Search This Blog

Powered by Blogger.

Ketika aku tergoda untuk berdebat #part 1




Setelah pemilu berlalu, aku pikir tidak ada lagi perdebatan antara teman-teman yang nyoblos maupun yang golput. Para penuntut ilmu akan lebih serius lagi menuntut ilmu tanpa tergoda mencampuri fitnah ini itu terkait ijtihadnya ulama.

Tapi, sedih rasanya melihat kebanyakan kawan-kawan salafy yang ternyata masih belum memiliki jiwa besar dalam menyikapi perbedaan yang sebenarnya hanyalah masalah ijtihady yang dalam kasus ini: boleh tidaknya ikut pemilu.

Gak penting juga sih, menceritakan apa pilihanku *_*. Tapi yang pasti aku menghargai pilihan golput ataupun nyoblosnya kawan-kawan. Toh masing-masing pilihan berdasarkan ilmu yang kelak akan dipertanggungjawabkan masing-masing.

Pernah denger dong ya “kelurusan aqidah seseorang salah satunya bisa dilihat dari akhlaqul karimah”. Jadi tak perlulah  saling mencela, insyaallah kita masih sama-sama tegak di aqidah yang sama, manhaj yang sama…

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah mengatakan:
وَأَمَّا الِاخْتِلَافُ فِيالْأَحْكَامِفَأَكْثَرُ مِنْ أَنْ يَنْضَبِطَ وَلَوْ كَانَ كُلَّمَا اخْتَلَفَ مُسْلِمَانِ فِي شَيْءٍ تَهَاجَرَا لَمْ يَبْقَ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ عِصْمَةٌ وَلَا أُخُوَّةٌ وَلَقَدْ كَانَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا سَيِّدَا الْمُسْلِمِينَ يَتَنَازَعَانِ فِي أَشْيَاءَ لَا يَقْصِدَانِ إلَّا الْخَيْرَ

“Adapun perselisihan dalam masalah hukum maka banyak sekali jumlahnya. Seandainya setiap dua orang muslim yang berbeda pendapat dalam suatu masalah harus saling bermusuhan, maka tidak akan ada persaudaraan pada setiap muslim. Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dan Umar radhiallahu ‘anhu saja—kedua orang yang paling mulia setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—mereka berdua berbeda pendapat dalam beberapa masalah, tetapi keduanya tidak menginginkan kecuali kebaikan.” (Majmu’ Fatawa 5/408. )
======================
*Diberi judul “ketika aku tergoda untuk berdebat” karena sebenarnya aku benar-benar berusaha keras menahan tangan, juga lisanku bahkan untuk sekedar berkomentar di status teman-teman terkait perbedaan ini. Bagaimanapun aku pernah merasai ketika awal-awal fitnah sururi memecah belah ahlussunnah di Indonesia. Dan melihat perpecahan di depan mata itu……menyakitkan kawan!
Rasanya, kali ini lagi-lagi aku melihat pintu perpecahan yang makin terbuka lebar T_T
Allahu musta’an.


Tag : ,

Galaunya anak-anak

Sebenarnya geli, ketika menyadari bahwa putri sulungku bisa pula merasakan galau. Galau khas anak-anak. Membuatnya uring-uringan dan sibuk bolak-balik bertanya ini itu seputar kegalauannya, terkadang pula menangis sedih gak jelas.
 Beberapa kegalauannya masih teringat dengan jelas.
  • Ketika lulus dari RA dan terpaksa pisah sekolah dengan teman-temannya.
"Ntar kalau Amma kangen teman-teman bagaimana?"
"Ntar kalau di sekolah baru Amma gak punya teman bagaimana?"
*Sepulang wisuda ia pun sukses menangis tersedu-sedu, sambil mengabsen nama kawan-kawannya dalam sedu sedannya itu.
 
Amma dan teman-teman RA
Tag : ,

Ummi tidak membutuhkan nilai 100-mu, sayang...




Sebagai ibu 3 orang anak, aku sangat menyadari masa kanak-kanak adalah masa bermain. Bagi kanak-kanak permainan merupakan pekerjaan serius. Karenanya sebisa mungkin aku mendidik mereka dengan permainan yang menyenangkaan. Maka aku mengajarkan mereka tentang kewajiban dengan kesenangan bermain sebagai salah satu reward.

Saat ujian tengah semester kemaren, di hari pertama aku menungguinya belajar. Melarangnya menonton TV, juga mengambil ipad-nya. Saat itu ia hanya diam dan masih bersemangat belajar. Di hari kedua, ia memasang wajah perang. Menolak belajar sama sekali. “Capeeek tau, apa-apa harus ada syaratnya. Gak boleh main keluar, ipad juga diambil, mau nonton aja harus pake belajar dulu” akhirnya keluhan itu keluar juga.

Tag : ,

Kenapa harus menjulurkan lidah saat periksa?




Ternyata benar punya anak yang terus bertumbuh itu menuntut kerja keras orang tua untuk semakin giat belajar.

Gara-gara sakit dan harus diperiksa dokter, Amma tiba-tiba bertanya “Mi, kenapa sih harus menjulurkan lidah saat periksa?”

Hangatnya persaudaraan

Putri sulungku Amma (7y) dan adiknya Ofi (3,8y) adalah dua anugerah yang tak ternilai bagiku. Jarak kelahiran keduanya yang tak terlalu dekat dan juga tak terlalu jauh tampaknya membuat keduanya bisa saling menerima dan menyayangi sebagaimana mestinya.

Meski terkadang berebut mainan, dan saling pamer mencari perhatian ummi abinya. Keduanya dengan cepat kembali berbaikan dan saling memeluk. Adalah hal menyebalkan ketika aku masih asyik menasehatinya (dengan sedikit mengomel tentu) agar tidak bertengkar melulu, mereka berdua sudah kembali cekikikan dan menyia-nyiakan tenagaku untuk mengomel.

Lepas dari "hobby" mereka membuat kepalaku sedikit nyut-nyutan keduanya sungguh-sungguh bidadari manis berhati emas.

    
Ofi mah tetep sok manis ^_^

Tag : ,

Ketika anak yang menjadi korban

Anak perempuan itu mengenakan baju tidur. Rambut sebahunya tampak belum tersisir rapi. Kemungkinan besar dia bahkan belum mandi. Tangan kecilnya menarik baju seorang wanita pekerja loundry "tante.....mana bapakku?" tanyanya polos.

Wanita pekerja loundry tersebut, terang saja terkaget-kaget. "Bapakmu siapa dik?." Ia bertanya sambil melirik ke kanan dan kiri. Tak ada siapa-siapa sejauh matanya memandang. Setelah wawancara singkat yang seringnya dijawab dengan anggukan atau gelengan dari sang anak yang mengaku bernama Aulia itu, akhirnya wanita pekerja loundry itu memutuskan menelpon kami.

Surat untuk Stiletto Book




Dear Stiletto,

Awalnya aku mendengar nama stiletto karena banyak teman di grup kepenulisan yang kuikuti mencoba mengirimkan naskah ke stiletto. Ada yang lolos dan sudah diterbitkan, ada pula yang belum beruntung.

 Rasanya Stiletto saat ini masih menjadi satu-satunya penerbit yang khusus menerbitkan buku-buku perempuan. Sebuah branding yang bagus menurutku. Jadi ketika para perempuan Indonesia hendak mencari buku-buku bertema perempuan, maka yang terlintas dibenak mereka pertama kali adalah Stiletto.

Karena penasaran dengan branding tersebut aku jadi ingin mencicip rasa stiletto, Maka jadilah beberapa waktu lalu, aku memesan 3 buah buku terbitan stiletto. The Marriage roller coaster, Geek in high heels, and Last Rommate. Pemesananya mudah dan gak pake ama bukunya nyampe. 

Karena aku memilih buku tersebut secara acak saja, aku memang tak berekpektasi apa-apa ketika membaca buku tersebut selain bahwa aku akan menemukan girl power yang katanya memang menjadi ruh buku-buku terbitan stiletto.

Dan harus kuakui dari membaca ketiga buku tersebut aku menemukan rasa yang berbeda-beda.

The Marriage roller Coaster: aku suka buku ini. Rasanya dengan menerbitkan TMRC stiletto telah membantu mencerahkan para perempuan Indonesia. Buku ini memenuhi 3 kriteria dasar dalam penilaian subyektifku : ringan, menghibur, dan ada pesan positif yang tersampaikan.

Perasaan tersebut sedikit berkurang saat membaca GIHH. Buku ini memenuhi 2 kriteriaku: ringan dan menghibur. Tapi pesan yang disampaikannya masih terasa dangkal.
Dan entah mengapa (maafkan aku) perasaanku terjun bebas ketika membaca Last Rommate. LR ini sebenarnya asyik dibaca, ada nilai-nilai positifnya juga, tentang bagaimana kita merasa nyaman dengan diri kita sendiri. Sayangnya premis inilah yang dijadikan pelegalan untuk sebuah hubungan yang “menyimpang”, dalama hal ini hubungan sesame jenis (lesbian). Dan buku ini terlalu asyik dibaca, penyampaiannya smooth sekali hingga diakhir buku pembaca akan seolah terhipnotis dan menarik kesimpulan bahwa hubungan”menyimpang” tersebut sah-sah saja dan seharusnya bisa diterima. Saya memandangnya sebagai Sebuah buku ringan dengan misi berbahaya.

Jadi, saya menyempatkan menulis surat ini karena besar harapan saya bahwa stiletto dengan branding “penerbit buku perempuan”-nya akan benar-benar bisa tumbuh berkembang menjadi penerbit besar yang memberi kontribusi positif bagi perempuan Indonesia yakni dengan menerbitkan bacaan-bacaan yang tidak sekedar menghibur tapi mampu mencerahkan dan meluruskan “kebengkokan” para perempuan.

Akhirnya, terima kasih telah membaca surat ini dan maafkan aku jika ada kata yang tak berkenan. Bagaimanapun aku masih mencandu untuk mencicip lebih banyak lagi buku-buku terbitan stiletto.

With love,

Sarah

Anak-anakku dan IT

Membaca sebuah artikel bertajuk Manfaat belajar IT sejak dini di blog cak cholik entah kenapa membuatku menoleh sejenak. Menatap anak-anakku yang saat ini dengan ribut berlarian, menggali tanah, mengejar capung, dan entah mengorek-ngorek apalah di luar sana. 

Jadi ingat beberapa tahun lalu ketika si sulung masih berusia 4 tahun, aku berusaha keras untuk menjauhkannya dari beragam permainan di dunia virtual. Menariknya ke dunia luar itu tak semudah ketika memperkenalkannya pada teknologi tersebut  di usianya yang baru 2 tahun.

Begitulah selalu, jika mengaitkan anak-anak kita dan kemajuan teknologi rasanya seperti di hadapkan pada pisau bermata dua.

Seringkali kita menyaksikan para orang tua yang dengan bangga berkisah bahwa anaknya yang baru berusia sekian-sekian sudah menguasai ini itu berkaitan dengan IT. Dan sepertinya  menjadi trend saat ini, anak-anak usia dini sudah perlu diperkenalkan pada teknologi IT.

Menjadi langka melihat anak-anak yang berlarian dengan riang di lapangan, memanjat pohon, bermain petak umpet, ular naga, dan beragam permainan outdoor nan sosial itu.

Sebagai gantinya lihatlah disudut-sudut kamar, anak-anak sibuk dengan beragam gadget canggih. Sendirian, dan terasing dengan dunia sosial sebayanya.



Anak-anak yang terbiasa memegang teknologi canggih bahkan di usia pra sekolahnya, memiliki kecenderungan anti sosial dalam prilaku kesehariannya. mengajaknya bergaul dan bersosialisasi dengan masyarakat seperti menarik paksa seekor ulat dari kepompongnya. Alih-alih menjadi kupu-kupu cantik si ulat mungkin saja tak menjadi apa-apa.

Maka aku sependapat sekali dengan artikel Manfaat belajar IT sejak dini-nya padhe cholik:
"Belajar IT sejak dini memang bermanfaat bagi anak-anak agar mereka sudah “melek IT” sejak kecil. Tentu saja orangtua sudah harus mengarahkan agar anak-anak dapat mengambil sebesar-besar manfaat dari IT untuk kepentingan pendidikannya. Jangan sampai kesenangan dan kecanduan terhadap IT malahan mengganggu belajarnya dan perkembangan jiwanya".

Hal yang sering kali dilalaikan para orang tua dewasa ini justru bagian terpenting setelah memperkenalkan dan memfasilitasi anak-anak mereka dengan beragam teknologi canggih tersebut. Ya, orang tua kadang lalai dalam mendampingi dan mengarahkan anak-anak  mereka ketika bermain-main dengan teknologi bermata dua tersebut.

Aku pribadi, saat ini memiliki 2 putri usia sekolah. Aku pun selayaknya orang tua di zaman kekinian, memfasilitasi mereka dengan beragam teknologi IT. Namun, membatasi dan menemani mereka ketika menggunakan fasilitas tersebut adalah caraku untuk membentengi mereka dari hal-hal yang bisa mengganggu belajar dan perkembangan jiwanya.

Pada kesehariaanya, aku lebih membebaskan mereka bermain di halaman bersama-sama dengan para sepupu yang memang tinggal berdekatan. Tumbuh menjadi anak yang cerdas dan peka terhadap lingkungan adalah salah satu harapan yang kupercayakan di pundak anak-anakku.


giveaway 2 hari

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -