Kematian mendadak, salah satu tanda akhir zaman
Mendengar berita kematian, seringkali membuatku tanpa sadar meraba dada sendiri, merasakan denyut sang pemompa kehidupan. Terasa lega saat masih merasakan detak ritmisnya, sekaligus takut kala waktu itu tiba sementara diri masih tak siap berbekal.
Akhir-akhir ini sering kali mendengar kabar orang mati mendadak. Pagi harinya masih saling berkirim kabar, siang hari tiba-tiba mendengar kabar kematiannya. Atau seseorang yang sedang bercengkrama bersama kita, tiba-tiba memegang dadanya dengan kesakitan, kemudian tergeletak dan tidak bangun lagi selamanya.
Berdasarkan kabar-kabari di seantero dunia, zaman ini angka kematian mendadak memang terbilang meningkat. Baik oleh serangan jantung, stroke, hingga wabah penyakit. Yang kita lupa, fenomena kematian mendadak ini merupakan salah satu tanda akhir zaman.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda,
إِنَّ مِنْ أَمَارَاتِ السَّاعَةِ …أَنْ يَظْهَرَ مَوْتُ الْفَجْأَةِ
“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah…munculnya kematian mendadak.”[1]
Bahkan kematian mendadak juga menimpa hewan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اُعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ: مَوْتِيْ، ثُمَّ فَتْحُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ، ثُمَّ مُوْتَانٌ يَأْخُذُ فِيْكُمْ كَقُعَاصِ الْغَنَمِ، ثُمَّ اسْتِفَاضَةُ الْمَالِ حَتَّى يُعْطَى الرَّجُلُ مِائَةَ دِيْنَارٍ فَيَظَلُّ سَاخِطًا، ثُمَّ فِتْنَةٌ لاَ يَبْقَى بَيْتٌ مِنَ الْعَرَبِ إِلاَّ دَخَلَتْهُ، ثُمَّ هُدْنَةٌ تَكُوْنُ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ بَنِي اْلأَصْفَرِ، فَيَغْدِرُوْنَ فَيَأْتُوْنَكُمْ تَحْتَ ثَمَانِيْنَ غَايَةً، تَحْتَ كُلِّ غَايَةٍ اِثْنَا عَشَرَ أَلْفًا.
“Perhatikanlah enam tanda-tanda hari Kiamat: (1) wafatku, (2) penaklukan Baitul Maqdis, (3)wabah kematian (penyakit yang menyerang hewan sehingga mati mendadak) yang menyerang kalian bagaikan wabah penyakit qu’ash yang menyerang kambing, (4) melimpahnya harta hingga seseorang yang diberikan kepadanya 100 dinar, ia tidak rela menerimanya, (5) timbulnya fitnah yang tidak meninggalkan satu rumah orang Arab pun melainkan pasti memasukinya, dan (6) terjadinya perdamaian antara kalian dengan bani Asfar (bangsa Romawi), namun mereka melanggarnya dan mendatangi kalian dengan 80 kelompok besar pasukan. Setiap kelompok itu terdiri dari 12 ribu orang.” [2]
Menjelang akhir zaman, juga menyambut kematian yang pasti adanya, sudah sepantasnyalah kita menyibukkan diri mempersiapkan bekal yang berguna, alih-alih justru terlena dengan tipu daya syaitan yang memperindah segala bentuk kemaksiatan. Mana tahu, sebentar lagi kematian mendadak menjemput kita. Semoga ketika kematian datang, menjadi tempat beristirahat bagi kita dan tak menjadikannya sebentuk penyesalan abadi.
Dari ‘Aisyah bahwasanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
موت الفجأة راحة للمؤمن وأخذة أسف للكافر
“Kematian mendadak adalah istirahat bagi mukmin dan penyesalan bagi orang kafir”[3]
Syaikh Abdul Aziz bin Bazrahimahullah berkata,
جاء في بعض الأحاديث ما يدل على أن موت الفجأة يكثر في آخر الزمان، وهو أخذة غضب للفاجر، وراحة للمؤمن، فقد يصاب المؤمن بموت الفجأة بسكتة أو غيرها ويكون راحة له ونعمة من الله عليه؛ لكونه قد استعد واستقام وتهيأ للموت واجتهد في الخير فيؤخذ فجأة وهو على حال طيبة على خير وعمل صالح، فيستريح من كرب الموت وتعب الموت ومشاق الموت، وقد يكون بالنسبة إلى الفاجر قد يقع هذا بالنسبة إلى الفجار وتكون تلك الأخذة أخذة غضب عليهم، فوجؤوا على شر حال.
“Pada sebagian hadits terdapat dalil mengenai kematian medadak yang akan banyak pada akhir zaman. Yaitu penyesalan bagi orang fajir dan istirahat bagi orang mukmin.Terkadang seorang mukmin tertimpa dengan kematian mendadak seketika, ini adalah bentuk istirahat dan kenikmatan dari Allah. Akan tetapi tentu saja ia sudah menyiapkan (amal shalih), istiqamah dan bersiap-siap menghadapi kematian dan bersungguh-sungguh dalam kebaikan, kemudian ia meninggal dalam keadaan baik dan melakukan amal shalih. Maka ia istirahat dari beban dunia, kelelahan dan penderitaan sakratul maut. Terkadang juga menimpa orang fajir, maka ini menjadi penyesalan baginya, meninggal mendadak dalam keadaan buruk.”[4]
Referensi:
[1] HR. Thabrani; Dhiya’ Al-Maqdisi; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami, no: 5775
[2] HR. Al-Bukhari no. 3176
[3] HR. Ahmad dan Ibnu Syaibah dalam Mushannafnya
Cantik dengan madu
Mahmud Abas, krisis pede di tengah lautan fasilitas.
satu ayat yang disampaikan, sudahkah diamalkan???
Melalui perantara kata-kata mereka tak hanya satu dua orang yang mendapatkan hidayah.Memulai kehidupan baru dengan kualitas iman yang (إن شاء الله )lebih baik.Dibalik perceraian
Dunia ini memang sudah renta, hingga sebuah mahligai cinta yang sah nyaris tak punya makna. Kata talak a.k.a perceraian tak lagi menjadi hal tabu dan langka.Bersegera kemana.....
Tawananku yang cerdas...
![]() |
| image from: klik di sini |
"Aku iri", katanya...
"Heeh, kenapa?" jawabku pendek.
"pernah pdkt sama kamu ya?" tanyanya lagi.
"Hmmmm, kirain nggak tau" jawabku cengar-cengir, tapi tumben si ayank mukanya serius banget.
"Dia, salah satu dari orang yang abang iriin."
Nah, itu kabar baru buatku. suamiku iri sama orang yang konon, dulu kala di zaman bahula, diduganya pernah pdkt padaku.
"why?" tanyaku pendek.
Alih-alih menjawab, ia menyodorkan smartphonenya ke hadapanku.
Mendapati profile si x di akun facebooknya, awalnya aku bingung, apanya yang diiriin. We are not type people who care about how rich some others.
Belakangan aku baru ngeh, si x ternyata sudah berhasil membangun sebuah pesantren modern. Nah, itu baru sesuatu yang pantas diiriin.
![]() |
| No matter what, Our love is a story... |
Putri api versus putri gentong
" okeeh....cerita apa kita malam ini?" Aku menjawab dengan semangat yang masih full charged.
"Itu loh mi, lanjutan Putri api dan putri gentong...." jawabnya semangat. Sayangnya, jawaban penuh semangat itu dibalas dengan kebengongan si emak "cerita apaan tuh?"
wew, si putri dah cemberut aja, sementara emaknya garuk-garuk kepala yang mendadak jadi gatal.
Melihat tingkat kemajuan bibir mungilnya, sepertinya ingat tidak ingat, itu kisah musti berlanjut.
Syukurlah, si kakak yang sedari tadi cuek bebek mendadak bersuara, "itu loh mi, cerita putri-putrian, yang menyindir kita-kita ini. putri api tuh si rofi yang selalu kepanasan dan marah-marah.kalu putri gentong itu ya siapa lagi anak ummi yang gendut kalu bukan Amma. trus, putri api itu minta air sama putri gentong biar apinya padam, putri gentong mau ngasih tapi ada syaratnya gitu. makanya ummi itu kalu lagi cerita jangan pake ngantuk, aneeeeeh tau ceritanya. ngaco gitu."
Ujungnya ilmu...
Hal itu senadalah dengan perkataan Ibnu Mas'ud Radiyallahu anhu,
"Cukup rasa takut kepada Allah disebut ilmu dan cukup orang yang terbuai dengan karunia Allah disebut bodoh"
-Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 3: 333-
Saling berfastabiqul khairat itu okeee banget….saling menasehati dalam kebaikan dan kasih sayang itu juga kereeen banget…tapi yang paling penting ilmu itu kan nggak buat ditumpuk aja yee kek koleksi barang antik…actionnya mana??? Iya…action. Setelah berlelah-lelah menuntut ilmu, seharusnya para thalabul ilmu sampai pada taraf, ilmunya itu menjelma dalam kesehariannya, dalama bahasa kerennya, amal.
So orang yang berilmu nggak perlu mentahzir orang lain untuk menunjukkan ketinggian ilmunya. Nggak perlu juga ceramah sampai berbusa-busa dan ngotot jadi makhluk paling benar sedunia. Tunjukin aja akhlak yang santun. Perbaiki aja ibadah amaliyahnya. Dakwah dengan teladan itu lebih makjleb di hati kok...^_^
Aku serius loh.
Happiness is...
Begitu kira-kira status seorang kawan yang konon katanya menderita sebuah penyakit akibat tekanan perasaan. (Syafakillah ya saudariku…)
Akan selalu ada satu dua cibiran atas semua niat baik dan ketulusan.
Stop Komen...
Komentar saya tersebut terlontar lantaran si empunya grup memosting sebuah wacana terkait "hijrah"nya seorang artis berinisial TW. Sebagian postingannya begini:
kiki emoticon"Omong-omong soal hijrah, memang bisa dalam berbagai macam bentuk. Tetapi melihat hijrah ala TW saya malah merasa aneh. Kenapa? Karena hijrah yang hakiki itu soal akhlakul karimah (perilaku yang baik) dan hati (kejernihan jiwa). Ilustrasinya begini, laki-laki bisa saja memakai jubah sebagaimana orang Arab dengan maksud meneladani Nabi Saw, tetapi di saat yang sama Abu Jahal yang jahat pun juga memakai jubah. Jadi memakai jubah, berjenggot dan lainnya bisa berpotensi baik dan buruk.
Perhatikan kata-katamu !!!
Pagi ini, seorang kawan mengupdate status dengan kalimat yang wow, cetar, membadai (ahahai ini mah lebay). Kira-kira begini bunyinya : "Dulu aku R2, sekarang aku R1 (ini doaku)".
Oh ya, kalau kalian nggak tau R itu apa, sini deh aku bisikin. "R itu maksudnya Ratu". Ratu? Ya, Ratu. Ratu di mana? Ratu di hati suami dong. Nah kalau menilik angka di belakangnya 1, 2, dan seterusnya, mahfum dong, itu maksudnya ratu pertama, ratu kedua, dan seterusnya. Dengan kata lain istri pertama, istri kedua, dan seterusnya. Ahahai nggak usah shocklah, kawanku ini memang pelaku Ta'adud alias poligami kok.
Nah, kembali menyoal statusnya dengan kalimat yang demikian. Bermunculan komentar-komentar yang nggak kalah wow. Beberapa komentarnya kira-kira begini:
- "R2 memang kejam"
- "Aku menyimpulkan mba bukan madu yang baik karena ingin merebut posisi R1."
- "Anda mendoakan R1 anda berpisah dengan suami? atau mendoakan ia meninggal dunia?"
-dll
Aku sendiri memilih tak berkomentar, meski hatiku tersengat gatal-gatal ^_^. Ia yang kutahu tak demikian. Ia yang kutahu wanita sholehah, insyaa Allah.
Belakangan ia muncul dan merasa takjub akan banyaknya komentar di statusnya tersebut. Ia pun menjelaskan maksud statusnya. Dulu ia R2, sekarang ia sudah menjadi R1, dan doanya adalah agar ia bisa segera memiliki madu lagi. Ia pun menyatakan keheranannya, mengapa begitu banyak yang salah paham membaca statusnya. (Kamu, ya...kamu yang baca tulisanku ini, ngerti nggak maksud status temenku itu?xixixi)
Ahahai, sampai kemudian, status tersebut dihapus, aku menahan diri untuk tak berkomentar (secara komentarku juga nggak penting gitu loh^_^). Intinya aku menulis ini sekedar reminder, terutama untuk diriku sendiri, bahwa sebuah maksud yang sama, disampaikan secara berbeda, bisa lewat tulisan, bisa melalui lisan, cenderung mengalami pergeseran makna yang signifikan ketika kita tidak memilih kata-kata kita dengan tepat. Bahasa tulisan, cenderung memiliki dampak ambigu ketika kita keliru meramu kalimat.
Nah, akhirnya waktu lima belas menitku usai, must back to jungle deh ^_^
*Edisi kangen ngisi blog ^_^
The Good wife is YOU...
“Bila seorang perempuan menunaikan shalat lima waktunya, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya(kehormatannya), dan taat kepada suaminya, maka diserukan kepadanya ‘Masuklah kamu ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu mau’.”
Istri yang cantik?
atau apa????
Aku sih cuman pengen satu predikat, Istri yang baik.
“Sebaik-baik istri adalah yang menyenangkan suami bila dipandang, yang menaatinya jika diperintah, tidak menyelisihi terkait diri dan hartanya dengan melakukan sesuatu yang tidak disukai suami.” (Diriwayatkan oleh Nasa’I, diriwayatkan juga oleh Ahmad)
Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. An Nisaa: 19)
Tidak perlu menjadi sempurna, cukuplah berusaha dengan kesungguhan hati agar menjadi lebih baik hari ke hari. Suami kita insyaallah akan menghargai setiap usaha kita untuk menjadi lebih baik itu.
Ketika kita sudah mengerahkan usaha terbaik kita, rasanya suami tak akan segan berkata :

Pada Mama, aku mengambil ibroh...
Duh mama, keikhlasanku jauh tertinggal dari mama, kasih sayangku padamu tentu tak akan sanggup menyamai sedikitpun kasih sayangmu padaku. Karenanya mama, izinkan aku menutupi semua kekuranganku dengan lantunan doa-doaku untukmu. Semoga Allah senantiasa memberkahi sisa usiamu dan mengampuni setiap khilaf dan salahmu.
Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera.
Waktu
Kalimat panjang itu diucapkannya dengan meminta perhatian penuh dariku. Ia dengan sengaja memegangi kedua pipiku dan memintaku menatap tepat ke matanya.
Kalimat yang ketika ia selesai mengucapkannya membuatku tak tahu harus menjawab apa.
Perasaanku tiba-tiba menjadi absurd. Entah harus tertawa ataukah menangis. Ia putriku. Baru berusia 4 tahun 4 bulan. Tak ada angin tak ada hujan, tak ada tanda-tanda yang mengindikasikan bahwa ia akan melontarkan kalimat yang demikian cetar membahana.
Kakaknya, putri pertamaku yang berusia 7,5 tahun menanggapinya dengan beristighfar nyaring.
"Ayo rofi, istighfar. Kamu itu masih kecil. Sekolah aja belum. sudah ngomong kayak begitu. Malu-maluin aja." lanjutnya pula.
Saat itu, aku hanya tersenyum dan melerai mereka yang bersiap adu mulut. Kemudian menyatukan mereka dalam pelukanku.
Bersaat-saat setelahnya, bahkan hingga detik aku menuliskannya aku masih terngiang-ngiang perkataan putri kecilku itu.
Awalnya aku seolah diingatkan bahwa anak-anakku tak selamanya menjadi anak-anak yang membutuhkanku dalam banyak hal. Perlahan-lahan namun pasti waktu merangkak mengantarkan mereka menjadi putri-putri dewasa yang akan menjalani kehidupan mereka sendiri.
Aku seolah tertampar, betapa aku menyia-nyiakan waktu kecil mereka dengan semua omelan dan kemarahanku yang tidak semestinya. Toh, mereka tak akan lama menjadi anak-anak yang mengerubutiku kemana-mana.
Suatu waktu di masa depan kelak, aku pasti akan merindukan saat-saat dimana mereka merecokiku dengan permintaan dan kemanjaan ini itu.
Dan pada akhirnya aku menyadari, waktu memang tak bisa terulang namun ia membangun siklus serupa. Seketika aku memahami arti air mata di wajah mama saat melepasku pergi bersama suamiku. Sebuah moment yang kelak sangat mungkin kujalani pula,
Yah, cinta memang membuahkan rindu. Rindu yang menjadikan setiap waktu bersama menjadi lebih berharga...
Mendadak sinetron...
Tiba-tiba beberapa waktu lalu, TV menyala di waktu yang tidak disepakati. Bisa jadi kerjaan si sulung atau bisa jadi ulah si nomer dua. Meski kemudian kedua-duanya justru sibuk membongkar mainan dan mewarnai ini itu.
Alhasil aku yang berniat mematikan TV justru terkesima dengan salah satu sinetron di salah satu stasiun TV swasta tersebut. Meski melihatnya sebentar, aku merasa ada yang berbeda dari sinetron tersebut. Akhirnya di waktu luang aku mensearchnya di Youtube.
Ah ya, pada akhirnya aku tau sinetron ini beda karena karakternya tidak terlalu hitam putih. Karakternya manusiawi. Tokoh baik bisa saja merasa kesal dan berbuat salah. Tokoh jahat ternyata masih punya hati dan nurani. Sinetron yang konon sudah 300 episod ini memang menyoal cinta-cintaannya anak muda tapi melihat beberapa scene aku sih tertarik.....wkwkwkwk.
Lepas dari aku yang mendadak penasaran dengan kelanjutan kisahnya, sinetron ini bukan jenis yang "mendidik" sih, tapi bisa dibilang udah gak drama bangetlah, pesan moril soal persahabatan, ketulusan, dan arti cintanya cukup tersampaikan. Tetep, aku tidak merekomendasikannya untuk ditonton wkwkwk.....
#catatangakpentingemakrempong *_*
Curhatnya emak rempong...
Ngiik ngook.....selalu ya, rumput tetangga terlihat lebih hijau ^_^.
Komentar tersebut terlontar dari seorang kawan yang tengah stress berat menghadapi tingkah putra sulungnya.
Dan ya, sebagai orang yang low profile (ngakunya) aku sih senyam-senyum aja.
Padahal aku juga pernah loh merasa lost control dan seolah bertanduk lima menghadapi anak-anakku. Karena meskipun ada yang membantu di rumah, (inget ya mereka itu sekedar membantu). Aku terbiasa mengusahakan untuk sesedikit mungkin menggunakan bantuan mereka. Dan aku orang yang anti punya ART yang tinggal di rumah. Mengurangi privasi.
Si kecil biasanya kutinggal dalam keadaan wangi dan kenyang. Si Bibi kebagian tugas mengajaknya jalan-jalan pagi, sebelum akhirnya ia tertidur. Jus, cemilan dan makanan sudah kusiapkan, tinggal diberikan sesuai jam yang sudah kujadwalkan. Kakak-kakaknya yang sudah sekolah, bukan sekolah di sekolah umum yang full day dari pagi sampai sore, tapi sekolah di Home schooling berlembaga, yang tetap melibatkan orang tua secara aktif dalam pembelajarannya. Kami punya jadwal khusus setiap harinya yang harus dihandle orang tua di rumah. Alhamdulillah sejauh ini kami konsisten dengan jadwal tersebut.
See???? meski bekerja, aku berusaha menjadi ibu yang tetap mengurus tumbuh kembang anak-anakku sendiri. Karena bagaimanapun aku tahu tanggung jawab sebagai ibu itu tak bisa diwakilkan pada siapapun, Ibu anak-anakku hanyalah aku seorang.
Sementara sebagai pekerja, tanggung jawabku bisa dengan mudah dilimpahkan pada siapapun. Karena yang bisa melaksanakan tugas-tugasku bukan hanya aku seorang. Tentu hal ini tak membuatku menjadi pekerja yang malas dan tak bertanggung jawab. Don't worry be happy i try to do my work with better day to day.... (oh please jangan komentari grammarku ya....^_^)
Ahahai....kenapa jadi menjelaskan panjang lebar begini yak? @_@
Intinya sih, tidak ada kehidupan seseorang yang lebih enak atau lebih nyaman ketimbang kehidupan seseorang yang lain. Yang ada hanyalah bagaimana seseorang itu bersyukur atau tidak dengan kehidupan yang dilakoninya. Toh setiap manusia memiliki ujiannya masing-masing. Ketimbang sibuk mengasihani diri dan merasa iri, lebih baik toh jika kita terus menyiapkan bekal untuk menjalani hidup kita dengan sebaik-baiknya????
![]() |
Jujuran, tidak melulu soal prestise sosial...
#1.Anak cerdas, banyak tanya????
Matematikanya adalah matematika dasar, berkutat seputar pengurangan, penambahan, pembagian, dan perkalian. Sampai 2 tahun mendatang hingga Amma duduk di kelas 4 (insyaallah), ia tak akan mengeryit kening memahami rumus-rumus aljabar.
Bahasa Indonesianya, karena Amma sudah lancar membaca adalah sejarah Islam dan sirah Nabawiyah. Tentu saja dalam bahasa yang sudah disederhanakan.
9 Juli 2014, kenapa berbeda?
Aku, kamu, mengerti benar arti tanggal tersebut.
![]() |
| (9 juli 2006 - 9 Juli 2014) |
Pureit, teknologi praktis pemurni air
![]() |












.jpg)