Jika membaca adalah nutrisi hati,
Maka menulis adalah rekreasi jiwa...

Search This Blog

Powered by Blogger.

Archive for April 2019

Bertemu Pertama Kali Saat Malam Pertama, Wanita Ini Membebaskan Suaminya Untuk Pergi

Menikah di atas jalan dakwah, menjadi pilihan sebagian orang. Tak ada cinta sebelum pernikahan, yang ada hanya pilihan untuk mencintai setelah ijab sah. Seringkali pula mereka belum pernah berjumpa, kecuali sekilas pandang. Meski banyak yang ragu dan apatis, pada sebagian kasus pilihan ini ternyata justru mendatangkan banyak kebaikan dan keberkahan.
Sebagaimana kisah pemuda berikut ini.

Adalah pemuda ini, tampan dan berada. Memasuki kamar pengantin wanitanya dengan debar jantung tak beraturan. Dengan suara bergetar diucapkannya salam. Sebuah suara halus dan merdu menjawabnya sempurna.
Ketika disibaknya tirai kelambu, dalam sepersekian mili detik ia terlonjak mundur. Wanita yang dinikahinya memang belum pernah ditemuinya, tapi yang dihadapannya sungguh menggetarkan jiwanya. Wanita itu bertubuh gemuk dan berkulit gelap, wajahnya pun jauh dari kata cantik.
Sebelum pemuda itu sempat berkata-kata, sang istri berkata "ini harta dan kekayaanku, gunakanlah untuk kepentingan dakwah. Aku hanya membutuhkan status pernah menikah. Saat ini pun engkau kubebaskan untuk pergi dan menikahi wanita lain."
Perkataan yang tak disangka-sangkanya itu memulihkan kesadaran sang pemuda. Duduklah ia disamping wanita halalnya, digenggamnya tangan wanita yang dipastikannya dipenuhi rasa malu dan rendah diri itu "Sejak mengucapkan ijab kabul yang mengharukan tadi, aku sudah memutuskan untuk mencintaimu setulus hati karena Allah." Rupanya detik itu pula, pemuda ini memutuskan mencintai wanita tersebut, istrinya.
Kehidupan pasangan ini di tahun-tahun selanjutnya semakin dipenuhi cinta dengan penyejuk mata yang hadir satu persatu. Tentu saja pilihan sang pemuda untuk terus mencintai istrinya seringkali menjadi sebab keheranan orang banyak.
Pada beberapa kesempatan sang pemuda bersedia menjelaskan “Setelah malam itu, dia melakukan kerja-kerja cinta melebihi apa yang kuharapkan,” ujarnya memuji sang istri. "Pesona akhlaknya, kebaikan budinya, jauh melebihi urusan fisik dan lainnya" lanjutnya lagi.
Demikianlah komitmen cinta dalam bingkai pernikahan. Meski memiliki pilihan mundur, seseorang yag memutuskan bertahan dan maju akan menemukan cinta yang indah melewati segala ekspektasi keindahan lekuk tubuh dan rupa.


Artikel ini terbit pertama kali di UC News dengan judul

Kejadian di Malam Pertama itu Membuat Suaminya Semakin Cinta

Duhai Hati Yang Kecewa Ditinggal Sang Pujaan Hati, Renungilah 4 Nasehat Ini!


Referensi pihak ketiga
Sebagaimana orang-orang memilih untuk menikah dan kemudian mencintai pasangan halalnya, ada pula yang memilih mencintai sebelum pernikahan. Tentu setiap pilihan memiliki resikonya masing-masing.
Salah satu resiko mencintai sebelum waktunya adalah bersiap ketika orang yang kita cintai ternyata tidak ditaqdirkan berjodoh dengan kita. Tentulah perasaan hati akan didominasi rasa sedih, kecewa, bahkan mungkin putus asa. Wajar, selama bukan dukun yang bertindak.
Sebagian mungkin beralasan. cinta datang tanpa diminta, jadi bagaimana mungkin kita siap dengan resiko kehilangan yang tiba-tiba?
Sahabat, ketahuilah manusia memang diciptakan dengan fitrah cinta, ketertarikan, dan kebutuhan terhadap lawan jenis. Namun jika perasaan itu hadir sebelum kita siap berkomitmen di atas janji suci pernikahan maka tugas hati kitalah agar tetap fokus meningkatkan kualitas diri, alih-alih memperturutkan rasa yang kita bahkan tidak siap dengan segala resikonya.
Saat semuanya sudah terlanjur, hati kadung terpikat, namun diri belum siap menghalalkan atau dihalalkan akhirnya yang terjadi kita mungkin menjadi undangan di hari bahagianya. Jangan terpuruk dengan rasa kecewa dan sedih yang berkepanjangan.
Para Ulama menyampaikan mutiara nasehatnya bagi kalian, yang hatinya terlanjur mengecap kecewa saat sang pujaan hati berjodoh dengan orang lain:
  1. Menjauhlah dari kehidupan orang tersebut! Jangan sampai engkau menjadi batu sandungan dalam hubungan rumah tangganya, mengganggu keluarganya, dan menjadi beban pikiran baginya.
  2. Berhentilah memikirkannya! Tak perlu mencari tahu keberadaan dan kondisinya. Jangan engkau siksa dirimu dengan beragam andai-andai yang justru akan menyebabkan kerusakan pada badan dan pikiranmu
  3. Jalanilah hidupmu! Kehilangannya tidak berarti duniamu terhenti. Masa depanmu masih membentang, kau akan menemukan dan bertemu dengan bermacam-macam orang lainnya. Carilah pasangan sholeh/sholehah yang bisa menjaga diri dan agamamu. Jalanilah hidup yang berguna dan bermanfaat. Bentuklah keluargamu sendiri, fokus mendidik anak-anakmu. Sesungguhnya inilah yang lebih berguna untuk dunia akhiratmu, daripada terjerat angan-angan terhadap dia yang telak dimiliki orang lain.
  4. Ketahuilah bahwa surga bukanlah tempat bertemu orang yang sedang dimabuk cinta. JIka engkau tidak berjodoh dengannya di dunia, maka jangan berharap untuk berjodoh dengannya di surga. Sesungguhnya setiap wanita bersuami yang kelak masuk surga akan bersama suami terakhirnya di dunia.

Referensi pihak ketiga
Ingatlah, ketika pujaan hatimu telah menikah, tak perlu menyia-nyiakan waktu untuk menunggunya berpisah dari pasangan halalnya. Karena bisa saja engkau akan menjadi perantara syetan dalam meretakkan rumah tangga mereka. Sungguh inilah perbuatan sia-sia yang membahayakan dunia dan akhiratmu. Fokus saja memperbaiki dirimu, semoga Allah menggantikannya dengan jodoh yang lebih baik bagimu!

Sungguh, kita kerap merasa paling tahu. Memaksakan jodoh dan merasa kehilangan hal terbaik dalam hidup. Sejatinya, Allahlah sebaik-baik pengatur dan Maha Berkehendak.
Tak ada yang buruk dengan apa-apa yang telah menjadi taqdir Allah, tinggal bagaimana dan seberapa besar keimanan dan keyakinan di hatimu.

Referensi pihak ketiga
Artikel ini terbit pertama kali di UC News dengan judul

Duhai Hati Yang Kecewa Ditinggal Menikah Sang Pujaan, Inilah 4 Nasehat Penenang Jiwa!

Ketika Prasangka Buruk Menutupi Hati Nurani, Ingatlah Kunci Bahagia: Jangan Takut Berbagi!

"Males banget liat pengemis apa peminta-minta gitu, banyak tukang tipu. Kadang orang tua gitu emang sengaja dipekerjakan anak-anaknya biar dapat duit banyak..."

Seorang kawan mengomentari ajakan berdonasi yang dishare di salah  satu WAG yang kuikuti. Ajakan donasi itu disertai fhoto seorang kakek tua yang tampak meringkuk di persimpangan jalan dengan sebuah kaleng kecil dihadapannya.


Jangan ditanya, bagaimana akhirnya suasana WAG menjadi panas. Ada yang  menyebutnya tak punya hati dan mungkin ada pula yang diam-diam menyumpahi, aduhai...



Gambar hanya ilustrasi


Banyaknya orang yang menjadikan meminta-minta sebagai mata pencaharian ternyata berimbas besar. Tak jarang prasangka buruk menari-nari mendahului hati nurani. Pun demikian orang-orang 'bodoh' masih banyak. Salah satunya Salsa (bukan nama sebenarnya).

sore itu rumahnya diketuk, seorang wanita muda menggendong balita yang belum genap berumur 2 tahun menunggu di depan pintu. Dengan bingung Salsa menatap mereka, sungguh ia merasa tak kenal ataupun pernah melihat mereka, namun begitu senyumnya terkembang dan bertanya, "Ada apa mba?"

Wanita itu bicara dengan cepat, setengah gugup di awal, "Rumahku di sana mba (sambil menunjuk perumahan tak jauh dari rumah Salsa), aku mau beli susu buat anakku, tapi uangku kurang. Suamiku baru datang lusa. Boleh aku pinjam dulu, Rp50.000 aja mba? Nanti suamiku datang, aku kembalikan."

Salsa tak banyak tanya, tak jua mengamati seksama, ia hanya berkata, "tunggu sebentar!". Dan kembali dengan selembar Rp50.000 di tangan. Menyerahkannya dan dengan cepat berkata, "bawa saja, tidak usah dikembalikan!"



Apakah kalian merasa heran?


Meski seorang ASN, Salsa bukan orang kaya, ia dan suaminya masih mengontrak. Mereka pun memiliki 3 anak usia sekolah dengan kebutuhan tidak sedikit.

Tapi, Salsa memilih berbagi tanpa prasangka. Ia bahkan tak memberinya sebagai utang, karena khawatir wanita itu kesulitan menepati janjinya, dan kelak di akhirat tak bisa masuk surga karena masih tergantung dengan utang-utangnya.



Menjadi penuh prasangka ataupun menjadi 'bodoh' seperti Salsa adalah sebuah pilihan untuk meraih bahagia.

Ya, bahagia!

Terkadang kita tertipu, mengira harta adalah sumber kebahagiaan. Nyatanya berapa banyak orang kaya yang justru terpuruk dan berakhir bunuh diri. Mungkin mereka lupa, bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang bisa kita dapatkan dengan memuaskan 'perut' sendiri, tapi bahagia sejati adalah dengan menerbitkan senyum di wajah orang-orang yang kesusahan lagi membutuhkan.

Jika anda tak mau mengambil resiko dengan berdonasi pada 'pengemis abal-abal', maka banyak sekali pilihan tempat donasi terpercaya lagi amanah. Salah satunya adalah Dompet Dhuafa, sebuah lembaga filantropi yang mengumpulkan Zakat, infaq, sedekah, dan wakaf kaum muslimin untuk kemudian menyalurkannya kepada kaum yang membutuhkan dengan cara membangun.

Dompet Dhuafa bukan sekedar memberi ikan, namun memberi kail. Melalui program pemberdayaan umat, Dompet Dhuafa memiliki cara tersendiri untuk memberantas kemiskinan dan merambah berbagai bidang, di antaranya:

  • Kesehatan
Dompet Dhuafa mendirikan berbagai lembaga kesehatan yang bertujuan untuk melayani seluruh mustahik dengan sistem yang mudah dan terintegrasi dengan sangat baik.
  • Ekonomi
Dompet Dhuafa mengadakan berbagai program pemberdayaan, untuk menciptakan entrepreneur dan lapangan kerja baru.

  • Pengembangan Sosial
Dompet Dhuafa menggandeng para relawan mengunjungi dan membantu para korban daerah tertimpa musibah di berbagai pelosok negeri
  • Pendidikan
Dompet Dhuafa  memberikan program pendidikan dan beasiswa bagi anak-anak Indonesia yang tidak mampu




Jadi, jangan biarkan prasangka membunuh hati nurani kita. Salurkan Infaq, sedekah, dan zakat kita baik secara langsung maupun melalui lembaga terpercaya. Karena berbagi adalah kunci bahagia yang paling sederhana.

Jangan takut berbagi, dan mari berbahagia!
______


“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

Ibu Ini Kaget Bayar Tagihan Rp11 Juta, Ternyata Sang Anak Kecanduan Game Dan Beli Beginian

Bermain game menjadi alternatif saat ini untuk menghabiskan waktu, tidak hanya anak-anak, orang dewasa tak kalah tergila-gilanya jika sudah berhadapan dengan game tertentu.
Bermain game konon memang menstimulus otak, pun demikian menjadi kecanduan tentu suatu hal berbeda. Sebuah kisah nyata berikut semoga menjadi kontrol orangtua untuk membatasi dan mengatur ulang waktu bermain anak-anak.

Referensi pihak ketiga
Ririn Ike Wulandari, seorang ibu yang membagikan kisahnya agar menjadi pelajaran para orangtua lain. Pada awalnya, Ririn begitu tercengang saat mendapati tagihan kartu kredit yang harus dibayarnya mencapai Rp6 juta, sementara ia merasa tak pernah berbelanja sebanyak itu.
Ia pun bergegas memriksa histori pesanan dan menemukan banyak pembelian berupa item game Mobile Legends. Ririn segera menyadari bahwa itu adalah ulah anaknya. Pasalnya, sang anak pernah ketahuan diam-diam membeli item game melalui transaksi di salah satu mini market. Saat itu Ririn sudah menegur anaknya dan memintanya untuk tak menghambur-hamburkan uang dengan membeli item game.
Setelah itu, tampaknya sang anak menemukan bahwa item game bisa diperolehnya dengan mudah melalui Google Play. Ia tak tahu bahwa akun tersebut terhubung ke kartu pascabayar milik sang ayah.
Begitu mengetahui ulah sang anak, Ririn berhasil membatalkan transaksi pembelian sebesar Rp 1 juta dari total Rp 6 juta rupiah tersebut. Ia pun memberi teguran keras pada sang anak dan menjelaskan kesalahan fatal yang telah dilakukannya dengan menyalahgunakan akun Google Play untuk membeli berbagai item game.
Sayangnya, sang anak rupanya sudah kecanduan sehingga mengabaikan teguran ibunya. Saat Ririn menghubungi penyedia kartu kredit untuk melakukan pembayaran, ia kembali dibuat terkejut, pasalnya tagihannya sudah bertambah sebesar Rp4 juta, dan tentu itu adalah ulah sang anak yang telah melakukan transaksi pembelian item game lagi.
Ditambah pajak, total yang harus dibayar Ririn mencapai sekitar Rp11 juta. Tentu bukan nilai yang sedikit dan sangat mubazir jika digunakan hanya untuk item game belaka.

Referensi pihak ketiga
Kisah Ririn menjadi pelajaran bagi semua orangtua untuk mengawasi dengan ketat pemberian smartphone kepada anak-anak kita, termasuk akses bermain game dan segala macam koneksi kartu kredit serta transaksi online.
Pilihkanlah kegiatan dan hiburan yang tepat bagi anak-anak kita. Karena sejatinya anak-anak adalah kertas putih yang menunggu diwarnai oleh kita, orangtuanya. Maka pilihlah warna yang indah yang akan membentuk mereka menjadi sesuatu yang cemerlang dan berharga.
Semoga kita mengambil pelajaran.

Referensi pihak ketiga
Sumber Referensi:
today.line.me

Seberapa Pantas Engkau Jadi Pemimpin Tergantung Bagaimana Interaksimu Dengan Keluargamu!

Negara kita memiliki banyak pejabat yang seharusnya mengurusi urusan rakyat, meski dalam banyak hal pejabat yang menduduki sebuah jabatan di pemerintah lebih sering bertindak seperti 'raja' yang melulu minta pelayanan dari rakyatnya.

Referensi pihak ketiga
Dahulu, Al-Aqra’ bin Habis, salah satu amir di negeri Islam datang menghadap Amirul Mukminin, Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Saat itu Al-Aqra terkejut ketika mendapati Umar sedang bermain dengan anak-anaknya. Ada yang bergelantungan di lengannya dan ada pula yang tengah berada di atas punggung Umar.
Dengan keheranan, al-Aqra bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, apa-apaan hal ini? Apakah memang seperti ini yang Anda lakukan bersama anak-anak Anda?”
Umar kemudian beranjak bangun dari posisinya dan balik bertanya kepada al-Aqra’, “Hai al-Aqra’, kamu sendiri apa yang kamu lakukan di rumah?”
Dia menjawab, “Ketika aku masuk rumah, orang yang berdiri langsung duduk, orang yang berbicara langsung diam, dan orang yang tidur langsung bangun. Saya mempunyai sepuluh anak, tetapi saya tidak pernah mencium satu pun dari mereka.”
Lantas Umar berkata, “Kalau begitu kamu tidak layak menjadi penguasa bagi kaum muslimin.” Selanjutnya Al-Aqra dipecat.

Referensi pihak ketiga
Umar bin al-khaththab seorang pemimpin umat dengan kualitas kepemimpinan yang melegenda, ternyata begitu memperhatikan para pejabat yang membantunya mengurusi urusan umat.
Dan tentu, kepemimpinan seseorang pertama kali teruji dengan kepemimpinan di dalam keluarganya. Sebagai orangtua, mari perhatikan bagaimana kita berinteraksi dengan anak-anak kita. Apakah dengan penuh kasih sayang atau justru dengan 'kekuatan' yang membuat kita menjadi sosok orangtua yang sekedar ditakuti bukannya dihormati dan diteladani.
Semoga menjadi renungan.
---
Artikel ini pertama kali Terbit di UC News pada akun Sara Amijaya dengan judul:  Pejabat Ini Dipecat Karena Bersikap Begini Pada Anak-anaknya

Bertahun-tahun Durhaka, Pemuda Ini Berakhir Dengan Penyesalan Setelah Baca Surat Sang Ibu

jika boleh memilih maka orang akan berlomba-lomba memilih keluarga yang 'sempurna'. Orangtua yang rupawan, kaya raya dan penuh kasih sayang. Sebaliknya, orangtua juga bebas memilih anak-anak yang akan menjadi bagian dari dirinya,Anak-anak yang membanggakan dan penuh bakti.
Pada kenyataannya, keluarga, entah itu anak ataupun orangtua dengan kondisi yang beragam bukanlah sebuah pilihan tapi ketetapan yang sejatinya serupa dua sisi mata uang yang saling bertolak belakang, anugerah ataukah ujian.

Referensi pihak ketiga
Pria ini tumbuh dalam kubangan rasa malu. Malu karena menjadi bulan-bulanan di sekolah tersebab ibunya yang buta sebelah ternyata hanya seorang tukang masak di kantin sekolah tempatnya menuntut ilmu.
Hari itu, saat masih berseragam putih merah ia menangis mendapati ejekan kawan-kawannya. Sang ibu yang menyaksikan hal tersebut segera berlari memeluknya dan mengusir semua anak-anak lain yang mengganggunya.
Apakah ia kemudian merasa haru dan berterima kasih? Tidak, sejak peristiwa itu rasa malu atas kondisi sang ibu justru menggeliat menjadi kebencian yang terus memuncak. Ia benci bahwa ibunya tak secantik dan seanggun ibu teman-temannya. Ia benci dengan kenyataan bahwa sang ibu harus menjadi tukang masak demi memenuhi kebutuhan hidup mereka, juga biaya pendidikannya.
Hal ini tak berubah hingga ia menamatkan pendidikan menengah atas, ia bahkan dengan sangat berterus terang mengatakan kebenciannya pada sang ibu, tanpa memikirkan perasaan wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu.
“Engkau telah menjadikan aku bahan tertawaan. Mengapa engkau tidak segera mati saja?"
Pria ini kemudian terbang ke Singapura dengan beasiswa. Ia pun merasa bebas dan bisa mengubur masa lalunya yang baginya sangat memalukan. Selepas kuliah, ia bekerja di Singapura dan menikahi gadis setempat dan memiliki anak-anak yang lucu dan menawan.
Selama itu ia tak pernah pulang hanya beberapa kali membalas surat sang ibu yang selalu rutin mengunjunginya. Sampai suatu hari entah bagaimana sang ibu terbang ke Singapura dan berdiri tepat di luar pintu rumahnya.
Kehadiran wanita tua sederhana dengan matanya yang tak bisa melihat sebelah ternyata membuat takut anak-anak pria itu, cucu-cucu sang ibu.
Pria itu menjadi berang bukan kepalang, “Mengapa engkau begitu berani datang dan membuat anak-anakku ketakutan? Keluar dan pergi saat ini juga!“ bentaknya tanpa sedikitpun belas kasihan. Dengan tenang wanita tua itu menjawab, “Maaf, sepertinya saya salah alamat”. Lalu ia berpaling setelah sempat tersenyum pada putra dan cucu-cucunya.
Tak lama dari peristiwa tersebut, sebuah undangan reuni dari teman-teman sekolahnya datang. Ia pun bertolak ke kampung halamannya demi membanggakan diri bahwa ia kini telah menjadi sosok yang berhasil.
Seusai reuni, hatinya tergerak menuju rumah ibunya, rumah yang dibencinya karena penuh aroma kemiskinan. Rumah itu tak berubah, hanya semakin usang dimakan rayap. Ia masuk ke seantero rumah yang sempit dan tak menemukan ibunya di sana.
Saat itu seorang tetangga datang dan mengamatinya dengan teliti sebelum berkata, “Ibumu telah meninggal kemarin sore…”.
Pria itu tidak menangis atau merasa sedih. Ia hanya segera menuju ke tempat sang ibu dikuburkan. Tanah kuburannya masih basah, dan pria itu mulai merasakan secuil kesedihan kehilangan satu-satunya orangtua yang telah membesarkannya.
Tetangga yang mengabarinya tadi datang menyusul dan menyerahkan sepucuk surat lusuh, surat titipan sang ibu.

Referensi pihak ketiga
“Anakku tercinta, sungguh hati ini begitu berat menanggung rindu padamu. Pikiranku begitu kacau memikirkan keadaanmu. Ibu minta maaf atas kunjungan ibu dahulu ke Singapura yang membuat anak-anakmu takut. Ibu hanya terlalu rindu.
Ibu bahagia mendengar kau akan datang ke reuni sekolahmu, tetapi ibu tak lagi sanggup bangkit dari tempat tidur untuk datang melihatmu.
Ibu juga minta maaf telah selalu membuatmu malu dan minder, sungguh ibu sungguh-sungguh meminta maaf.
Tahukah engkau wahai anakku, waktu engkau masih kecil dulu, terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa ayahmu dan merampas salah satu matamu?
Sebagai seorang ibu, aku tidak tega melihatmu besar hanya dengan satu mata. Karenanya, ibu berikan engkau salah satu mata ibu. Sungguh ibu sangat bahagia dan bangga, sebab engkau tumbuh dewasa dengan mata normal dan dapat menyaksikan dunia ini dengan kedua matamu.
Cintaku selalu untukmu.
Dari ibumu."

Referensi pihak ketiga
Jika ada yang tersisa dari pria itu, maka itulah penyesalan. Kertas surat itu basah oleh air mata. Kakinya yang biasa kokoh, kini lemah tak berdaya. Ia berlutut menangis di depan makam ibunya. Dadanya sesak oleh penyesalan yang sangat. Ia bahkan tak sempat meminta maaf atau sekedar mengucapkan terima kasih...
---
Artikel ini terbit pertama kali di UC News dengan judul 

Malu Memiliki Ibu Tukang Masak & Buta Sebelah, Saat Baca Surat Ini Ia Menyesal. Terlambat!

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -