Search This Blog

Powered by Blogger.

Kematian mendadak, salah satu tanda akhir zaman

Mendengar berita kematian, seringkali membuatku tanpa sadar meraba dada sendiri, merasakan denyut sang pemompa kehidupan. Terasa lega saat masih merasakan detak ritmisnya, sekaligus takut kala waktu itu tiba sementara diri masih tak siap berbekal.

Akhir-akhir ini sering kali mendengar kabar  orang mati mendadak. Pagi harinya masih saling berkirim kabar,  siang hari tiba-tiba mendengar kabar kematiannya. Atau seseorang yang sedang bercengkrama bersama kita, tiba-tiba memegang dadanya dengan kesakitan,  kemudian tergeletak dan tidak bangun lagi selamanya.

Berdasarkan kabar-kabari di seantero dunia,  zaman ini  angka kematian mendadak memang terbilang meningkat. Baik oleh serangan jantung,  stroke, hingga wabah penyakit. Yang kita lupa,  fenomena kematian mendadak ini merupakan salah satu tanda akhir zaman.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

إِنَّ مِنْ أَمَارَاتِ السَّاعَةِ …أَنْ يَظْهَرَ مَوْتُ الْفَجْأَةِ

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat adalah…munculnya kematian mendadak.”[1]

Bahkan kematian mendadak juga menimpa hewan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اُعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ: مَوْتِيْ، ثُمَّ فَتْحُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ، ثُمَّ مُوْتَانٌ يَأْخُذُ فِيْكُمْ كَقُعَاصِ الْغَنَمِ، ثُمَّ اسْتِفَاضَةُ الْمَالِ حَتَّى يُعْطَى الرَّجُلُ مِائَةَ دِيْنَارٍ فَيَظَلُّ سَاخِطًا، ثُمَّ فِتْنَةٌ لاَ يَبْقَى بَيْتٌ مِنَ الْعَرَبِ إِلاَّ دَخَلَتْهُ، ثُمَّ هُدْنَةٌ تَكُوْنُ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ بَنِي اْلأَصْفَرِ، فَيَغْدِرُوْنَ فَيَأْتُوْنَكُمْ تَحْتَ ثَمَانِيْنَ غَايَةً، تَحْتَ كُلِّ غَايَةٍ اِثْنَا عَشَرَ أَلْفًا.

“Perhatikanlah enam tanda-tanda hari Kiamat: (1) wafatku, (2) penaklukan Baitul Maqdis, (3)wabah kematian (penyakit yang menyerang hewan sehingga mati mendadak) yang menyerang kalian bagaikan wabah penyakit qu’ash yang menyerang kambing, (4) melimpahnya harta hingga seseorang yang diberikan kepadanya 100 dinar, ia tidak rela menerimanya, (5) timbulnya fitnah yang tidak meninggalkan satu rumah orang Arab pun melainkan pasti memasukinya, dan (6) terjadinya perdamaian antara kalian dengan bani Asfar (bangsa Romawi), namun mereka melanggarnya dan mendatangi kalian dengan 80 kelompok besar pasukan. Setiap kelompok itu terdiri dari 12 ribu orang.” [2]

 Menjelang akhir zaman,  juga  menyambut kematian yang pasti adanya, sudah sepantasnyalah kita menyibukkan diri mempersiapkan bekal yang berguna, alih-alih justru terlena dengan tipu daya syaitan yang memperindah segala bentuk kemaksiatan. Mana tahu,  sebentar lagi kematian mendadak menjemput kita. Semoga ketika kematian datang, menjadi tempat beristirahat bagi kita dan tak menjadikannya sebentuk penyesalan abadi.

Dari ‘Aisyah bahwasanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

موت الفجأة راحة للمؤمن وأخذة أسف للكافر

“Kematian mendadak adalah istirahat bagi mukmin dan penyesalan bagi orang kafir”[3]

 

Syaikh Abdul Aziz bin Bazrahimahullah berkata,

جاء في بعض الأحاديث ما يدل على أن موت الفجأة يكثر في آخر الزمان، وهو أخذة غضب للفاجر، وراحة للمؤمن، فقد يصاب المؤمن بموت الفجأة بسكتة أو غيرها ويكون راحة له ونعمة من الله عليه؛ لكونه قد استعد واستقام وتهيأ للموت واجتهد في الخير فيؤخذ فجأة وهو على حال طيبة على خير وعمل صالح، فيستريح من كرب الموت وتعب الموت ومشاق الموت، وقد يكون بالنسبة إلى الفاجر قد يقع هذا بالنسبة إلى الفجار وتكون تلك الأخذة أخذة غضب عليهم، فوجؤوا على شر حال.

 

“Pada sebagian hadits terdapat dalil mengenai kematian medadak yang akan banyak pada akhir zaman. Yaitu penyesalan bagi orang fajir dan istirahat bagi orang mukmin.Terkadang seorang mukmin tertimpa dengan kematian mendadak seketika, ini adalah bentuk istirahat dan kenikmatan dari Allah. Akan tetapi tentu saja ia sudah menyiapkan (amal shalih), istiqamah dan bersiap-siap menghadapi kematian dan bersungguh-sungguh dalam kebaikan, kemudian ia meninggal dalam keadaan baik dan melakukan amal shalih. Maka ia istirahat dari beban dunia, kelelahan dan penderitaan sakratul maut. Terkadang juga menimpa orang fajir, maka ini menjadi penyesalan baginya, meninggal mendadak dalam keadaan buruk.”[4]

 
Referensi:

www.muslimafiyah.com

 
 

[1] HR. Thabrani; Dhiya’ Al-Maqdisi; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami, no: 5775

[2] HR. Al-Bukhari no. 3176

[3] HR. Ahmad dan Ibnu Syaibah dalam Mushannafnya

Tag : ,

Cantik dengan madu

Semua orang,  khususnya wanita pasti mendambakan kulit cantik dan sehat. Maka tak heran jika produsen produk kecantikan berlomba-lomba memasarkan produknya bahkan dengan iming-iming cantik secara instan.

Tentu kita mahfum,  tidak sedikit dari produk kecantikan tersebut yang mengandung zat kimia berbahaya. Padahal di sekitar kita banyak sekali bahan-bahan alami yang bisa menunjang kecantikan kulit dan wajah. Memang sih,  perlu sedikit usaha dalam mengolahnya,  tapi sebandinglah dengan hasil jangka panjangnya. Ingat ya, produk-produk yang menjanjikan hasil instan itu jelas bahayanya!!!

Salah satu bahan alami yang familiar digunakan sebagai perawatan kecantikan kulit dan wajah adalah madu.

Siapa tak kenal madu, salah satu produk alam yang kaya manfaat,  tidak hanya untuk kesehatan dan kebugaran tubuh,  ternyata madu juga berkhasiat untuk merawat kecantikan kulit dan wajah.
Madu bisa dipakai langsung sebagai masker alami,  bisa pula dimix and match dengan bahan lainnya sesuai kebutuhan dan kondisi kulit.

Berikut adalah beberapa resep mix and match madu sebagai perawatan kecantikan yang sudah pernah saya coba:

1. Madu

Madu efektif untuk menghentikan peradangan jerawat. Cukup oleskan madu pada jerawat, diamkan 15 menit dan bilas dengan air hangat.

2. Madu dan Jeruk Nipis
Perpaduan Madu dan Jeruk Nipis efektif untuk melembabkan serta mencerahkan kulit wajah. Cara pembuatannya pun cukup mudah. Siapkan satu sendok madu, campurkan dengan perasaan jeruk nipis (resep aslinya menyebutkan satu buah jeruk nipis, tapi saya sendiri menggunakan hanyanya seiris kecil) oleskan pada wajah, tunggu hingga kering danbilas dengan air hangat.

3.Madu dan susu
Saya sangat suka efek wajah pasca menggunakan campuran madu dan susu sebagai masker, wajah jadi terasa kenyal dan lembab. Susu yang saya gunakan adalah susu bubuk instan, cukup sesendok. Larutkan dengan sedikit air agar menyerupai pasta, lalu campurkan dengan sesendok madu. Oleskan ke wajah dan bilas air hangat ketika masker mengering.

4. Madu dan Tomat
Campuran Madu dan tomat ini sangat bermanfaat untuk jenis kulit berminyak.  Pure tomat itu daging tomat yang dihaluskan, campurkan dengan sesendok madu, aduk rata. Oleskan diwajah sampai kering. Bilas dengan air hangat.

5. Madu dan minyak Zaitun
Campurkan satu sendok mdu dengan satu sendok minyak zaitun, aduk rata. oleskan di wajah hingga sekitar 15 menit. Bilas dengan air hangat. Jika digunakan rutin ramuan ini efektif untuk mencerahkan wajah dan mengecilkan pori-pori kulit.

6. Madu dan buah
Madu juga sangat baik digunakan sebagai masker dengan menambahkan buah-buahan yang sesuai.
Campuran buah yang biasa saya kombinasikan dengan madu adalah pisang, pepaya, dan alpukat. Masker Madu dan pisang yang dihaluskan sangat bermanfaat untuk mengangkat sel-sel kulit mati, mengencangkan dan juga menghaluskan wajah. Masker Madu dan pepaya yang dihaluskan juga sangat efektif untuk mencerahkan kulit. Masker Madu dan alpukat efektif untuk melembabkan kuit yang cenderung kering.

Dan masih banyak lagi mix and match masker alami berbahan madu.
Sebenarnya kulit saya cenderung normal, jadi menggunakan mix and match beragam bahan alami so far is so good ^_^

Dari hasil googling, saya menemukan cara tepat untuk menggunakan masker. Kalau kamu malas googling berikut saya bagi tipsnya:

Sebelum menggunakan masker alami, cuci bersih muka menggunakan cleanser atau sabun muka yang biasa kamu gunakan, keringkan dengan handuk lembut, jangan digosok tapi ditepuk-tepuk lembut. Setelahnya siapkan mangkuk yang diisi air panas, uapkan wajah menggunakan air tersebut sekitar 5 menit, ini efektif untuk membuka pori-pori wajah. Jika berkeringat, keringkan wajah dengan tisu atau handuk lembut, kemudian apply masker di seluruh wajah, hindari bagian mata dan bibir. Setelah masker kering, cuci bersih dengan air hangat. setelahnya gosok lembut wajah dengan es batu, ini berguna untuk menutup kembali pori-pori wajah, atau bisa juga mencuci muka saja dengan air es. 

Menggunakan Masker alami memang tidak memberikan efek instan, namun dengan penggunaan rutin dan telaten, insyaallah kulit sehat dan cantik secara alami bisa kita miliki.

Mau mencoba???


Mahmud Abas, krisis pede di tengah lautan fasilitas.

Sok sibuk di dunia nyata,  membuatku terkaget-kaget ketika mendapati newsfeed di akun jejaring sosialku ramai menggosipkan si Mahmud Abas.

Asli berasa kudet sekali, karena sepanjang ingatanku tak ada 'seleb' (baik dari kalangan politikus,  entertainment,  hingga seleb fesbukiyun) yang bertajuk Mahmud Abas,  kalau Farhat Abas sih saya tau @_@

Ditambah lagi diberitakan sepak terjang si Mahmud Abas ini luar biasa aktif. Di mana ada perang  antar ibu,  entah itu masalah full mom vs working momhomemade Mpasi vs instan made food, Asi vs suforlahiran normal vs caesar,  pro kontra imunisasi,  sampai soal dukun apa dokter,  si Mahmud Abas ini senantiasa di sebut-sebut.

Sempat terpikir,  jangan-jangan si Mahmud Abas ini rekannya si Yugo the negotiator, yang kerjaannya negosiasi pelepasan sandera dalam kasus-kasus penculikan. yah paling tidak in my small mind,  aku berpikir si Mahmud Abas ini memang saudaraan juga sama pengacara seleb FA itu,  trus doi lagi kerja sosial buat mediasi ibu-ibu yang sibuk war ini itu.

Lain waktu,  aku berpikir lagi Mahmud Abas ini bisa jadi serikat baru entah dengan misi apa. Karena tak sedikit kawan-kawan di jejaring sosialku yang mengklaim dirinya sebagai golongan Mahmud Abas. Nah loh???

satu ayat yang disampaikan, sudahkah diamalkan???

Makin ke sini,  makin sering menjumpai orang-orang yang "berkostum" beriman,  dimana kostum tersebut ditunjang pula dengan untaian kata-kata "berisi" lagi penuh nasehat.
Melalui perantara kata-kata mereka tak hanya satu dua orang yang mendapatkan hidayah.Memulai kehidupan baru dengan kualitas iman yang (إن شاء الله )lebih baik.

Namun,  satu dua dari mereka ini justru terkadang lalai mengamalkan ilmu yang kerap mereka dakwahkan tersebut. sungguh alangkah meruginya, jika kita termasuk golongan ini, golongan orang-orang yang menjadi perantara bagi orang lain menuju surga,  sementara diri kita sendiri dilemparkan ke neraka.

Makin ke sini lagi,  Ghiroh "Sampaikanlah walau satu ayat" ini makin terdukung.  Ditunjang dengan aneka gadget canggih yang menghubungkan kita dengan era medsos dalam sekali ketuk.

Dan segala informasi,  termasuk ilmu dien menjadi begitu mudah kita dapatkan. Ayat-ayat,  hadist,  dan artikel bermanfaat bertebaran,  hingga kebiasaan see and share berlangsung dalam satu ketukan jari, bahkan sebelum artikel tersebut tuntas kita baca. Alangkah wow nya...

oh hai, saya tak bermaksud rese,  apalah lagi sok yes. Saya hanya sedang menasehati diri saya sendiri. Saya teringat bagaimana para shahabat yang belajar pada sumbernya langsung,  tidak pernah tergesa-gesa.Bagaimana para shahabat tidak akan berpindah ke ayat lainnya,  sebelum mereka benar-benar memahami dan mengamalkan satu ayat.

Maka,  sebaiknyalah ketika kita menyebarkan sebuah kebaikan kita telah dulu melaksanakannya, hingga kita tak hanya menjadi perantara,  tapi juga menjadi bagian dari orang-orang yang mendapatkan keutamaan. 

الله أعلم
Tag : ,

Dibalik perceraian

Dunia ini memang sudah renta,  hingga sebuah mahligai cinta yang sah nyaris tak punya makna. Kata talak a.k.a perceraian tak lagi menjadi hal tabu dan langka.

pernikahan seumur jagung hingga pernikahan seumur pohon tamar (yang konon bisa berusia hingga 200 tahun), tak luput dari perceraian. Dari alasan ekonomi,  orang ketiga yang wara wiri,  hingga rasa yang sudah tak cocok lagi.  Mungkin mereka lupa di balik perceraian dengan semua alasan ini itu selalu ada tipu daya syaitan.

Itulah mengapa,  menikah tak melulu modal cinta dan biaya,  tapi perlu peningkatan iman dan taqwa dari masa ke masa.

Perceraian itu bisa jadi sebuah ujung dari awal yang dimulai dengan tidak "benar". Tapi,  bisa jadi perceraian itu sebuah persimpangan yang dimanis-maniskan syaitan agar pasutri berbelok ke arah yang saling bertentangan.

Kapan sih ada pernikahan yang isinya melulu semanis madu??? toh,  kita menikah dengan sesama manusia kan yaaa???? bukannya dengan bidadari apa malaikat, jadi pahit manisnya pernikahan itu seharusnya mendewasakan cinta bukan justru memadamkannya.

Ah,  sudahlah. yang pasti,  pernikahan itu bukan dengan alasan apa engkau bercerai, tapi bagaimana kita menjaga pernikahan itu hingga bisa menjadi jalan kita menuju kebahagiaan abadi.


-Sarah Amijaya-
Tag : ,

Bersegera kemana.....

Seringkali kita, sebagai manusia terbalik dalam menempatkan prioritas hidup. Kita suka berpura-pura buta,  hingga tak sadar bersegera ke arah mana....

Coba kita ingat,  betapa kita seringkali merasa takut dan was-was jika terlambat datang ke kantor. Entah khawatir mendapati tunjangan yang dipangkas,  khawatir digunjingkan orang lain,  atau sekedar mengejar gelar "si teladan". 

Namun,  kita dengan perasaan biasa-biasa saja ketika sholat di akhir waktu atau justru melalaikan sholat sama sekali.

Kita,  manusia yang hina dina ini acapkali mengeluarkan kemampuan terbaik menghafal dan memahami semua aturan-aturan pemerintah,  tapi sedikit sekali mengerahkan kemampuan untuk menghafal dan mentadaburi kalam Allah ta'ala, surah-surah pendek sekalipun.

Kita,  manusia yang kebanyakan sok hebat ini senantiasa mampu meluangkan waktu khusus untuk menekuni hobby kita,  entah itu membaca,  berkebun,  main game,  main futsal,  dan lainnya.Tapi,  kita seringkali sok capek untuk sedikiiiiit saja meluangkan waktu merutinkan membaca Al Qur'an dan menghadiri majelis-majelis ilmu.

Kita,  makhluk yang sok kekinian dengan gadget canggih di tangan. Di mana seringnya gadget tersebut kita pakai untuk bersosmed ria dan mengikuti puluhan grup entah apa sekedar untuk memenuhi hasrat fomo. Dan kita malas serta merasa sia-sia mengikuti grup-grup majelis ilmu.

Ah,  kita,  memang manusia yang seringnya sok yes,  padahal kita hanyalah makhluk purba yang masih seringkali bingung arah...


-Sarah Amijaya-
Tag : ,

Tawananku yang cerdas...

image from: klik di sini
“Kaka udah sholat ashar belum???” demikian pertanyaan rutin saya kepada si sulung setiap saya pulang kantor di sore hari.

Meski ia hampir selalu menjawab sudah, entah mengapa saya masih terus menanyakan pertanyaan yang sama di setiap harinya.

Beberapa hari yang lalu, mendapati pertanyaan yang sama ia menjawab “Sudaaaah ummiiiii, biasanya juga sudahkan??? Kenapa sih tiap pulang nanya gitu, nggak percaya banget sama anaknya. Coba sih mi, nanya yang lain gitu.” Dia menjawab dengan nada yang sedikit terdengar bete.

“Hahaha…bukan nggak percaya sayang, hanya memastikan. Siapa tau kaka keasyikan main trus lupa sholat. Kan ummi cuman ngingetin. ”

“Yaela mi, masa sih Amma sampe lupa sholat cuman gara-gara main.” Jawabnya dengan gaya yang nggak pernah lupa sholat -padahal kalau hari minggu terkadang umminya harus jejeritan buat ngingetin sholat-

Jujur saja, mendengar protesnya hari itu saya jadi mengkaji ulang sikap saya terhadapnya, sulung saya, yang kurang beberapa bulan lagi akan berusia 9 tahun. Kadang saya lupa waktu dan terus menganggapnya anak kecil, sehingga bersikap over  protectif dan menjaganya seolah bayi yang baru belajar merangkak.

Saya juga jadi memikirkan kata-katanya, memangnya ibu-ibu pada umumnya nanya apa sih ketika pulang kantor???

Lagian pertanyaan rutin saya itu hanya turunan dari metoda pendidikan yang kami  -aku dan suamiku- terapkan kepada anak-anak kami kok. 

Merujuk metoda pendidikan yang dijabarkan shahabat Ali bin abi thalib radiyallahu anha, usia 9 tahun itu masuk kategori 7 tahun kedua (usia 7-14 tahun) dimana anak dididik seolah tawanan.

Tawanan????

Ya, tawanan. Dalam Islam kedudukan tawanan itu tetap terhormat loh. Ia mendapatkan haknya secara proporsional, tapi juga dikenai berbagai larangan serta kewajiban. Di usia inilah anak belajar kedisiplinan. Waktunya mereka mengetahui hak dan kewajibannya sebagai hamba Allah Ta’ala. Kewajiban sholat, berpuasa Ramadhan, menjaga pergaulan, batasan aurot, dan semisal, seyogyanya di ajarkan di usia ini.

Konon katanya, di usia ini anak sudah paham arti tanggung jawab dan konsekuensi tentang suatu hal. Hal-hal yang kita disiplinkan di masa-masa ini, itulah yang akan menjadi kecenderungan mereka kelak dewasa. Jadi, hingga usianya 14 tahun sepertinya pertanyaan uminya belum akan berganti tuh ^_^

Dalam kasus Amma, Alhamdulillah, selama kolokannya tidak kumat, ia cenderung memahami itu semua dengan baik. Ia sudah paham mengenai konsep halal-haram, wajib-sunnah-haram-makruh, dan lainnya. Nah dalam kasus kolokannya kumat, seperti anak-anak lainnya ia akan bersikap pura-pura tidak tahu, sekali-kali minta dipaksa untuk melakukan kewajiban rutinnya, dan kadang kala dengan sengaja atau tidak ia mengabaikan hal-hal tersebut.

Terlebih, didukung minat bacanya yang nyaris menyaingi umminya ini, nalarnya kadang memproses premis-premis yang membuatnya menang ketika bernegosiasi dengan aturan yang diterapkan umminya. 

Seperti suatu malam, tiba-tiba ia bertanya “Ummi, ummi pilih mana anak yang berguna di dunia apa di akhirat?” 

Saya jelas waspada, mengingat track recordnya selama ini. Maka saya pun menjawab “berguna dunia akhiratlah.”

“iyalah, tapi lebihnya yang mana? Lebih berguna di dunia apa di akhirat???” tanyanya lagi dengan nada yang lebih mendesak.

“Yaaa, di akhiratlah….”

 Ini jawaban ummi belum selesai, ia langsung memotong dengan sangat cepat dan fasih:
“Naaah….itu makanya. Amma ini insyaallah berguna loh di akhirat. Amma akan doain ummi, trus insyaallah juga bisa bawa ummi dan keluarga kita ke syurga, amma kan menghafal Qur’an. Makanya kalu kadang Amma malas bantuin kerjaan rumah itu nggak seberapalah ya. Kan itu cuman urusan dunia.”

Ckckckck…..alangkah cerdas tawananku yang satu ini...*_*

Ok, whateverlah nak. Yang pasti teruslah bertumbuh menjadi gadis sholehah….!!!


"Aku iri", katanya...

Tiba-tiba,  suamiku bertanya "dek,  si x (menyebut nama salah seorang juniornya di kampus dulu) dulu barengan kamu ya LK II-nya?"

"Heeh,  kenapa?" jawabku pendek.

"pernah pdkt sama kamu ya?" tanyanya lagi.

"Hmmmm,  kirain nggak tau" jawabku cengar-cengir,  tapi tumben si ayank mukanya serius banget.

"Dia,  salah satu dari orang yang abang iriin."

Nah,  itu kabar baru buatku. suamiku iri sama orang yang konon, dulu kala di zaman bahula, diduganya pernah pdkt padaku.

"why?" tanyaku pendek.

Alih-alih menjawab,  ia menyodorkan smartphonenya ke hadapanku.

Mendapati profile si x di akun facebooknya,  awalnya aku bingung,  apanya yang diiriin. We are not type people who care about how rich some others. 

Belakangan aku baru ngeh,  si x ternyata sudah berhasil membangun sebuah pesantren modern. Nah,  itu baru sesuatu yang pantas diiriin.

Iri itu konon baik,  jika objeknya sesuatu yang berorientasi pada akhirat. Iri yang model begini, adalah iri yang dianjurkan. This feeling can make us,  use our best effort to be better. Nggak mesti with same way lah. Beramal saja sesuai kemampuan masing-masing,  yang pasti rasa iri itu bisa menjadi pelecut untuk kita semakin giat menambah pundi-pundi bekal menuju kampung akhirat.

"So,  dia dulu tanya apa aja ke kamu?" jiaaaah......interogasinya masih berlanjut ternyata.....

No matter what, Our love is a story...

Putri api versus putri gentong

"Ummi ayo cerita lagi...", desak putri keduaku sesaat sebelum ia bersiap memejam mata.

" okeeh....cerita apa kita malam ini?" Aku menjawab dengan semangat yang masih full charged.

"Itu loh mi, lanjutan Putri api dan putri gentong...." jawabnya semangat. Sayangnya, jawaban penuh semangat itu dibalas dengan kebengongan si emak "cerita apaan tuh?" 

"yaaah...ummi payah deh,  yang ceritakan ummi,  masa lupa? padahal ceritanya seru tau." 

wew,  si putri dah cemberut aja,  sementara emaknya  garuk-garuk kepala yang mendadak jadi gatal.

Melihat tingkat kemajuan bibir mungilnya,  sepertinya ingat tidak ingat, itu kisah musti berlanjut.

Syukurlah,  si kakak yang sedari tadi cuek bebek mendadak bersuara,  "itu loh mi,  cerita putri-putrian,  yang menyindir kita-kita ini. putri api tuh si rofi yang selalu kepanasan dan marah-marah.kalu putri gentong itu ya siapa lagi anak ummi yang gendut kalu bukan Amma. trus,  putri api itu minta air sama putri gentong biar apinya padam, putri gentong mau ngasih tapi ada syaratnya gitu. makanya ummi itu kalu lagi cerita jangan pake ngantuk,  aneeeeeh tau ceritanya. ngaco gitu."

Ngik...ngook.....

Si emak nyaris ketawa ngakak,  itu kalimat panjang gitu,  diucapinnya dengan nada super lempeng dah. Matanya juga nggak beranjak dari lembaran-lembaran di tangannya.

Anyway,  ternyata emak-emak yang lagi ngantuk itu daya imajinasinya jadi keren gitu yak??? xixixi

Ujungnya ilmu...

“Aqidahmu parah!!!”

*Cegluk…

wew, itu tuduhan yang nggak main-main tuh…

Tapi, anyway aku nggak akan bikin berat tulisan ini dengan membedah makna syahadat, syarat-syarat atau segala macam pembatal keislaman.

Apa sih ujungnya ilmu?

Kamu punya dalil untuk mengkafirkan orang lain?
Atau ketika kamu bisa sok yes menasehati ini itu tanpa noleh kiri kanan atas bawah?
Atau…kamu merasa jadi paling benar sedunia???

Hemm…seorang bijak pandai nan rendah hati memberitahuku “tingginya ilmu seseorang itu dilihat dari seberapa besar rasa takutnya kepada Allah” 

See??? Ni orang selain bijak pandai, beneran berilmu nih ^_^

Hal itu senadalah dengan perkataan Ibnu Mas'ud Radiyallahu anhu
,

"Cukup rasa takut kepada Allah disebut ilmu dan cukup orang yang terbuai dengan karunia Allah disebut bodoh"
 -Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 3: 333-

Sebagai manusia yang sadar tujuan penciptaannya, sudah kewajiban kita thalabul ilmu sampai ke liang lahat. Menjadi masalah ketika dengan ilmu seujung kuku, kita dengan sok yes-nya bergaya kek ulama khibar. Sok-sokan ngeluarin fatwa, sok-sokan menilai status keislaman saudara kita yang lain – yang notabene aku, kamu, kita sama-sama nggak tahu siapa yang lebih beriman dari siapa-

Saling berfastabiqul khairat itu okeee banget….saling menasehati dalam kebaikan dan kasih sayang itu juga kereeen banget…tapi yang paling penting ilmu itu kan nggak buat ditumpuk aja yee kek koleksi barang antik…actionnya mana??? Iya…action. Setelah berlelah-lelah menuntut ilmu, seharusnya para thalabul ilmu sampai pada taraf, ilmunya itu menjelma dalam kesehariannya, dalama bahasa kerennya, amal.


So orang yang berilmu nggak perlu mentahzir orang lain untuk menunjukkan ketinggian ilmunya. Nggak perlu juga ceramah sampai berbusa-busa dan ngotot jadi makhluk paling benar sedunia. Tunjukin aja akhlak yang santun. Perbaiki aja ibadah amaliyahnya. Dakwah dengan teladan itu lebih makjleb di hati kok...^_^

For reminder kita bersama nih, orang berilmu  yang berjuang di jalan Allah itu adalah orang yang mulia n terhormat. Mereka tidak hanya dihormati kaum sendiri, tapi juga oleh pihak musuh. (Keinget kisahnya Abu Ayyub nggak?)


Nah, jika buatmu, darah seseorang itu nggak lebih berharga ketimbang bangkai di jalan. Please deh cek ulang status keislamanmu !!! Atau mungkin kamu perlu semedi, kamu nuntut ilmu sama siapa siiih???

Aku serius loh. 

Happiness is...

“Kita nggak akan bisa berbuat baik sama semua orang, sama halnya kita nggak akan sanggup menyenangkan setiap orang, meski pada dasarnya kita adalah orang yang baik hati dan menyenangkan.”


Begitu kira-kira status seorang kawan yang konon katanya menderita sebuah penyakit akibat tekanan perasaan. (Syafakillah ya saudariku…)

Yeah…this is a real life ^_^

Akan selalu ada satu dua cibiran atas semua niat baik dan ketulusan.
Akan selalu ada keraguan atas semua semangat dan kerja keras.
Dan tentu, akan selalu ada masalah atas semua kesungguhan dan perjuangan.
Memangnya apalagi yang bisa kita harapkan dari sebuah a real life –yang notabene memang tempatnya fight and struggling-?
Hidup yang penuh tawa dan kesenangan itu hanya realita ala negeri dongeng –kecuali kamu udah di surga-
Tapi hidup yang kudu fight n struggling ini nggak perlulah sampai berdarah-darah atau membuat kita menderita penuaan dini- dengan segala keluhan keriput atau uban sebelum waktunya-. Kita bisa kan fight n strugglingnya dengan hati bahagia???

Nah, menyoal lagi soal bahagia. Panjang urusannya. Karena kebahagiaanku nggak mutlak jadi kebahagiaanmu, begitu juga sebaliknya.

Konon katanya, si mister bahagia bersemayam di hati. Hati yang pandai bersyukur dan bersabar.

Konon katanya lagi, bahagia itu sederhana. Yaaa…like some smiles in ur love’s face gitu deh ^_^

Katanya lagi nih, bahagia itu kasat mata. Dicari-cari mah nggak bakal keliatan, tapi kalu dirasakan, ia ada. Begitu saja. Sederhana.

Dalam versiku, bahagia itu nggak berarti kamu nggak boleh menangis atau mengeluh. Tapi, bahagia itu berarti kamu bisa jadi kamu apa adanya. Legowo dengan setiap peran dan tanggung jawabmu. Bisa nangis ketika kamu emang sedih. Bisa ngomel kalu lagi sebel, Bisa jejingkrakan kalu lagi senang. Tapi ya….nggak perlu sampai lempar piring pancilah kalu lagi marah ^_^. 
Whateverlah…bahagia itu tanpa beban. Nggak perlu sok super. Sok kuat. Sok imut. Sok Manis. (*eh…). Manusia itu emang lemah. Tempatnya salah n khilaf.

Setiap yang kita usahakan nggak usah dipaksa untuk selalu sukses atau meraih hasil yang wow cetar membadai. Manusia itu tugasnya ikhtiar n doa, Hasilnya apa mah sudah ada yang nentuin keles. Nah ketika kamu bisa berdamai dengan hasil yang kamu capai, konon katanya bahagia ada juga di sono ^_^

And lagi…fight n strugglingnya manusia itu tujuannya cuman satu kok : Beribadah kepada Allah.


Oke begitu saja. Selesai. Titik. 

Stop Komen...

Di sebuah grup, saya berkomentar:  "soal ekspresi keberislaman seseorang selama masing-masing punya hujjah sesuai Alqur'an Sunnah, yuk ah nggak usah saling mengomentari terlebih dengan komentar yang bertanda kutip."

Komentar saya tersebut terlontar lantaran si empunya grup memosting sebuah wacana terkait "hijrah"nya seorang artis berinisial TW. Sebagian postingannya begini:

kiki emoticon"Omong-omong soal hijrah, memang bisa dalam berbagai macam bentuk. Tetapi melihat hijrah ala TW saya malah merasa aneh. Kenapa? Karena hijrah yang hakiki itu soal akhlakul karimah (perilaku yang baik) dan hati (kejernihan jiwa). Ilustrasinya begini, laki-laki bisa saja memakai jubah sebagaimana orang Arab dengan maksud meneladani Nabi Saw, tetapi di saat yang sama Abu Jahal yang jahat pun juga memakai jubah. Jadi memakai jubah, berjenggot dan lainnya bisa berpotensi baik dan buruk.

Perhatikan kata-katamu !!!


Pagi ini, seorang kawan mengupdate status dengan kalimat yang wow, cetar, membadai (ahahai ini mah lebay). Kira-kira begini bunyinya : "Dulu aku R2, sekarang aku R1 (ini doaku)".

Oh ya, kalau kalian nggak tau R itu apa, sini deh aku bisikin. "R itu maksudnya Ratu". Ratu? Ya, Ratu. Ratu di mana? Ratu di hati suami dong. Nah kalau menilik angka di belakangnya 1, 2, dan seterusnya, mahfum dong, itu maksudnya ratu pertama, ratu kedua, dan seterusnya. Dengan kata lain istri pertama, istri kedua, dan seterusnya. Ahahai nggak usah shocklah, kawanku ini memang pelaku Ta'adud alias poligami kok.

Nah, kembali menyoal statusnya dengan kalimat yang demikian. Bermunculan komentar-komentar yang nggak kalah wow. Beberapa komentarnya kira-kira begini:
- "R2 memang kejam"
- "Aku menyimpulkan mba bukan madu yang baik karena ingin merebut posisi R1."
- "Anda mendoakan R1 anda berpisah dengan suami? atau mendoakan ia meninggal dunia?"
-dll

Aku sendiri memilih tak berkomentar, meski hatiku tersengat gatal-gatal ^_^. Ia yang kutahu tak demikian. Ia yang kutahu wanita sholehah, insyaa Allah.

Belakangan ia muncul dan merasa takjub akan banyaknya komentar di statusnya tersebut. Ia pun menjelaskan maksud statusnya. Dulu ia R2, sekarang ia sudah menjadi R1, dan doanya adalah agar ia bisa segera memiliki madu lagi. Ia pun menyatakan keheranannya, mengapa begitu banyak yang salah paham membaca statusnya. (Kamu, ya...kamu yang baca tulisanku ini, ngerti nggak maksud status temenku itu?xixixi)

Ahahai, sampai kemudian, status tersebut dihapus, aku menahan diri untuk tak berkomentar (secara komentarku juga nggak penting gitu loh^_^).  Intinya aku menulis ini sekedar reminder, terutama untuk diriku sendiri, bahwa sebuah maksud yang sama, disampaikan secara berbeda, bisa lewat tulisan, bisa melalui lisan, cenderung mengalami pergeseran makna yang signifikan ketika kita tidak memilih kata-kata kita dengan tepat. Bahasa tulisan, cenderung memiliki dampak ambigu ketika kita keliru meramu kalimat.

Nah, akhirnya waktu lima belas menitku usai, must back to jungle deh ^_^



*Edisi kangen ngisi blog ^_^

The Good wife is YOU...

Alhamdulillah, 8 tahun ini terjalani dengan profesi paling keren, Istri sekaligus ibu. Hmmm, 8 tahun itu bukan waktu yang lama sih, tapi juga nggak bisa dibilang sedikit toh?

Rasa-rasanya selama 8 tahun ini aku sudah bermetamorfosis cukup banyak, yah belum jadi kupu-kupu yang cantik sih tapi mendekati itulah wkakakka * yang baca dilarang protes ah;p

Sebagai istri kita itu mengantongi tiket lebih menuju surga loh. Bagaimana tidak, Rasulullah SAW bersabda:
Bila seorang perempuan menunaikan shalat lima waktunya, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya(kehormatannya), dan taat kepada suaminya, maka diserukan kepadanya ‘Masuklah kamu ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu mau’.”

Wah, jadi istri itu kerenkan????? ^_^  Sekaligus berat sih *_*

Menjalani peran sebagai istri, predikat apa yang paling kalian inginkan???
Istri yang cantik?
Istri yang hebat?
Istri yang super woman?
Istri yang smart?
atau apa????
Aku sih cuman pengen satu predikat, Istri yang baik.

Sebagai orang beragama, standar baik buruk kita jelas dong, syariat agama.
Sebatas pemahamanku istri yang baik itu ya istri yang sholehah. Adapun menjadi sholehah dalam kapasitas sebagai seorang istri di antaranya adalah taat kepada suami.

Ingat dong tentang hadist yang diriwayatkan Asma’ binti Yazid Al-Anshariyah. Ia pernah datang menghadap Rasulullah SAW, dan berkata :

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau diutus untuk kaum laki-laki dan perempuan, lalu kami beriman dan mengikutimu. Kami segenap kaum perempuan hanya dipingit di dalam rumah, mengurusi rumah, menjadi tempat pelampiasan syahwat suami, mengandung anak-anak mereka, sedangkan kaum laki-laki mendapat kelebihan berupa shalat jamaah, menyaksikan jenazah dan berjihad. Bila mereka berjihad kami menjaga harta mereka dan mendidik anak-anak mereka. Maka apakah kami turut mendapat pahala seperti mereka?”
Rasulullah SAW memalingkan wajahnya kea rah para sahabat seraya bertanya “Pernahkah kalian mendengar perkataan sorang perempuan yang menanyakan perkara agamanya yang lebih baik selain dari perempuan ini?"
Mereka menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.”
Beliau SAW bersabda : “Pergilah wahai Asma dan beritahukan kepada kaum perempuan di belakangmu, bahwa bagusnya pengabdian salah seorang di antara mereka kepada suaminya, mencari keridhaannya dan mengikuti kemauannya, setara dengan semua yang kamu sebutkan tentang keutamaan kaum laki-laki.”
(Diriwayatkan oleh Baihaqi, Syu’ab Al-Iman, VI : 421)

Dalam hadist ini Rasulullah SAW menetapkan tata cara bagaimana seorang perempuan bisa naik menuju tingkatan tertinggi dan termulia, yang terfokus pada tiga poin berikut:

Ø  Pengabdian yang baik kepada suami
Ø  Mencari ridha suami
Ø  Mengikuti kemauan suami

Hmmm, urusan istri yang baik itu memang nggak jauh-jauh dari cara bagaimana si istri bersikap kepada suaminya sih.

Dalam hadist lain Rasulullah SAW juga bersabda:
Sebaik-baik istri adalah yang menyenangkan suami bila dipandang, yang menaatinya jika diperintah, tidak menyelisihi terkait diri dan hartanya dengan melakukan sesuatu yang tidak disukai suami.” (Diriwayatkan oleh Nasa’I, diriwayatkan juga oleh Ahmad)

Tapi, sebagaimana manusia biasa istri itu juga jelas punya banyak kekurangan lah ya. Misalnya, nggak usah jauh-jauh deh, aku pribadi tipe yang tidak selalu menyejukkan jika dipandang. Seringkali cemberut dan mengambek. Suamiku juga bukan tipe raja yang melulu minta dilayani sih, Alhamdulillah beliau adalah suami yang tak segan menolong istrinya untuk urusan rumah tangga ataupun menghandle anak-anak di sela kesibukannya. Aku juga bukan tipe istri yang selalu menjawab “iya”, “oke”, atau semisalnya untuk setiap keputusan dan keinginan suamiku. Dalam banyak hal kami, eh aku sih  lebih sering mendebatnya terlebih dahulu sebelum akhirnya mencapai kata sepakat atas suatu hal.
Kalau merujuk secara saklek beragam dalil yang ada, aku jelas jauuuuuuh sekali dari kriteria istri sholehah itu *duh L.

Tetapi suamiku itu selalu menyemangati, katanya istri yang baik itu bukan istri sempurna tanpa cela. Tapi istri yang baik itu cukuplah jika ia senantiasa berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari. Sebagai lelaki, sebagai suami dia sangat menyadari bahwa dirinya pun masih jauh dari level minimal, yakni para sahabat Nabi, apalah lagi dari diri Nabi yang mulia.

 Suami itu juga tempatnya salah dan cela. Jadi suamiku sangat paham menuntut istrinya selayaknya Khadijah ra, Aisyah ra atau para shahabiyat lainnya, itu adalah sebuah  tuntutan yang terlalu “keras”. 

Dan sebagai suami, ia senantiasa berpegang pada firman Allah SWT tatkala pusing tujuh keliling mnghadapi istrinya yang bandel ini *_*.
 

فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَيَجْعَلَ اللّهُ فِيهِ خَيْراً كَثِيراً 

Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. An Nisaa: 19)


Predikat istri yang baik itu nggak lepas dari keridhoan suami loh. Jadi, mari mencari keridhoan Suami hingga Allah pun ridho kepada kita.

Tidak perlu menjadi sempurna, cukuplah berusaha dengan kesungguhan hati agar menjadi lebih baik hari ke hari. Suami kita insyaallah akan menghargai setiap usaha kita untuk menjadi lebih baik itu.

Ketika kita sudah mengerahkan usaha terbaik kita, rasanya suami tak akan segan berkata :

" Yeah, The good wife is YOU." ^_^
***




Pada Mama, aku mengambil ibroh...

Ibu itu bukan manusia sempurna, tapi beliau wanita istimewa. Madrasah pertama yang mengenalkanku pada dunia, dan mengajarkanku menghadapi suka duka. Ibu itu bukan manusia tanpa salah, tapi beliau wanita yang siap mengasuh dengan merasai lelah dan payah. Ibu itu adalah kebesaran cinta, yang mengantarkanku hingga dewasa…..

“Mama sengaja nggak pernah mengingatkanmu untuk belajar atau memberi jam khusus untuk belajar. Karena mama ingin kamu paham, bahwa belajar itu untuk kamu sendiri bukan untuk mama. Belajar itu  nggak  semata untuk rangking 1 tapi agar kamu mengetahui banyak hal. Agar kamu lebih siap menjalani hidup dan mengatasi berbagai permasalahan yang mungkin kamu hadapi kelak.”

Mama berkata santai seolah tahu aku sedikit menyalahkannya saat posisi juara satu yang biasa kudapatkan bergeser ke posisi dua di salah satu masa ketika aku masih berseragam biru putih. Aku iri melihat teman-teman yang dikawal ketat proses belajarnya oleh orang tua mereka. Sementara mamaku yang justru seorang guru, sekalipun tak pernah bertanya atau peduli apakah aku sudah belajar ataukah banyak bermain setiap harinya.

Kata-katanya berlahan-lahan meresap ke sudut hatiku. Membuatku entah mengapa tiba-tiba terbayang proses kehidupan mama yang sulit.

Aku tahu perjuangan mama untuk bisa sekolah. Ikut bekerja dan tinggal dalam keluarga tentara yang berbaik hati menampungnya. Ayahnya yang sudah tiada dan ibunya yang papa tak pernah menyurutkan tekadnya untuk belajar. Sebagai seorang siswa,mama adalah siswa yang biasa-biasa saja. Tapi ia bersekolah tak semata mencari gelar juara, ia sedang menimba ilmu kehidupan. Ilmu yang menopangnya menjalani hari-hari yang tak bisa dibilang mudah.

 Menikah dengan putra sulung dari keluarga yang cukup berada dan di segani dari daerah berbeda, suku berbeda, adat dan budaya berbeda, bukan hal mudah. Sama sekali bukan.
Aku tumbuh, dengan melihat mama yang berjuang keras beradaptasi di tengah-tengah keluarga besar ayahku. Mengurusi kelima adik ayahku dan juga orang tuanya. Melayani mereka, memasak, mencuci, dan semua pekerjaan rumah tangga lainnya, bahkan di tengah-tengah kesibukan beliau sebagai seorang guru di salah satu SMP Negeri di kota kecil kami.

Mama yang tidak hanya sekali dua kali kujumpai menangis menghadapi perkataan dan sikap beberapa keluarga yang “memandangnya sebelah mata” menjalani hari-hari beratnya dengan ikhlas. Tak banyak mengeluh, tak pernah membalas, dan seringkali justru masih sanggup tersenyum tulus. Hal yang masih terus berlanjut meski satu persatu adik-adik ayahku pada akhirnya berkeluarga dan memeberi 5 menantu wanita lainnya di keluarga besar tersebut. Mama tetaplah menjadi “tumpuan” dan mendapati dirinya lebih banyak menghabiskan waktu untuk menjaga, menemani, dan memenuhi keinginan orang tua suaminya yang kian uzur.

Adalah aku, yang menghabiskan masa kecil dengan bahagia. Mengenyam pendidikan hingga bangku sarjana dengan mulus dan tanpa banyak usaha mendapatkan beasiswa prestasi di sana sini. Mengenal cinta, dan qodarullah menikah dengan seorang pria dari luar pulau, suku berbeda, budaya berbeda.

Aku sempat menjalani masa hidup bersama keluarga suamiku. Dan sungguh aku teringat mama. Baru aku tahu betapa luar biasanya mama. Betapa beliau memiliki hati seluas samudera tatkala menjalani proses adaptasi budaya yang begitu berbeda.

Beradaptasi dengan suami tak terasa begitu sulit karena dengannya lah aku berkomitmen membagi sisa kehidupanku. Tapi beradaptasi dengan keluarga besar, dengan semua perbedaan adat dan budayanya, bagiku itu luar biasa. Aku tak siap dengan sikap dan perkataan spontan mereka yang seringkali menyesakkan hati dan menggulirkan titik-titik bening di sudut pipi. Aku kesulitan, sangat kesulitan menyesuaikan gaya hidupku yang kampungan dan apa adanya dengan mereka yang sangat “kota” dan menilai produktifas dengan materi.

Maka kucari-cari kemanapun dari setiap sudut literasi pembelajaran formalku, aku tak menemukan solusi atas kepahitan yang kujalani.

Tapi, pada mama, mengingat hari-hari berat yang pasti juga pernah dilalui mama aku mengambil ibroh. Meski menangis, tak menyimpan dendam dan amarah adalah kunci kebahagiaan. Tak peduli sebanyak apa kesedihan dan kepahitan yang terjalani, berhasil memenangi rasa sakit hati adalah kemenangan terbesar yang insyaallah menjadikan kita lebih bijak dalam menyikapi berbagi situasi.

Ketika akhirnya pulang ke kampung halaman, aku menemui ibuku masih dengan rutinitasnya yang tak berbeda jauh. Ia masih dengan setia memenuhi ini itu  kemauan nenek yang kini semakin uzur dan tentu semakin rewel, terlebih sepeninggal kai.

Dan, padaku mama berucap, “Mama berharap, kelak tua tak akan menyusahkan kalian. Tapi jika Allah masih memberi waktu hingga pikun dan lemah menyerang mama, semoga kebaikan tak seberapa ini akan kembali pada mama lewat kalian, anak-anak mama…”

Duh mama, keikhlasanku jauh tertinggal dari mama, kasih sayangku padamu tentu tak akan sanggup menyamai sedikitpun kasih sayangmu padaku. Karenanya mama, izinkan aku menutupi semua kekuranganku dengan lantunan doa-doaku untukmu.  Semoga Allah senantiasa memberkahi sisa usiamu dan mengampuni setiap khilaf dan salahmu.

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera.
Tag : , , ,

Waktu

"Ummi maaf ya, nanti besar Rofi akan meninggalkan ummi karena Rofi akan memiliki suami sendiri...."

Kalimat panjang itu diucapkannya dengan meminta perhatian penuh dariku. Ia dengan sengaja memegangi kedua pipiku dan memintaku menatap tepat ke matanya.

Kalimat yang ketika ia selesai mengucapkannya membuatku tak tahu harus menjawab apa.

Perasaanku tiba-tiba menjadi absurd. Entah harus tertawa ataukah menangis. Ia putriku. Baru berusia 4 tahun 4 bulan. Tak ada angin tak ada hujan, tak ada tanda-tanda yang mengindikasikan bahwa ia akan melontarkan kalimat yang demikian cetar membahana.

Kakaknya, putri pertamaku yang berusia 7,5 tahun menanggapinya dengan beristighfar nyaring.

"Ayo rofi, istighfar. Kamu itu masih kecil. Sekolah aja belum. sudah ngomong kayak begitu. Malu-maluin aja." lanjutnya pula.

Saat itu, aku hanya tersenyum dan melerai mereka yang bersiap adu mulut. Kemudian menyatukan mereka dalam pelukanku.

Bersaat-saat setelahnya, bahkan hingga detik aku menuliskannya aku masih terngiang-ngiang perkataan putri kecilku itu.

Awalnya aku seolah diingatkan bahwa anak-anakku tak selamanya menjadi anak-anak yang membutuhkanku dalam banyak hal. Perlahan-lahan namun pasti waktu merangkak mengantarkan mereka menjadi putri-putri dewasa yang akan menjalani kehidupan mereka sendiri.

Aku seolah tertampar, betapa aku menyia-nyiakan waktu kecil mereka dengan semua omelan dan kemarahanku yang tidak semestinya. Toh, mereka tak akan lama menjadi anak-anak yang mengerubutiku kemana-mana.

Suatu waktu  di masa depan kelak, aku pasti akan merindukan saat-saat dimana mereka merecokiku dengan permintaan dan kemanjaan ini itu.

Dan pada akhirnya aku menyadari, waktu memang tak bisa terulang namun ia membangun siklus  serupa. Seketika aku memahami  arti air mata di wajah mama saat melepasku pergi bersama suamiku. Sebuah moment yang kelak sangat mungkin kujalani pula,

Yah, cinta memang membuahkan rindu. Rindu yang menjadikan setiap waktu bersama menjadi lebih berharga...







Mendadak sinetron...

Aku jarang menonton, sesekalinya menonton pun  menonton kartun, karena kebetulan mendampingi anak-anak yang memang punya waktu menonton.

Tiba-tiba beberapa waktu lalu, TV menyala di waktu yang tidak disepakati. Bisa jadi kerjaan si sulung atau bisa jadi ulah si nomer dua. Meski kemudian kedua-duanya justru sibuk membongkar mainan dan mewarnai ini itu.

Alhasil aku yang berniat mematikan TV justru terkesima dengan salah satu sinetron di salah satu stasiun TV swasta tersebut. Meski melihatnya sebentar, aku merasa ada yang berbeda dari sinetron tersebut. Akhirnya di waktu luang aku mensearchnya di Youtube.

Ah ya, pada akhirnya aku tau sinetron ini beda karena karakternya tidak terlalu hitam putih. Karakternya manusiawi. Tokoh baik bisa saja merasa kesal dan berbuat salah. Tokoh jahat ternyata masih punya hati dan nurani. Sinetron yang konon sudah 300 episod ini memang menyoal cinta-cintaannya anak muda tapi melihat beberapa scene aku sih tertarik.....wkwkwkwk.

Lepas dari aku yang mendadak penasaran dengan kelanjutan kisahnya, sinetron ini bukan jenis yang "mendidik" sih, tapi bisa dibilang udah gak drama bangetlah, pesan moril soal persahabatan, ketulusan, dan arti cintanya cukup tersampaikan. Tetep, aku tidak merekomendasikannya untuk ditonton wkwkwk.....

#catatangakpentingemakrempong *_*
Tag : ,

Curhatnya emak rempong...

"Kamu sih enak. Tinggal pergi kerja. Anak juga ada yang ngurus. Temen banyak, bisa hahahihi buang stress."

Ngiik ngook.....selalu ya, rumput tetangga terlihat lebih hijau ^_^.

Komentar tersebut terlontar dari seorang kawan yang tengah stress berat menghadapi tingkah putra sulungnya.

Dan ya, sebagai orang yang low profile (ngakunya) aku sih senyam-senyum aja.

Padahal aku juga pernah loh merasa lost control dan seolah bertanduk lima menghadapi anak-anakku. Karena meskipun ada yang membantu di rumah, (inget ya mereka itu sekedar membantu). Aku terbiasa mengusahakan untuk sesedikit mungkin menggunakan bantuan mereka. Dan aku orang yang anti punya ART yang tinggal di rumah. Mengurangi privasi.

 Si kecil biasanya kutinggal dalam keadaan wangi dan kenyang. Si Bibi kebagian tugas mengajaknya jalan-jalan pagi, sebelum akhirnya ia tertidur. Jus, cemilan dan makanan sudah kusiapkan, tinggal diberikan sesuai jam yang sudah kujadwalkan. Kakak-kakaknya yang sudah sekolah, bukan sekolah di sekolah umum yang full day dari pagi sampai sore, tapi sekolah di Home schooling berlembaga, yang tetap melibatkan orang tua secara aktif dalam pembelajarannya. Kami punya jadwal khusus setiap harinya yang harus dihandle orang tua di rumah. Alhamdulillah sejauh ini kami konsisten dengan jadwal tersebut.

 See????  meski bekerja, aku berusaha menjadi ibu yang tetap mengurus tumbuh kembang anak-anakku sendiri. Karena bagaimanapun aku tahu tanggung jawab sebagai ibu itu tak bisa diwakilkan pada siapapun, Ibu anak-anakku hanyalah aku seorang.

Sementara sebagai pekerja, tanggung jawabku bisa dengan mudah dilimpahkan pada siapapun. Karena yang bisa melaksanakan tugas-tugasku bukan hanya aku seorang. Tentu hal  ini tak membuatku menjadi pekerja yang malas dan tak bertanggung jawab. Don't worry be happy i try to do my work with better day to day.... (oh please jangan komentari grammarku ya....^_^)

Ahahai....kenapa jadi menjelaskan panjang lebar begini yak? @_@

Intinya sih, tidak ada kehidupan seseorang yang lebih enak atau lebih nyaman ketimbang kehidupan seseorang yang lain. Yang ada hanyalah bagaimana seseorang itu bersyukur atau tidak dengan kehidupan yang dilakoninya. Toh setiap manusia memiliki ujiannya masing-masing. Ketimbang sibuk mengasihani diri dan merasa iri, lebih baik toh jika kita terus menyiapkan bekal untuk menjalani hidup kita dengan sebaik-baiknya????


Jujuran, tidak melulu soal prestise sosial...

“Cantik-cantik, sayang orang Kalimantan…” Kalimat pujian yang diiringi nada penyesalan mendalam itu meluncur dari bibir salah satu kawan priaku, seolah lupa bahwa sosok yang sedang diajaknya bicara juga gadis dari Kalimantan.
“Heii….kalimat apa itu? Memang kenapa kalu orang Kalimantan?” Karena kesal tak tanggung-tanggung sebuah buku berat nan tebal kulayangkan ke pundaknya. Punya pengalaman buruk dengan konflik SARA, aku memang sensitif mendengar pernyataan-pernyataan yang berbau diskriminasi seperti itu.
“Ahahai…..sabar ding, itu loh… jujurannya berat bo.” terbahak kawanku tadi, sambil mengusap-ngusap bahunya. Mendengar alasannya, mau tak mau aku turut pula tertawa.
Tag : ,

#1.Anak cerdas, banyak tanya????

Tahun ini Amma genap 7 tahun. Tahun ini pula atas keinginannya sendiri, ia pindah sekolah, dari sekolah umum ke sekolah Al-Qur'an berbasis Home Schooling. HS Al Qur'an ini memang memprioritaskan anak-anak untuk menghafal dan mengkaji Al-Qur'an.  Pelajaran umum yang masih rutin di pelajari hanya Matematika, Sains, dan Bahasa Indonesia.

Matematikanya adalah matematika dasar, berkutat seputar pengurangan, penambahan, pembagian, dan perkalian. Sampai 2 tahun mendatang hingga Amma duduk di kelas 4 (insyaallah), ia tak akan mengeryit kening memahami rumus-rumus aljabar.

Bahasa Indonesianya, karena Amma sudah lancar membaca adalah sejarah Islam dan sirah Nabawiyah. Tentu saja dalam bahasa yang sudah disederhanakan.

9 Juli 2014, kenapa berbeda?


Aku, kamu, mengerti benar arti tanggal tersebut.
Aku, kamu, mengerti benar bilangan hari yang bertambah sejak 9 Juli 8 tahun silam.
Aku, kamu, masih sama seperti dulu
Bergenggaman tangan,mencari, dan mendekat pada-Nya
Jangan berubah, bahkan hingga bertahun-tahun yang akan datang
Karena aku ingin bersamamu hingga kelak di surga…

9 juli kali ini, tak lagi sesepi tahun-tahun sebelumnya
Kita tak melewatinya berdua saja, tapi berlima.
Ada tawa dan tangis bocah yang kian membuat hiruk pikuk rumah kita

9 Juli kali ini, juga tak setenang tahun-tahun sebelumnya,
Qadarullah tanggal ini bersamaan dengan pesta demokrasi Negara kita
Pesta yang mungkin juga tak sama dengan pesta-pesta sebelumnya
Begitu banyak amarah, begitu banyak fitnah, bahkan kata penuh cela
Hingga kawan akrab bisa saling melengos jika tak sengaja bertatapan mata
Duhai…..

Apalah yang terjadi di luar sana, mari berdoa bersama
Agar bahtera kita tetap samara penuh cinta
Dan semoga, Negara kita,

Beroleh pemimpin yang amanah dan bijaksana…..

(9 juli 2006 - 9 Juli 2014)


Pureit, teknologi praktis pemurni air

Sungguh membuat terkejut, ketika seorang kawan tiba-tiba berpamitan beberapa waktu lalu. Ia terpaksa memutuskan kembali ke Jawa, tanah kelahirannya. 
Apa pasal? 
Ternyata, Kalimantan Timur yang sebagian besarnya merupakan daerah industri menyebabkan polutan dan persediaan airnya pun mengandung zat besi tinggi. Kondisi ini disinyalir memperburuk kondisi anaknya yang menderita autis.

Jujur saja, sebagai orang yang lahir, dan tumbuh besar di Kalimantan saya sendiri terkaget-kaget ketika menengarai fakta tersebut. Sewaktu kecil, saya terbiasa melihat jernihnya aliran sungai-sungai kecil di sekitar pemukiman yang masih rimbun dengan hutan dan belukar. Sungai-sungai kecil yang  bermuara di sungai Kandilo dan terus lagi ke hulu  sungai Mahakam.

Tag : ,

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -