Jika membaca adalah nutrisi hati,
Maka menulis adalah rekreasi jiwa...

Search This Blog

Powered by Blogger.

Menentang Ustadzah Saat Disuruh Pakai Cadar di Pondok, Saat Reuni Kondisi Wanita Ini Mengejutkan

Meski mulai banyak muslimah bercadar di Indonesia, tak sedikit pula yang masih memandang sinis dan menjadikan cadar sebagai bahan ejekan atau candaan. Yang lebih menyakitkan muslimah bercadar dikait-kaitkan dengan teroris atau ajaran sesat yang menyimpang.
Allahu Musta'an.

Referensi pihak ketiga
Adalah Mambaus Sholihin, salah satu pesantren NU yang diasuh oleh KH Masbuhin Faqih, di Kabupaten Gresik. Ada pemandangan tak lazim di kalangan pesantren NU yang ternyata berlaku di sana. Para santriwatinya diwajibkan bercadar saat keluar pondok untuk menghindari fitnah.
Tentu saja, pada saat aturan ini baru-baru diterapkan para santriwati merasa sedikit keberatan dan tak biasa. Namun, setelah memahami adanya kebaikan dalam aturan tersebut, mereka bisa menerimanya. Tapi tidak dengan Laila (bukan nama sebenarnya).
Laila tidak mau memakai cadar. Ia dengan berani beradu argumen dengan para ustadz dan ustadzahnya apa gunanya memakai cadar. Menurutnya wajah bukan aurat yang harus ditutupi. Jika kemudian wajahnya menjadi fitnah bagi laki-laki yang memandangnya, maka itu urusan laki-laki tersebut yang tidak menundukkan pandangan dan menjaga hatinya.
Maka, hingga hari kelulusan dari pesantren, Laila tetap menentang kebijakan bercadar yang diterapkan pondok pesantrennya. Sebenarnya teman-teman Laila yang lain pun memahami cadar sebatas kebijakan pesantren untuk lebih menjaga mereka. Maka tak heran, sepulangnya mereka ke kampung halamannya, mereka tak lagi memakai cadar seperti sebelumnya.

Referensi pihak ketiga
Beberapa tahun kemudian, pesantren menggelar temu alumni. Para santriwati berdatangan dan saling melepas kangen, tak terkecuali teman-teman Laila. Meski bertahun berlalu, mereka masih saling mengenali, tentu saja mereka kini tak lagi mengenakan cadar. Namun, di antara reuni itu terdapat seorang wanita bercadar, yang membuat mereka bertanya-tanya, siapa gerangan dia.
“Aku Laila” jawab suara dari balik cadar. Suara itu tidak asing bagi mereka, benar-benar suara Laila yang mereka kenal dulu sangat keras menentang cadar. Tentu saja mereka sangat terkejut, “Masya Allah, Laila! kamukan dulu menentang cadar, sekarang malah memakainya.”
“Ya, aku dulu menentang cadar karena bertentangan dengan pemahamanku. Sekarang aku memakai cadar karena aku memahami hikmahnya.” ujar Laila.
Rupanya, selepas pondok. Laila berjodoh dengan seorang ikhwan dengan pemahaman yang baik. Mereka menikah, dan ikhwan ini berhasil mengubah pandangan Laila terhadap cadar. Maka, jika ia dulu membencinya, Laila kini justru menjadi satu-satunya alumni pesantren yang memakai cadar dalam kehidupan sehari-harinya.
Berarti kamu ini kualat, dulu suka menentang cadar. Ustadz dan ustadzah mendoakanmu mendapatkan hidayah dan kini kamu akhirnya cinta sama cadar,” kata salah seorang teman Laila dengan nada bercanda.

Referensi pihak ketiga
Mengenai cadar dan penutup wajah sejenisnya, ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya, antara mubah, sunnah, dan wajib. Namun, kisah ini saya tuliskan bukan untuk memperdebatkan pendapat mana yang paling rajih.
Melalui kisah ini, kita bisa mengambil hikmah bahwa Allah maha membolak-balikkan hati. Wanita yang dulu sangat keras menentang cadar, akhirnya mencintai cadar. Hal ini tentu berlaku pada hal-hal lainnya.
Lepas dari perbedaan setiap muslim memandang hukum cadar, hendaknya kita saling menghormati perbedaan pendapat yang diyakini masing-masing orang. Mengedepankan toleransi dan saling berlapang dada atas perbedaan pada masalah khilafiyah.
Semoga kita mengambil hikmah.
---
Artikel ini terbit pertama kali di UC News Pada akun Sara Amijaya

Janda Pemalu Bersembunyi di Balik Pintu, Tapi 'Kecantikan'nya Undang Para Lelaki Shalih Berbondong-bondong Melamar

“Setiap agama mempunyai ciri khas akhlak dan ciri khas akhlak Islam itu rasa malu.” 
(HR. Ibnu Majah)
Malu adalah pakaian taqwa, salah satu akhlak muslim yang di masa ini sudah semakin sering ditanggalkan oleh para muslim muslimah. Pergaulan muda-mudi sudah jauh melenceng dari syariat Islam yang mulia, bebas, kebablasan.

Referensi pihak ketiga
Dikisahkan, salah satu sahabat Rasulullah, Abdullah bin Abu Bakar sedang dalam suatu perjalanan. Ia merasa kehausan dan kehabisan bekal air minum. Saat itu ia menemukan sebuah rumah yang berpenghuni.
Abdullah bin Abu Bakar kemudian mengetuk pintu seraya mengucap salam dan meminta segelas air. Rupanya pemilik rumah itu adalah seorang wanita janda. Ia membawakan segelas air yang diminta sahabat Rasulullah, namun kemudian hanya berdiri di balik pintu dan berkata, “Menjauhlah dariku, suruhlah anak kecil untuk mengambil air ini, sebab aku adalah wanita yang hidup sendiri. Suamiku telah meninggal beberapa waktu yang lalu.”
Abdullah terpengarah mendengarnya. Ia kemudian menyuruh seorang anak kecil di sana untuk mengambilkan air itu untuknya.
Abdullah bin Abu Bakar adalah salah satu sahabat yang terkenal dengan kedermawanannya. Mengetahui wanita yang sangat menjaga izzahnya itu adalah seorang janda, Abdullah menitipkan uang kepada anak kecil itu untuk diberikan kepada si janda pemalu, sebagai bentuk apresiasi.
Betapa terkejutnya wanita janda itu. Ternyata jumlah uang yang dititipkan oleh Abdullah bin Abu Bakar berjumlah 10.000 dirham.
“Subhanallah, apakah engkau mengejekku?” kata janda itu dari balik pintu. Mendengar jawaban itu, Abdullah memanggil kembali anak kecil itu dan menambahkan uang pemberiannya menjadi 20.000 dirham.
“Aku mohon keselamatan dari Allah,” kata sang wanita mengetahui jumlah itu.
“Kalau begitu aku tambahkan lagi menjadi 30.000 dirham,”timpal Abdullah.
Sepeninggal Abdullah bin Abu Bakar, Ketawadhuan dan rasa malu wanita itu dengan cepat menyebar. Tepat pada sore harinya banyak laki-laki yang datang berlomba-lomba melamar janda tersebut.

Referensi pihak ketiga
Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam sudah mengatakan bahwa rasa malu itu tidaklah mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata. Lihatlah wanita janda itu, ia menjaga dirinya dengan rasa malu.
Rasa malu menghalanginya bertemu laki-laki asing, bahkan sahabat Nabi sekalipun. Karena sifat malu, janda ini menjaga diri dan kehormatannya, maka Allah anugerahkan banyak kebaikan padanya, dan mengangkat derajatnya, sebagai wanita sholehah.
Sahabat Nabi yang mulia jatuh kagum dan menginfaqkan 30.000 dirham. Allah juga menggerakkan banyak lelaki sholeh untuk datang melamarnya.
Kebalikan dari sifat malu yang mendatangkan kebaikan, maka wanita-wanita yang tak lagi memiliki rasa malu tidaklah dikelilingi kecuali oleh beragam keburukan.
Muslimah yang dengan santai membuka auratnya di hadapan lelaki asing, bergaul bebas, dan hilang rasa malunya, maka sungguh ia telah kehilangan kehormatan dan harga dirinya. Perhatikanlah berapa banyak kejahatan yang bermula dari hilangnya sifat malu dari dalam diri seorang muslimah.
Allahu' musta'an.
Semoga kita mengambil pelajaran.

Referensi pihak ketiga
Sumber Referensi:
Golden Stories, Kisah-kisah Indah dalam Sejarah Islam, Syaikh Mahmud Mustafa Sa’ad dan Syaikh Dr. Nashir Abu Amir Al Humaidi
---
Artikel ini pertama kali diterbitkan di UC News pada akun Sara Amijaya

Takut Dipoligami, Wanita Ini Paksa Suaminya Bersumpah

Bagi sebagian muslimah syariat poligami adalah perkara berat untuk diterima. Padahal menerima syariat ini tidak berarti melaksanakannya dengan serta merta. Namun kecemburuan kerap membuat wanita buta hingga melakukan hal-hal yang tak semestinya.

Referensi pihak ketiga
Lia adalah gadis cantik lagi cerdas. Ia adalah seorang guru yang berdedikasi. Suaminya, Salman, adalah seorang karyawan dengan karir baik. 8 tahun berumah tangga, Selain memiliki kehidupan mapan, keduanya juga sudah dikaruniai dua orang putri. Secara kasat mata, semua orang menilai mereka sebagai pasangan harmonis dan bahagia.
Namun, tak ada rumah tangga tanpa ujian dan cobaan, begitu pula rumah tangga Salman dan Lia. Sudah rahasia umum di lingkungan mereka, bahwa Lia adalah wanita posesif. Namun, tak banyak yang tahu bahwa ia juga kerap bersikap berlebihan.
Seperti suatu waktu, ketika keduanya tengah berlibur ke luar kota. Saat tengah berjalan-jalan di keramaian, Lia bisa bersikap sangat histeris, terlebih jika di sekitar mereka banyak wanita-wanita yang berlalu lalang. Ia akan memaksa suaminya bersumpah agar tidak berpoligami. Lia akan mengeluarkan Al-Qur'an kecil dan menyuruh sang suami bersumpah demi Allah dengan memegang kitab suci tersebut.
Tentu saja, Salman merasa enggan sekaligus malu. Namun, jika tidak dituruti istrinya akan semakin menggila. Maka, dengan berat hati Salman terpaksa bersumpah meski hatinya tak menyetujui sumpahnya tersebut.

Referensi pihak ketiga
Hal ini terjadi berulang-ulang. Saat dilanda cemburu berat, sang istri baru bisa ditenangkan jika Salman bersumpah demi Allah tak akan menikah lagi.
Belakangan, Salman merasa kian jenuh. Terlebih setelah kantor Salman kedatangan pegawai baru, seorang janda manis berusia pertengahan tiga puluhan. Salman mulai sibuk mencari ustadz untuk menanyakan status sumpahnya. Apakah ia berdosa jika melanggarnya, bagaimana menebus sumpahnya, dan hal-hal semisal.
Seorang Ustadz memberitahu Salman, bahwa kata-kata yang tidak diniatkan sumpah maka tidak terhitung sumpah. Adapun jika bersumpah dan kemudian melanggarnya, maka ia harus membayar kaffarat, memberi makan sepuluh orang miskin, memberi pakaian sepuluh orang miskin, memerdekakan budak, atau berpuasa selama 3 hari.
Penjelasan sang ustadz menenangkan hati Salman, namun setengah hatinya sudah terpikat pada sang janda manis yang lembut dan tak banyak menuntut itu. Salman berkata, sebenarnya ia sama sekali tak pernah berniat berpoligami atau menikah lagi, namun kekhawatiran berlebih sang istri dan paksaannya yang berulang untuk bersumpah ini itu justru membangkitkan ide menikah lagi di benaknya.

Referensi pihak ketiga
Kisah ini sejatinya menjadi pelajaran bagi para wanita untuk tidak cemburu berlebihan. Lelaki adalah makhluk dengan harga diri tinggi, cobalah untuk mempercayai pasangan anda, dan jadilah sebaik-baik wanita sholihah, yang jika dipandang menyenangkan, dan jika ditinggal menenangkan.
Was-was dan prasangka yang mengakibatkan kecemburuan adalah bisikan syetan yang memang ingin menghancurkan rumah tangga setiap pasangan muslim.
Semoga kita mengambil pelajaran.
---
Sumber Referensi:
Kisah di sekeliling penulis

Ternyata, Sosok Yang Merupakan Fitnah Besar Ini Adalah Raja Yang Ditunggu-tunggu

Sahabat, hampir tak ada manusia yang tak pernah mendengar tentang Dajjal, karena tidaklah setiap Nabi diutus kecuali beliau akan mengingatkan kaumnya tentang sosok mengerikan ini.

Referensi pihak ketiga
Ustadz Ahmad Anshori, Lc melalui laman Muslim.or.id menjelaskan bahwa dalam berbagai hadist, Nabi menggambarkan Dajjal sebagai seorang pendusta yang sebelah matanya buta, dan di keningnya terdapat huruf kaf, fa, dan ra.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,
“Tidaklah diutus seorang nabi, melainkan dia mengingatkan kaumnya tentang si buta sebelah, sang pendusta. Ketahuilah Dajjal itu buta sebelah dan Tuhan kalian tidak buta sebelah. Diantara dua matanya tertulis: Kafir” (HR. Bukhari 7131).
Tidaklah ia kelak muncul, melainkan sebagai pertanda bahwa kiamat sudah dekat. Dajjal akan menjadi fitnah terbesar di muka bumi ini bagi orang-orang yang beriman. Maka tak heran jika Nabi shollallahu 'alaihi wasallam selalu megingatkan umatnya agar berdoa memohon perlindungan dari fitnah Dajjal.
Pun demikian, ternyata terdapat fakta menarik yang tak banyak diketahui orang, bahwa Dajjal adalah sosok raja yang ditunggu-tunggu oleh sekelompok orang tertentu.
Siapa Mereka?
Yahudi!

Referensi pihak ketiga
Orang-orang Yahudi memiliki keyakinan bahwa Dajjal adalah Raja yang ditunggu-tunggu, dialah Al Masih bin Dawud yang akan menguasai lautan dan daratan.
Keyakinan ini merupakan perbedaan besar antara aqidah seorang mukmin dengan yahudi. Alih-alih menunggu kedatangan sang penebar fitnah lagi pendusta, orang-orang beriman menunggu kedatangan Imam Mahdi dan turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam.
Dari sahabat ‘Utsman bin Abil ’ash radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shallallahualaihi wa sallam berkata, “Kebanyakan pengikut Dajjal, adalah orang yahudi dan kaum wanita”
Begitu juga dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengabarkan, “Dajjal akan diikuti oleh 70,000 Yahudi dari Asfahan, mereka memakai thayalisah”
Thayalisah adalah selendang yang dipakai di pundak, menyerupai baju/jubah, tidak memiliki jahitan, yang merupakan ciri khas orang Yahudi.
---
Semoga Allah memasukkan kita pada golongan orang-orang yang diberi petunjuk, bukan golongan mereka yang dimurkai lagi sesat.
Semoga Allah melindungi kita dari fitnah Dajjal...
Wallahua’lam bis showab

Referensi pihak ketiga
Sumber Referensi:
muslim.or.id/36168-ternyata-inilah-para-pengikut-dajjal.html

Tag : , ,

Cukup beberapa menit, Mudah Dilisankan: Inilah Amalan Ringan Penggugur Dosa-dosa

Salah satu ciri Jiwa-jiwa yang hanif adalah senantiasa tak tenang kala melakukan dosa dan khilaf, serta merasa sedih kala terjerembab dalam lumpur maksiat. Hal ini sebagaimana perkataan sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, bahwa seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di bawah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang yang gemar maksiat, ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya.
Karenanya orang-orang mukmin pasti berusaha segera menghapus dosanya begitu menyadari kesalahannya. Ada sebuah zikir yang diajarkan Nabi sholallahu'alaihi wa sallam, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim:
"Barang Siapa Membaca Subhanallahi Wabihamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan." 
(HR. Muslim No.4857)
Pendapat yang kuat menjelaskan bahwa membaca seratus kali tidak mesti dilakukan dalam sekali waktu, artinya zikir tersebut adalah akumulasi dalam sehari. Bisa pagi 30, siang 30, dan malam sisanya. Zikir ini juga bisa dibaca dimana saja dan kapan saja kecuali ditempat-tempat yang kita dilarang berzikir di dalamnya, kamar mandi misalnya.
Tentu saja, setelah mendengar hadist ini kita tidak boleh bermudah-mudahan dalam bermaksiat.

Dalam kitab Faidhul Qadir, Al-Munawi rahimahullah berkata,
“Orang yang mengandalkan terus dzikir ini akan tetapi ia terus bermaksiat sekehendak syahwatnya, melanggar agama Allah dan kehormatannya, Janganlah ia menyangka akan disamakan dengan orang yang dibersihkan dan disucikan, jangan menyangka ucapannya akan mendapat pahala dengan lisannya, padahal tidak ada ketakwaan (rasa takut) dan amal shalih pada dirinya.”
Dan dosa yang bisa terhapus dengan zikir ini adalah yang terkait dengan hak Allah ta'ala, adapun dosa yang terkait sesama manusia, maka tentu kita harus menyelesaikannya terlebih dahulu, meminta maaf dan mengembalikan hak mereka yang kita zhalimi.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberikan kita jiwa yang hanif, yang senantiasa tidak tenang dengan dosa dan kesalahan kita, dan semoga kita dimudahkan mendapatkan hidayah dan ampunanNya.




Artikel ini terbit pertama kali di UC News pada akun Sara Amijaya dengan judul 

Subhanallah! Amalan Ringan Ini Ternyata Ampuh Sebagai Penggugur Dosa

Gubernur Kaya Dicemooh Karena jatuh Cinta Pada Wanita Jelata Yang Buruk Rupa. Ternyata Karena Ini



Dikisahkan dalam buku Kisah Teladan Islami terbitan Az-Zikr Studio, terdapat seorang gubernur kaya raya di masa kekhalifahan Al-Mahdi. Gubernur tersebut senang membagi-bagikan hartanya. Suatu hari ia menaburkan uang dirham di hadapan rakyatnya. Saat itu semua orang berebutan memunguti uang tersebut dengan suka cita.

Sang gubernur memperhatikan seorang wanita kumal berkulit hitam, dan berwajah jelek, hanya diam mematung. Karena penasaran sang gubernur bertanya “Mengapa engkau tidak ikut memunguti uang dinar itu seperti tetanggamu?”
Wanita bermuka buruk itu menjawab, “Sebab yang mereka cari uang dinar sebagai bekal dunia. Sedangkan yang saya butuhkan bukan dinar melainkan bekal akhirat.”
"Maksud engkau?" tanya sang Gubernur semakin penasaran.
Gambar terkait
"Maksud saya, uang dunia sudah cukup. Yang masih saya perlukan adalah bekal akhirat, yaitu salat, puasa dan zikir. Sebab perjalanan di dunia amat pendek dibanding dengan pengembaraan di akhirat yang panjang dan kekal.”
Mendengarnya, sang Gubernur merasa sangat tersindir. Selama ini ia hanya sibuk mengumpulkan harta benda dan melalaikan kewajiban agamanya. Padahal kekayaannya melimpah ruah, sedangkan umurnya sudah tidak muda lagi.
Sang Gubernur menaruh kagum kepada perempuan buruk rupa itu. Kabar itu tersebar ke segenap pelosok negeri. Orang-orang besar tak habis pikir, bagaimana seorang gubernur bisa menaruh hati kepada perempuan jelata bertampang jelek itu.
Mendengar rumor yang beredar, Gubernur mengundang seluruh penduduknya, termasuk si wanita buruk rupa.
Setiap orang yang hadir diberikan gelas crystal yang bertahtakan permata, berisi minuman. Gubernur lantas memerintahkan agar mereka semua membanting gelas masing-masing. Semuanya terbengong dan tidak ada yang mau menuruti perintah itu.
Namun, tiba-tiba terdengar bunyi berdenting, pertanda ada orang gila yang melaksanakan perintah itu.
Dialah si perempuan berwajah buruk tadi.
Gubernur tersenyum dan bertanya “Mengapa kaubanting gelas itu?”
Tanpa takut wanita itu menjawab,
“Ada beberapa sebab. Pertama, dengan memecahkan gelas ini berarti berkurang kekayaan Tuan. Tetapi, menurut saya hal itu lebih baik daripada wibawa Tuan berkurang lantaran perintah Tuan tidak dipatuhi.”
Gubernur dan para tamunya terkesima.
"Apa Sebab lainnya?” tanya Gubernur.
Wanita itu menjawab, “Kedua, saya hanya menaati perintah Allah. Sebab di dalam Al-Quran, Allah memerintahkan agar kita mematuhi Allah, Utusan-Nya, dan para penguasa. Sedangkan Tuan adalah penguasa, atau ulil amri, maka dengan segala resikonya saya laksanakan perintah Tuan.”
Gubernur dan seluruh tamu kian merasa takjub.
“Masih ada sebab lain?” tanya gubernur lagi.
Perempuan itu mengangguk dan berkata, “Ketiga, dengan saya memecahkan gelas itu, orang-orang akan menganggap saya gila. Namun, hal itu lebih baik buat saya. Biarlah saya dicap gila daripada tidak melakukan perintah Gubernurnya, yang berarti saya sudah berbuat durhaka. Tuduhan saya gila, akan saya terima dengan lapang dada daripada saya dituduh durhaka kepada penguasa saya."
Hasil gambar untuk wanita cantik cadarGubernur yang telah ditinggal wafat istrinya itu segera melamar sang wanita buruk rupa. Saat itu pilihan sang Gubernur di sambut gembira oleh para hadirin. Mereka semua gembira karena Gubernur memperoleh jodoh seorang wanita yang tidak saja taat kepada suami, tetapi juga taat kepada Tuhannya, kepada Nabinya, dan kepada pemimpinnya.
Demikianlah cinta yang sesungguhnya, tak memandang rupa maupun harta, namun kebeningan jiwa
---
Artikel ini terbit pertama kali di UC News pada akun Sara Amijaya dengan judul 

Wanita Buruk Rupa itu Menolak Uangku, Merusak Hartaku, dan Aku Justru Jatuh Cinta Padanya

Tanyakan 3 hal Ini, Setiap Kali Gosip datang kepadamu, Jangan Lupa!


Referensi pihak ketiga
Kesenangan bergosip, mengghibah, membicarakan orang lain, bukanlah perkara baru , kebiasaan ini senantiasa ada dari masa ke masa. Pun demikian kaum cerdik pandai dari masa ke masa memiliki cara masing-masing untuk menghindari penyebaran gosip, ghibah, dan ataupun fitnah. Salah satunya, Socrates. Salah seorang filsuf terkenal yang hidup di masa Yunani kuno.
Suatu waktu seseorang datang menemui Socrates dan berkata "Tahukah anda apa yang baru saja aku dengar tentang kawan anda?"
"Tunggu sebentar, sebelum engkau menceritakannya padaku, aku ingin melakukan 3 saringan kepadamu" jawab Socrates.
"Yang pertama, apakah engkau yakin apa yang akan engkau ceritakan kepadaku itu berita yang benar?" tanya Socrates.
Tamunya merasa ragu "Sesungguhnya aku tidak yakin benar atau tidak."
"Yang kedua, apakah yang akan kau ceritakan itu sesuatu yang baik?" tanya Socrates lagi.
"Bukan, justru sebaliknya..." jawab sang tamu kian gelisah.
"Jadi, kamu tidak yakin itu benar, dan itu juga bukan sesuatu yang baik, tapi engkau masih ingin menceritakannya kepadaku. Maka jawablah pertanyaan ketigaku. Apakah itu adalah sesuatu yang bermanfaat? Bagiku ataupun bagimu?"
Sang tamu terdiam lama, sebelum menjawab berlahan "Tidak...tidak juga".
"Jadi yang hendak kau ceritakan tentang temanku, belum tentu benar, tidak baik, dan tidak bermanfaat, jadi kenapa engkau ingin aku mendengarnya?"
-----
Sahabat, ketiga saringan Socrates sangat mungkin untuk kita terapkan dalam kehidupan kita. Entah di dunia nyata, dimana orang-orang lebih senang bergerombol berbagi gosip ketimbang berdiskusi ilmiah, maupun di dunia maya ketika semua orang bebas like dan share berita apapun.
Entah itu kita ingin berbagi di dunia nyata ataupun berselancar bebas di dunia maya, ingatlah untuk melakukan tiga saringan Socrates, Saringan kebenaran, Saringan kebaikan, dan saringan kemanfaatan.

Referensi pihak ketiga





Artikel ini terbit pertama kali di UC News dengan judul  Gosip dan Fitnah! Pastikan 3 Hal Ini Sebelum Mendengarkan Kata Orang

Bertemu Pertama Kali Saat Malam Pertama, Wanita Ini Membebaskan Suaminya Untuk Pergi

Menikah di atas jalan dakwah, menjadi pilihan sebagian orang. Tak ada cinta sebelum pernikahan, yang ada hanya pilihan untuk mencintai setelah ijab sah. Seringkali pula mereka belum pernah berjumpa, kecuali sekilas pandang. Meski banyak yang ragu dan apatis, pada sebagian kasus pilihan ini ternyata justru mendatangkan banyak kebaikan dan keberkahan.
Sebagaimana kisah pemuda berikut ini.

Adalah pemuda ini, tampan dan berada. Memasuki kamar pengantin wanitanya dengan debar jantung tak beraturan. Dengan suara bergetar diucapkannya salam. Sebuah suara halus dan merdu menjawabnya sempurna.
Ketika disibaknya tirai kelambu, dalam sepersekian mili detik ia terlonjak mundur. Wanita yang dinikahinya memang belum pernah ditemuinya, tapi yang dihadapannya sungguh menggetarkan jiwanya. Wanita itu bertubuh gemuk dan berkulit gelap, wajahnya pun jauh dari kata cantik.
Sebelum pemuda itu sempat berkata-kata, sang istri berkata "ini harta dan kekayaanku, gunakanlah untuk kepentingan dakwah. Aku hanya membutuhkan status pernah menikah. Saat ini pun engkau kubebaskan untuk pergi dan menikahi wanita lain."
Perkataan yang tak disangka-sangkanya itu memulihkan kesadaran sang pemuda. Duduklah ia disamping wanita halalnya, digenggamnya tangan wanita yang dipastikannya dipenuhi rasa malu dan rendah diri itu "Sejak mengucapkan ijab kabul yang mengharukan tadi, aku sudah memutuskan untuk mencintaimu setulus hati karena Allah." Rupanya detik itu pula, pemuda ini memutuskan mencintai wanita tersebut, istrinya.
Kehidupan pasangan ini di tahun-tahun selanjutnya semakin dipenuhi cinta dengan penyejuk mata yang hadir satu persatu. Tentu saja pilihan sang pemuda untuk terus mencintai istrinya seringkali menjadi sebab keheranan orang banyak.
Pada beberapa kesempatan sang pemuda bersedia menjelaskan “Setelah malam itu, dia melakukan kerja-kerja cinta melebihi apa yang kuharapkan,” ujarnya memuji sang istri. "Pesona akhlaknya, kebaikan budinya, jauh melebihi urusan fisik dan lainnya" lanjutnya lagi.
Demikianlah komitmen cinta dalam bingkai pernikahan. Meski memiliki pilihan mundur, seseorang yag memutuskan bertahan dan maju akan menemukan cinta yang indah melewati segala ekspektasi keindahan lekuk tubuh dan rupa.


Artikel ini terbit pertama kali di UC News dengan judul

Kejadian di Malam Pertama itu Membuat Suaminya Semakin Cinta

Duhai Hati Yang Kecewa Ditinggal Sang Pujaan Hati, Renungilah 4 Nasehat Ini!


Referensi pihak ketiga
Sebagaimana orang-orang memilih untuk menikah dan kemudian mencintai pasangan halalnya, ada pula yang memilih mencintai sebelum pernikahan. Tentu setiap pilihan memiliki resikonya masing-masing.
Salah satu resiko mencintai sebelum waktunya adalah bersiap ketika orang yang kita cintai ternyata tidak ditaqdirkan berjodoh dengan kita. Tentulah perasaan hati akan didominasi rasa sedih, kecewa, bahkan mungkin putus asa. Wajar, selama bukan dukun yang bertindak.
Sebagian mungkin beralasan. cinta datang tanpa diminta, jadi bagaimana mungkin kita siap dengan resiko kehilangan yang tiba-tiba?
Sahabat, ketahuilah manusia memang diciptakan dengan fitrah cinta, ketertarikan, dan kebutuhan terhadap lawan jenis. Namun jika perasaan itu hadir sebelum kita siap berkomitmen di atas janji suci pernikahan maka tugas hati kitalah agar tetap fokus meningkatkan kualitas diri, alih-alih memperturutkan rasa yang kita bahkan tidak siap dengan segala resikonya.
Saat semuanya sudah terlanjur, hati kadung terpikat, namun diri belum siap menghalalkan atau dihalalkan akhirnya yang terjadi kita mungkin menjadi undangan di hari bahagianya. Jangan terpuruk dengan rasa kecewa dan sedih yang berkepanjangan.
Para Ulama menyampaikan mutiara nasehatnya bagi kalian, yang hatinya terlanjur mengecap kecewa saat sang pujaan hati berjodoh dengan orang lain:
  1. Menjauhlah dari kehidupan orang tersebut! Jangan sampai engkau menjadi batu sandungan dalam hubungan rumah tangganya, mengganggu keluarganya, dan menjadi beban pikiran baginya.
  2. Berhentilah memikirkannya! Tak perlu mencari tahu keberadaan dan kondisinya. Jangan engkau siksa dirimu dengan beragam andai-andai yang justru akan menyebabkan kerusakan pada badan dan pikiranmu
  3. Jalanilah hidupmu! Kehilangannya tidak berarti duniamu terhenti. Masa depanmu masih membentang, kau akan menemukan dan bertemu dengan bermacam-macam orang lainnya. Carilah pasangan sholeh/sholehah yang bisa menjaga diri dan agamamu. Jalanilah hidup yang berguna dan bermanfaat. Bentuklah keluargamu sendiri, fokus mendidik anak-anakmu. Sesungguhnya inilah yang lebih berguna untuk dunia akhiratmu, daripada terjerat angan-angan terhadap dia yang telak dimiliki orang lain.
  4. Ketahuilah bahwa surga bukanlah tempat bertemu orang yang sedang dimabuk cinta. JIka engkau tidak berjodoh dengannya di dunia, maka jangan berharap untuk berjodoh dengannya di surga. Sesungguhnya setiap wanita bersuami yang kelak masuk surga akan bersama suami terakhirnya di dunia.

Referensi pihak ketiga
Ingatlah, ketika pujaan hatimu telah menikah, tak perlu menyia-nyiakan waktu untuk menunggunya berpisah dari pasangan halalnya. Karena bisa saja engkau akan menjadi perantara syetan dalam meretakkan rumah tangga mereka. Sungguh inilah perbuatan sia-sia yang membahayakan dunia dan akhiratmu. Fokus saja memperbaiki dirimu, semoga Allah menggantikannya dengan jodoh yang lebih baik bagimu!

Sungguh, kita kerap merasa paling tahu. Memaksakan jodoh dan merasa kehilangan hal terbaik dalam hidup. Sejatinya, Allahlah sebaik-baik pengatur dan Maha Berkehendak.
Tak ada yang buruk dengan apa-apa yang telah menjadi taqdir Allah, tinggal bagaimana dan seberapa besar keimanan dan keyakinan di hatimu.

Referensi pihak ketiga
Artikel ini terbit pertama kali di UC News dengan judul

Duhai Hati Yang Kecewa Ditinggal Menikah Sang Pujaan, Inilah 4 Nasehat Penenang Jiwa!

- Copyright © Sara's Talk - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -