak dapat aku wujudkan” tutur sang Syaikh.

Referensi pihak ketiga
Sahabat, jika kita menemui hal-hal yang tidak selaras dengan keinginan kita, jangan buru-buru menghujat keadilan Allah, cobalah menjalani ketetapan tersebut dengan sabar dan syukur seraya mengharap balasan kebaikan dari Allah. Sesungguhnya keadilan Allah adalah hal yang kadangkala tidak terjangkau dalam ilmu kita yang terbatas. Bisa jadi kita membenci sesuatu sementara ia baik bagi kita, sebaliknya kita bisa saja menyukai sesuatu yang ternyata tidak baik untuk kita.
Bersabarlah menghadapi segala ketetapan baik dan buruk, niscaya kebaikan yang akan kembali kepada kita.
Insyaallah.


Referensi pihak ketiga
Sumber Referensi :
Muslimah.or.id/9927-kisah-seputar-kesetiaan-dan-kesabaran.html

Memilih Bertahan Dalam Pernikahan Setelah 'Kejutan' Malam Pertama, Akhirnya

Meski terdengar asing, masih banyak orang-orang yang menikah di jalan dakwah. Menikah semata dengan niat lillah bahkan tanpa mengenal atau bertemu sama sekali dengan calon pasangan. Tentu saja Nazhor (melihat calon pasangan) adalah salah satu bagian dari proses ta'aruf pasangan yang akan menikah, namun ternyata ada orang-orang yang menskip bagian ini, merasa cukup dengan mengetahui keindahan akhlak dan sepak terjang sang calon pasangan untuk agama Allah.
Inilah salah satu kisahnya.

Referensi pihak ketiga
Pemuda ini tampan, dan termasuk golongan berada, sebut saja Ahmad. Ia baru saja melangsungkan sebuah pernikahan indah dan kini tengah berdebar saat akan menjumpai istrinya untuk pertama kali, di kamar pengantin mereka.
Dengan suara bergetar, Ahmad menguluk salam di depan pintu kamar. Sebuah suara merdu dan halus menjawab, mengembarakan imaji sang mempelai pria. Melangkahlah Ahmad dan menyibak tirai kelambu.
Dalam seketika ia mematung untuk kemudian terlonjak mundur. Wanita yang dinikahinya memang belum pernah ditemuinya, tapi yang di hadapannya sungguh menggetarkan jiwa, membuat ciut semangat. Wanita itu bertubuh gemuk dan berkulit gelap, wajahnya pun jauh dari kata cantik.
Ahmad kehilangan kata-kata, hingga sang istri berdehem, dan mengeluarkan sebuah bungkusan. Menyodorkannya pada Ahmad dan berkata, "ini harta dan kekayaanku, gunakanlah untuk kepentingan dakwah. Aku hanya membutuhkan status pernah menikah. Saat ini pun engkau kubebaskan untuk pergi dan menikahi wanita lain."
Kalimat yang tak pernah Ahmad duga itu sanggup mengembalikan akal sehat dan keimanan di hati Ahmad. Duduklah ia disamping wanita halalnya, digenggamnya tangan wanita yang dipastikannya dipenuhi rasa malu dan rendah diri itu "Sejak mengucapkan ijab kabul yang mengharukan tadi, aku sudah memutuskan untuk mencintaimu setulus hati karena Allah."
Maka, begitulah rumah tangga mereka terus berlanjut dan dianugerahkan samara. Satu persatu buah hati dilahirkan dan menjadi penyemarak dalam rumah cinta tersebut.
Tentu saja pilihan sang pemuda untuk terus mencintai istrinya seringkali menjadi sebab keheranan orang banyak. Pada beberapa kesempatan sang pemuda bersedia menjelaskan “Setelah malam itu, dia melakukan kerja-kerja cinta melebihi apa yang kuharapkan. Pesona akhlaknya, kebaikan budinya, jauh melebihi urusan fisik dan lainnya" tutur Ahmad memuji sang istri.

Pernikahan dengan niat karena Allah, maka niscaya akan dijaga-Nya, dianugerahkan cinta dan kasih sayang yang mengalahkan kepuasan mata dalam memandang keindahan duniawi.
Demikianlah seharusnya komitmen cinta dalam sebuah pernikahan. Meski memiliki pilihan mundur, seseorang yang memutuskan bertahan dan maju akan menemukan cinta yang indah melewati segala ekspektasi keindahan lekuk tubuh dan rupa.
Bagaimana dengan sahabat?

Hindari Puasa Ramadhan Dengan Melancong ke Luar Negeri. Lelaki Kaya Ini Alami Hal Tak Terduga

Setiap sakit dan musibah yang menimpa diri kita niscaya disebabkan oleh diri kita sendiri, namun sering kali kita tak menyadarinya.
Dari salah satu kajian Ustadz Khalid Basalamah, beliau membawakan kisah yang semoga menjadi ibroh bagi setiap kita yang mengaku beriman.

Referensi pihak ketiga
Tersebutlah seorang lelaki kaya asal Timur Tengah. Kekayaan telah membuatnya lalai dalam memenuhi kewajiban agamanya. Setiap tahun ia akan membawa serta seluruh keluarganya untuk berlibur ke Eropa. Dan ia dengan sengaja memilih bulan Ramadhan sebagai bulan liburan bagi keluarganya. Pergi jelang Ramdhan dan kembali setelah Idul Fitri.
Bukan tanpa sebab, ia sengaja bersikap demikian untuk menggugurkan kewajiban berpuasa. Ia berdalih mengambil keringanan untuk tidak berpuasa karena ia dalam keadaan safar (bepergian).
Begitulah dari tahun ke tahun. Ia meninggalkan puasa Ramadhan tanpa sedikitpun rasa berdosa. Ia mengira telah memilih kemudahan yang ditawarkan syariat. Sampai kemudian ia menderita sakit perut yang sukar didefinisikan.
Sakitnya tak tertahan, namun semua dokter ahli di dalam dan luar negeri yang didatanginya sama sekali tak bisa menjelaskan secara kongkrit apa penyakitnya tersebut. Obat demi obat yang dikonsumsinya sama sekali tak memiliki efek apapun juga.
Lelaki kaya ini akhirnya sampai pada salah seorang dokter ahli di Jerman. Dokter ini membaca riwayat sakitnya juga semua obat yang telah dikonsumsinya. Saat mengetahui pasiennya ini seorang muslim, tanpa terduga sang dokter justru menyarankan sebuah hal yang sama sekali tak terpikirkan. Ia berkata, "cobalah anda berpuasa. Mulailah besok hari. Kebetulan hari Kamis. Bukankah di agama anda ada puasa sunnah Senin Kamis?"
Lelaki kaya ini seketika merasa tertampar. Ia otomatis teringat Ramadhan demi Ramadhan yang telah disia-siakannya. Sepulangnya dari tempat sang dokter lelaki kaya ini bertaubat atas dosa-dosanya dan berniat berpuasa keesokan harinya, puasa sunnah Kamis.
Dan, begitulah sakit perut lelaki kaya itu dengan izin Allah lenyap begitu saja. Saat ia kembali menemui sang dokter Jerman untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, ia menceritakan hasil terapi puasanya. Sang dokter diam sejenak dan kemudian mengeluarkan sebuah Al-Qur'an dari laci mejanya.
Sang dokter berkata, "Sudah lama aku tertarik pada Islam, namun aku menunggu untuk melihat sebuah keajaiban dengan mata kepalaku sendiri, dan kini aku telah melihatnya."
Masyaa Allah...
Lelaki kaya itu menempuh jalan taubat dan seorang dokter Jerman mendapatkan hidayah Islam. Sungguh cara Allah selalu indah, bagi orang-orang yang dikehendakiNya pada kebaikan.
Setiap sakit, penderitaan, musibah yang menimpa kita, maka sudah selayaknya membuat kita merenungi dosa-dosa dan bersegera pada ampunan Allah Ta'ala
---
Sumber Referensi:
Kajian Ustad Khalid Basalamah pada youtube.com/watch?v=dIEYC-RfYNQ

Suami Kehilangan Pekerjaan, Wanita Ini Dilema Dengan Tawaran 30 Juta

Ujian berumah tangga tak pernah ada habisnya, maka tak heran jika pernikahan disebut sebagai ibdah terlama. Dan tentu saja selalu ada jalan keluar di sana, bagi kita yang mau meniti jalanNya.

Referensi pihak ketiga
Sebut saja Imron, hari itu dengan terbata ia menelepon istrinya, Dina, dari kantornya, "Sayang, hari ini adalah hari terakhir aku menerima gaji."
Dina, tentu saja merasa syok, terlebih mengingat segala macamkebutuhan anak mereka yang baru berusia 1 tahun, namun ia tahu tak boleh menunjukkan kekhawatirannya di depan suaminya yang sudah tak kalah kalutnya karena di PHK. Maka, Dina pun menjawab lembut, "Tenang sayang,kita selalu punya Allah yang Maha Kaya lagi Maha Pemberi Rezeki."
Setelah sambungan telepon ditutup, Dina seketika sibuk menghubungi berbagai nomor kontak teman-temannya menanyakan jika saja ada lowongan kerja untuk suaminya. Salah satu temannya segera menelepon, tapi itu bukan tawaran pekerjaan untuk suaminya, melainkan untuk dirinya sendiri.
"Aku tahunya kemampuan kamu, bukan suami kamu. Gaji bersih yang kamu terima 30 juta, tambah tunjangan mobil, dan fasilitas kesehatan terbaik." tawar sang kawan.
Batin Dina berkecamuk, tawaran ini begitu menggiurkan di tengah-tengah kondisi finansial keluarganya yang tengah terpuruk. Namun, Dina meminta waktu untuk berunding dengan sang suami terlebih dahulu.
Saat Imron mendengarnya, ia terdiam. Namun, berkata "Aku percaya pada apapun pilihanmu. Istikharahlah dulu."

Referensi pihak ketiga
Imron sadar betul, siapa wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Dina terbiasa hidup mewah dan diberi segala macam fasilitas terbaik sedari kecil. Dina pun memiliki gelar MBA dari Australia, dan dia mampu untuk menjadi seorang CEO. Namun, taqdirlah yang mengantarkan Dina menjadi istrinya, dan melupakan impiannya sebagai wanita karir. Kini kesempatan itu, terbuka lebar di depannya.
Dina memilih bermunajat bersama Allah di sepertiga malam, meminta pilihan terbaik. Saat itu tangisan bayinya memecah kesunyian. Dina pun meraih dan menyusuinya penuh cinta. Seketika ia tahu pilihannya. Siapa saja bisa menjadi CEO di luar sana, tapi tak pernah ada yang bisa menggantikan posisinya sebagai ibu bagi bayinya.
Ia tahu banyak cara dan alasan hingga ia bisa meninggalkan bayinya tanpa kekurangan, namun ia tak akan pernah bisa membeli kembali waktu bersama sang anak. Dina memutuskan memenuhi kodratnya sebagai istri dan ibu, yang tak meninggalkan singgasananya di rumah.

Referensi pihak ketiga
Imron mendukung penuh keputusan istrinya, sembari Imron mencari pekerjaan baru, Dina membuka beragam usaha di rumah. Bermodal seluruh sisa tabungan di rekening ia membuka catering dan menjual berbagai macam rupa barang-barang
Suatu hari, Dina mengerjakan pesanan seratus porsi makanan sendirian, dan Imron bertugas mengantarkannya. Saat itu Dina berpesan, "Yang, kalau sudah dibayar dan pulang nanti, beliin mie ayam ya!" Imron pun mengiyakan dengan penuh suka cita.
Dina menunggu di rumah dengan sisa kelelahannya, sambil membayangkan lezatnya menyantap mie ayam yang ia pesan. Tapi, betapa kecewanya ia saat mendapati sang suami pulang dengan tangan kosong. Rupanya sang pelanggan meminta tempo pembayaran hingga tiga hari ke depan.
Dina yang kelelahan dan telah membayangkan semangkuk mie ayam, merasa begitu kecewa. Ia beranjak ke kamar dan mengumpulkan receh demi receh, di kolong tempat tidur, di dompet, di laci meja.
Ia keluar dengan sedih, hingga Imron kebingungan. Dina menunjukkan recehan di tangannya dan terbata menahan tangis, "Cuman dapat tiga ribu, kurang dua ribu lagi untuk dapat semangkuk mie ayam...".
Seketika hati Imron terasa hancur, ia bahkan tak bisa membelikan makanan seharga lima ribu rupiah (harga mie ayam saat itu) untuk istrinya yang sedari kecil bergelimang harta. Imron seketika memeluk istrinya dan menangis meminta maaf. Keduanya berpelukan dalam tangisan, "Maaf sayang, mie ayam saja aku tidak mampu belikan..."
Masih berpelukan dengan derai air mata, ponsel Dina berbunyi. Seorang teman menghubungi, "Halo, kamu masih jualan jilbab gak? Aku pesan ya buat ibu-ibu majelis taklim nih. Langsung aku transfer sekarang" ujar kawan yang meneleponnya itu.
Masyaa Allah.
Saat ini Dina dan Imron (bukan nama sebenarnya) telah memiliki kehidupan yang berkecukupan, mereka bahkan kerap berkeliling dunia. Sungguh Allah Maha Benar dengan segala janji-Nya. Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang meninggalkan sesuatu karena-Nya.
Semoga kita mengambil ibroh.
---
Sumber Referensi:
Akun Fb Diena Rifaah

Ayah Ini Menangis Bertanya di Kasir, "Bolehkah Aku Membeli Kuahnya Saja?"

Orangtua yang berperan selayaknya orangtua, maka sungguh pengorbanan mereka adalah suatu hal yang tak mungkin terbalaskan. Mereka rela menderita, menahan malu, bahkan melakukan hal-hal tak terduga demi membahagikan buah hatinya.
Sayangnya, tak semua anak memahami apa yang telah orangtua lakukan demi mereka, dan justru bersikap menyakitkan seolah-olah menjadi anak yang paling menderita.

Referensi pihak ketiga
Sebuah kisah pernah dibagikan melalui akun twitter Nolly Nurlinda. Saat itu ia sedang berada di sebuah mini market di negeri jiran, Malaysia.
Saat sedang mengantre di kasir, seorang ayah dengan putri remajanya sedang menyelesaikan transaksi. Sang ayah dengan malu bertanya berapa harga Oden (makanan khas Jepang yang ditusuk seperti sate dan berkuah, biasanya dijual ala jajanan pinggir jalan) yang dijual di sana.
Sang kasir menyebut harga, dan ayah ini tampak menghitung sisa uang di dompetnya. Dengan lirih ia berusaha menawar, "Bolehkah saya membeli kuahnya saja? " tanyanya kelu.
Sang kasir dengan bingung namun merasa pilu menggeleng lirih, "Maaf, pak. Tidak bisa."
"Itu jajanan favorit putriku, namun uangku tak cukup hari ini." Ujar lelaki itu dengan menahan malu. Sementara putrinya dengan gusar menghentakkan kaki dan berkata ketus, "Hish, Sudah la..." dan bergegas pergi keluar dengan wajah tak sedap di pandang.
Seorang wanita segera maju dan memutus antrean, ia membeli oden dan langsung menyerahkan makanan tersebut kepada lelaki itu, "Ini bang, saya belikan untuk anak abang."
Lelaki itu mengucapkan terima kasih dengan wajah yang menyiratkan beragam emosi, rasa malu, terima kasih, haru, dan entah apa lagi. Ia menunduk menitikkan air mata.
Sebuah pemandangan yang menyentuh semua orang yang menyaksikan peristiwa tersebut. Sungguh. menimbulkan haru di hati orang-orang, semua melihat bagaimana usaha seorang ayah demi membahagiakan putrinya. Dan mereka sekaligus merasa geram dengan sikap putrinya yang demikian.

Begitulah, terkadang seorang anak kurang menghargai kebaikan orangtuanya, dan hanya bisa menuntut untuk memenuhi keinginan mereka.

Referensi pihak ketiga
Sumber Referensi:
Twitter: Nolly Nurlinda

Jujuran Kemahalan, Pria Ini Ungkit Keperawanan Pacar. Perempuan Pasti Nyesal!

Seiring semakin bebasnya pergaulan muda-mudi, maka semakin mudah bagi para wanita untuk melepas kehormatannya jauh sebelum menikah dan belum tentu pula ia akhirnya menikah dengan lelaki tersebut.

Referensi pihak ketiga
Dikisahkan, Galih dan Ratna (bukan nama sebenarnya) sudah berpacaran selama 3 tahun. Dan tahun ini Ratna mendesak Galih untuk segera melamar karena usianya yang sudah semakin mendekati angka tiga puluh.
Galih tidak langsung mengiyakan. Ia memiliki ganjalan di hatinya. 3 tahun berpacaran, hubungan mereka memang sudah melewati batas. Perzinaan adalah hal lumrah yang mereka lakukan atas dasar suka sama suka. Namun, Galih melepas keperjakaannya dengan Ratna, sementara Ratna telah tidak perawan entah oleh siapa.
Jauh di lubuk hati Galih, ia menginginkan seorang wanita perawan untuk menjadi istrinya. Bukan Ratna, meski sudah dizinainya secara gratis selama 3 tahun ini. Namun, atas desakan Ratna, Galih pun datang menemui orangtua Ratna dan membicarakan pernikahan mereka.
Siapa sangka, orangtua Ratna meminta sejumlah uang sebesar Rp 40 juta di luar mahar dan seserahan. Galih seketika menolak, dalam hatinya ia mengingat biaya pernikahan saudarinya yang hanya meminta biaya sebesar Rp 20 juta, padahal Galih yakin sekali bahwa saudarinya itu masih sangat terjaga.
Menimbang hal tersebut, Galih memutuskan hanya akan memberikan uang sebesar Rp 10 juta karena Ratna yang akan dinikahinya sudah tidak gadis lagi. Tentu saja alasan ini tidak disampaikannya kepada orangtua Ratna, namun Ratna memahaminya.
Orangtua Ratna yang tidak tahu menahu sama sekali tak mau menurunkan biaya yang mereka minta. Galih pun dengan rasa tak bersalah mundur teratur dan memilih memutus komunikasi. Yang tertinggal hanyalah Ratna dengan segala penyesalannya.

Kisah serupa dengan beragam kepiluannya mungkin menjamur di luar sana. Kisah ini saya bagikan dengan harapan para wanita mengambil pelajaran. Keperawanan memang bukan jaminan yang menentukan baik buruknya seseorang, terlebih sebagai penentu 'harga' seorang wanita.
Namun ternyata pria 'rusak' sekalipun mendambakan seorang wanita yang belum pernah terjamah oleh pria lainnya. Maka, tentu ini menjadi pelajaran tersendiri bagi setiap wanita yang belum menikah.
Jagalah dirimu!
Jagalah kehormatanmu!
Teruslah berusaha menjadi baik, maka niscaya engkau akan bertemu dengan orang baik pula.

Referensi pihak ketiga

Sumber Referensi:
Kisah nyata yang penulis baca di salah satu forum curhat lelaki

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -