Search This Blog

Powered by Blogger.

Showing posts with label giveaway. Show all posts

Pada Mama, aku mengambil ibroh...

Ibu itu bukan manusia sempurna, tapi beliau wanita istimewa. Madrasah pertama yang mengenalkanku pada dunia, dan mengajarkanku menghadapi suka duka. Ibu itu bukan manusia tanpa salah, tapi beliau wanita yang siap mengasuh dengan merasai lelah dan payah. Ibu itu adalah kebesaran cinta, yang mengantarkanku hingga dewasa…..

“Mama sengaja nggak pernah mengingatkanmu untuk belajar atau memberi jam khusus untuk belajar. Karena mama ingin kamu paham, bahwa belajar itu untuk kamu sendiri bukan untuk mama. Belajar itu  nggak  semata untuk rangking 1 tapi agar kamu mengetahui banyak hal. Agar kamu lebih siap menjalani hidup dan mengatasi berbagai permasalahan yang mungkin kamu hadapi kelak.”

Mama berkata santai seolah tahu aku sedikit menyalahkannya saat posisi juara satu yang biasa kudapatkan bergeser ke posisi dua di salah satu masa ketika aku masih berseragam biru putih. Aku iri melihat teman-teman yang dikawal ketat proses belajarnya oleh orang tua mereka. Sementara mamaku yang justru seorang guru, sekalipun tak pernah bertanya atau peduli apakah aku sudah belajar ataukah banyak bermain setiap harinya.

Kata-katanya berlahan-lahan meresap ke sudut hatiku. Membuatku entah mengapa tiba-tiba terbayang proses kehidupan mama yang sulit.

Aku tahu perjuangan mama untuk bisa sekolah. Ikut bekerja dan tinggal dalam keluarga tentara yang berbaik hati menampungnya. Ayahnya yang sudah tiada dan ibunya yang papa tak pernah menyurutkan tekadnya untuk belajar. Sebagai seorang siswa,mama adalah siswa yang biasa-biasa saja. Tapi ia bersekolah tak semata mencari gelar juara, ia sedang menimba ilmu kehidupan. Ilmu yang menopangnya menjalani hari-hari yang tak bisa dibilang mudah.

 Menikah dengan putra sulung dari keluarga yang cukup berada dan di segani dari daerah berbeda, suku berbeda, adat dan budaya berbeda, bukan hal mudah. Sama sekali bukan.
Aku tumbuh, dengan melihat mama yang berjuang keras beradaptasi di tengah-tengah keluarga besar ayahku. Mengurusi kelima adik ayahku dan juga orang tuanya. Melayani mereka, memasak, mencuci, dan semua pekerjaan rumah tangga lainnya, bahkan di tengah-tengah kesibukan beliau sebagai seorang guru di salah satu SMP Negeri di kota kecil kami.

Mama yang tidak hanya sekali dua kali kujumpai menangis menghadapi perkataan dan sikap beberapa keluarga yang “memandangnya sebelah mata” menjalani hari-hari beratnya dengan ikhlas. Tak banyak mengeluh, tak pernah membalas, dan seringkali justru masih sanggup tersenyum tulus. Hal yang masih terus berlanjut meski satu persatu adik-adik ayahku pada akhirnya berkeluarga dan memeberi 5 menantu wanita lainnya di keluarga besar tersebut. Mama tetaplah menjadi “tumpuan” dan mendapati dirinya lebih banyak menghabiskan waktu untuk menjaga, menemani, dan memenuhi keinginan orang tua suaminya yang kian uzur.

Adalah aku, yang menghabiskan masa kecil dengan bahagia. Mengenyam pendidikan hingga bangku sarjana dengan mulus dan tanpa banyak usaha mendapatkan beasiswa prestasi di sana sini. Mengenal cinta, dan qodarullah menikah dengan seorang pria dari luar pulau, suku berbeda, budaya berbeda.

Aku sempat menjalani masa hidup bersama keluarga suamiku. Dan sungguh aku teringat mama. Baru aku tahu betapa luar biasanya mama. Betapa beliau memiliki hati seluas samudera tatkala menjalani proses adaptasi budaya yang begitu berbeda.

Beradaptasi dengan suami tak terasa begitu sulit karena dengannya lah aku berkomitmen membagi sisa kehidupanku. Tapi beradaptasi dengan keluarga besar, dengan semua perbedaan adat dan budayanya, bagiku itu luar biasa. Aku tak siap dengan sikap dan perkataan spontan mereka yang seringkali menyesakkan hati dan menggulirkan titik-titik bening di sudut pipi. Aku kesulitan, sangat kesulitan menyesuaikan gaya hidupku yang kampungan dan apa adanya dengan mereka yang sangat “kota” dan menilai produktifas dengan materi.

Maka kucari-cari kemanapun dari setiap sudut literasi pembelajaran formalku, aku tak menemukan solusi atas kepahitan yang kujalani.

Tapi, pada mama, mengingat hari-hari berat yang pasti juga pernah dilalui mama aku mengambil ibroh. Meski menangis, tak menyimpan dendam dan amarah adalah kunci kebahagiaan. Tak peduli sebanyak apa kesedihan dan kepahitan yang terjalani, berhasil memenangi rasa sakit hati adalah kemenangan terbesar yang insyaallah menjadikan kita lebih bijak dalam menyikapi berbagi situasi.

Ketika akhirnya pulang ke kampung halaman, aku menemui ibuku masih dengan rutinitasnya yang tak berbeda jauh. Ia masih dengan setia memenuhi ini itu  kemauan nenek yang kini semakin uzur dan tentu semakin rewel, terlebih sepeninggal kai.

Dan, padaku mama berucap, “Mama berharap, kelak tua tak akan menyusahkan kalian. Tapi jika Allah masih memberi waktu hingga pikun dan lemah menyerang mama, semoga kebaikan tak seberapa ini akan kembali pada mama lewat kalian, anak-anak mama…”

Duh mama, keikhlasanku jauh tertinggal dari mama, kasih sayangku padamu tentu tak akan sanggup menyamai sedikitpun kasih sayangmu padaku. Karenanya mama, izinkan aku menutupi semua kekuranganku dengan lantunan doa-doaku untukmu.  Semoga Allah senantiasa memberkahi sisa usiamu dan mengampuni setiap khilaf dan salahmu.

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera.
Tag : , , ,

Anak-anakku dan IT

Membaca sebuah artikel bertajuk Manfaat belajar IT sejak dini di blog cak cholik entah kenapa membuatku menoleh sejenak. Menatap anak-anakku yang saat ini dengan ribut berlarian, menggali tanah, mengejar capung, dan entah mengorek-ngorek apalah di luar sana. 

Jadi ingat beberapa tahun lalu ketika si sulung masih berusia 4 tahun, aku berusaha keras untuk menjauhkannya dari beragam permainan di dunia virtual. Menariknya ke dunia luar itu tak semudah ketika memperkenalkannya pada teknologi tersebut  di usianya yang baru 2 tahun.

Begitulah selalu, jika mengaitkan anak-anak kita dan kemajuan teknologi rasanya seperti di hadapkan pada pisau bermata dua.

Seringkali kita menyaksikan para orang tua yang dengan bangga berkisah bahwa anaknya yang baru berusia sekian-sekian sudah menguasai ini itu berkaitan dengan IT. Dan sepertinya  menjadi trend saat ini, anak-anak usia dini sudah perlu diperkenalkan pada teknologi IT.

Menjadi langka melihat anak-anak yang berlarian dengan riang di lapangan, memanjat pohon, bermain petak umpet, ular naga, dan beragam permainan outdoor nan sosial itu.

Sebagai gantinya lihatlah disudut-sudut kamar, anak-anak sibuk dengan beragam gadget canggih. Sendirian, dan terasing dengan dunia sosial sebayanya.



Anak-anak yang terbiasa memegang teknologi canggih bahkan di usia pra sekolahnya, memiliki kecenderungan anti sosial dalam prilaku kesehariannya. mengajaknya bergaul dan bersosialisasi dengan masyarakat seperti menarik paksa seekor ulat dari kepompongnya. Alih-alih menjadi kupu-kupu cantik si ulat mungkin saja tak menjadi apa-apa.

Maka aku sependapat sekali dengan artikel Manfaat belajar IT sejak dini-nya padhe cholik:
"Belajar IT sejak dini memang bermanfaat bagi anak-anak agar mereka sudah “melek IT” sejak kecil. Tentu saja orangtua sudah harus mengarahkan agar anak-anak dapat mengambil sebesar-besar manfaat dari IT untuk kepentingan pendidikannya. Jangan sampai kesenangan dan kecanduan terhadap IT malahan mengganggu belajarnya dan perkembangan jiwanya".

Hal yang sering kali dilalaikan para orang tua dewasa ini justru bagian terpenting setelah memperkenalkan dan memfasilitasi anak-anak mereka dengan beragam teknologi canggih tersebut. Ya, orang tua kadang lalai dalam mendampingi dan mengarahkan anak-anak  mereka ketika bermain-main dengan teknologi bermata dua tersebut.

Aku pribadi, saat ini memiliki 2 putri usia sekolah. Aku pun selayaknya orang tua di zaman kekinian, memfasilitasi mereka dengan beragam teknologi IT. Namun, membatasi dan menemani mereka ketika menggunakan fasilitas tersebut adalah caraku untuk membentengi mereka dari hal-hal yang bisa mengganggu belajar dan perkembangan jiwanya.

Pada kesehariaanya, aku lebih membebaskan mereka bermain di halaman bersama-sama dengan para sepupu yang memang tinggal berdekatan. Tumbuh menjadi anak yang cerdas dan peka terhadap lingkungan adalah salah satu harapan yang kupercayakan di pundak anak-anakku.


giveaway 2 hari

Finally, i found you...




“Yaa...kok ditolak sih?” protes itu terlontar dari teman kostku.
Seperti biasa aku hanya cengengesan gak jelas dan menjawab santai  “Habis, dia minta aku jadi pacarnya sih. Kan aku kaga nyari pacar tapi nyari suami...” kalimatku itu menuai cibiran dari bibir temanku itu.

Beberapa kali mendengar alasan yang sama, rupanya ia masih menganggapku bercanda. Wajar sih usiaku masih belasan tahun kala itu. Tapi begitulah sejak memutuskan mengenakan jilbab, juga mempelajari islam dengan lebih baik aku memutuskan pacarku dari zaman putih abu-abu dan berazzam untuk serius menuntut ilmu dan tentu saja “hunting” suami ^_^. Misi yang sebenarnya kunyatakan terang-terangan tapi herannya tidak ada yang mempercayainya.

Pria yang saat ini membersamaiku pun kukenal dimasa-masa itu. Aku mengenalnya sejak semester 3, sementara  saat itu ia tengah menyusun skripsinya.

Dia salah satu petinggi di organisasi ektrakampus yang kuikuti.

Dia orang yang tersenyum dan mengucapkan selamat dengan tulus kala celana panjangku berganti rok dan akhirnya bertransformasi menajdi gamis lebar. 

Dia orang yang mendoakan agar aku istiqomah dengan jalan yang sudah kupilih. Meski tidak satu dua orang yang menyebutku sekedar berganti-ganti “casing”.

Dia pula orang yang dulu dengan iseng menjejeri langkahku dan menyanyikan potongan lagu yang syairnya ‘nggak banget’ itu.

Dia itu juga orang yang dulu dengan pedenya mengenalkan diri sebagai “Hua Ce lei”. Entah ada yang membocorkan bahwa aku mengidolakan aktor itu atau memang dia makhluk super pede yang berbakat cenayang *_^.

Dia adalah orang yang dengan santainya tertidur di tengah rapat suksesi yang hinggar bingar. Dan ketika bangun, herannya tetap nyambung dengan semua yang telah terjadi.

Dialah satu-satunya pria yang memberiku buku, sementara pria-pria lain memilih coklat, makanan, ataupun perhiasan. Mungkin hanya dia yang berhasil memindai kekutubukuanku yang sebenarnya super akut.

Dia adalah pria angkuh yang kengkuhannya entah mengapa membuatku nyaman.


Dan dialah pria yang membuatku yakin untuk menerima pinangannya. Karena katanya:  “Menjawab iya atas pinanganku berarti menyetujui tiadanya kata putus, karena aku memintamu menjadi istriku bukan menjadi pacarku. Menjawab iya atas pinanganku berarti siap berkomitmen atas sebuah perjanjian yang kuat, yang tatkala kita mengikrarkannya maka Arsy Allah pun berguncang. Menerima pinanganku berarti siap untuk menjadi istriku di dunia dan akhirat, insyaallah”

Dan bagiku sendiri menjawab iya atas pinangannya bukanlah sebuah pilihan,  melainkan  hasil istikharah panjang yang kulakoni.
 

Ya, dialah orang yang pada akhirnya membuatku mengatakan dengan riang : "Alhamdulillah, Finally i found you... "

 Dan begitulah, pilihan yang ketika memilihnya menyertakan Allah dalam prosesnya insyaallah dalam perjalannya akan tetap dibersamai oleh-Nya.

 "tulisan ini disertakan dalam Giveaway Novel Perjanjian yang Kuat"

Kenangan sepotong Lagu sederhana

Tak peduli berapakah berat badanmu nanti
Kau tetap yang termuah di hati…

Pernah denger lirik lagu ini gak? Sepertinya dipopulerkan oleh Sheila on 7 deh.

Duluuuu banget, beberapa belas tahun yang lalu ada seorang pemuda yang menjejeri langkahku dan menyanyikan lagu ini disertai lirikan super duper jailnya. Reaksiku saat itu? Mmm….balas meliriknya dengan tatapan – udah gila ya bang?- trus meleletkan lidah dan berlari menyusul teman-temanku. Masih kudengar tawanya berderai di belakangku.

Beberapa tahun kemudian, pemuda yang punya lirikan jail itu resmi mempersuntingku menjadi istrinya. Sayangnya hingga detik ini, yang terbilang 7 tahun lebih kebersamaan kami, sedikitpun ia tak punya kesempatan untuk menggodaku dengan lirik lagu tersebut (senangnya ^_^). Bagaimanapun porsi makanku,  bahkan pasca melahirkan ke-3 kalinya berat badanku pun hanya bergeser sekitar 1-3 kg sejak pertama kali ia mengenalku. Syukurlah…..^_^.

Bahkan belakangan adalah aku yang sering menggodanya dengan berulangkali menyanyikan lirik itu keras-keras lengkap dengan suaraku yang super duper cempreng. Tentu sambil menjawil pipinya yang mulai gembil. 

Tanggapannya??? Tertawa tentu, menutup kuping di lain waktu, dan terkadang membalasku dengan gelitikan maut sampai aku menjerit-jerit heboh gak keruan. 

 “Pasangan heboh bin lebay” ejek putri sulungku jika kami tengah saling menggoda seperti itu. Tapi seringnya putri-putriku turut serta meramaikan kehebohan yang telah kami mulai itu.

Bersyukur seperti apapun rasanya tak cukup, jika  menilik 7 tahun bahtera kami terus berlayar damai dan sering kalinya diisi canda tawa dan kehebohan para penghuninya ^_^.

Pun demikian, bahtera kami senormal bahtera lainnya yang tentu tak bisa menghindar jika sesekali angin bertiup kencang, syukurnya angin-angin tersebut tidak langsung mencerai beraikan kami, tetapi justru membuat kami semakin erat berpegangan tangan.

Kembali soal lagu itu, yang meski penasaran aku gak sempat-sempat mencari tahu apakah judulnya dan bagaimana lirik lengkapnya. Setelah bertahun-tahun menikah, dan aku sering kali menggodanya dengan menyanyikan potongan syair itu (karena cuman bagian itu yang aku tahu^_^) akhirnya suamiku berkata, “Saat dulu iseng menjailimu dengan menyanyikan lagu itu, sebenarnya keseluruhan lirik itu mewakili isi hatiku”.

Sungguh membuatku penasaran sama lirik lengkapnya. Akhirnya datanglah aku pada sang mbah G,  And…..this is it….:
Kupercaya apapun yang akan terjadi nanti
kau tetap mempesona rahasia di lagu ini
tak peduli berapakah berat badanmu nanti
kau tetap yang termuach di hati

Kauakui kutak hanya hinggap di satu hati
kutakuti kuterlalu liar tuk dimiliki
walau itu semua hanya persinggahan egoku
dan sikapmu tlah merobohkan aku

Dan waktupun terus berlari
dan aku pun semakin mengerti
apa yang akan aku hadapi
apa yang akan aku cari

reff: aku tuliskan lagu sederhana
untuk dirimu yang sangat bijaksana
memahamiku dan mencintaiku apa adanya
apa adanya

Dan waktupun terus berlari
dan aku pun semakin mengerti
apa yang akan aku hadapi
apa yang akan aku cari

(Terimakasih bijaksana by Sheila on 7)


Setelah membacanya, aku  semakin sering berdoa agar di sisa usiaku bisa terus mendengar dan merasakan canda tawa yang hangat di bahtera kami. Semoga kehangatan yang tercipta dari sepotong lirik sederhana itu bisa terus kami nikmati hingga kami menutup mata kelak.


Teruntuk mba uniek kaswargantie yang tengah merayakan wedding anniversary ke-10, Barokallah.....semoga senantiasa Samara dan tetap berkumpul hingga di syurga kelak.
----------------------------------
Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway 10th Wedding Anniversary

Jika ini ramadhan terakhirku…..

Ramadhan kali ini aku tengah mengandung anak ke-3ku.  Usia kandungan yang memasuki bulan ke-8  membuatku cepat merasa lelah dan terasa berat bahkan untuk membawa badan sendiri ^_^.  Terlebih akupun wanita bekerja dengan 2 anak berumur 6 tahun dan 3 tahun. Aktivitasku padat dari sejak bangun tidur hingga menjelang tidur lagi. Dan selama bulan Ramadhan rutinitasku tak banyak berubah.

Di awal Ramadhan kali ini aku benar-benar berniat menggunakan rukhsah (keringanan) untuk tidak berpuasa yang diberikan bagi wanita hamil dan menyusui.

Dan begitulah beberapa hari di awal Ramadhan aku hanya menemani sulungku yang berusia 6 tahun berpuasa setengah hari hingga pukul 01.00. Sampai suatu hari aku membaca postingan seorang kawan di salah satu blognya. Ia yang semula juga bermaksud menggunakan rukhshah tidak berpuasa karena sedang menyusui, tiba-tiba dikejutkan dengan kematian yang begitu dekat dengannya. Membuatnya berpikir bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhirnya, dan begitulah akhirnya ia memutuskan berpuasa di Ramadhan kali ini dan Alhamdulillah ia mampu menjalaninya.

Membaca kisahnya seketika menyentuh hatiku. Duh, jika inipun Ramadhan terakhirku alangkah menyesalnya aku jika aku sama sekali tidak berpuasa. Dan akhirnya setelah konsultasi ke dokter kandungan dan googling sana-sini, aku merasa yakin bahwa bayi dalam kandunganku insyaallah akan baik-baik saja meski aku berpuasa. Dan setelah menjalaninya, Alhamdulillah ternyata kami (aku dan bayi dalam kandunganku) sungguh baik-baik saja ^_^.

Meski sudah mulai berpuasa, kalimat “jika ini ramadhan terakhirku…..” masih terus terngiang-ngiang di benakku. Membuatku terbangun di malam-malam jauh sebelum waktu sahur. Menatapi dua buah hati dan suamiku yang terlelap dengan damai juga sesekali mengelus perutku yang tengah membuncit.

Betapa selama ini aku belum menjadi istri dan ibu yang baik bagi mereka. Betapa aku masih sering melalaikan hak suami dan anak-anakku. Betapa aku masih kurang bersyukur dengan suami penyabar dan putri-putri cantik nan sholehah.

Betapa seringnya aku memanyunkan bibirku di hadapan suami yang selalu tertawa menghadapi tingkah kekanakanku. Betapa aku masih sering begitu tak sabar menemani anak-anakku belajar dan murojaah hafalan Al-Qur’annya, padahal sebagai ibu adalah kewajibanku menjadi madrasah pertama bagi mereka. Duh betapa banyak nikmat yang ternyata belum kusyukuri. Mengingat semua hal itu terngiang lagi kalimat tersebut “jika Ramadhan ini adalah bulan terakhir kehidupanku….”  Hiks…… T_T

 Sungguh jika ini ramadhan terakhirku aku hanya punya satu impian., Menjadi wanita sholehah : Istri sholehah bagi suamiku dan ibu sholehah bagi anak-anakku.


Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Seorang perempuan yang menegakkan sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, dan mematuhi suaminya akan memasuki Surga melalui pintu mana saja dia suka”. (HR. Bukhari dan Muslim)


Tulisan ini diikutsertakan dalam GA:
Ceria Ramadhan Bersama Gamazoe dan Dhenok Habibie

Mengapa aku berbelanja online?

Kebanyakan wanita suka shopping ya? Aku sih wanita juga, tapi shopping????? Kalu shopping berarti kamu harus muter-muter, ngubek-ngubek barang, ke sana ke sini buat compare harga, wedeuh…….. berarti aku masuk golongan minoritas deh. Aku gak suka shopping model kek gitu.

Bukan apa-apa sih, aku gak begitu suka keramaian. Cepat pusing di tengah orang banyak, apalagi musti bolak-balik, muter sana-sini. Dibayar berapa juga ogah deh.
Bahkan untuk keperluan rumah tangga, suamiku yang turun tangan. Kecuali yang dibeli udah gak terlalu banyak dan cuman disatu tempat itupun perlu bujukan penuh dari suami dan anak-anak.

Dengan suami yang selalu siaga seperti itu, rasanya kebutuhanku untuk berbelanja aman-aman saja. Sampai ketika kami pindah domisili di kota kecil kelahiranku. Sebuah kabupaten di Kalimantan Timur. Tidak banyak pilihan untuk berbelanja dan jangan ditanya alangkah mahal harganya.

Yang paling menyebalkan, di kota ini aku benar-benar kesulitan  mendapatkan buku-buku bacaan yang sudah menjadi bagian hidupku. Maka, jelas aku mulai memikirkan untuk berbelanja online.

Melalui search engine (aku biasa menggunakan google), cukup mengetikkan keyword yang dibutuhkan  segera saja aku menemukan beragam situs yang menjual buku secara online. Biasanya aku membatasi diri hanya membuka 10 situs di halaman pertama hasil  pencarian tersebut. Entah benar atau tidak aku berkeyakinan, situs-situs yang terdeteksi search engine hingga berada di page pertama memiliki tingkat kredibilitas yang lebih tinggi dibanding situs-situs diurutan selanjutnya (belakangan aku baru tau soal SEO ^_^).

Berbelanja online juga membuatku mudah dan simple untuk melakukan compare harga. Mendapatkan barang bagus dengan harga murah bukanlah hal yang mustahil tanpa aku bersusah payah muter-muter menghabiskan tenaga.

Makin kesini, aku tidak hanya membeli buku-buku secara online tapi juga pakaian, jilbab, permainan anak-anak, sprei, bed cover, hingga perlengkapan bayi, dll.

Alhamdulillah, sejauh ini aku belum pernah mengalami penipuan selama berbelanja online. Meski demikian tetap ya kita wajib berhati-hati ketika berbelanja online. Bagaimanapun, tahun lalu suamiku menemukan sebuah lapak online di blogspot yang mengatas namakan dirinya lengkap beserta scan ktpnya yang entah didapat darimana oleh si pelaku. Suamiku akhirnya melakukan pengaduan penyalahgunaan identitas dan blog tersebut akhirnya di hapus oleh admin blogspot.

Dalam berbelanja online aku berusaha memilih situs   yang terpercaya. Mengukur kredibilitas sebuah situs itu gampang-gampang susah sih. Aku pribadi memiliki beberapa parameter sendiri. Paling tidak barang yang mereka perjual belikan di update secara teratur. Aku juga menghubungi contact personnya baik melalui sms, telepon, atau sekedar mengecek di FB mereka. Dan lebih dari itu yang menjadi ukuranku mempercayai sebuah situs online adalah fast respon atas order yang kita lakukan, baik dalam jumlah kecil maupun besar. Aku juga memilih situs online yang memungkinkan pembeli memilih sendiri jasa pengiriman yang diinginkan juga memiliki rekening bank yang beragam.

Mengingat tempat tinggalku yang lumayan di pedalaman aku memilih jasa pengiriman yang terpercaya dan murah. Gak banget deh kalu ongkos kirimnya lebih mahal dari harga barang yang aku beli ^_^. Rekening bank yang beragam memberiku pilihan untuk mentransfer lebih mudah dan cepat.

Beberapa situs yang menjadi langgananku adalah gramediaonline.com bukueksrental.blogspot.com, omahsprei.com, grosirperlengkapanbayimurah.com, pabrikbajubayi.com ,  dll. Aku juga terkadang membeli produk-produk yang ditawarkan di olshop-olshop online yang menjamur di FB, sebut saja jilbab malang, omah buku, promosi buku, dll.

Untuk orang sepertiku,  kemudahan berbelanja online itu jelas membantu sekali loh selama kita jeli memilah milih situs online yang ada. So, do you want to try????





Tag : ,

Menyemai Cinta, Membangun Samara

“Aku gak cocok ma suamiku dan keluarganya, terbersit ingin pisah…tapi berat rasanya kalu ingat anak-anak….”  Sms itu kuterima dari salah seorang sahabatku pada tahun ke-6 pernikahannya.

“Mungkin cinta itu udah gak ada mba, aku bosan selalu dicuekin. Masku sekarang berubah…..” sms lain yang kuterima dari salah satu adik tingkatku semasa kuliah.

“Aku selingkuh sya, suamiku gak mau ceraikan aku sih….” Message lain yang kuterima dari kawan semasa kuliahku.

gambar dari sini
Ada apa sih dengan dunia pikirku , saat dalam waktu berdekatan curhat-curhat serupa bergantian memenuhi inbox messageku. Bagaimanapun aku sudah tak asing mendengar kasus perceraian, atau perselisihan dalam rumah tangga. Bekerja di kementerian Agama meski di bagian keuangan tidak membuatku menutup mata terhadap tingginya tingkat perceraian di daerahku. Rasanya menjadi wajar jika terbetik rasa khawatir di benakku, akan bagaimanakah rumah tanggaku sendiri.

7 tahun menikah, bukan waktu yang singkat tapi juga belum bisa dibilang lama. Aku menikah diusia yang belum genap 22 tahun. Jangan tanya bagaimana sifat dan karakterku. Yang jelas masih sangat kekanak-kanakan. Jadi sepantasnya aku memilih suami yang terpaut usia cukup jauh dariku (hampir 5 tahun). Bisa dipastikan berapa banyak perbedaan sifat dan cara pandang kami. Dan ditengah semua perbedaan itu dalam rentang sejak awal mengenalnya hingga kini 7 tahun bersamanya, kurasa tak banyak yang berubah dari kami.

Aku tak akan menyangkal bahwa pernikahanku bukannya “no cry, no pain” tapi aku bisa menggambarkannya dalam satu kata singkat dan jelas “Bahagia”.

Teman-teman yang memilih curhat kepadaku menyebutkan bahwa dalam pandangan mereka aku adalah sosok istri sholehah nan baik budi. Saat aku menceritakannya pada suamiku, aku terpaksa mencubitnya kuat-kuat agar tawanya mereda.

 Ya, sebenarnya aku bukan sosok istri sholehah nan baik budi seperti yang dikira teman-temanku itu. Aku hanya wanita biasa, istri biasa yang penuh dengan kekurangan. Aku istri yang masih sering memanyunkan bibirku saat aku tak suka atau tak setuju dengan pendapat suamiku. Aku istri yang super duper manja yang sedikit-sedikit masih sering berteriak “abaaang….” hingga terkadang menjadi olok-olokan putri pertamaku. Aku juga istri yang mudah menangis jika suamiku berbicara keras sedikit saja, padahal entah berapa sering aku berteriak-teriak pada suamiku itu.

Jadi jika kalian penasaran mengapa dalam rentang 7 tahun ini rumah tanggaku terbilang aman-aman saja dan terasa menyenangkan. Seharusnya kalian menanyakannya pada suamiku. Entah bagaimana dia bisa bertahan dengan semua sikap menyebalkanku sebagi istrinya ^_^. Dan itulah yang aku sering tanyakan padanya.

Menurut suamiku, pernikahan itu tidak menuntut pribadimu untuk menjadi orang lain. Pernikahan hanya mengubah statusmu menjadi seorang istri dan kemudian ibu. Selama kamu sudah bersikap sepantasnya dalam statusmu sebagai seorang istri dan ibu, itu cukup. Dan karena aku sendiri tak pernah menuntut suamiku untuk menjadi apa atau bagaimana, menjadi lebih mudah bagi suamiku untuk juga menerimaku apa adanya.

Dalam banyak kasus, kita mahfum seorang pria yang diawal-awal mendekati wanita yang disukainya cenderung bersikap manis dan menjadi apa yang diharapkan si wanita. Demikian pula sebaliknya. Dan setelah menikah mungkin masing-masing pihak baru menyadari sifat dan karakter asli pasangannya.

Dalam kasusku, mungkin karena sejak awal mengenal sebagai rekan seorganisasi dan pasca menikah, kami selalu menjadi diri kami sendiri. Maka tak pernah ada ekspektasi berlebih terhadap pasangan. Yang ada proses hidup bersama selama 7 tahun ini membuat kami bisa saling menerima satu sama lain dengan segala keapa-adaan diri kami sendiri.

Berbeda pendapat? Pasti seringlah. Sebagai istri aku paham satu hal, apapun keputusan suamiku, dikompromikannya atau tidak denganku itu adalah mutlak haknya. Penerimaanku akan hal tersebut membuat suamiku justru bersikap terbuka, mengajakku berdiskusi untuk setiap hal, dan mendengarkan pendapatku sebelum memutuskan suatu hal. Untuk hal-hal yang tidak kusetujui meski aku memanyunkan bibirku, suamiku tau bahwa aku pasti menerima keputusannya. Toh, selama ini setiap hal yang diputuskan suamiku belum pernah terbukti menyengsarakan kami ^-^.

Ketimbang romantis, suamiku itu sebenarnya konyol. Setiap jalan bersama dia memang selalu menggandeng tanganku, tapi itupun sambil mengkitik-kitik telapak tanganku. Jika sedang sedih atau ngambek, suamiku tak akan merayuku dengan kata-kata manis. Ia justru akan bersekongkol dengan anak-anak kami untuk kemudian mengolok-olokku, membuat tingkah lucu, atau bahkan menggelitikiku beramai-ramai sampai aku terpaksa berteriak-teriak dan mau tak mau ikut tertawa bersama mereka.

Satu hal yang kami sepakati Cinta dalam pernikahan itu adalah sebuah perasaan yang terus berkembang. Dari sekedar rasa suka, cinta yang menggebu-gebu dan seiring perjalanan waktu akan menjadi cinta yang dewasa dan bertanggung jawab.


Hal-hal kecil yang selalu kami kerjakan bersama-sama. Melibatkan anak-anak dalam setiap aktivitas kami. Mengobrol ringan sebelum tidur. Bergandengan tangan, menonton bersama, mendiskusikan segala hal, saling meledek, tertawa bersama, saling mendiamkan beberapa saat, dan lain-lain. Pada dasarnya semua itu adalah cara kami untuk terus menyemai cinta dalam pernikahan kami dan mewujudkan samara yang kami cita-citakan.

Protes Si Amma


Putri sulungku, Amma Bulan ini genap berusia 6 Tahun. Sepanjang 6 tahun ini jangan ditanya betapa banyak tawa, kekesalan juga inspirasi yang telah dihadirkannya ditengah-tengah kami.
Amma yang kadang sok gede ^_^

Seperti di suatu sore yang cerah itu. Amma dan adiknya Ofi (hampir 3thn) tengah menikmati kudapan sore dan menonton kartun bersama. Aku tengah bersantai dikamar dengan novel ditanganku. Suamiku sibuk dengan print-printannya di ruang samping sambil mengawasi anak-anak. Saat itulah sebuah sms masuk. Dan aku yang kadung malas bangun dari posisi nyamanku dengan teledornya justru berteriak-teriak “abang….abang…. ada sms tuh dari temennya”. 

Aku tau suamiku kurang suka dengan kebiasaanku itu, jadi setengah yakin dia bukan tidak mendengar tapi sengaja mengacuhkanku. Dan aku sedang kumat jailnya sehingga terus-terusan mengulangi panggilanku itu dengan nada berbeda-beda.

Alih-alih meladeniku suamiku justru kian asyik dengan pekerjaannya. Reaksi tak terduga justru muncul dari Amma putri sulungku. Dengan suara kesal dia berkata pada abinya “ Abang….abang tuh dipanggil adek sayangnya, dijawab dong kalau gak tuh si adek sayang gak bakal diam-diam. Kami ini lagi nonton berisik tau”

Aku yang mendengar gerutuan kesal si Amma, kontan terbahak-bahak, melempar novel yang kupegang dan langsung lari keluar menemui suamiku. Suamiku juga menyambutku dengan tawa yang gak kalah hebohnya. “Tuh, dek jangan berisik ngapa?” kata suamiku dengan tawa lebarnya.

“Ih, dah ketemu juga masih ribut aja” lagi-lagi itu protes si Amma. Deuuu…perutku serasa kram menahan tawa. Sok gedenya itu loh bikin gak kuat.

Dan bagaimanapun pada akhirnya aku dan suamiku jadi berdiskusi tentang panggilan kami satu sama lain yang gak berubah dari dulu. Aku tetap memanggilnya “abang”, dan suamiku masih selalu memanggilku “adek”. Panggilan yang seringkali menjadi olok-olokan Amma.











- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -