Search This Blog

Powered by Blogger.

Showing posts with label lomba blog. Show all posts

Ketika Prasangka Buruk Menutupi Hati Nurani, Ingatlah Kunci Bahagia: Jangan Takut Berbagi!

"Males banget liat pengemis apa peminta-minta gitu, banyak tukang tipu. Kadang orang tua gitu emang sengaja dipekerjakan anak-anaknya biar dapat duit banyak..."

Seorang kawan mengomentari ajakan berdonasi yang dishare di salah  satu WAG yang kuikuti. Ajakan donasi itu disertai fhoto seorang kakek tua yang tampak meringkuk di persimpangan jalan dengan sebuah kaleng kecil dihadapannya.


Jangan ditanya, bagaimana akhirnya suasana WAG menjadi panas. Ada yang  menyebutnya tak punya hati dan mungkin ada pula yang diam-diam menyumpahi, aduhai...



Gambar hanya ilustrasi


Banyaknya orang yang menjadikan meminta-minta sebagai mata pencaharian ternyata berimbas besar. Tak jarang prasangka buruk menari-nari mendahului hati nurani. Pun demikian orang-orang 'bodoh' masih banyak. Salah satunya Salsa (bukan nama sebenarnya).

sore itu rumahnya diketuk, seorang wanita muda menggendong balita yang belum genap berumur 2 tahun menunggu di depan pintu. Dengan bingung Salsa menatap mereka, sungguh ia merasa tak kenal ataupun pernah melihat mereka, namun begitu senyumnya terkembang dan bertanya, "Ada apa mba?"

Wanita itu bicara dengan cepat, setengah gugup di awal, "Rumahku di sana mba (sambil menunjuk perumahan tak jauh dari rumah Salsa), aku mau beli susu buat anakku, tapi uangku kurang. Suamiku baru datang lusa. Boleh aku pinjam dulu, Rp50.000 aja mba? Nanti suamiku datang, aku kembalikan."

Salsa tak banyak tanya, tak jua mengamati seksama, ia hanya berkata, "tunggu sebentar!". Dan kembali dengan selembar Rp50.000 di tangan. Menyerahkannya dan dengan cepat berkata, "bawa saja, tidak usah dikembalikan!"



Apakah kalian merasa heran?


Meski seorang ASN, Salsa bukan orang kaya, ia dan suaminya masih mengontrak. Mereka pun memiliki 3 anak usia sekolah dengan kebutuhan tidak sedikit.

Tapi, Salsa memilih berbagi tanpa prasangka. Ia bahkan tak memberinya sebagai utang, karena khawatir wanita itu kesulitan menepati janjinya, dan kelak di akhirat tak bisa masuk surga karena masih tergantung dengan utang-utangnya.



Menjadi penuh prasangka ataupun menjadi 'bodoh' seperti Salsa adalah sebuah pilihan untuk meraih bahagia.

Ya, bahagia!

Terkadang kita tertipu, mengira harta adalah sumber kebahagiaan. Nyatanya berapa banyak orang kaya yang justru terpuruk dan berakhir bunuh diri. Mungkin mereka lupa, bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang bisa kita dapatkan dengan memuaskan 'perut' sendiri, tapi bahagia sejati adalah dengan menerbitkan senyum di wajah orang-orang yang kesusahan lagi membutuhkan.

Jika anda tak mau mengambil resiko dengan berdonasi pada 'pengemis abal-abal', maka banyak sekali pilihan tempat donasi terpercaya lagi amanah. Salah satunya adalah Dompet Dhuafa, sebuah lembaga filantropi yang mengumpulkan Zakat, infaq, sedekah, dan wakaf kaum muslimin untuk kemudian menyalurkannya kepada kaum yang membutuhkan dengan cara membangun.

Dompet Dhuafa bukan sekedar memberi ikan, namun memberi kail. Melalui program pemberdayaan umat, Dompet Dhuafa memiliki cara tersendiri untuk memberantas kemiskinan dan merambah berbagai bidang, di antaranya:

  • Kesehatan
Dompet Dhuafa mendirikan berbagai lembaga kesehatan yang bertujuan untuk melayani seluruh mustahik dengan sistem yang mudah dan terintegrasi dengan sangat baik.
  • Ekonomi
Dompet Dhuafa mengadakan berbagai program pemberdayaan, untuk menciptakan entrepreneur dan lapangan kerja baru.

  • Pengembangan Sosial
Dompet Dhuafa menggandeng para relawan mengunjungi dan membantu para korban daerah tertimpa musibah di berbagai pelosok negeri
  • Pendidikan
Dompet Dhuafa  memberikan program pendidikan dan beasiswa bagi anak-anak Indonesia yang tidak mampu




Jadi, jangan biarkan prasangka membunuh hati nurani kita. Salurkan Infaq, sedekah, dan zakat kita baik secara langsung maupun melalui lembaga terpercaya. Karena berbagi adalah kunci bahagia yang paling sederhana.

Jangan takut berbagi, dan mari berbahagia!
______


“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

Pureit, teknologi praktis pemurni air

Sungguh membuat terkejut, ketika seorang kawan tiba-tiba berpamitan beberapa waktu lalu. Ia terpaksa memutuskan kembali ke Jawa, tanah kelahirannya. 
Apa pasal? 
Ternyata, Kalimantan Timur yang sebagian besarnya merupakan daerah industri menyebabkan polutan dan persediaan airnya pun mengandung zat besi tinggi. Kondisi ini disinyalir memperburuk kondisi anaknya yang menderita autis.

Jujur saja, sebagai orang yang lahir, dan tumbuh besar di Kalimantan saya sendiri terkaget-kaget ketika menengarai fakta tersebut. Sewaktu kecil, saya terbiasa melihat jernihnya aliran sungai-sungai kecil di sekitar pemukiman yang masih rimbun dengan hutan dan belukar. Sungai-sungai kecil yang  bermuara di sungai Kandilo dan terus lagi ke hulu  sungai Mahakam.

Tag : ,

Surat untuk Stiletto Book




Dear Stiletto,

Awalnya aku mendengar nama stiletto karena banyak teman di grup kepenulisan yang kuikuti mencoba mengirimkan naskah ke stiletto. Ada yang lolos dan sudah diterbitkan, ada pula yang belum beruntung.

 Rasanya Stiletto saat ini masih menjadi satu-satunya penerbit yang khusus menerbitkan buku-buku perempuan. Sebuah branding yang bagus menurutku. Jadi ketika para perempuan Indonesia hendak mencari buku-buku bertema perempuan, maka yang terlintas dibenak mereka pertama kali adalah Stiletto.

Karena penasaran dengan branding tersebut aku jadi ingin mencicip rasa stiletto, Maka jadilah beberapa waktu lalu, aku memesan 3 buah buku terbitan stiletto. The Marriage roller coaster, Geek in high heels, and Last Rommate. Pemesananya mudah dan gak pake ama bukunya nyampe. 

Karena aku memilih buku tersebut secara acak saja, aku memang tak berekpektasi apa-apa ketika membaca buku tersebut selain bahwa aku akan menemukan girl power yang katanya memang menjadi ruh buku-buku terbitan stiletto.

Dan harus kuakui dari membaca ketiga buku tersebut aku menemukan rasa yang berbeda-beda.

The Marriage roller Coaster: aku suka buku ini. Rasanya dengan menerbitkan TMRC stiletto telah membantu mencerahkan para perempuan Indonesia. Buku ini memenuhi 3 kriteria dasar dalam penilaian subyektifku : ringan, menghibur, dan ada pesan positif yang tersampaikan.

Perasaan tersebut sedikit berkurang saat membaca GIHH. Buku ini memenuhi 2 kriteriaku: ringan dan menghibur. Tapi pesan yang disampaikannya masih terasa dangkal.
Dan entah mengapa (maafkan aku) perasaanku terjun bebas ketika membaca Last Rommate. LR ini sebenarnya asyik dibaca, ada nilai-nilai positifnya juga, tentang bagaimana kita merasa nyaman dengan diri kita sendiri. Sayangnya premis inilah yang dijadikan pelegalan untuk sebuah hubungan yang “menyimpang”, dalama hal ini hubungan sesame jenis (lesbian). Dan buku ini terlalu asyik dibaca, penyampaiannya smooth sekali hingga diakhir buku pembaca akan seolah terhipnotis dan menarik kesimpulan bahwa hubungan”menyimpang” tersebut sah-sah saja dan seharusnya bisa diterima. Saya memandangnya sebagai Sebuah buku ringan dengan misi berbahaya.

Jadi, saya menyempatkan menulis surat ini karena besar harapan saya bahwa stiletto dengan branding “penerbit buku perempuan”-nya akan benar-benar bisa tumbuh berkembang menjadi penerbit besar yang memberi kontribusi positif bagi perempuan Indonesia yakni dengan menerbitkan bacaan-bacaan yang tidak sekedar menghibur tapi mampu mencerahkan dan meluruskan “kebengkokan” para perempuan.

Akhirnya, terima kasih telah membaca surat ini dan maafkan aku jika ada kata yang tak berkenan. Bagaimanapun aku masih mencandu untuk mencicip lebih banyak lagi buku-buku terbitan stiletto.

With love,

Sarah

Perjalanan Hati : Menapaki jejak rasa


Judul                     : Perjalanan Hati 
 Penulis                  : Riawani Elyta
 Editor                  : Dewi Fita
Perancang sampul   : Dwi Annisa A
Penerbit                : RakBuku
Cet I                     : 2013
Tebal                    : 194 hal. 

Review buku:

Perjalanan hati bertutur tentang Maira yang kembali melakukan backpacker ke anak gunung Krakatau ketika tiba-tiba saja sebuah “dosa” masa lalu suaminya terkuak dengan kedatangan seorang mantan kekasih suaminya dulu, Donna.

Dalam tour yang digawangi agen perjalanan milik  Ibra (adik Maira), ia pun bertemu Andri. Rekan sesama pecinta alam yang dulu ketika mereka bersama kerap dijuluki sebagai “the best couple”. Pertemuan yang sebenarnya memang sebagian tujuan dari perjalanan Maira itu.

 “…..aku sedang ingin memastikan arah hatiku, keyakinanku, bahwa pernikahanku dengan Yudha  adalah sesuatu yang memang kuinginkan dan kuimpikan, sehingga apapun rintangannya, seberat apapun itu tetap akan kuhadapi asalkan pernikahanku bisa terus bertahan” (hal 113).

Ya backpacker kali ini bukan sekedar pengobat rindu akan hobinya sebelum menikah, Maira lebih  ingin memastikan arah hatinya sendiri. Mempertahankan rumah tangganya dengan segala rintangannya ataukah hatinya justru masih lebih condong pada sosok Andri. Sosok yang dulu begitu diharapkannya, namun tak pernah bersikap serius terhadap hubungan mereka.

Di perjalanan itu pula Maira mendengar, hal yang dulu begitu ingin didengarnya dari Andri.
“Sayangnya, aku terlambat menyadari, bahwa perasaanku padamu, itu sesuatu yang serius” (hal 71)

Maka, kemanakah hati Maira merasa lebih condong? Bagaimana pula sikap Yudha ketika menyadari Maira ternyata melakukan perjalanan bersama Andri ?? Apakah perasaan bersalah atas dosa masa lalunya membuatnya membiarkan Maira bersama dengan lelaki lain?? Dan bagaimana pula sikap Yudha terhadap Donna? Apakah rasa kasihan juga rasa bersalah membuat Yudha luluh dan mempertaruhkan keutuhan rumah tangganya bersama Maira???
----------

Sebagai penyuka genre thriller, mistery, suspect, dan sejenisnya, maka membaca genre romance terkadang menjadi bacaan berat untukku. Dan karenanya aku mengapresiasi sekali buku-buku romance yang ketika membuka halaman awalnya mampu membuatku untuk tetap membacanya bukan alih-alih segera tertidur.

Untuk genre kesukaanku, biasanya aku tak akan melewatkan satu kalimatpun di setiap halamannya. Karena dalam genre seperti ini terkadang setiap kata akan merujuk pada sebuah petunjuk penting. Akan halnya genre romance yang main streamnya itu-itu saja dan tidak berubah dari zaman baheula, maka kepiwaian penulis dalam meracik kata dan konflik akan sangat mempengaruhi prosentase skimming halaman demi halaman dalam buku tersebut.

Perjalanan hati,  salah satu genre romance besutan Riawani Elyta, yang juga merupakan buku kedua yang kuselesaikan setelah beberapa waktu lalu membaca Hati memilih.

Jika menilik kecepatan membacaku kali ini yang juga tanpa skimming satu halamanpun tampaknya tulisan romance ala Riawani Elyta kali ini sudah mengalami kemajuan ya (ehem, tentu aja menurut versiku lho… ^_^).

Dengan diksi yang sederhana, untaian kata RE berhasil memikat pembaca.  Rasanya saya bisa membayangkan sosok dan karakter masing-masing tokoh juga merasakan apa-apa yang mereka rasakan.

Mungkin RE sengaja lebih memfokuskan novel ini pada dilema yang harus dituntaskan oleh hati Maira ya? Karena bagi saya di pihak Yudha sendiri, konflik hatinya kurang terasa. Donna itu terlalu “lempeng” sebagai seorang mantan dengan apa-apa yang sudah terjadi di antara mereka. Yudha tampaknya tidak melakukan pergulatan batin yang cukup “dalam”. Di dunia nyata langka deh perempuan seperti Donna ^_^.

Dan mungkin karena saya “merasa” mengenal penulis secara pribadi, saya sedikit berekspektasi bahwa karya-karya yang dihasilkan RE akan memuat sebuah “nilai” lebih. Tidak sekedar nikmat dibaca tapi tetap bernilai dakwah.

Eh maksud saya begini, saya suka novel ini. Saya suka pesan yang ingin disampaikan penulis. Saya menuai hikmah dari apa yang saya baca: keutuhan rumah tangga itu harus diperjuangkan kedua belah pihak, keterbukaan antar pasangan itu penting, membiarkan pasangan lebih mengenal kita itu perlu, memaafkan dan menerima masa lalu pasangan sebagai bagian dari komitmen pernikahan itu sebuah hal yang luar biasa, dan seterusnya. Hanya saja saya berharap lebih.

Novel ini yang sudah keren dengan semua alur, konflik, diksi dan sebagainya mungkin akan lebih keren jika RE menyelipkan pesan “keberagamaan” sesuai yang dianutnya. Lihat saja perjalanan panjang Maira selama backpacker, pernahkah ia sholat?
 
Mungkin RE sengaja menyetingnya demikian agar novel ini bisa diterima semua kalangan. Atau memang Maira ingin ditampilkan sebagai sosok yang tidak terlalu religius. Tapi sebagai orang yang berniat menyebarkan manfaat lewat tulisan saya rasa tak ada salahnya mengingatkan kewajiban sholat bagi para backpacker. Dan itu sangat mungkin dilakukan oleh tokoh Maira jika saja penulis menginginkannya.

Saya juga tergelitik dengan sebuah kalimat:
 “….dosa-dosa elo masih segambreng buat dikikis satu-satu kalo Cuma ngandelin sholat doang”. (hal 59)

Secara keseluruhan cerita saya sangat memahami konteks kalimat tersebut. Tapi pemilihan kata itu tetap menggelitik hati kecil saya. Bagaimanapun sholat itu adalah tiangnya agama. Dan setiap dosa itu seperti yang juga terselip dalam novel ini adalah hak prerogatif Allah untuk mengampuni ataukah menghukum pelakunya.

Sebenarnya karena menilik pribadi penulis yang memang santun dan sholehah (insyaallah) itulah saya berekspektasi bahwa melalui karya-karyanya yang diminati beragam pasar, penulis bisa mengingatkan kewajiban umat tentang ibadah sholat yang sekarang tampaknya sudah demikian mudah diabaikan oleh pemeluknya. Tidak perlu dengan karya yang memang berlabel “islami” tapi justru dalam beragam genre yang memang dikuasai dengan baik oleh penulisnya.

Dan, mungkin saya agak sukar menyampaikan harapan-harapan saya ini. Tapi saya berharap semoga penulis bisa menangkap maksud saya dan sudi memaafkan sedikit kelancangan saya ini.

Akhirnya, semoga mbak Lyta bisa terus menghasilkan karya-karya yang semakin mencerahkan pembaca ke depannya.
==================================
Meski tulisan ini saya tujukan khusus untuk  mba Lyta, tapi rasanya gak salah jika sekalian meramaikan event beliau:




Membentuk karakter pemimpin dengan permainan yang menyenangkan

Setiap anak, baik lelaki maupun perempuan adalah calon pemimpin, minimal pemimpin bagi diri mereka sendiri”
--------------------------------------------------------------------------------------------
“Subhanallah Ummi, Amma adalah anak yang cerdas dan berjiwa pemimpin. Tanpa malu-malu Amma maju kedepan kelas dan dengan lantang bercerita betapa Amma mengagumi sahabat Umar bin Khattab”.
  Sms yang masuk ke ponselku itu benar-benar seperti oase di tengah tumpukan berkas pekerjaanku. Sms-sms serupa kerap kuterima dari ustadzah di kelas RA Amma dulu.

Mengkonsumsi Ramuan Tradisional itu "Indonesia" banget loh.......

Hi, aku sarah ^_^
Dengan bangga aku mengatakan aku adalah salah satu putri Kalimantan ^_^.

Lahir dan tumbuh besar di salah satu pelosok bumi Borneo,  jelas membuatku akrab dengan beragam tumbuhan dan pepohonan. Bahkan saat kecil sekitar rumahku masih di kelilingi hutan, kami tak punya banyak tetangga. Jarak satu rumah ke rumah lain masih sangat jauh.

Dengan kondisi yang masih sangat alami tersebut, penduduk daerahku hampir-hampir tak mengenal obat-obatan kimia. Lantas, apakah aku tak pernah sakit? Hohoho…jangan salah kawan, sedari kecil aku justru sering sakit-sakitan (JANGAN DITIRU, ini adalah contoh penerapan rasa bangga yang amat sangat keliru).

ramuan tradisional
Aneka tumbuhan berkhasiat
Gambar dari sini
Tentu ketika sakit datang, penanganan pertama yang diberikan keluargaku adalah penanganan secara tradisional. Dan begitu saja semak belukar, umbi-umbian, dan aneka dedaunan dari pohon ini dan itu berubah menjadi racikan obat. Entah sekedar  dibalurkan di tubuh maupun yang dengan terpaksa harus kuminum.
Tag : ,

Trend mobile internet VS Tumbuh kembang anak

Jadi ingat deh, zaman kecilku dulu diisi aneka permainan tradisional yang rata-rata berjenis out door. Dari main layangan, main gobak sodor, patu lele, lompat tali, lomba bakiak sampai petak umpet. Permainan indoorpun adalah jenis permainan yang jauuuh sekali dari jamahan teknologi, semisal congklak, ular tangga, puzzle, bongkar pasang, dll.

permainan gobak sodor
Sumber : http://nirwanaaksara.files.wordpress.com/2010/05/gobaksodor.jpg

Saat aku tumbuh dewasa dan menjelma menjadi seorang ibu, rasanya aku tercengang dan terkaget-kaget dengan pergeseran aneka kebiasaan. Terutama mengenai tumbuh kembang anak. Rasanya langka sekali melihat anak-anak yang heboh berlarian mengejar layang-layang atau bermain petak umpet. Bahkan untuk daerah kampung seperti daerahku di salah satu kabupaten di Timur Kalimantan.

Pemandangan yang menjadi biasa adalah anak-anak  mulai dari usia pra sekolah hingga yang berseragam abu-abu yang memenuhi warnet-warnet. Entah sekedar browsing ini itu, hingga bermain game online. Makin kesini  internet yang kian mudah diakses membuat anak-anak tak lagi perlu memenuhi warnet-warnet, karena para orangtua  telah memfasilitasi mereka dengan aneka perangkat canggih. Entah smartphone, ipad, iphone, dan lain sejenisnya   .
Ketika Si Buah Hati Main Gadget Ini yang Perlu Dibimbing dan Diawasi
Sumber: http://www.tribunnews.com/iptek/2013/03/04/ketika-si-buah-hati-main-gadget-ini-yang-perlu-dibimbing-dan-diawasi


Liputan6.com solusi cerdas untuk selalu up to date.

Liputan6.com solusi cerdas untuk selalu up to date.Sebagai IRT yang juga merangkap sebagai wanita bekerja, aku hampir-hampir tak sempat bahkan untuk sekedar mengikuti perkembangan info kekinian baik di dalam negeri apalagi Luar negeri.Ditengah-tengah kesibukan dini hari menjelang berangkat kerja,menyiapkan sarapan, dan menyiapkan anak-anak yang juga harus sekolah aku hanya sempat mendengar potongan-potongan berita pagi yang biasa diikuti suamiku.
Tampilan liputan6.com per 18 Juni 2013


Syukurnya di kantor, pekerjaan mengharuskanku terkoneksi dengan jaringan internet sepanjang waktu sehingga memudahkanku menjelajah dunia maya. Dimana Keberadaan portal-portal berita yang kian marak di media online jelas sangat membantuku untuk selalu up to date dengan informasi-informasi yang tak sempat kutelaah melalui media elektronik maupun media massa lainnya.

 Dengan demikian, tentu aku akrab dengan beberapa portal berita online yang sudah eksis sejak lama. Salah satunya liputan6.com.


Tag : ,

Ciptakan keceriaan dengan luve litee


Pertama kali kenal luve litee, gara-gara es krim campina rasa strawberry ukuran 800 ml yang biasa menjadi favorit anak-anakku sedang kosong di toko langganan kami. Dasarnya anak-anak pemilih, waktu aku tawari dengan alternative rasa lain mereka tetap saja kekeuh harus rasa strawberry.

Cukup lama usaha bujuk-membujuk itu tidak membuahkan hasil, sampai, si kakak yang terus mengubek-ubek box es krim melihat kemasan kotak mungil luve litee raspberry Rosella.

“Mi, ini aja deh, kayaknya ini versi anaknya campina strawberry” Kontan aku tersenyum mendengar kesimpulan sotoy si kakak yang berusia 6 tahun. Tapi demi melihat antusias si kakak yang langsung diikuti adiknya aku gak pikir panjang dan langsung menyetujuinya. Daripada mereka berubah pikiran lagi, wah bakal lama lagi deh membujuknya.
Tag : ,

Obat Generik Berlogo Bukan Obat Kelas Dua




Memiliki dua putri  dengan bakat asma sedari bayi membuatku mau tak mau harus sadar medis. Setiap berpindah domisili,  maka hal pertama yang kami cari adalah tempat pelayanan kesehatan, alamat praktek dokter, dan apotik.

Sewaktu tinggal di Palembang, yang notabene merupakan kota besar, jelas kami tak mengalami kesulitan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Termasuk mendapatkan pelayanan   dan  obat-obatan kelas satuatau obat paten, paling tidak begitulah pikirku saat itu.

Terbiasa mendapat pelayanan kesehatan di dokter praktek, dan sama sekali buta dengan jenis obat-obatan aku terbiasa langsung menebus saja resep yang diberikan. Bahkan meski dengan nominal ratusan ribu rupiah.
Tag : ,

Ngidam Rendang Padang



Bersuamikan pria asli Palembang, membuatku mau tak mau mulai menyukai cita rasa masakan Sumatra. Dan pada akhirnya sedikit demi sedikit mulai bisa memasak beberapa ragam kuliner Sumatra. Salah satu kuliner yang sangat disukai suamiku meski bukan kuliner asli Palembang adalah rendang padang. Untuk kuliner satu ini jangan ditanya, sejak mencicipinya kali pertama akupun sudah jatuh cinta pada cita rasanya.
gambar dari sini
Syukurnya ada seorang tetangga yang bersedia mengajariku cara membuatnya. Tetanggaku ini asli dari Padang, aku memanggilnya uni Vivi. Menurut uni Vivi rendang itu bukanlah nama masakan, melainkan sebutan untuk proses memasaknya. Memasak dengan mengaduk terus-menerus. Berkat ajaran uni vivi, aku berhasil membuat rendang dengan cita rasa pas seperti rendang padang pada umumnya. Jangan tanya betapa doyan suami dan anak-anakku.

Saat ini aku tengah mengandung anak ke tiga kami. Kebetulan sekali sejak 2 tahun lalu kami bermukim di Kalimantan, sebuah daerah kecamatan. Dan jangan tanya betapa aku merindukan masakan  Sumatra. Pada kondisi biasa aku tentu sudah membuatnya sendiri, tapi pada saat hamil aku tak tahan mencium bau rempah-rempah yang biasa memang menyengat pada setiap masakan tradisional Sumatra. Dan bisa diduga kuliner yang begitu kuinginkan tak lain tak bukan adalah Rendang padang

Memenuhi keinginanku tersebut, mau tak mau suamiku berkeliling di kota kami yang kecil mencari rumah makan bertajuk padang dan membawa pulang beberapa potong rendang. Hmmmm…..aku menghargai usahanya, tapi please deh rendang yang dibawa suamiku itu betul-betul tidak berasa rendang, rasanya manis dan gurih. “Ini sih seperti malbi” protesku sambil cemberut. 

Suamiku menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal dan kembali membeli rendang di rumah makan bertajuk padang yang lain. Tapi, sama saja rasanya sungguh jauh berbeda dari rendang padang yang asli. “Ternyata rasa rendang itu semakin bergeser mengikuti jauhnya jarak dari tempat aslinya ya…” aku pasrah dan melupakan keinginanku akan rendang padang.

Saat suamiku pulang dari dinasnya di Jakarta, ia membawakanku rendang kemasan.
 “Coba ini deh dek, kata temen-temen rasanya padang banget deh” suamiku berpromosi. Tapi melihat rendang itu dalam bentuk kemasan, sesungguhnya aku sudah apatis duluan. Apa iya rendang kemasan ini bakalan enak. Dengan ogah-ogahan akhirnya aku membuka kemasan rendang tersebut. Kemasannya terdiri dari dua bagian, alumunium foil dan plastik.
“Jangan khawatir dek, kemasan yang seperti itu menjamin kehigenisannya kok, trus kamu taukan rendang itu emang awet jadi gak perlu pengawet lagi”
“Mang ini beneran bisa langsung dimakan?” aku benar-benar apatis.
“Ya udahlah, diangetin dulu kalu kamu was-was banget”
Maka jadilah aku memilih untuk menghangatkannya terlebih dulu, and then……. Harus kuakui rasanya emang yummy dan padang banget dehJ.
“Di Palembang ada gak?” tanyaku pada suamiku
“Rasanya ada, mang kenapa?” tanyanya lagi
“Minta kirimin dong dari sana” aku tersenyum maniiiiis banget.
gambar dari sini
Sementara suamiku hanya tertawa dan mulai mengangkat selulernya untuk menghubungi saudaranya di Palembang. “Jangan lupa ya harus yang merk Restu Mande” bisikku lagi.
 Aku gak tau ada berapa banyak merk rendang kemasan di luar sana. Tapi aku terlanjur jatuh cinta dengan cita rasa dari Restu Mande, dan aku bukan tipe  orang yang suka mencoba-coba sesuatu yang tak pasti. Jadi kalau ada yang pasti kenapa harus coba-coba……J.

Tag : ,

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -