Search This Blog

Powered by Blogger.

Showing posts with label dunia anak. Show all posts

Gadis Kecil Yang 'Menampar' Seorang Ibu di Hari Idul Fitri

Sedari terbit fajar kumandang takbir sudah terdengar berulang-ulang, menandai hari kemenangan, hari yang fitri. Saat hari mulai terang, jalan-jalan pun mulai padat, laki-laki, perempuan, orangtua, anak-anak, semua berbondong-bondong menuju lapangan dimana sholat idul fitri akan dilaksanakan.
Sambil menunggu jamaah lain berdatangan, takbir tak henti-henti dikumandangkan. Di sela-sela itu seorang petugas masjid mengedarkan kotak infaq yang hanya berupa kantong kresek transparan, yang mana dana infaq ini akan digunakan kembali untuk kemaslahatan masyarakat sekitar.
Saat kotak infaq itu tak lagi jauh dari barisan kami, gadis kecil -yang tidak terlihat kecil- yang duduk disampingku tampak sembunyi-sembunyi merogoh tas kecilnya, usianya tak lebih dari 12 tahun. Ia tampak melipat-lipat uang. Ia melakukannya hati-hati seolah-olah begitu takut dan malu jika ada yang memergokinya. Sekali-kali ia melirik ke arahku yang segera berpura-pura tak memperhatikan.
Saat kotak infaq mendekat dengan sigap ia memasukkan lipatan uang yang sedari tadi disiapkannya, uang kertas lima ribu rupiah yang sudah tampak lusuh. Dia tampak lega ketika mengira tak ada yang mengetahui rahasianya, sementara aku diam-diam menghapus titik bening di sudut mata.
Tahukah kalian, itu bukan lembar lima ribu biasa, di dalamnya ada lembar lima puluh ribuan yang entah berapa lembar. Gadis itu menyembunyikan infaq puluhan atau mungkin ratusan ribunya dibalik lembar lima ribu lusuh.
Allahu akbar.
Aku belajar sekaligus merasa tertampar. Begitulah seharusnya kita menyembunyikan amal kebaikan sebagaimana kita menyembunyikan aib keburukan. Gadis kecil ini bahkan sudah memahami konsep itu, sementara berapa banyak orang dewasa yang justru berlomba-lomba membanggakan infaq sedekahnya.

Aku pun seketika teringat hadist nabi tentang orang-orang yang pertama kali diadili, salah satunya adalah seseorang yang dikaruniakan keluasan harta dan beragam kekayaan. Saat dibawa kehadapan Allah ia ditunjukkan semua kenikmatan yang diperolehnya di dunia dan  ia pun mengakui semua nikmat yang telah diterimanya tersebut. Lantas Allah bertanya bagaimana ia menggunakan nikmat itu.
Ia menjawab, ‘Saya senantiasa menggunakannya untuk berinfak karena-Mu’
Namun, Allah Ta'ala berfirman, ‘Kamu bohong. Akan tetapi kamu melakukan hal tersebut agar kamu disebut-sebut sebagai orang yang dermawan. Dan kenyataannya kamu telah disebut-sebut demikian.’ 
Maka orang ini pun diseret pada wajahnya dan dilemparkan ke dalam neraka.
Naudzubillah min dzalik...
Sungguh, kita akan mendapatkan sesuai apa yang kita niatkan. Semoga kita senantiasa meluruskan niat dalam setiap amal kebaikan dan kelak hanya mendapatkan kebaikan pula.
______________________
PS:
Aduhai, jangan tanya siapa gadis kecil itu. Doakan saja ia semakin sholehah dan bisa meneruskan hafalan Qur'annya.
Semoga kita dikaruniai anak-anak sholeh/sholehah yang menjadi penyejuk mata di dunia, dan menjadi pembuka pintu surga kelak di akhirat.
----
Catatan Hati, Tanah Grogot, 1 Syawal 1440 H

Ibu Ini Kaget Bayar Tagihan Rp11 Juta, Ternyata Sang Anak Kecanduan Game Dan Beli Beginian

Bermain game menjadi alternatif saat ini untuk menghabiskan waktu, tidak hanya anak-anak, orang dewasa tak kalah tergila-gilanya jika sudah berhadapan dengan game tertentu.
Bermain game konon memang menstimulus otak, pun demikian menjadi kecanduan tentu suatu hal berbeda. Sebuah kisah nyata berikut semoga menjadi kontrol orangtua untuk membatasi dan mengatur ulang waktu bermain anak-anak.

Referensi pihak ketiga
Ririn Ike Wulandari, seorang ibu yang membagikan kisahnya agar menjadi pelajaran para orangtua lain. Pada awalnya, Ririn begitu tercengang saat mendapati tagihan kartu kredit yang harus dibayarnya mencapai Rp6 juta, sementara ia merasa tak pernah berbelanja sebanyak itu.
Ia pun bergegas memriksa histori pesanan dan menemukan banyak pembelian berupa item game Mobile Legends. Ririn segera menyadari bahwa itu adalah ulah anaknya. Pasalnya, sang anak pernah ketahuan diam-diam membeli item game melalui transaksi di salah satu mini market. Saat itu Ririn sudah menegur anaknya dan memintanya untuk tak menghambur-hamburkan uang dengan membeli item game.
Setelah itu, tampaknya sang anak menemukan bahwa item game bisa diperolehnya dengan mudah melalui Google Play. Ia tak tahu bahwa akun tersebut terhubung ke kartu pascabayar milik sang ayah.
Begitu mengetahui ulah sang anak, Ririn berhasil membatalkan transaksi pembelian sebesar Rp 1 juta dari total Rp 6 juta rupiah tersebut. Ia pun memberi teguran keras pada sang anak dan menjelaskan kesalahan fatal yang telah dilakukannya dengan menyalahgunakan akun Google Play untuk membeli berbagai item game.
Sayangnya, sang anak rupanya sudah kecanduan sehingga mengabaikan teguran ibunya. Saat Ririn menghubungi penyedia kartu kredit untuk melakukan pembayaran, ia kembali dibuat terkejut, pasalnya tagihannya sudah bertambah sebesar Rp4 juta, dan tentu itu adalah ulah sang anak yang telah melakukan transaksi pembelian item game lagi.
Ditambah pajak, total yang harus dibayar Ririn mencapai sekitar Rp11 juta. Tentu bukan nilai yang sedikit dan sangat mubazir jika digunakan hanya untuk item game belaka.

Referensi pihak ketiga
Kisah Ririn menjadi pelajaran bagi semua orangtua untuk mengawasi dengan ketat pemberian smartphone kepada anak-anak kita, termasuk akses bermain game dan segala macam koneksi kartu kredit serta transaksi online.
Pilihkanlah kegiatan dan hiburan yang tepat bagi anak-anak kita. Karena sejatinya anak-anak adalah kertas putih yang menunggu diwarnai oleh kita, orangtuanya. Maka pilihlah warna yang indah yang akan membentuk mereka menjadi sesuatu yang cemerlang dan berharga.
Semoga kita mengambil pelajaran.

Referensi pihak ketiga
Sumber Referensi:
today.line.me

When Your daughter being teens

Seorang kawan menghubungiku,
"Mbak, putriku minta izin pacaran"
Ia mendadak diliputi rasa panik, gelisah, was-was, dan segala macam perasaan tak karuan.
.
Menjadi single parents membuatnya bekerja extra, baik sebagai ibu maupun sebagai ayah. Ia telah melewati kesulitan berkali lipat dibandingkan orang tua yang memiliki patner. Ia bekerja sendiri menghidupi dirinya dan anak-anaknya, hingga ia tak cukup siap dengan segala problematika anak yang beranjak dewasa.
.
Bahkan bagi pasutri harmonis, urusan mendidik anak tetaplah PR besar. Terlebih dengan dunia yang semakin uzur, urusan pendidikan anak menjadi semakin kompleks. Jika dulu kita cukup mewanti-wantinya soal hubungan dengan lawan jenis, saat ini kita wajib pula membekalinya dengan urusan sesama jenis. .
Back to my friends, menurutku ketika seorang anak masih mengkomunikasikan segala sesuatu kepada orangtuanya, itu adalah salah satu parameter keberhasilan pendidikan anak. Usia remaja yang jika merujuk pola pendidikan ali bin abi thalib radiyallahu anhu (14 tahun ke atas) adalah masa dimana kita menjadikan anak-anak selayaknya sahabat. Sehingga ia bisa bebas curhat, dan bertanya segala macam hal kepada orangtuanya, alih-alih curhat g jelas kemana-mana  atau mencari tahu sendiri hal-hal yang tak diketahuinya dengan cara yang keliru.
Termasuk meminta izin untuk pacaran, (hei zaman sekarang, dimana anak-anak mulai durhaka kepada orangtuanya dengan mengatasnamakan HAM, berapa banyak sih anak-anak yang masih melakukannya).
.
Pada kawan tersebut, aku hanya bisa menyarankannya untuk mengajak putrinya berdialog, menimbang baik dan buruk dan memilah-milah hal yang terbaik bagi masa depannya.
.
Aku pribadi memilih pendidikan  dini bagi putra putriku. Mengenalkan mereka pada standar baik buruk dalam timbangan pahala dan dosa, di mana setiap usaha tersebut diiringi dengan segala macam doa, karena sejatinya doa adalah
ikhtiar paripurna.
Hingga kelak jika tiba masanya, aku berharap tak pernah mendengar mereka meminta izin pacaran melainkan izin untuk menggenapkan separuh dien saja 😊
.
.
@30haribercerita
#30haribercerita
#30hbc1802

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -